Assalamualaikum Zahra

Assalamualaikum Zahra
Assalamualaikum Zahra



..._Assalamulaiakum Zahra_...


..._Mari Memulai_ ...


..."mereka boleh saja berbohong, boleh menggoda, boleh merayu, boleh berjanji, boleh berbasa basi, tapi, dengan berhati hati, dengan bersikap sedikit lebih cuek, setidak nya kita bisa tertolong, bisa terhindar dari kecewa, terhindar dari rasa sakit" ...


..._Khaliza Sulistya Az Zahra_...


"emm,, itu,, maaf ustadz,, jika sakit,, ustadz bisa peringat kan saya,, ma,, maaf jika ini sakit,,?" tutur nya yang sudah selesai menyiap kan kapas dan alkohol, juga hendak mengusap luka pada perut bagian kiri suami nya


mendengar hal itu, kini membuat Yussuf sendiri tersenyum lantas mengangguk "iya neng,," jawab Yussuf yang terdengar begitu lembut


diri nya pun mulai menyapu luka yang ada pada perut kiri sang suami dengan terus berusaha lembut, agar suami nya tidak merasa sakit yang berlebihan


"ssshhh,," terdengar ringisan tipis Yussuf yang membuat nya merasa bersalah karena mungkin diri nya merasa menyapu luka nya dengan kasar, padahal tidak


"maaf ustadz,, sedikit lagi selesai,,?" ucap nya saat memang hampir selesai dalam menyapu luka di dapati oleh suami nya


dengan telaten dan seakan sudah terlatih, diri nya pun merawat luka Yussuf dengan lembut dan lihai, namun jujur saja,, sejak tadi, diri nya tidak bisa berbohong jika diri nya sendiri pun merasa malu, apa lagi dengan keadaan suami yang tengah bertelanjang dada hingga menampakkan dada bidang nya, namun diri nya terus saja berusaha untuk tidak salah fokus dan hanya memandangi luka sang suami, tanpa memandang daerah lain lagi


"saya,, saya pasang kan plester dulu ustadz?" ucap nya saat tangan nya sudah menyiap kan plester dan kapas yang lain dan bersih


mulai menempel kan kedua benda itu dengan terus berusaha dengan hati hati meski kedua telinga nya terus mendengar ringisan ringisan tipis yang keluar dari mulut suami nya itu


"m,, maaf jika saya membuat luka nya semakin sakit ustadz,, saya,, saya tidak sengaja melakukan nya?" ucap nya seraya menunduk dan mundur mendekati kotak P3K


"hmm,, nggak apa apa neng,, aa' mengerti" jawab Yussuf sambil terus tersenyum


"sekarang pasang perban nya neng?" tanya Yussuf dengan lembut dan membuat nya mengangguk


mendengar hal itu, kini membuat nya merasa bingung, bagaimana diri nya memasang perban pada perut suami nya


hingga dengan terpaksa,, diri nya pun mulai memasang perban dan membuat perban memutari tubuh Yussuf dengan perlahan menggunakan kedua tangan nya


"teh,, apa teteh sudah selesai mengobati luka nya mas,, astaghfirullah,,!!" seru Ratih yang tiba tiba saja melihat diri nya yang sedang memasang perban, sontak Ratih pun membalik badan membelakangi pintu kamar


"kalau mau mesraan pintu nya di tutup kali mas,, pintu di buka kayak gini orang lain tidak akan mengira kalau mas lagi mesraan sama teteh di dalam,," rutuk Ratih tak santai


"apaan sih, kamu jangan salah paham dulu deh, sudah jelas teteh kamu sedang membantu mas mengobati luka, malah bilang mesra mesra, apaan,, nggak ada tanggung jawab nya banget jadi dokter, pergi sehabis tahu luka nya parah atau nggak,," jawab Yussuf dengan mendelik tajam


"hhh,, mas juga tuh, kenapa suruh teteh peluk gitu sih, janga paksa teteh aku kayak gini dong mas,,!" ujar Ratih yang masih saja belum membalik kan badan menghadap kedua nya


"ssshhh,, bukan kah kamu sendiri yang meminta bantuan sama teteh kamu untuk mengobati luka nya mas?" koreksi Yussuf membenar kan sambil meringis


"ma,, maaf ustadz,,?" ucap nya yang merasa bersalah


"sudah lah teh, nggak perlu meminta maaf apa lagi merasa bersalah gitu, mas ku itu memang suka gitu orang nya, suka meringis ngilu, padahal asli nya kuat banget teh, sakit nya nggak seberapa, ya,, memang luka nya lumayan cukup parah sih, hanya saja aku yakin kok, mas ku ini kuat menahan rasa sakit nya, dia hanya mau buat teteh makin khawatir saja,, aku peringat kan kamu ya mas, jangan godain teteh aku terus,,?" ujar Ratih yang membuat nya malu


"apaan sih kamu itu, orang mas memang benar benar merasa sakit kok, kamu lihat saja luka nya sendiri" ujar Yussuf balas berseru yang hanya di ledek dan di cibir oleh Ratih sendiri


"hmm,, iya Ratih, nanti teteh menyusul, kamu duluan saja makan nya, tadi kan kamu bilang belum makan, pasti lapar juga, makan lah terlebih dahulu,," jawab nya dengan menunduk yang membuat Ratih patuh dan melenggang pergi


memasang perban pada perut suami nya memang tidak lah mudah, karena memerlukan kefokusan yang penuh, namun hal itu tidak membuat nya terganggu, karena memang diri nya yang selalu berusaha untuk terus berpikiran positif pun akhir nya tinggal menggunting sisa perban dan menempel kan sisa nya dengan plester


"sudah selesai saya pasang perban nya ustadz, maaf,, jika saya kasar mengobati luka di perut nya tadi?" ucap nya dengan singkat, merasa suami nya ini hanya menggoda nya saja dengan meringis ngilu itu


"hmm,, nggak masalah neng" jawab Yussuf sambil tersenyum hangat


"sekarang saya obati luka di wajah ustadz,," tutur nya saat sudah selesai menetes kan alkohol ke permukaan kapas selanjut nya


"tidak kah sebaik nya neng makan terlebih dahulu neng,, neng nya pasti belum makan juga sejak di sini,, pasti merasa lapar?" tutur Yussuf menawar kan


"hmm,, nggak masalah ustadz,, saya bisa makan nanti" jawab nya


"tapi neng nya kasihan,, nanti lapar,, sama seperti Ratih kan?" tanya Yussuf yang merasa bersalah


"hmm,, nggak masalah ustadz, Ratih,, dia baru pulang dari universitas dan belajar,, saya tidak melakukan apa apa di sini" jawab nya


"baiklah,, tapi nanti harus tetap makan ya neng,, biar neng nggak sakit juga?" tutur Yussuf yang membuat nya mengangguk patuh


"iya ustadz,, insya Allah,, nanti saya makan,," jawab nya yang kemudian mulai membersih kan luka di sudut bibir Yussuf


tak bisa di pungkiri, Yussuf yang mendapat kan perlakuan seperti itu dari sang istri, niat hati ingin menggoda istri nya, namun malah laki laki ini sendiri yang tergoda, sudut bibir nya terasa berdenyut, bukan rasa sakit yang di rasa, namun rasa gemetar dalam diri karena berdekatan dengan jarak yang sangat dekat dengan istri nya ini


sejenak diri nya pun berpikir, mengapa ustadz tidak merasa sakit atau bahkan berusaha kembali menggoda nya saat ini, bukan kah tadi sudah merasa berhasil menggoda nya


padahal diri nya sendiri tidak menyadari jika sang suami sedang menahan diri nya untuk tidak melakukan apa apa kepada nya saat ini


"emm,, maaf ustadz,, jika saya boleh tahu,, mengapa ustadz bisa sampai mendapat luka separah ini?" tanya nya mencoba mengusir keheningan dan berhasil membuat yang di tanya tersenyum tipis


"hmm,, biasa neng,, laki laki,, suka nya baku hantam,," jawab Yussuf, di dalam hati nya berbunga bunga, karena istri nya terlihat mengkhawatirkan keadaan nya


"hmm,, tapi saya sedang tidak bercanda ustadz,," tutur nya yang masih fokus mengobati


"hmm,, ternyata neng tahu juga jika aa' memang sedang menggoda neng,, tapi,, neng nggak perlu khawatir,, perihal ini" jawab Yussuf


"bukan khawatir ustadz,, hanya saja,, ustadz tidak akan melakukan hal yang sama dengan apa yang saya pikir kan bukan?" koreksi nya yang merasa tidak yakin


"ish,, bukan lah neng, memang nya apa yang sedang neng pikir kan,, apa,,," sedetik kemudian, pikiran Yussuf ikut menjurus ke arah yang sama dengan yang di pikir kan istri nya, pasti istri nya ini berpikir jika dia menghajar seseorang dengan tanpa dosa


"bukan lah neng,, bukan begitu,, masa aa' bakalan tega begitu saja kalau adik ngaji nya aa' di hajar pereman jalanan,, kan kasihan,, ya sudah aa' bantu saja, lagi pula,, adik ngaji nya aa' belum pada lancar bela diri, masih di tingkat dasar,," jelas Yussuf


"baiklah,, saya mengerti,, maaf,, jika saya sudah salah?" ucap nya yang sudah selesai mengobati sudut bibir sang suami sekaligus sudut mata nya juga


_Assalamualaikum Zahra_


Sabtu, 19 Agustus 2023