
..._Assalamualaikum Zahra_ ...
..._Harus Kah Tetap Seperti Ini_...
..."gelas yang retak sedikit di mulut, nyata nya akan terlihat tidak sempurna, namun jika kita melihat nya dari sisi yang lain, akan terlihat sempurna, karena itu, lihat lah segala sesuatu dari posisi yang positif,,"...
..._Khaliza Sulistya Az Zahra_ ...
"sebaik nya sekarang kita makan dulu neng, semua nya juga sudah selesai, terima kasih,, neng sudah bantu merawat luka yang aa' dapat dengan baik?" tutur Yussuf seraya terus memperhatikan nya yang sedang memberes kan kotak obat yang kemudian menaruh nya kembali di dalam laci nakas, tempat nya semula
"hmm,, iya ustadz,, makan nya mau saya ambil kan atau,, bagaimana?" tanya nya dengan penuh perasaan ragu
mendengar hal itu, kini berhasil membuat Yussuf tersenyum simpul, dalam hati kembali berbunga,, juga tidak menyangka, istri yang sebelum nya di sangka tidak mempunyai rasa khawatir kini nyata nya menjadi seseorang yang banyak membantu dan merawat di kala diri sedang merasa sakit
"hmm,, nggak apa apa neng,, aa' bisa makan di meja makan saja sama kalian,, Umi juga sudah memberikan amanah untuk menjaga Ratih" tutur Yussuf yang masih saja melihat nya setia menunduk menghadap dia
"tapi,, apa ustadz bisa berjalan,, maksud nya,, kuat berdiri,,?" tanya nya dengan menautkan kedua jari telunjuk nya
"hmm,, nggak apa apa neng,, yang sakit hanya tubuh sama wajah aa',, insya Allah,, aa' masih kuat berjalan,, lagi pula,, luka nya juga sudah sedikit membaik,, karena neng yang rawat tadi, neng duluan saja nggak masalah, susul Ratih nya, nanti aa' juga ke sana, aa' mau mengganti pakaian terlebih dahulu,," jawab Yussuf seraya berdiri dan mendekati lemari
"emm,, baiklah ustadz,, jika ustadz membutuhkan sesuatu,, ustadz bisa memanggil saya,, saya izin ke dapur?" tutur nya yang di angguki oleh Yussuf sendiri yang kemudian melangkah meninggal kan Yussuf sendiri di dalam kamar
melihat hal itu, lagi lagi berhasil membuat Yussuf yang menyaksikan langsung kegugupan yang melanda nya tersenyum simpul di sertai dengan gelengan kepala
istri nya kini mempunyai rasa malu dan gugup yang lebih besar dari pada yang di ketahui nya, bahkan hari ini saja istri nya terlihat masih sangat gugup
kedua tangan itu berusaha mengambil pakaian yang tersusun rapi di tumpukan pakaian nya, hingga sesuatu terjatuh dari salah satu celah samping pakaian yang tertumpuk, membuat Yussuf sendiri menunduk melihat apa yang jatuh
hingga laki laki itu menghenti kan aktivitas nya sebelum nya, memilih berjongkok dan mengambil sebuah buku dengan perlahan dan lembut
memandangi buku berwarna merah maroon dengan terdapat tulisan _Catatan Penting Dalam Kehidupan_ yang ada di tangan kanan nya dengan tatapan sendu nya
ingatan nya kembali pada beberapa Ahad yang lalu, di mana dia bertemu untuk yang pertama kali nya dengan diri nya, di bawah langit senja yang begitu indah yang menjadi saksi bisu atas pertemuan pertama kedua nya
dia sendiri tidak egois,, menyimpan buku milik nya yang juga di hantui rasa penasaran, dengan apa yang tertulis di dalam nya
...***...
saat tiba di dapur, kini diri nya sudah di suguh kan dengan senyuman manis dari Ratih yang selalu membuat nya ikut tersenyum dengan tipis
"sini teh,, duduk samping aku,, emm,, mas nya mana teh,, nggak ikut makan?" tanya Ratih saat melihat kedatangan nya namun tidak bersama dengan kakak sulung nya
"masih di kamar,, kata nya mau mengganti pakaian dulu,," jawab nya yang ikut tersenyum kecil
"ooh,, teteh belum siap kan pakaian ganti buat mas nya,, kenapa teh?" tanya Ratih seraya menyendok nasi
"emm,, belum Ratih,, entah kenapa,, teteh,, teteh masih merasa nggak enak,, mungkin karena belum terbiasa,," jawab nya yang berusaha jujur
"hmm,, teteh nggak perlu merasa nggak enak seperti itu kali teh,, sama dia,, orang usil gitu nggak usah di kasih sikap nggak enak,," tutur Ratih
"hmm,, itu bagi kamu yang sudah akrab sama kakak kamu,, namun bagi teteh sendiri,, jujur,, teteh masih merasa sedikit segan,," jawab nya yang membuat Ratih paham dan mengangguk
"iya juga sih teh,, oh iya teh,, tadi teteh pasti merasa sangat kerepotan ya, saat harus mengobati luka mas dengan terpaksa,, maaf ya teh,,?" ucap Ratih yang merasa sedikit bersalah karena mengetahui bahwa diri nya memang sedikit segan dan masih gugup dalam menghadapi kakak sulung nya
"hmm,, nggak masalah Ratih,, teteh juga tidak merasa terpaksa kok melakukan nya,, teteh senang jika teteh memang bisa membantu kamu,, namun teteh juga merasa bersalah karena mungkin cara yang teteh lakukan juga sedikit kasar sehingga membuat ustadz meringis tadi,," tutur nya menjelas kan
"emmm,, teteh nggak usah merasa bersalah berlebihan seperti itu kali teh,, kan sudah ku bilang,, jika mas aku itu, orang nya cukup kuat menahan rasa sakit,, suka menegarkan diri nya sendiri teh,, dasar mas ku saja yang mungkin mau menggoda teteh tadi,, aku heran deh,, orang pemalu masih saja terus terusan mendapat kan godaan dari banyak orang,, apa lagi suami nya,, nggak etis banget!!" gerutu Ratih yang mengingat perbuatan kakak sulung nya terhadap nya itu
"hmm,, nggak masalah Ratih,, teteh mengerti,," jawab nya seraya tersenyum tipis
...*** ...
"teteh ke sini kok nggak bawa banyak barang teh,, nggak akan lama ya di sini nya?" tanya Ratih yang seketika saja memasang raut wajah lesu
"aku bukan tanya sama mas ya,, aku tanya sama teteh aku,, oh iya teh,, kalau teteh nggak bawa banyak barang,, malam ini teteh nggak bawa baju ganti dong,, mau pakai punya aku nggak teh,, setelah ku ingat,, aku punya baju tidur yang kebesaran di tubuh aku teh,, jadi nggak pernah aku pakai,, teteh bisa mencoba memakai nya,, aku hadiah kan untuk teteh,, teteh mau nggak,, teteh bisa kok mencoba nya?" ujar Ratih yang kemudian terdengar bertutur kata di kala melihat dan memandangi nya
"emm,, boleh Ratih,, jika memang pakaian nya tidak terpakai,," jawab nya
"emm,, teteh mau sama dalaman nya juga nggak teh,, aku juga punya stok yang belum aku gunakan kok?" lanjut Ratih tanpa ragu yang berhasil membuat nya tertunduk malu
"uhuk,, uhuk,," Yussuf pun di buat tersedak saat mendengar pertanyaan Ratih yang memang bar bar itu
"ng,, ng,, ggak masalah Ratih,, teteh bawa lebih jika mengenai hal ini,," jawab nya dengan penuh rasa kegugupan dan dengan cepat juga menunduk dalam
"oh iya teh,, aku lupa,, teteh pasti bawa stok juga,, maaf ya teh kalau aku buat teteh nggak nyaman dengan pertanyaan ku?" ucap Ratih yang jelas merasa bahwa diri nya merasa benar benar canggung saat ini
"teh,, aku sudah selesai makan,, aku duluan ke kamar ya, mau istirahat?" pamit Ratih pada nya
"iya Ratih,, istirahat lah dengan baik,," jawab nya dengan mengangguk
"mas,, aku istirahat dulu,, jangan ganggu teteh aku ingat itu,, awas saja jika mas berani mengganggu kesibukan teteh aku!!" seru Ratih yang menatap tajam Yussuf
"ck,, iya iya,, lagi pula,, teteh kamu ini kan juga istri nya mas kalau kamu lupa,, perlu mas ingat kan berapa kali lagi?" jawab Yussuf dengan balik berseru seraya menggenggam erat tangan nya tanpa sadar, membuat nya merasa tak enak sekaligus semakin merasa gugup
Ratih pun berlalu, kini hanya menyisa kan diri nya dan juga suami nya di ruang makan ini
"akh,, maaf neng,, aa' refleks pegang tangan kiri nya neng,, karena Ratih,,?" ucap Yussuf yang baru menyadari nya
"emm,, nggak masalah ustadz" jawab nya yang semakin menunduk semenjak Ratih berlalu
"aa' beres kan makan nya dulu ya neng,, habis itu,, kita langsung ke kamar lagi?" tutur Yussuf yang membuat nya mengangguk patuh
...*** ...
tengah malam, diri nya terbangun dari tidur nya, karena entah mengapa diri nya merasa suasana malam semakin panas di rasa kan nya, hingga diri nya pun di buat terkejut di kala menoleh ke arah kanan nya, mendapati suami nya yang tertidur dengan tubuh yang bergetar dan terlihat seperti menggigil, sontak diri nya pun langsung terbangun dan terduduk dari tidur nya
"maaf jika saya lancang ustadz,,?" ucap nya yang terdengar berbisik, di kala memberani kan diri menyentuh kening suami nya ini
"astaghfirullah,, badan ustadz panas,," gumam nya kembali dengan bisikan yang terkejut di kala mendapati bahwa tubuh sang suami memang panas dan menggigil
"saya izin ke dapur ustadz?" ucap nya yang kembali berbisik, seraya bangkit dari duduk nya dan pergi dengan segera menuju dapur
"kamu sedang apa nak?" tanya Umi yang kebetulan sedang menyajikan sesuatu di dapur dan berhasil membuat nya terheran
"Umi,, kata nya Umi sedang ke bandara,, dan akan menginap di rumah bibi dan paman, mengapa Umi malam ini sudah di sini?" tanya nya yang membuat Umi tersenyum hangat
"hmm,, Abi mendapat kabar bahwa anak ngaji nya di hajar pereman jalanan,, itu buat Abi khawatir,, jadi langsung pulang saja nak,, kamu sedang apa di sini malam malam?" tanya Umi saat sudah menjelaskan
"Liza sedang memasak air Umi,, badan ustadz panas,, mungkin demam,, jadi akan Liza berusaha kompres" tutur nya yang membuat Umi lagi lagi tersenyum manis
"hmm,, kalian menikah dari hasil perjodohan,, namun kamu terlihat sangat berbakti pada suami mu nak, maaf jika anak sulung Umi itu sudah membuat mu repot di awal pernikahan kalian?" tutur Umi yang membuat nya menunduk malu
"nggak masalah Umi,, Liza mengerti,," jawab nya dengan lembut
"anak Umi itu akan sedikit lebih manja jika dia sedang sakit nak,, dia akan meminta ini dan itu,, namun semoga kamu tidak kualahan dalam mencukupi kebutuhan nya" tutur Umi dengan memberi tahu nya dan membuat nya mengangguk patuh
"Umi,, air nya sudah matang,, Liza pamit ke kamar terlebih dahulu,, nggak apa apa kan, apa kah Umi membutuh kan bantuan Liza?" pamit nya saat sudah memindah kan air rebus itu dan menambah kan sedikit air dingin agar tidak terlalu panas saat di gunakan
melihat hal itu, membuat Umi mengangguk sambil tersenyum hangat ke arah nya
"ya, segera lah beristirahat nak,, tidak sayang,, segera lah istirahat,," jawab Umi yang kemudian diri nya pun bergegas kembali ke dalam kamar
_Assalamualaikum Zahra_
Ahad, 20 Agustus 2023