
..._Assalamualaikum Zahra_ ...
..._Harus Kah Ku Terdiam_ ...
..."aku tidak sedang marah, aku hanya sedang ingin terdiam, dan memberi waktu pada diri ku sendiri untuk merasa tenang, terkadang terlalu banyak berbicara juga melelah kan, bahkan menjadi kesalahan yang mungkin akan membuat ku menyesal di kemudian hari"...
..._Khaliza Sulistya Az Zahra_ ...
"bisa melihat,, membuka dan bahkan membaca apa yang terdapat di dalam nya, jujur, itu benar benar membuat aa' senang neng, bisa aa' pasti kan,, jika neng sendiri mempunyai kelebihan dalam menulis bukan,, menulis syair puisi yang benar benar membuat aa' merasa nyaman di kala membaca nya,,?" tutur Yussuf saat menutup buku harian milik nya
mendengar hal itu kini benar benar berhasil membuat nya merasa malu dan semakin menunduk dalam
"biasa saja ustadz,, ini bukan kelebihan,, tapi maaf,, menurut saya malah ustadz nya yang sedikit berlebihan,, ini hanya sekedar hobi bagi saya, karena itu,, di saat suasana hati saya sedang bagus, maka saya akan memikirkan untuk menulis,," tutur nya yang membuat Yussuf tersenyum simpul memandangi wajah nya
...*** ...
malam ini, kedua insan itu tengah terdiam di dalam kamar ini, setelah menyelesai kan makan malam bersama, terlihat kedua nya yang sibuk dengan gadget masing masing
"akh,," rintih Yussuf yang tiba tiba terdengar di kedua telinga nya, membuat nya menoleh ke arah Yussuf
"ada apa ustadz,, apa kah ada yang salah?" tanya nya seraya menyimpan ponsel yang sejak tadi di tatap nya
"entah lah neng,, hanya saja,, rasa nya kok sedikit sakit ya,, apa lagi dengan luka di perut nya aa',, masih terasa ngilu,, padahal sudah neng obati,, tapi kenapa rasa nya kram juga ya,,?" jelas Yussuf
"mau saya panggil kan Ratih sebentar,, agar dia bisa memeriksa keadaan ustadz kembali,,?" tutur nya berusaha mencari solusi
"emm,, boleh neng,, tolong ya,, kali ini aa' serius?" ucap Yussuf dengan menyipit, berusaha menahan rasa sakit yang kian menjadi
"baiklah ustadz,, saya izin menemui Ratih sebentar?" ucap nya yang di angguki oleh Yussuf sendir, dan kemudian melenggang pergi
tanpa menunggu lebih lama lagi, kini Ratih pun segera ikut bersama dengan nya menemui sang kakak dan mulai memeriksa keadaan sang kakak
"sejauh ini nggak ada apa apa mas,, ini masih aman,, tapi,, apa kah perban dan luka nya sering di ganti,, takut nya kalau makin lama malah infeksi?" tanya Ratih saat sudah memeriksan Yussuf
mendengar pertanyaan itu, kini berhasil membuat kedua nya terdiam sekaligus terbungkam dengan seketika,, akh,, latah,, lebih tepat nya hanya Yussuf yang terbungkam,, karena memang sejak saat diri nya membantu memasang perban di tubuh nya, laki laki ini tanpa sengaja melihat raut tidak nyaman dari nya, yang membuat Yussuf sendiri tidak tega melihat nya yang seperti itu
karena itu Yussuf selalu berusaha agar tidak membahas perihal luka yang di dapat,, agar diri nya tidak merasa tidak nyaman, sebenar nya luka Yussuf memang sering sakit, namun laki laki ini selalu saja berusaha menepis rasa nya,, karena tidak ingin membuat sang istri khawatir
berlainan dengan nya yang terus saja tertunduk sejak tadi, diri nya bahkan merasa semakin bersalah di sini, namun mengapa ustadz berbohong jika baik baik saja dengan berkata sudah baik baik saja padahal tidak?
"astaghfirullah mas,, mas itu kenapa sih,, luka yang mas dapat kan itu lumayan cukup parah mas,, bagaimana bisa mas membiarkan luka nya tanpa di ganti,, teteh juga kenapa nggak coba bantu mas,, teteh mau mas kenapa kenapa,, iya?" seru Ratih sambil memandangi nya dan Yussuf secara bergantian
"sudah Ratih,, ini semua salah mas,, mas memang tidak pernah bilang lagi jika luka nya sering sakit sama teteh kamu,, bahkan teteh kamu menanyakan keadaan mas,, namun mas bilang baik baik saja,, jangan berbicara seperti itu sama teteh,," tutur Yussuf berusaha mereda kan amarah Ratih
"sudah lah mas,, jangan mas sembunyi kan kesalahan teteh,, kalian sudah menikah dan sudah sama sama dewasa bukan,, kenapa sikap kalian masih kekanakan sih,, heran aku tuh,, teteh juga,, jika sejak awal teteh memang tidak berniat untuk mencoba mengobati luka nya mas sebaik nya teteh bilang,, mungkin aku bisa membantu mengobati luka nya,," ujar Ratih dengan dingin
"Ratih,, apa kamu tidak mendengar nya,, ini salah mas,, ada apa dengan mu,, mas tidak ikhlas ya,, jika kamu berkata dengan intonasi yang tinggi sama teteh kamu,, dia istri mas,, bahkan sudah mas bilang jika ini kesalahan mas,,?" jawab Yussuf tak kalah berseru
"ustadz,, sudah,, tidak perlu memperpanjang masalah,, maaf kan teteh Ratih,, ini memang kecerobohan teteh,, secepat nya teteh akan mengganti perban pada luka nya mas,, sekali lagi teteh benar benar minta maaf untuk ini,, teteh nggak ada maksud,,?" tutur nya yang membuat Ratih tersadar
"hhhhh,, baiklah teh,, maaf kan aku juga sudah lancang sama teteh sehingga tanpa sadar,, aku berbicara dengan intonasi yang tinggi?" jawab Ratih dengan bertutur lembut ke arah nya
"nggak masalah Ratih, teteh mengerti,, teteh juga minta maaf atas kecerobohan teteh juga?" tutur nya
setelah pengobatan itu, kini Ratih pun sudah kembali ke kamar nya, menyisakan diri nya dan juga suami nya yang terus menerus memandangi wajah nya dengan tatapan teduh
"neng,, aa' minta maaf untuk ini,, aa' nggak ada maksud untuk menyembunyikan hal ini dari neng?" tutur Yussuf yang melihat nya mengambil kotak obat di dalam laci nakas
"nggak masalah ustadz,, saya mengerti" jawab nya dengan lembut, namun Yussuf merasa diri nya merasa kesal dengan tindakan yang di ambil nya
"maaf ustadz,, boleh bertekuk lutut sebentar,, perban nya akan saya buka?" tutur nya seraya menghadap ke arah Yussuf
mendengar hal itu sontak saja membuat Yussuf segera mengubah posisi duduk dan menuruti apa yang di kata kan nya tanpa berbicara panjang lebar lagi
"maaf neng,, aa' minta maaf,,?" ucap Yussuf lagi saat melihat nya terus menunduk, fokus dengan perban dengan kilatan, namun lembut hingga membuat Yussuf tidak merasa kesakitan
"sudah lah ustadz,, tidak perlu di bahas lagi,, saya yang minta maaf di sini,, seharus nya saya mengerti dan tidak ceroboh,," jawab nya masih dengan menunduk
diri nya berusaha untuk tidak salah fokus di kala mengobati sang suami,, dan dengan cepat diri nya memilih menyelesai kan nya juga
saat hampir selesai dengan aktivitas nya saat ini, diri nya mendengar deringan ponsel nya, membuat nya berhenti dan mengambil ponsel nya
"saya izin mengangkat panggilan terlebih dahulu ustadz,,?" ucap nya yang mendapati anggukan dan senyuman dari Yussuf sendiri, kemudian bergegas pergi dan duduk di sofa kamar
_Assalamualaikum Zahra_
Kamis, 24 Agustus 2023