
..._Assalamualaikum Zahra_...
..._Kanvas Kehidupan_...
..."akan datang orang yang tepat, di waktu yang tepat, dan cara yang tepat, percaya lah, tinggal pasti kan, kita terus memperbaiki diri sendiri, agar tepat siap saat momen itu tiba"...
..._Khaliza Sulistya Az Zahra_...
waktu terus berjalan, hingga kini, Ayah, Bunda dan juga diri nya tengah menemukan kehadiran Om Aydhan, Tante Ammie, dan,,, akh,, entah lah, diri nya tidak mengetahui siapa yang duduk di samping Tante Ammie itu
"assalamualaikum, maaf nih, pasti nunggu lama, biasa, hari Ahad, jalanan pasti macet?" ucap Ayah yang bersalaman dengan Om Aydhan
"waalaikum salam, iya tidak apa apa kok Lal, lagi pula aku juga baru saja sampai, jadi tidak terlalu lama menunggu, ayo ayo silakan duduk?" jawab Om Aydhan dengan tersenyum ramah
"bagaimana kabar kamu Dhan?" tanya Ayah yang seraya mengangguk kemudian duduk di kursi yang berhadapan dengan Om Aydhan
"alhamdulillaah,, kini kabar ku baik Bilal, bagaimana dengan kamu sendiri?" tanya Om Aydhan sambil tersenyum hangat memandangi wajah teduh milik Khaliza
"alhamdulillaah,, aku juga baik Dhan, syukur jika kamu baik juga" jawab Ayah yang tak kalah ramah
"assalamualaikum kak Aydhan, apa kabar?" ucap Bunda sambil menyatukan kedua tangan di depan dada, bersalaman tanpa bersentuhan
"alhamdulillaah Mila, kabar ku baik, kamu sendiri bagaimana?" jawab Om Aydhan yang membalas salaman tanpa bersentuhan juga dari Bunda
"alhamdulillaah,, saya juga baik kak, Ammie, bagaimana kabar kamu?" ucap Bunda dan beralih pada Tante Ammie di samping Om Aydhan
"alhamdulillaah Mila, kabar ku juga baik, kamu sendiri bagaimana?" jawab Tante Ammie sambil tersenyum hangat
"syukur lah, aku baik juga alhamdulillaah" jawab Bunda yang tak kalah ramah dengan tersenyum hangat
"kak Bilal, bagaimana kabar nya?" tanya Tante Ammie ramah
"akh,, alhamdulillaah Ammie, kabar kakak baik, lantas bagaimana dengan kabar kamu sendiri?" jawab Ayah yang tak kalah ramah
"alhamdulillaah,, aku baik juga kak" jawab Tante Ammie sambil tersenyum tipis
setelah drama saudara itu, kini semua nya duduk dengan posisi, Ayah yang berhadapan dengan Om Aydhan, Bunda yang berhadapan dengan Tante Ammie, dan diri nya yang berhadapan dengan,,, entah lah, kini diri nya kurang mengetahui perihal ini
"Mila,, kata nya kalian mau ajak anak kalian yang menjadi lulusan terbaik itu, dan sekarang,, di mana dia, kok aku belum melihat nya sih?" tanya Tante Ammie dengan tak sabaran
"xixi,, Ammie,, Ammie, ini yang sejak tadi sama aku, kamu kira siapa?" ujar Bunda merangkul kedua bahu nya dengan bangga
"bentar bentar deh, ini,,, ini Izza, Khaliza Sulistya Az Zahra, yang suka ke rumah dulu sama Ratih?" tanya Tante Ammie sambil terus memandangi wajah nya dengan mata yang berbinar dan rasa tak percaya
mendengar hal itu kini berhasil membuat nya berdiri dengan sopan "assalamualaikum Tante?" ucap nya seraya menyalami tangan kanan Tante Ammie
"assalamualaikum Om?" ucap nya lagi dan beralih menyelami tangan kanan Om Aydhan
dengan perlahan, Tante Ammie mulai beranjak dari duduk nya dan menghampiri nya "wa,,, waalaikum salam warahmatullah sayang, kamu benar Khaliza, kakak nya Ratih dulu, yang suka membantu Ratih mengerjakan tugas di rumah?" tanya Tante Ammie
"iya Tante, saya Khaliza" jawab nya dengan menunduk kan pandangan nya
"boleh Tante memeluk kamu nak?" tanya Tante Ammie sambil menunggu jawaban nya
sontak diri nya pun mengangguk dengan perlahan di sertai senyuman manis nya di balik niqab nya
"Bolehkah Mila, kak Bilal?" Tanya Tante Ammie yang mendapat angkutan langsung dari keduanya sambil tersenyum tipis
Merasa mendapatkan persetujuan dari keluarga Khaliza dan Khaliza nya sendiri, kini kontak membuat Tante Ammie berhambur memeluk tubuh nya dengan erat
"Tante kangen banget sama kamu Izza, ke mana saja kamu selama ini, dan Tante bahkan merasa paling melihat penampilan baru kamu sekarang, yang sudah mengenakan niqab sayang, seperti nya kamu semakin cantik saja ya, jadi kamu menutupi nya dengan niqab, akh iya,, selamat atas kelulusan dan nilai terbaik yang telah kamu capai, maaf, jika Tante nggak bisa hadir di acara wisuda nya kamu tempo hari lalu?" ucap Tante Ammie berturut turut yang membuat nya tersenyum hangat
"terima kasih Tante, maaf,, jika saya membuat tante khawatir dengan ketidak hadiran saya?" ucap nya yang merasa bersalah
"nggak apa apa sayang, Tante dengar dengar juga, kamu menguasai ilmu bela diri taekwondo di sekolah sana ya, kini Tante ikut merasa bangga sama kamu nak?" ujar Tante Ammie bersemangat, membuat nya tersipu malu
"alhamdulillaah Tante" jawab nya menunduk kan pandangan nya dan memang sangat pemalu itu
Tante Ammie pun mulai mengurai pelukan kedua nya "akh iya, apa kah kamu tahu Za, Ratih, dia itu seperti nya kangen banget sama kamu, dia selalu menanyakan kamu sama Tante" ujar Tante Ammie dengan semangat
"hmm,, begitu kah Tante?" jawab nya merasa tak percaya yang mendapat anggukan dari Tante Ammie sendiri
"sudah ish,, emang nya nggak pada pegel apa, berdiri terus sejak tadi, kita bertemu juga ada maksud lain lho, mau ulur waktu lagi" sahut Om Aydhan yang membuat kedua nya kembali terduduk
"akh iya,, Khaliza sayang,, perkenalkan, ini Yussuf, putra sulung Tante, kakak nya Ratih, yang pernah Bunda cerita kan sama kamu, Yussuf,, ini Khaliza, anak gadis kedua nya Ayah Bilal, yang pernah Umi cerita kan sama kamu" ucap Tante Ammie yang memperkenalkan kedua nya dengan perlahan
"a,, assalamualaikum neng Zahra, saya Yussuf?" ucap laki laki lajang dengan kulit putih ini yang terlihat menyatukan kedua tangan nya di depan dada nya bersalaman tanpa bersentuhan
"w,, waalaikum salam warahmatullah ustadz, saya Khaliza" jawab nya dengan sedikit heran, mengapa sosok di hadapan nya ini kini memanggil nya dengan sebutan Zahra?
"ehm,, canggung banget ya rasa rasa nya, usir dong rasa canggung nya, kalian sudah saling berkenalan juga, jangan canggung canggung banget" ujar Ayah yang sedikit bercanda
"emm,, kita sudah pernah bertemu sebelum nya kok yah" jawab Yussuf yang merasa di pojokan, membuat semua nya heran dan kebingungan, terutama Khaliza sendiri
"benar kah kak, kalian sudah pernah bertemu sebelum nya?" tanya Bunda hanya memastikan
"entah lah Bund" jawab nya dengan bahasa isyarat pada Bunda, pasal nya diri nya sendiri kurang yakin dengan penuturan sang ustadz
"sudah lah tidak usah di bahas masalah ini, kita langsung kan saja, tentu kan tanggal akad nya kapan?" ucap Om Aydhan yang memang tidak sabaran
"sabar dong bi, yang mau menikah kan mas Yussuf, kok jadi Abi yang gak sabaran sih?" ucap Tante Ammie yang merasa tak habis pikir
"ya kan Abi memang sudah nggak sabar mau jadi Ayah juga dari Khaliza Umi" jawab Om Aydhan sedikit pelan
"xixi, ya sudah, apa kah di antara kalian sudah ada yang cocok di tanggal berapa baik nya kalian menikah kelak?" tanya Ayah yang melihat putra putri nya kini hanya tertunduk dalam dan sama sama terpancar jika kedua nya memiliki rasa malu yang begitu tinggi
"emm,, seperti nya di tanggal 5 tahun hijriah saja Ayah, perihal bulan nya, itu terserah mau bulan apa saja" jawab Yussuf dengan tegas
"hmm, baiklah,, nanti Ayah cari kan bulan yang cocok ya, jika menurut kakak bagaimana kak?" tanya Ayah yang mendapat anggukan dari semua nya
"kakak juga ikut saja Ayah" jawab nya yang masih setia menunduk
tak berapa lama kemudian,,,
"bentar ya, Abi ke kamar kecil dulu?" ucap Om Aydhan seraya bergegas pergi
1 menit, 2 menit hingga 3 menit kemudian,,,
sudah beberapa menit menunggu, namun nyata nya, Om Aydhan pun belum kembali juga dari dalam kamar kecil, hingga pada akhir nya
"akh,, ini dia, orang nya telepon, sebentar ya, umi angkat panggilan dulu?" ucap Tante Ammie sambil berdiri dan sedikit menjauh dari tempat duduk nya
"assalamualaikum bi, kenapa?"
"..."
"lho, kok bisa?"
"..."
"ya sudah iya, Umi ke sana sekarang, tapi,, bagaimana dengan Yussuf bi?"
"..."
"ya sudah, Umi pamit dulu sama semua nya kalau gitu, assalamualaikum?"
"..."
"iya"
Tante Ammie pun mulai menghampiri semua nya yang masih duduk manis di tempat duduk nya masing masing
"aduh,, maaf ya semua, aku harus menyusul mas Aydhan, kata nya maag nya kambuh lagi, jadi aku akan menemani nya ke dokter" ucap Tante Ammie yang terlihat merasa bersalah
"ya sudah nggak masalah Ammie, tapi Aydhan nya nggak apa apa kan?" tanya Ayah yang merasa ikut khawatir
"insya Allah nggak apa apa kak Bilal, mungkin hanya telat makan saja, nanti juga akan membaik lagi kok" jawab Tante Ammie
"biar Yussuf yang antar Umi?" ucap Yussuf dengan seraya berdiri
"enggak masalah nak, Umi sendiri saja susul Abi nya, kamu di sini saja dulu" jawab Tante Ammie yang mendapat anggukan pasrah dari ustadz Yussuf
"kalau begitu, saya permisi duluan, assalamualaikum?" ucap Tante Ammie sambil berlalu pergi setelah mendapat jawaban salam dari semua nya
Hingga beberapa menit kemudian
Ayah yang mendengar dering ponsel nya sontak membuat Ayah mengangkat panggilan nya
"assalamualaikum, iya ada apa?"
"..."
"apakah harus sekarang juga, saya sedang ada urusan di luar?"
"..."
"akh,, baiklah, sekitar 10 menit lagi saya tiba di sana"
"..."
"tidak masalah, waalaikum salam warahmatullah"
"ada apa Ayah?" tanya Bunda yang sudah merasa penasaran
"Bund, seperti nya kita harus segera ke pabrik sekarang, soal nya klien kita dari luar negeri sudah sampai di sana, mereka membutuh kan presentasi untuk data barang yang akan di impor keluar" jawab Ayah
"kalau begitu, kak, kakak di sini dulu ya, Ayah sama Bunda harus kembali ke pabrik sekarang, nanti Bunda menghubungi Arsen untuk menjemput kakak di sini?" ucap Bunda
"t,, tapi Bund,,," jawab nya yang merasa ragu ragu
"b,, baiklah Bund" jawab nya yang kemudian merasa pasrah, mengingat kedua orang tua nya sangat sangat sibuk
"ya sudah, Yussuf, Bunda titip anak gadis kedua Bunda ini ya, dia sedikit keras kepala, jangan biar kan dia pulang sendiri, takut nya dia nyasar, nanti bunda khawatir?" ucap Bunda lagi
"baik Bunda" jawab Yussuf dengan senyuman tipis khas nya
"kalau begitu, Bunda Ayah pamit dulu ya, assalamualaikum?" ucap Ayah yang di jawab oleh kedua nya
tanpa kedua orang tua masing masing di sisi kedua nya, kini berhasil membuat suasana semakin canggung
"mengapa Ayah Bunda harus ikut pergi juga sih?" gumam nya dalam hati dan memang selalu menundukkan kepala nya
"neng, apa kah neng Zahra baik baik saja?" tanya Yussuf berusaha mencoba ramah dan hangat dengan nya
"saya baik ustadz" tutur nya yang membuat orang yang ber tanya mengulas senyum tipis nya
"syukurlah, aa' kira neng sakit atau ada masalah" jawab ustadz Yussuf kembali
"ehm,, maaf neng, mungkin neng masih bertanya tanya perihal pertemuan pertama kita, tapi,, masih ingat kah neng perihal sapu tangan biru navy,,, apa neng bisa mengingat nya, atau,, kita yang pernah menyaksikan indah nya langit senja yang menimbulkan sinar jingga nya di bawah langit bersama?" ucap Yussuf yang membuat nya kembali berusaha mengingat masa di kala itu yang memang benar ada nya
sontak diri nya yang mulai mengingat nya pun bertutur dengan penuh rasa kegugupan "a,, akh, jadi,, yang menolong saya di kala itu adalah ustadz rupa nya, maaf, jika saat ini saya tidak membawa sapu tangan nya, namun, insya Allah secepat nya,, akan saya kembali kan?" ucap nya terhenti henti karena merasa gugup
"nggak usah di kembali kan juga nggak masalah neng, toh sebentar lagi juga kita akan menikah, jadi sapu tangan itu juga milik neng" jawab ustadz Yussuf ramah
"di kala itu, tangan kiri nya neng cukup terluka, a' takut itu akan menimbul kan infeksi pada tangan neng, karena mendapat luka sobekan dan luka bakar, apa sekarang sudah baik baik saja?" tanya Yussuf memastikan di kala mengingat luka yang di dapati nya kini berhasil membuat Yussuf merasa sedikit khawatir
"alhamdulillaah,, sekarang sudah mulai membaik ustadz" jawab nya yang membuat hati Yussuf sedikit lega
"akh iya, kita bahkan belum memesan makanan, karena pertemuan tadi, kita sambil makan siang saja di sini dulu ya?" ucap ustadz Yussuf sambil mengangkat tangan nya memanggil pelayan
tanpa menunggu beberapa waktu, kini makanan kedua nya pun tiba, namun sontak diri nya menoleh kan tatapan nya pada ponsel nya yang terus berdering
"assalamualaikum Nay, ada apa?"
"waalaikum salam warahmatullah Kha, huaaa,, aku kangen nya pakai banget sama kamu Kha, kamu kapan ke sini lagi?"
"hmm, iya, insya Allah nanti aku pulang ke sana lagi ya, kemarin Ayah Bunda jemput aku karena memang ada urusan yang harus aku selesaikan di sini"
"kamu harus segera ke sini pokok nya Kha, aku nggak mau tahu itu!"
"lho,, ada apa Nay, kan ada Lia yang menemani kamu di sana, bukan kah ada ponsel juga kan?"
"huuh,, tahu tuh, aku kesal sama Lia, dia sudah mulai sibuk sama urusan persiapan pernikahan nya sama Radit, kamu pikir ponsel bisa di ajak berbicara apa, aku butuh teman untuk curhat, kalau sama ponsel nggak bisa, memang nya kamu, suka curhat sama buku langsung nyaman!"
"ya',, ya inti nya kamu harus segera ke sini titik, nggak pakai koma, kamu yang cantik, aku yang punya!!"
"xixi,, kamu ada ada saja deh, iya insya Allah aku ke sana secepat nya Nay"
"sekarang kamu lagi apa, di mana?"
"emm,, ini aku baru mau makan siang, di food court Nay"
"ya sudah deh, lanjut kan saja makan siang nya, aku nggak mau ganggu kamu, karena aku benar benar menunggu kamu dan kesibukan kamu di sana agar cepat selesai, dan kamu bisa cepat ke sini lagi ya, assalamualaikum?"
"waalaikum salam warahmatullah"
'ternyata kalau sudah dekat, dia bisa banyak berbicara dan ramah juga, bagaimana pun, aku harus bisa dapat kan hati nya' batin Yussuf sambil tersenyum memandangi wajah nya
"telepon dari siapa neng?" tanya ustadz Yussuf yang memang penasaran, di kala bisa melihat nya tersenyum meski senyum itu di suguh kan dari balik niqab
"teman di asrama ustadz" jawab nya kembali singkat
"oh, eh, ayo neng di makan steak daging nya?" ucap ustadz Yussuf dengan ramah
"iya ustadz" jawab nya sambil menunduk dalam, menahan getaran hati nya yang bergejolak seiring dengan waktu yang terus berlalu
"tunggu sebentar ya neng, aa' angkat panggilan dulu, neng lanjut makan saja enggak masalah?" ucap ustadz Yussuf sambil berlalu pergi setelah mendapat anggukan dari nya
"assalamualaikum Umi, ada apa?"
"..."
"masih, Ini aku baru makan siang, kan tadi kita belum sempat pesan makanan, aku takut 'dia' nya sakit"
"..."
"..."
"iya Umi, nanti aku antar kan neng Zahra pulang, ke rumah nya Bunda Mila kan?"
"..."
"iya Umi, bagaimana kah dengan kesehatan Abi sekarang?"
"..."
"syukur lah Umi, iya, assalamualaikum?"
"..."
"maaf ya neng, nunggu lama, baru saja Umi yang telepon?" ucap ustadz Yussuf yang merasa bersalah karena merasa meninggal kan nya seorang diri dengan waktu yang cukup lama, padahal hanya 3 menit
"nggak apa apa ustadz" jawab nya seraya meminum air putih dengan bantuan sedotan
"maaf ustadz,, saya izin,, menghubungi Arsen?" ucap nya yang memang selalu terjeda jeda, karena rasa gugup dan hanya mendapati anggukan serta senyuman menawan yang mungkin, diri nya tidak menyadari nya karena selalu menundukkan pandangan nya
tuuut,, nomor yang anda tuju, tidak dapat dihubungi, cobalah beberapa saat lagi
"Arsen ke mana sih?" gumam nya yang masih bisa di dengar oleh ustadz yang duduk manis di hadapan nya
memilih untuk tidak menyerah, kini diri nya pun mencoba nya berulang kali, sehingga pada akhir nya
"assalamualaikum?"
"waalaikum salam warahmatullah, kakak nya Arsen yang cukup jutek, ada apa nih, tumben menghubungi adik nya yang tampan ini, mau kasih kuota ya?"
"hhhhh,, gak usah ke gr an, tolong jemput kakak sekarang di mall"
"yaah, aku lagi sibuk nih kak, aku lagi latihan TNI bareng Alfi, kakak telat sih telepon nya, aku juga baru saja sampai gym"
"bisa kali jemput kakak dulu sebentar, kakak janji deh, apapun yang kamu ingin kan, jika itu memungkinkan kakak untuk mengabulkan nya, akan kamu dapat kan?"
"tapi tetap nggak bisa kak, ini komandan nya sudah ada, aku juga telat 3 menit, di kasih hukuman juga nih"
"ya sudah, kakak tutup dulu, assalamualaikum?"
"iya, maaf ya kak, aku benar benar nggak bisa, waalaikum salam warahmatullah kakak sayang"
"kenapa neng?" tanya Yussuf, yang padahal sudah mengetahui dan bahkan ikut tersenyum kecil di kala melihat dan menyaksikan keributan antara dua kakak beradik ini
"nggak ada apa apa ustadz,, Arsen hanya,, bilang,, jika,, dia,, tidak bisa,, menjemput saya,, di,, sini,," jawab nya
"ya sudah nggak apa apa neng, biar aa' yang antar pulang saja, tapi aa' selesai kan makan dulu ya?" ucap Yussuf yang malah terdengar sangat lembut
"nggak apa apa ustadz,, saya bisa sendiri" tutur nya
"nggak apa apa neng, biar aa' antar kan saja, lagi pula,, aa' bawa mobil kok" ucap Yussuf meyakin kan
"t,, tapi,, tapi ustadz,," ucap nya
"neng, nggak apa apa ya, aa' nggak mau ambil resiko, jika neng kenapa kenapa di kala pulang tanpa aa' antar kan, aa' juga nggak mau Bunda khawatir, ini amanah dari bunda, a' harus mengantar kan neng sampai di rumah?" bujuk Yussuf dengan lembut
"b,, baiklah ustadz" jawab nya yang di rasa hanya bisa pasrah saja
...°°°...
waktu terus berjalan, hingga kini, Khaliza dan Yussuf pun sudah sampai di parkiran depan mall
"ayo masuk neng?" ucap Yussuf, membuat nya yang sebelum nya ragu kini mengangguk kan kepala nya dengan perlahan
diri nya pun mulai duduk di kursi tengah mobil Yussuf, namun hal itu membuat Yussuf sendiri tengah keheranan
"neng, kenapa neng duduk di kursi belakang, di sini juga kosong, pindah ke sini ya?" tutur Yussuf sambil menepuk kursi di samping nya
"nggak masalah ustadz,, saya duduk di sini saja" jawab nya yang terlihat masih menunduk
"neng, neng itu adalah calon istri aa', bukan penumpang nya aa', jadi nggak akan menjadi masalah, jika neng duduk di samping aa' sekarang" ucap Yussuf yang membuat nya mengangguk
"maaf ustadz?" ucap nya yang mendapat anggukan hangat dari Yussuf sendiri
dengan perlahan, diri nya pun keluar dari dalam mobil Yussuf, dan saat diri nya akan kembali masuk ke dalam mobil bagian depan, alangkah terkejut nya diri nya kala mendapati Yussuf yang perlahan membukakan pintu mobil untuk nya
"t,, terima kasih ustadz?" ucap nya yang mendapati anggukan hangat dari Yussuf sendiri
Yussuf pun mulai mengitari mobil bagian depan nya dan mulai masuk ke dalam mobil, namun, pergerakan yang di ambil terhenti sejenak kala,,
dengan perlahan, Yussuf pun mulai mendekati nya yang terdiam tanpa ekspresi, lebih tepat nya berusaha menahan kegugupan yang melanda nya
"maaf ya neng, seat belt nya belum di pasang?" ucap Yussuf yang membantu nya memasang kan seat belt pada tubuh nya
"te,, terima kasih ustadz?" ucap nya yang merasa sedikit lega dan mendapat anggukan dari yang mendengar
Yussuf pun mulai menyalakan dan melajukan mobil nya dengan kecepatan normal, membelah jalanan Jakarta siang ini
"ehm,, Umi bilang, neng dulu begitu akrab sama Ratih ya?" tanya Yussuf berusaha mengusir kecanggungan yang melanda
"Tante bilang gitu ustadz?" tanya nya yang merasa harus mulai terbiasa dengan kehadiran Yussuf sendiri
"yaah, tambah lagi dia yang suka menanyakan neng sama Umi, kata nya dia kangen sama kakak nya, itu buat aa' heran juga, memang nya dia punya kakak siapa lagi selain aa'?" cerita Yussuf yang membuat nya tersenyum simpul
"kalau boleh tahu, memang nya dia sedekat apa sih dulu sama neng?" tanya Yussuf lagi yang mencoba akrab dengan yang notabene nya 'calon istrinya'
"sama seperti ustadz yang sudah dekat dengan Arsen dan kak Nisa" jawab nya yang membuat Yussuf lagi lagi terheran
"memang nya dia nggak mengesalkan gitu, kan kalau sama aa', dia cukup mengesalkan orang nya neng?" tanya Yussuf lagi
"sama hal nya dengan ustadz, Arsen juga menyebalkan, jika sedang bersama dengan saya, dia bahkan seperti nya lebih menurut, dengan ustadz di banding kan dengan saya, maka Ratih juga seperti itu, dia penurut jika sedang bersama dengan saya, dia juga ramah, di kala bersama dengan saya" jawab nya yang membuat Yussuf mengerti
"akh,, begitu kah?" tanya Yussuf yang memang diangguki oleh nya sendiri dan berhasil membuat Yussuf tersenyum Simpul
'begini kah rasa nya bisa akrab sama kamu neng, aa' cukup senang bisa terus bersama mu, setelah sekian lama hanya bisa mengagumi diri mu dan melihat mu, namun tanpa bisa menyapa mu'
...°°°...
seiring dengan berjalan nya waktu, kini kedua nya telah sampai di depan pintu rumah utama Ayah dan Bunda
Tok tok tok "assalamualaikum?" ucap nya di kala mengetuk pintu rumah
"waalaikum salam warahmatullah, eh, kebetulan kalian pulang siang ini, ayo masuk, kita pilih surat undangan pernikahan kalian?" ujar Bunda yang membukakan pintu rumah utama ini dengan bersemangat di kala melihat kedua nya yang terlihat seperti pasangan
terlihat semua anggota keluarga yang sudah berkumpul di ruang keluarga dengan senyum bahagia nya masing masing
mata nya begitu terkejut, di kala melihat sosok yang begitu di rindukan nya itu kini bisa hadir di hadapan nya dengan tubuh yang sehat
"assalamualaikum Nek, nenek apa kabar?" ucap nya yang berhambur ke dalam pelukan sang nenek, nenek dari ibu nya
"waalaikum salam warahmatullah cucu nenek, alhamdulillaah, kabar nenek baik sayang, kamu sendiri bagaimana, baik juga kan?" ucap nenek yang membalas pelukan nya
"syukur lah Nek, Izza lega mendengar nya, alhamdulillaah,, Izza juga baik seperti apa yang nenek lihat sekarang" jawab nya yang mengurai pelukan kedua nya
"sudah sayang, jangan manjaan sama nenek terus dong, malu tuh sama calon imam, masa sudah mau jadi istri masih manja manjaan sama nenek sih?" goda nenek
"Nenek" ucap nya yang membuat semua nya melihat tingkah nya itu terkekeh kecil
"assalamualaikum Nek, saya Yussuf?" sapa Yussuf dengan mencium punggung tangan kanan nenek dengan lembut
"waalaikum salam warahmatullah, calon cucu menantu nenek, ayo duduk, kita pilih surat undangan pernikahan kalian sama sama ya?" ucap Nenek ramah dengan di angguki oleh Yussuf sendiri
"sudah, duduk lah, ayo Yussuf, duduk, kalian pilih motif surat undangan pernikahan kalian ya, yang mana kira kira yang cocok untuk pesta pernikahan kalian nanti nya?" tanya Ayah
"emmm,, seperti nya yang ini saja deh Yah" ucap nya yang bersamaan dengan ucapan Yussuf di kala menunjukkan arah surat undangan yang berwarna hitam, kertas tebal dengan ukiran cantik bertinta emas, dengan di padukan warna merah maroon dan moca
"masya Allah,, kalian itu benar benar satu hati ya, ya sudah, apa nggak mau melihat lihat yang lain nya dulu, ini seperti nya bagus nih?" ucap Ayah pada satu surat undangan pernikahan berwarna biru navy
"hmm,, seperti nya enggak deh Yah, ini terlalu mewah buat aku, aku mau nya yang sederhana saja, nggak apa apa kan ustadz?" tutur nya yang meminta persetujuan dari Yussuf
"iya neng, nggak apa apa, yang ini terlalu mewah juga buat acara pernikahan kita nanti nya" jawab Yussuf sambil tersenyum hangat
"nggak mau yang ini juga kak?" tanya Bunda yang menunjuk pada surat undangan berwarna merah
"emm,, seperti nya nggak juga deh Bund, kalau yang ini terlalu ramai, takut nya nanti malah yang baca nya nggak mengerti" jawab nya
"iya Bund, apa nggak terlalu ramai kalau yang ini?" tanya Yussuf membenar kan
"hmm,, ya sudah lah, yang kalian pilih saja, toh ini juga untuk acara pernikahan kalian kan, untuk tanggal nya tanggal 5 Muharram ya, sudah Bunda Ayah pikir kan dengan matang, jadi tinggal menunggu surat undangan nya jadi, besok kalian fighting gaun pengantin ya, Bunda sama Umi yang antar?" ucap Bunda yang membuat nya sedikit terkejut dan pasrah juga
"tinggal tersisa beberapa Ahad lagi dari sekarang dong Bund, apa itu tidak terlalu kecepatan?" tanya nya yang memang sedikit terkejut
"nggak apa apa sayang, nggak ada yang kecepatan kok, itu sudah waktu nya, kakak setuju kan?" tutur Bunda yang membuat nya mengangguk pasrah saja
"iya Bund, kalau begitu, Yussuf pamit pulang dulu ya Bund, Ayah, Nenek, kak Nisa, kak Ahkam, semua nya, Yussuf pamit?" ucap Yussuf yang membuat semua nya menjadi merasa bingung
"lho,, Yussuf, kok hanya sebentar di sini, nanti saja pulang nya, nanggung, udah mau adzan Dzuhur nak, mending salat berjamaah di sini saja dulu?" tutur Bunda
"insya allah bunda, lain kali Yussuf singgah lagi ke sini, sekarang takut nya Umi cariin?" jawab Yussuf
"akh,, ya sudah kalau memang itu mau kamu, kak, kakak antar kan Yussuf sampai depan gih?" tutur Bunda yang memang di angguki oleh nya sendiri
sesampai nya kedua nya di depan pintu rumah
"a' pamit pulang dulu ya neng?" ucap Yussuf sambil menoleh sekilas tanpa memandangi wajah nya lama lama
"iya ustadz, terima kasih, sudah mengantar saya sampai di rumah?" jawab nya yang memang selalu menunduk
"iya sama sama, kalau hanya mengantar neng saja mah, nggak apa apa atuh" jawab Yussuf sambil tersenyum tipis membuat nya malu sendiri
"tapi,,, kenapa tadi neng seperti nya terkejut gitu mendengar tanggal akad nya, apa kah neng belum siap?" tanya Yussuf dengan hati hati
"bukan apa apa ustadz, maaf jika saya menyinggung, karena saya memang harus ada persiapan meski sedikit" jawab nya seraya menunduk dalam, membuat Yussuf mengerti
"ya sudah, aa' jalan sekarang ya, terima kasih juga, neng sudah mengantarkan aa' sampai di sini, assalamualaikum?" ucap Yussuf yang mendapat jawaban salam langsung dari nya
mobil yang di kendarai Yussuf pun mulai meninggal kan rumah Bunda, membuat nya kembali masuk ke dalam rumah
"bagaimana sayang, dia cukup ramah bukan, kamu sudah cocok belum sama dia, masa sama ustadz seperti dia saja kamu nggak cocok juga sih?" tanya ayah menggoda nya yang baru mendudukkan diri nya di sofa samping sang Ayah
"emm,, entah lah Ayah, beliau memang baik sama aku, tapi,, sedikit sulit juga untuk menetralkan hati aku agar bisa menerima nya, mungkin suatu saat nanti" jawab nya sedikit malu
"Ayah Bunda percaya sama kamu sayang, kamu nggak akan mengecewakan kami semua" tutur Ayah yang mulai serius
"Ayah tidak akan memaksakan kamu untuk bisa segera mencintai nya nak, selagi kamu menerima perjodohan ini, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Ayah merasa senang, seiring dengan berjalan nya waktu, kamu pasti bisa menerima dan mencintai nya dengan ikhlas karena Allah" tutur ayah menasehati nya
"iya Ayah, terima kasih, Ayah selalu mengerti apa yang aku rasa kan?" ucap nya yang mendapat anggukan dari sang ayah
...°°°...
malam ini, diri nya tengah duduk di atas ranjang nya dengan kedua tangan yang memegang ponsel pintar nya
namun pergerakan nya terhenti di kala ponsel di genggaman nya berbunyi, tanda ada panggilan masuk
"assalamualaikum tth Izza, ini aku Ratih, huhu, aku kangen nya pakai banget sama teteh, kenapa tadi teteh nggak ikut mas Yussuf saja ke rumah sih, kalau gitu kan bisa ketemu sama aku?"
"waalaikum salam warahmatullah, hmm, iya Ratih, nanti lain waktu ya, teteh main main lagi ke sana, bagaimana kabar kamu sekarang?"
"alhamdulillaah,, kabar aku baik teteh, teteh sendiri bagaimana, baik juga kan?"
"iya alhamdulillaah, kabar teteh juga baik Ratih, syukur lah, teteh senang mendengar nya"
"akh iya teh, aku dengar dengar, teteh jago taekwondo ya, boleh dong, kalau nanti aku minta teteh untuk mengajarkan aku sebagian jurus jurus nya?"
"xixi, iya insya Allah Ratih, nanti teteh ajar kan, tapi buat apa?"
"buat jaga diri dong teh, soal nya aku mau masuk fakultas kedokteran"
"akh,, selamat ya Ratih, semoga makin sukses dari fakultas sana?"
"allahumma aamiin, makasih teteh do'a nya, oh iya, sampai bertemu besok ya teh, aku dengar, besok teteh sama mas Yussuf fighting gaun pengantin, jadi aku ngotot mau ikut, alhamdulillaah, Umi kasih izin juga"
"lho, bukan kah besok itu hari Senin ya, kamu nggak masuk kuliah, pasti padat dong jadwal nya?"
"masuk kok teh, hanya saja besok aku hanya ada satu kelas, jadi aku akan pulang cepat, mungkin pukul 09.00 juga sudah ada di rumah lagi teh"
"akh,, begitu kah, ya sudah, iya, sampai bertemu besok juga Ratih"
"iya teteh, duuh, nggak sabar aku tuh pengen cepat cepat besok tiba, pengen cepat dapat kelas, pengen cepat pulang, pengen cepat kembali bertemu sama teteh lagi, aku rindu teh"
"hmm,, maaf, jika teteh pernah membuat kamu khawatir?"
"iya si teh, teteh memang pernah membuat aku khawatir, tapi aku merasa bersyukur banget, penantianku akhir nya nggak sia sia juga, bahkan teteh yang aku sayangi ini, akan benar benar menjadi kakak ku sendiri"
"kamu sudah mengetahui nya?"
"hmm,, iya teh, rasa nya aku nggak percaya banget, jika teteh akan menjadi teteh aku sendiri"
"hmm,, se senang itu kah kamu di kala mendengar kabar perihal ini?"
"iya teh, aku bahkan merasa senang banget, rasa nya nggak percaya sama terkejut gitu di kala mendengar nya bercampur jadi satu dalam diri aku teh"
"hmmm,, begitu kah?"
"iya teh, ya sudah ya teh, seperti nya aku harus segera pergi tidur agar waktu cepat pagi, cepat dapat kelas, cepat pulang sampai rumah, sampai cepat bertemu dengan teteh juga, aku tutup dulu panggilan nya, selamat malam teteh, mimpi indah, assalamualaikum?"
"hmm, iya Ratih, selamat malam juga, mimpi indah Ratih, waalaikum salam warahmatullah"
_**Assalamualaikum Zahra_
Kamis, 3 Agustus 2023**