
..._Assalamualaikum Zahra_...
..._Suara Kerinduan_...
..."kau bisa menemukan hubungan sejati dengan orang lain hanya jika kau telah menemukan kedamaian dalam diri mu sendiri"...
..._Khakiza Sulistya Az Zahra_...
waktu sudah menunjuk kan pukul 15.30 semua sahabat nya sudah selesai mengucap kan banyak selamat dan juga tidak lupa memberi kan banyak hadiah, bahkan Abah dan Umi pun ikut hadir tak terkecuali dengan kak Adhel dan juga kak Mukhlis
tadi siang, tepat nya setelah shalat dhuhur, terlihat anggun nya sepasang kekasih halal ini dengan balutan busana gaun pengantin berwarna merah maroon, juga setelan jas yang senada, dengan yang di kenakan nya, dan sekarang tak kalah anggun nya kedua nya dengan balutan busana gaun pengantin berwarna biru navy juga dengan setelan jas yang senada, tepat nya pakaian ketiga, yang di ganti tepat pada waktu ashar tiba,,
jangan lupakan dengan fotografer yang selalu dan tak pernah lupa dalam mengabadikan momen istimewa ini bersama kedua keluarga besar nya, dan juga hanya berdua, pose pertama terlihat diri nya yang membelakangi ustadz Yussuf dengan kedua tangan ustadz Yussuf yang menyentuh kedua pinggang nya, dan tangan kiri nya yang bertumpu dengan tangan ustadz Yussuf, juga dengan tangan kanan nya yang memegang buket bunga plastik, dengan ekspresi wajah kedua nya yang sama sama terlihat masih canggung
di pose kedua, kini dengan posisi saling berhadapan dengan kedua tangan nya yang memegang kedua bahu ustadz Yussuf di hadapan nya, dan kedua tangan ustadz Yussuf yang masih memegangi kedua sisi pinggang nya, pertama dengan tatapan kedua nya yang bertemu, dan kedua dengan tetapan ustadz Yussuf sendiri yang memandangi nya dengan tatapan yang dalam dan diri nya sendiri menunduk, dan ketiga kedua nya yang menghadap langsung ke arah kamera, dan pose pose yang lain nya,,
kedua mempelai ini rupa nya sama sama di sibukan dengan berpose di depan kamera, sesekali menyapa tamu undangan yang hadir, dan kembali berpose lagi, seterusnya begitu
hingga kedua nya tengah duduk di kala beristirahat sejenak sebelum melanjut kan pose dan pemotretan
"ehm,, neng, neng nggak apa apa kan, jika aa' tinggal sebentar ke kamar kecil?" tanya Yussuf yang memandangi wajah nya dari samping kanan dan hanya di tanggapi dengan anggukan dari nya
Yussuf pun mengerti mengapa sang istri sampai saat ini belum juga membuka suara nya, mungkin diri nya memang merasa gugup, pikir nya,,
Yussuf pun mulai melangkah kan kedua kaki nya menuju ke arah kamar mandi hotel
namun berlainan dengan Khaliza, kini diri nya cukup terkejut di kala mendengar ponsel sang suami yang berdering, tanda ada panggilan masuk
dengan inisiatif, diri nya pun meraih ponsel itu dan hendak memanggil sang suami atau menghampiri nya saja agar lebih sopan, pikir nya,,
saat diri nya hendak melangkah dan berjalan, tiba tiba saja, pandangan nya mengabur dan memburam, entah apa yang terjadi, kepala nya begitu terasa sangat berat dan pusing, hingga diri nya terjatuh dan ambruk di depan pelaminan
"Yussuf,, Khaliza,," teriak Ayah yang shok dengan apa yang telah terjadi pada putri kedua nya ini
mendengar teriakan dari Ayah mertua, belum sampai Yussuf ke dalam kamar kecil, laki laki itu segera berbalik badan, dan mata nya seketika membulat dengan sempurna di kala melihat apa yang ada di hadapan nya,,
tanpa memperdulikan kebutuhan nya di kamar kecil, tanpa menghiraukan orang yang menatap nya, dan tanpa menunggu lebih lama lagi, Yussuf pun segera berlari menghampiri sang istri yang tengah tergeletak begitu saja di atas lantai yang dingin dengan wajah yang pucat ini
"neng,, neng bangun neng,, ini aa' neng, neng kenapa?" sekumpulan pertanyaan itu Yussuf lontar kan pada sang istri meski tidak mendapat kan jawaban apa apa
"Yussuf,, segera lah kamu bawa Khaliza ke kamar hotel, biar lah dia istirahat, Ayah benar benar khawatir?" Ucap Ayah panik yang kini sudah ada di samping nya
"t,, tapi Ayah, Ayah yang antar?" tanya Yussuf dengan penuh keraguan
"kamu saja yang membawa dia, Ayah dan Abi ada tamu klien, tidak bisa meninggal kan acara" jawab Ayah
"tapi Ayah,,," ucap Yussuf masih dengan perasaan ragu antara membawa sang istri sendiri atau kah tidak, pasal nya diri nya yang tidak pernah ingin menyentuh nya tanpa seizin nya
"ayo lah Yussuf, dia itu istri kamu sekarang, kalian sudah halal, tidak apa apa, bawa saja dia, pasti kan dia baik baik saja, bila perlu panggil dokter untuk memastikan keadaan nya" ujar Ayah sedikit jengkel, sebenar nya sangat kentara kekhawatiran dari wajah menantu nya ini, namun entah mengapa sang menantu terlihat ragu hanya akan membawa sang istri istirahat saja, padahal sudah halal, pikir Ayah
"Ayah mu benar nak, saat ini kesehatan fisik istri mu sangat penting dari yang lain, bawa lah dia pergi, buat istirahat nya cukup, jangan buat kami semakin khawatir" tutur Abi
"b,, baiklah Ayah, Abi, Yussuf izin membawa putri Ayah ke kamar?" tutur Yussuf dan di angguki oleh Ayah
"Yussuf, jangan lupa untuk memberi dia minyak angin ya nak, Bunda ikut khawatir dengan nya, Bunda percaya kan dia sama kamu, nanti kami kabari kamu?" tutur Bunda sedih dengan mata yang berkaca kaca
"baik Bunda, Yussuf izin pergi membawa neng Zahra ya?" pamit Yussuf yang di angguki oleh Bunda, Abi dan Umi juga
Yussuf pun bergegas pergi dengan mengangkat tubuh nya ala bridal style ke arah kamar hotel, entah saat ini yang ada di pikiran nya hanya di penuhi oleh sang istri, tidak ada yang lain, bahkan lewat wajah nya pun sangat menyiratkan akan kekhawatiran yang mendalam teruntuk sang istri
"jangan kenapa kenapa ya neng, aa' mohon,, aa' tidak mau terjadi sesuatu sama neng?" gumam Yussuf sedih, kala berjalan di koridor hotel
"Yussuf, Khaliza kenapa, apa yang terjadi?" tanya kak Nisa dari arah yang berlawanan
"neng Zahra terjatuh pingsan kak, kakak dari mana?" jawab Yussuf juga di akhiri dengan pertanyaan
"kita habis cari mushola, sambil ke toilet juga, di sana nggak ada toilet, toilet yang ada di sana sedang di renovasi" jawab kak Nisa yang membuat Yussuf mengangguk
"akh,, apa kah aku boleh meminta bantuan dari kakak?" tanya Yussuf mengingat pembicaraan Bunda
"tentu saja, bantuan apa?" jawab kak Nisa sambil mengangguk anggukkan kepala nya
"kak seperti nya,, neng Zahra terlalu lelah dan kecapekan, apa kah kak bisa oles kan sedikit minyak angin pada bagian tubuh neng Zahra?" tanya Yussuf dengan tatapan jatuh pada nya yang masih lemas di gendongan nya
"eh,,, satu lagi kak" seru Yussuf terlihat ragu yang membuat kedua kakak nya ini saling pandang dengan sekilas kemudian kembali menetap Yussuf dengan tatapan penuh tanya
"eemm,, bisa kah kakak juga ganti kan pakaian nya dengan pakaian tidur, a,,, aku,,,?" tutur Yussuf yang masih terlihat ragu
"kenapa harus kakak yang menggantikan nya, maksud nya,, kenapa nggak kamu saja, kamu kan sudah halal untuk nya?" tanya kak Nisa dengan raut wajah menggoda
"b,, bukan begitu kak,, a,, aku,, aku tidak bisa melakukan nya" jawab Yussuf seraya membuang pandangan nya
"kenapa tidak bisa Yussuf, apa kah kamu serius?" suara bariton kak Ahkam yang terdengar sangat sarat akan kemarahan, bahkan wajah nya pun sudah terlihat merah padam
"b,, bukan begitu kak, aku tidak bisa melakukan nya sekarang karena aku tahu, neng Zahra mungkin belum siap sepenuh nya, maka dari itu aku tidak akan pernah memaksa nya" tutur Yussuf yang membuat kak Nisa mencubit pinggang ke Ahkam geram
"auh,, sakit mii,," rintihan kak Ahkam yang masih bisa di dengar oleh Yussuf sendiri
"ya sudah kakak mengerti, kita bawa Khaliza ke kamar hotel ini saja yang sudah Ayah Bunda sewa" ucap kak Nisa mempersilahkan Yussuf
...°°°...
di sini lah kedua nya berada, koridor hotel, kak Ahkam dan juga Yussuf, dengan Yussuf yang merasa tak tenang, terlihat dari gerak gerik nya yang terus melangkah ke sana kemari dengan lipatan tangan nya yang tengah di lipat kan di depan dada, bolak balik di depan pintu hotel, menunggu sang kakak ipar yang tengah mengoles kan minyak angin di tubuh sang istri
juga dengan kak Ahkam yang memang juga merasa khawatir, namun masih berusaha bersikap tenang dengan duduk di kursi yang tersedia
tiba-tiba,,,
ceklek,, suara pintu terbuka yang menampakan kak Nisa yang tengah memandangi Yussuf, membuat kedua nya menoleh secara bersamaan
"kenapa kak, apa yang terjadi dengan neng Zahra?" tanya Yussuf cepat dan beruntun, membuat sang kakak ipar menggeleng dan tersenyum
"sini?" ucap kak Nisa memberi isyarat jika kak Nisa ingin berbisik
"ada apa kak?" tanya Yussuf tak sabaran dan mengikuti instruksi dari kak Nisa
"istri mu sedang tidak memakai niqab saat ini, apa kah kamu ingin melihat dan memandangi wajah nya di kala tertidur, ini kesempatan yang bagus untuk kamu?" bisik kak Nisa dengan bersemangat, membuat Yussuf yang mendengar pun menggeleng dengan cepat
"tidak kak terima kasih, kakak pakai kan niqab nya lagi saja" jawab Yussuf tetap teguh dengan pendirian nya
"kenapa?" Tanya kak Nisa dengan heran
"tidak ada apa apa kak, aku tidak ingin melakukan nya tanpa izin terlebih dahulu dari nya, maka aku tetap tidak bisa melakukan nya" jawab Yussuf yang membuat kak Nisa menyerah dengan usaha nya dan kak Ahkam mengernyit heran
"hmm, oke tunggu sebentar, akan kakak pakaikan" jawab kak Nisa mengangguk paham dan kembali ke dalam kamar, serta kembali menutup pintu kamar hotel
"hhhhh,,," helaan nafas berat terdengar dari Yussuf, membuat kak Ahkam menoleh dan menepuk kursi di samping nya, mengajak Yussuf untuk duduk berdampingan
Yussuf pun duduk di samping kak Ahkam dengan menunduk
"apa yang kakak ipar kamu bilang, apa kah terjadi sesuatu pada istri mu?" tanya kak Ahkam, kali ini terbilang cukup mengeluarkan banyak kata
"hhh,, kakak menawar kan aku untuk melihat wajah neng Zahra kak" jawab Yussuf
"lalu,, mengapa kamu seakan menolak tawaran kakak kamu itu?" tanya kak Ahkam lagi
"kak,, maaf sebelum nya jika aku lancang di sini, bukan nya aku tidak ingin melakukan nya, namun tidak bisa di pungkiri, hubungan kami terjalin karena perjodohan, dan terkesan terpaksa bagi neng Zahra sendiri, sekali pun aku sangat ingin melihat wajah asli nya, namun aku tidak mau egois karena melihat wajah asli nya tanpa izin terlebih dahulu dari nya" jelas Yussuf yang semakin menunduk dalam, ada rasa ingin di hati nya di kala melihat sang kakak ipar berbaik hati menawar kan nya untuk memperlihatkan wajah asli cantik dan lugu dari istri nya itu, namun diri nya pun harus menahan nya sampai waktu yang tepat tiba, dan diri nya akan membicarakan nya terlebih dahulu dengan sang istri
melihat hal yang sang adik lakukan, apa lagi Khaliza ini merupakan sosok tersayang nya, kini berhasil membuat kak Ahkam terenyuh sekaligus tersentuh, betapa mulia nya suami dari adik nya ini, pikir nya
kak Ahkam pun tersenyum simpul dan menepuk bahu Yussuf juga mengusap nya "kakak bangga sama kamu, kini kakak percaya sama kamu, jaga dia baik baik, dia adalah permata kesayangan kami?" tutur kak Ahkam yang membuat Yussuf menegak kan badan dan ikut tersenyum
"yaah, terima kasih kakak sudah percaya sama aku, insya Allah, aku akan selalu menjaga dan melindungi nya" jawab Yussuf
ceklek,,,
suara pintu terbuka kini menyadarkan kedua nya dan membuat kedua nya menoleh, mendapati kak Nisa yang berjalan keluar dan kembali menutup pintu kamar hotel
"kakak sudah selesai mengganti pakaian nya dengan pakaian tidur, kita ke depan dulu, takut nya semua nya mencari kita, kamu jaga istri mu di dalam ya, kita pamit, assalamualaikum?" ucap kak Nisa di ikuti kak Ahkam dan menyisakan Yussuf sendiri di koridor hotel ini
_Assalamualaikum Zahra_
Jum'at, 11 Agustus 2023