Assalamualaikum Zahra

Assalamualaikum Zahra
Assalamualaikum Zahra



..._Assalamulaikum Zahra_...


..._Serpihan Hati Yang Terluka_...


..."oh Allah,,, saat aku kehilangan harapan dan rencana, tolong ingatkan aku, bahwa cinta-MU, lebih besar daripada kekecewaanku, dan rencana yang engkau siapkan untuk hidupku jauh lebih baik, daripada impianku"...


..._Khaliza Sulistya Az Zahra_...


sore ini, diri nya sudah terlihat rapi dengan balutan busana muslim dengan warna maroon dan di padukan dengan khimar mocca, kini diri nya hanya perlu merapikan niqab yang sudah terpasang rapi di wajah teduh nya


hingga ketukan seseorang berhasil membuat perhatian nya teralih kan kala mendengar seseorang tengah mengetuk pintu kamar nya dari luar


tok tok tok "sayang, apa kamu ada di dalam nak, apa Bunda boleh masuk?" suara lembut dari sang ibunda mengalun terdengar indah di telinga nya, membuat nya tersenyum


"hmm,, iya Bund, masuk saja, nggak apa apa kok, pintu nya nggak kakak kunci" jawab nya sambil terus membenar kan letak niqab nya


ceklek, pintu kamar terbuka, menampil kan sosok ibu dengan tiga anak itu tengah tersenyum hangat memandangi wajah nya


"apa yang sedang kamu lakukan sayang?" tanya Bunda sambil mendudukkan diri di tepi tempat tidur milik nya


"maaf ya Bund, Izza sedang perbaiki Khimar, jadi nggak bisa buka kan pintu buat Bunda?" ucap nya yang tengah merasa bersalah sambil memandangi wajah asri Bunda melalui pantulan cermin meja rias


"hmm,, nggak masalah sayang, sini deh, duduk samping Bunda?" tutur Bunda sambil tersenyum dan menepuk tepi tempat tidur nya dari samping


"iya Bund, ada apa?" jawab nya seraya menghampiri Bunda dan duduk di samping sang ibunda dengan terus memandangi wajah sang Bunda


"nggak terasa ya, gadis kedua Bunda ini sudah beranjak dewasa, sudah bisa jaga diri?" tutur Bunda seraya mengusap lembut pundak nya sambil tersenyum


"hmm,, Bunda bisa saja" jawab nya yang tersipu malu karena mendengar pujian langsung dari sang ibunda


"apa kah kakak tahu, dulu tuh kakak anak nya cukup mandiri sebenar nya, hanya saja,, Bunda sama Ayah nya saja yang mempunyai rasa khawatir yang berlebihan, sampai memanjakan kakak, maaf kan Bunda sama Ayah ya nak?" ucap Bunda yang mulai serius


"iya Bunda, nggak apa apa kok, kakak nggak masalah juga" jawab nya sambil tersenyum hangat


"Bunda selalu merasa kangen banget, sama masa masa itu kak, apa kah kakak ingat, waktu kakak mau di beli kan boneka Teddy Bear sama Ayah, saking sayang nya kakak sama boneka pilihan Ayah itu, kakak kasih nama Mikha, kakak selalu bawa boneka itu, ke mana pun kakak pergi, sampai kakak tertidur pun, boneka itu selalu ada di dalam pelukan kakak?" jelas Bunda mengingat kan, yang membuat nya semakin mengembangkan senyuman manis nya


"iya Bunda, dan apa kah Bunda tahu, di asrama, kakak tuh nggak bisa berhenti untuk memikirkan nya, sampai kakak menderita insomnia, terus teman sekamar kakak Khanaya tanya, kenapa sikap kakak beda banget, karena dia lihat kakak tersenyum dan menangis dengan sendiri nya, terus kakak cerita kan dia tentang Mikha, dan, apa kah Bunda tahu, jawaban dia?" tanya nya yang membuat Bunda menggelengkan kepala


"kata nya gini lho Bund, 'ya Allah,, Kha,, Kha, aku kira kamu tuh sedang jatuh cinta, jika memang benar jatuh cinta, aku bakalan sujud syukur deh di depan kamu sekarang juga, nyata nya,, kamu malah terpikir kan sama boneka, aku jadi penasaran deh, seperti apa sih, boneka kesayangan kamu itu, sampai pikiran kamu dia penuhi, kasihan tuh kak Andra, susah banget dapat kan cinta dan raih hati kamu' kata nya gitu lho Bund, buat kakak tertawa saja" lanjut nya yang berhasil membuat hati Bunda sedikit mengganjal


"Andra,, siapa dia?" tanya Bunda penuh dengan rasa penasaran


"akh, kak Andra,, kak Andra itu laki laki Bund, satu asrama sama kakak, tapi beda kamar, dia tinggal di asrama laki laki, kakak kelas nya kakak di Aliah" jawab nya tanpa berbohong


"maksud Bunda, dia siapa nya kakak, apa kah dia pacar nya kakak?" tanya Bunda to the point


"bukan siapa siapa nya kakak Bund, hanya kakak kelas saja, tapi kata Khanaya, teman sekamar kakak, kak Andra itu mempunyai perasaan lebih untuk kakak" jawab nya seadanya


"emm,, apa kah kakak juga mempunyai perasaan yang sama dengan dia?" tanya Bunda penuh dengan keraguan


"hmm,, kakak nggak tahu juga Bund, kak Andra memang pernah memberi tahu perasaan nya sih sama kakak, tapi kakak takut saja, meski sekarang kakak mengetahui jika kak Andra memang mempunyai perasaan yang lebih sama kakak, kakak juga masih jaga jarak sama kak Andra, ya' memang sih, kak Andra sudah beberapa kali memberi tahu kakak perihal kakak perihal rasa yang kak Andra miliki untuk kakak sendiri" jawab nya sambil menunduk


"lalu,, apa kakak terima dia jadi pacar nya kakak?" tanya Bunda yang semakin mendalami topik pembicaraan


"hhhhh,, bukan maksud kakak untuk berbuat dosa dengan menyakiti hati dan perasaan seseorang Bund, tapi tidak bisa di pungkiri, kakak masih belum siap, untuk pikir kan masalah itu Bund, kakak belum siap sepenuh nya" jawab nya seraya menautkan kedua jari telunjuk nya


"Bunda percaya sama kamu kak, kakak tidak perlu merasa bersalah hanya karena menolak ajakan seseorang, kakak sendiri berhak untuk itu, Bunda percaya sepenuh nya sama kakak, kakak pasti bisa menjaga diri kakak di sana, maaf kan Bunda ya nak, Bunda harus daftar kan kakak di asrama sana dulu?" tutur Bunda yang merasa bersalah


"nggak masalah Bunda, kakak juga nggak masalah, lagi pula,, kakak juga mempunyai banyak teman di sana" jawab nya berniat menenang kan hati sang Bunda dengan tersenyum manis khas nya


"ooh,, bagus lah kak, oh iya kak, apa kah kaka tahu, anak nya Tante Ammie?" tanya Bunda sambil memandangi wajah teduh nya


"anak nya Tante Ammie,, ooh, Ratih ya Bund, iya,, kakak tahu, dulu waktu kakak Tsanawiyah, kakak cukup akrab sama dia, tapi,,, 10 tahun kebelakang, kakak terbilang jarang berkomunikasi atau tahu informasi tentang nya" jawab nya terlihat sumringah kala mencerita kan sedikit tentang sosok adik kelas nya dulu


"iya Tante Ammie, tapi bukan Ratih kak" jawab Bunda penuh dengan teka teki, dan berhasil membuat nya bingung


"maksud Bunda Tante Ammie nya Om Aydhan kan?" tanya nya kembali mengingat


"iya kak, tapi bukan Ratih" jawab Bunda yang mulai tersenyum ke arah nya


"lantas siapa Bund, apa kah Ratih mempunyai saudara lagi?" tanya nya dengan kebingungan


"iya, Ratih punya kakak, kakak nya Ratih ini laki laki, kakak nggak tahu?" tanya balik Bunda yang merasa cukup terkejut


"kak,,, kakak nggak tahu Bund, karena waktu kakak Tsanawiyah, Ratih memang cukup akrab sama kakak, tapi dia nggak pernah ada cerita kalau dia memang punyak kakak" jelas nya


"ooh gitu,, mungkin karena Ratih memang nggak pernah bertemu kali atau,, bisa di bilang sih jarang bertemu sama kakak nya itu" jawab Bunda yang membuat nya cukup penasaran


"maksud Bunda apa?" tanya nya dengan kening yang mengerut bingung


"iya, Ratih memang nggak pernah bertemu sama kakak nya itu, karena sejak Tsanawiyah, kakak nya Ratih itu, sudah mendapat kan beasiswa untuk melanjut kan pendidikan nya ke negara Kairo" jawab Bunda


"ooh,, gitu,," jawab nya seraya mengangguk anggukkan kepala nya mengerti


"dan apa kah kamu tahu kak, kakak nya Ratih itu, sekarang lulusan S2 dan berhasil lulus dengan nilai terbaik, sama seperti kakak?" tutur Bunda yang beralih memegangi kedua lengan atas nya hingga kedua nya terlihat berhadapan


"to the point saja ya kak, Bunda sama Ayah sudah jodoh kan kakak sama dia" ucap Bunda yang membuat nya cukup terkejut, namun dengan Bunda yang terlihat antusias dalam bercerita


"heuh, Bunda,, jangan bercanda deh Bund, candaan Bunda itu nggak lucu" jawab nya seraya tersenyum paksa dan menggeleng geleng kan kepala nya dengan pelan


"Bunda tidak sedang bercanda sayang, Bunda serius, memang nya kebohongan terlihat di mata Bunda ya, kakak mau kan, di jodoh kan dan menikah dengan nya?" tanya Bunda yang membuat hati nya sedikit sesak


"heuh nggak Bund, aku nggak mau" jawab nya seraya menggeleng kan kepala nya dengan cepat dengan jawaban singkat padat dan jelas nya


"lho,, kenapa Za?" tanya Bunda memokuskan pandangan pada nya


"setelah apa yang telah Bunda bilang sama aku, Bunda masih bisa tanya kenapa, maaf Bund,, tapi apa kah Bunda tahu, jangan kan untuk menikah,,, jika kenal saja aku enggak, bahkan aku tahu Ratih punya kakak saja baru sekarang, itu juga bahkan Bunda yang memberi tahu ku, mungkin jika Bunda tidak memberi tahu ku, aku juga nggak akan pernah tahu sampai kapan pun Bund" tutur nya dengan menggeleng kan kepala nya tidak habis pikir "lagi pula,, aku masih terlalu muda Bund, untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius, aku masih ingin melanjut kan pendidikan yang harus ku tempuh" diri nya pun membuang pandangan nya kala bertutur yang memang di rasa tidak sopan bagi nya, padahal masih bertutur kata dengan selembut lembut nya, namun itu lah perasaan nya, selalu merasa yang paling salah, yang padahal tidak sesalah itu


"Izza,, Bunda dengar, teman satu angkatan sama kamu, rata rata sudah pada menikah meski di usia muda lho, bahkan ini yang Bunda dengar, dalam satu bulan ini, tiga teman alumni Tsanawiyah nya kamu sudah pada menikah, saudara kamu juga sudah ada yang khitbah tuh nak, terus kamu kapan, kalau tidak dalam waktu dekat ini?" tanya Bunda penuh dengan kelembutan


"Bunda,, pernikahan itu,, bukan lah perlombaan,, yang harus setiap orang raih agar mendapat kan penghargaan" ucap nya yang sudah nyaris menangis


"Bunda cukup tahu itu sayang, jika saja,,, Ayah Bunda tidak banyak menerima lamaran bahkan khitbah, dari banyak nya kaum Adam untuk mu, mungkin Bunda tidak akan menyuruh mu atau bahkan memaksa mu untuk segera menikah Za, dalam waktu dekat ini Za,," bujuk Bunda


"Bund, aku tahu,, tapi aku benar benar belum siap untuk semua ini, maaf, teman Izza tidak semua nya yang sudah menikah, masih ada beberapa orang lagi" ujar nya yang tidak habis pikir dengan apa yang akan Bunda nya ini lakukan


"tapi Za,, Bunda hanya mau,, kmu bisa menjaga diri kamu" tutur Bunda dengan tatapan teduh, meski tidak mendapat balasan tatapan dari nya karena terus tertunduk sejak tadi, tepat nya sejak saat diri nya mengetahui akan di jodoh kan


"kini aku bisa menjaga diri aku sendiri Bund, karena aku sudah nyaris dewasa,,," ucapan nya terpotong kala mendengar


"Bunda kamu benar sayang" tambah seseorang yang kini tengah tersenyum hangat memandangi kedua nya dari bingkai pintu, dan dia lah Ayah


"jadi,, Ayah Bunda jauh jauh datang ke asrama jemput aku di sana, hanya untuk sampai kan berita seperti ini?" tanya nya memandangi wajah Ayah dengan mata berkaca kaca


"Bunda tahu kamu nggak akan mau Za, tapi ini demi kebaikan kamu" tutur Bunda sedikit memaksa


"ya jika Bunda Ayah sudah mengetahui jawaban aku, mengapa Bunda sama Ayah masih tetap nekat untuk menjemput ku di sana?" tanya nya yang sudah benar benar tersulut amarah


melihat hal itu, Ayah mengisyaratkan hanya berdua dengan sang anak gadis kepada Bunda, dan kini, kedua nya tengah duduk di sofa balkon kamar nya


"sayaang, Ayah cukup tahu, jika ini pasti memang akan terasa berat untuk kamu, Ayah Bunda lakukan ini, karena Ayah Bunda tidak mau kamu terus sendiri melewati hari ke hari" tutur Ayah dengan lembut


"kenapa Yah, kenapa Ayah lakukan ini sama aku, ini benar benar berat untuk aku Yaah, aku nggak bisa, aku benar benar nggak bisa untuk semua ini?" tutur nya yang sudah merderai air mata


"iya Ayah tahu, tapi,, bukan kah kak Nisa juga Ayah jodoh kan dengan kak Ahkam, lihat lah kedua nya sekarang, bisa hidup bahagia, bahkan kak Nisa sedang mengandung anak kak Ahkam nak?" tanya Ayah mengingat kan


"Yaah, Ayah kak Ahkam sama kak Nisa itu sudah saling mengenal sejak dulu, bahkan rekan di universitas, ini aku, bagaimana dengan aku Ayah, oh iya, Ayah nggak tahu, aku masuk asrama, di asrama, aku belajar dan mempelajari satu kitab kuning, nama nya Qurratul Uyun, dan apa kah Ayah tahu itu kitab apa, itu kitab yang berisi tentang pernikahan, aku memang belum menikah sekarang, tapi aku cukup tahu, apa yang harus ada dan tidak, di dalam sebuah ikatan suci pernikahan,,,


dari kitab yang aku pelajari itu, di dalam sebuah ikatan suci pernikahan, itu harus ada rasa saling mengenal sesama pasangan, kedua, rasa cinta dan kasih sayang sesama pasangan, dan yang ketiga adalah rasa saling percaya antara sesama pasangan, dan,, jangan kan untuk rasa cinta dan kasih sayang Yah, atau bahkan rasa percaya, jika mengenal nya saja aku enggak Ayah, sekarang gimana sama aku, mungkin aku akan sulit untuk bisa berkomunikasi dengan orang yang Ayah percaya dan jodoh kan sama aku?" ujar nya tanpa memandangi Ayah yang memandangi nya dengan lekat


"Yaah, dulu Ayah ingin aku menjalani pendidikan di asrama Tangerang, jauh dari rumah, Ayah ingin aku keluar dari rumah yang bahkan begitu banyak kenangan nya ini bagi aku Yah, itu sebenar nya sangat sangat sulit untuk aku lalui, namun meski aku merasa sulit, jika itu yang menjadi keinginan Ayah sama Bunda, tapi aku turuti juga pada akhir nya, aku tinggal kan orang orang tersayang ku di sini, mencoba melupa kan mereka yang menjadi sahabat aku, pergi dengan membohongi mereka, menyembunyi kan kehadiran ku yang sebenar nya, dan aku menjalani kehidupan ku di asrama Tangerang sana, dan sekarang, Ayah mau aku segera menikah, apa kah itu arti nya Ayah juga ingin aku keluar dari rumah ini, akh,, atau bahkan mungkin Ayah ingin aku keluar dari keluarga ini juga untuk selama lama nya dengan menjodoh kan aku, dengan orang yang belum ku kenali sebelum nya, jika itu memang yang Ayah Bunda ingin kah, sekarang juga aku akan meninggal kan rumah ini, bahkan keluarga ini, aku akan kembali ke asrama di sana, aku akan berusaha untuk menetap di sana, aku nggak akan pernah ke sini lagi, tapi,, aku mohon Yaah, jangan jodoh kan aku dengan orang yang bahkan tidak ku kenali sama sekali hiks,,," mohon nya dan yah, pada akhir nya diri nya tidak bisa untuk tidak menangis di hadapan sang Ayah, diri nya gagal dalam menahan air mata dan kesesakkan hati nya di hadapan cinta pertama nya saat ini


"yaah, Ayah cukup tahu sampai sejauh ini nak, ini akan berat untuk kamu, tapi,,, Ayah begitu menyayangi kamu, hingga rasa sayang yang Ayah miliki sama kamu,, itu berhasil membuat Ayah juga merasa sangat gelisah akan diri mu sayang, bahkan,, rasa khawatir yang Ayah miliki ini, semakin hari meningkat dan menjadi jadi, hanya pada mu" penuturan Ayah kali ini berhasil membuat nya bingung


"maksud Ayah?" tanya nya sambil memandangi wajah sang Ayah dari samping


"selama ini, Ayah Bunda banyak menerima lamaran dari banyak nya kaum Adam, yang di tuju kan untuk kamu, selain kak Nisa, kamu lah permata kesayangan ayah, sekarang Ayah sedikit lega, karena kak Nisa sudah menikah dan menjalani kehidupan yang baru bersama sosok yang Ayah percayai dan Ayah pilih, tapi Ayah takut kmu salah dalam memilih, Ayah yang sekarang takut kamu salah pergaulan, Ayah tahu, sejak dulu,, kalian berdua begitu di gemari oleh banyak nya kalangan laki laki, entah itu tetangga kita, remaja mesjid, bahkan bapak bapak mesjid pun juga ingin kamu menjadi menantu mereka, mereka berlomba lomba untuk mendapat kan kamu, rekan kerja Ayah dan klien Ayah juga seperti itu, begitu ingin menjadikan kamu menantu di keluarga mereka"


"Rakha,, apa kah kamu masih mengingat nya?" tanya Ayah yang membuat nya begitu terkejut kala mendengar nya


"pria lajang itu begitu menyukai kamu kan, bahkan dia tidak segan segan memberi kamu pilihan untuk mengantar kan kamu ke rumah kan?" tanya Ayah yang terkesan misterius menurut nya


"ma,, maksud Ayah?" tanya nya masih terlihat bingung akan apa ynaga sang Ayah ucap kan


"hhh,, sayaang, jangan anggap Ayah tidak mengetahui nya mengenai perasaan dia sama kamu, Ayah sudah tahu ini sejak dulu,,


hhh,, kamu yang banyak di gemari dan di ingin kan oleh banyak nya laki laki di luaran sana, tapi itu juga yang membuat Ayah semakin di hantui rasa takut yang tidak kecil lagi" lanjut Ayah


tanpa berkata, diri nya yang tengah duduk di samping Ayah pun kini mengunci tatapan nya hanya kepada Ayah, meminta penjelasan atas apa yang Ayah kata kan


"sayaang, kamu banyak di ingin kan oleh banyak nya laki laki, itu bukan membuat Ayah merasa bangga atau bahkan senang, jika yang menginginkan kamu bisa bersikap baik sama kamu dan dapat mengendali kan diri nya saat bertemu dengan mu, mungkin Ayah bisa tenang, namun jika yang tak segan untuk mendekat kan diri nya sama kamu,, Ayah tidak mau mengambil resiko untuk ini, jika suatu saat, kamu mengalami insiden yang cukup besar di masa depan"


lagi lagi, itu membuat nya mengerut kan kening nya terheran heran


"suatu saat, pasti ada yang memitnah kamu jika terus menerus dia mendekati kamu, baik waktu itu kamu tidak menerima tawaran dari Rakha, jika kamu menerima nya, dan jalan hanya berdua dengan nya, apa kata orang yang melihat kalian, pikiran manusia itu berbeda sayang, meski kamu tidak melakukan apa apa dengan nya, namun jika orang yang berpikiran negatif yang melihat mu, berjalan hanya berdua dengan nya tanpa halangan, itu akan menimbul kan fitna besar terhadap mu, karena menyembunyi kan diri dari fitnah, itu lebih baik, dari pada menimbulkan hasrat, sekali pun itu fitrah" jelas Ayah kala mengetahui arti dari tatapan sang anak


"sayaang, Ayah tahu apa yang kamu takut kan sekarang, Yussuf, itu lah nama nya, menurut Ayah, dia adalah sosok yang baik, sangat dekat dengan ibu nya yang tak lain adalah Tante Ammie juga, bukan kah kamu sudah mengenal beliau, tidak ada salah nya untuk mengenal nya terlebih dahulu naak, jika kamu bersedia, kamu bisa melanjut kan perjodohan yang Ayah Bunda lakukan ini, dan jika seandai nya kamu menolak pun tak apa, Ayah Bunda tidak akan marah, namun saran Ayah, coba lah terlebih dahulu untuk mengenal nya" penuturan Ayah ini selalu terdengar lembut di telinga nya namun diri nya pun cukup tahu, ini adalah hal yang cukup besar bagi nya


"hhh,,, entah bagaimana jadi nya jika aku hidup di bawah satu atap dengan sosok yang bahkan tidak ku kenali sama sekali" ucap nya dengan tiada henti nya menghembuskan nafas panjang nya berkali kali, menetral kan detak jantung nya yang semakin berdetak lebih cepat dari biasa nya


diri nya pun segera membuang pandangan nya ke arah lain, mengerjap kan kedua mata indah nya dan "aku butuh waktu Ayah, aku rasa aku harus mencari jawaban nya terlebih dahulu, dan memikir kan bagaimana baik nya dengan matang" jawab nya sedikit dingin karena merasa mendapat paksaan dari kedua orang tua nya ini


mendengar hal itu, kini berhasil membuat Ayah terus mengembangkan senyuman ke arah nya, Ayah pun mengusap lembut punggung tangan kiri nya sambil mengangguk, meski tak di lihat oleh nya "Ayah akan menunggu jawaban baik nya dari kamu sayang, Ayah beri kan kamu waktu beberapa hari ini, dan jangan ragu untuk memberi tahu kan Ayah dan Bunda mengenai ini, apa pun keputusan yang akan kamu ambil, Ayah pergi dulu, sebentar lagi Maghrib tiba sayang" pamit Ayah sebelum akhir nya pergi berlalu, menyisa kan diri nya seorang diri


menyaksikan senja di sore hari ini, berhasil membuat hati dan perasaan nya bergetar hebat, tanpa di rasa, kedua nya menghabis kan waktu untuk berbicara seserius itu cukup lama, perasaan nya serba salah sekarang, entah dia bisa tidur dengan nyenyak seperti malam malam biasa nya, atau kah menjadi malam yang menggelisah kan bagi nya, bagi diri nya, malam ini sangat berbeda dari malam malam biasa nya, tidak ada tawa renyah dari Khanaya, candaan hangat dari Lia, akh,,, rasa nya dia begitu ingin menemui kedua sahabat nya di asrama sana


_**Asslamualaikum Zahra_


Sabtu, 29 Juli 2023**