
..._Assalamualaikum Zahra_...
..._Tidak Terduga_...
..."senja mengajarkan kita menerima sebuah perpisahan, dengan jaminan pertemuan yang hangat, pada esok hari"...
..._Khaliza Sulistya Az Zahra_...
di terik matahari siang ini, diri nya dan juga Khanaya, kini kedua nya baru pulang dari mall, pusat perbelanjaan di kota Tangerang, dengan barang barang yang kedua nya beli sebagai hadiah pernikahan untuk kedua sahabat nya
"akh,, akhir nya sampai juga di kamar asrama ini, Kha, aku sudah nggak sabar lagi deh, mau cepat cepat memberikan kado kita untuk Lia nanti, penasaran gitu sama reaksi nya bagaimana?" ujar Khanaya bersemangat sambil menoleh ke arah nya yang masih terdiam di bingkai pintu
"hmm,, iya ya, sebenar nya aku juga cukup penasaran sih sama reaksi nya nanti, tapi,, apa pun itu, semoga dia menyukai hadiah pemberian dari kita ya?" jawab nya yang mendapat anggukan dari Khanaya
"eh sebentar Kha, dia telepon nih orang nya, kamu jangan bersuara dulu ya, aku mau bilang jika kamu nggak bisa datang soal nya, ini akan menjadi surprise tersendiri untuk dia juga nanti nya?" ucap Khanaya yang mulai mengangkat panggilan nya dengan me load speaker panggilan nya, membuat nya juga dapat mendengar apa yang di bicara kan oleh kedua sahabat nya nanti
"halo assalamualaikum Li, ada apa?"
"waalaikum salam warahmatullah Nay, kamu sedang apa, di mana?"
"emm,, aku lagi beres beres nih, di kamar asrama, kenapa, apa kah ada masalah?"
"Khaliza,, apa dia sudah datang, kok tiba tiba aku ter pikir kan sama dia ya, apa dia sudah kembali ke asrama?"
"emmm, belum tuh Li, aku juga sendirian di sini, kata nya sih, urusan nya masih banyak yang harus dia selesai kan di Jakarta, aku juga nggak tahu jika perihal itu"
"yaah, gimana ya, sayang banget ya, jika dia benar benar sampai nggak bisa datang, ini kan acara istimewa nya aku sama kak Radit, seumur hidup, masa sahabat aku nggak bisa datang sih?"
"ya habis nya mau bagaimana lagi Li, aku juga nggak bisa paksa kan, dia juga seperti nya merasa bersalah gitu, tapi kamu tenang saja, kata nya besok akan datang hadiah pemberian dia buat kamu Li"
"aku tidak melihat hadiah dari Khaliza Nay, aku tidak membutuh kan itu, yang aku butuh kan adalah kehadiran nya di acara besok, jika nggak bisa juga nggak apa apa lah, mungkin masih banyak urusan, tapi kamu jadi kan ke sini?"
"iya Li, kalau aku insya Allah jadi, tapi nanti malam ya Li, soal nya aku juga harus ikut kegiatan di asrama pesantren terlebih dahulu, nggak bisa aku tinggal gitu saja, sama izin dulu sama keluarga pesantren?"
"iya nggak masalah Nay, aku tunggu pokok nya ya, Mama aku juga sebenar nya merasa sedih juga seperti nya tuh, mendengar Khaliza yang memang tidak bisa datang, tapi nggak apa apa, aku berangkat sore ini ke hotel, kamu nanti nggak apa apa kan, berangkat sendiri, enggak aku jemput, soal nya aku juga mau dekorasi kamar?"
"iya nggak masalah Li, aku berangkat sendiri saja ke sana nya, nggak perlu kamu jemput kok, tapi nanti ya, aku masih harus beres beres?"
"iya Nay, nggak masalah, terima kasih ya, aku tutup dulu, yang mendampingi ku mendekor kamar nya sudah ada, assalamualaikum?"
"iya Li, waalaikum salam warahmatullah"
"waalaikum salam warahmatullah,," jawab nya saat Khanaya sudah mengakhiri panggilan nya
"apa ini nggak berlebihan Nay, aku merasa bersalah banget nih sama dia?" tutur nya
"ya nggak masalah lah Kha,, nama nya juga surprise, harus ada pengorbanan nya juga dong, eh iya, kamu kapan mau menemui Andra, kasihan, dia dari kemarin seperti nya benar benar menunggu kamu gitu deh?" ujar Khanaya di kala mengingat sesuatu
"lagi pula,, aku juga ada amanah dari dia, jika kamu sudah kembali, kata nya dia mau bertemu sama kamu, waktu di kamar kecil juga waktu aku mau ambil wudhu tadi ketemu, kata nya siang ini suruh kamu ke taman belakang asrama Kha" lanjut Khanaya
"ya sudah deh, akan aku temui sekarang saja kali ya Nay, tapi,, bagaimana jika kak Andra tidak bisa menerima semua kenyataan nya?" tutur nya yang mulai merasa khawatir
"kamu tidak usah merasa khawatir seperti itu Kha,, cepat atau lambat, kamu juga pasti akan memberitahu nya kan, dari pada nanti setelah kamu menikah, dan bahkan jika dia mengetahui hal ini dari orang lain, pasti rasa bersalah nya banyak banget, mending sekarang, aku yakin, dia pasti bisa mengerti keadaan kamu kok?" tutur Khanaya berusaha menenangkan di kala melihatnya mulai menunduk
"ya sudah deh, aku pamit dulu kalau begitu ya, nanti aku ke sini lagi, bantu do'a kan aku ya Nay, assalamualaikum?" ucap nya seraya berjalan keluar di kala sudah mendapat kan jawaban salam dari Khanaya
...°°°...
di siang hari menjelang sore ini, Khaliza,, diri nya tengah terduduk di kursi memanjang di taman belakang asrama dengan hanya menunduk dalam, berpikir bagaimana baik nya cara memberitahu sosok yang selama ini selalu menanti nya dengan tenang
terus terdiam hingga suara lembut salam dari seseorang pun mulai menyadarkan nya dari lamunan nya "assalamualaikum Kha,, sudah lama menunggu?" ucap Andra seraya duduk di kursi sebelah kiri nya
"w,, waalaikum salam warahmatullah kak Andra, tidak kak, saya baru saja sampai" jawab nya
"aku dengar kemarin kamu mudik ya, baru pulang?" tanya Andra dengan senyuman hangat khas nya
"hmm,, iya kak, orang tua saya jemput saya kemarin, jadi buat saya mudik?" jawab nya
"hmm,, iya,, maaf ya, jika aku banyak bertanya sama Khanaya perihal mu?" ucap Andra yang merasa bersalah
"iya nggak masalah kak Andra" jawab nya yang memang selalu setia menunduk
"akh,, hampir saja aku lupa, aku mengajak mu untuk bertemu di sini, sebenar nya ada kabar baik alhamdulillaah Kha, sebenar nya kabar baik nya sudah dari Ahad lalu, namun karena aku baru bisa bertemu sama kamu nya sekarang, jadi aku akan memberitahu kamu sekarang" tutur Andra langsung pada inti nya
"kabar baik apa itu kak?" tanya nya yang merasa bingung dengan apa yang akan Andra bicara kan pada nya
"Jum'at lalu, aku mendapat kan panggilan dari keluarga ku di kampung halaman ku, kata nya,, kedua orang tua ku ingin aku memimpin salah satu perusahaan Ayah aku di sana, dan kedua nya ingin aku memperkenal kan sosok yang selama ini selalu aku cerita kan kepada mereka, kamu mau kan, menunggu ku sampai bulan depan, bulan depan kita ke sana, aku akan mengenal kan mu pada semua keluarga ku di sana Kha?" jelas Andra dengan mata berbinar dan semangat
"hmm,, bulan depan ya kak?" ucap nya seraya tersenyum getir
"yaah, bulan depan Kha, aku tahu, itu waktu yang mungkin cukup singkat untuk kamu, tapi,, semua nya bisa di atur, sesuai dengan apa yang kamu ingin kan, jika memang semua sudah setuju dengan hubungan kita, dengan begitu, kita tidak perlu menjalin hubungan tanpa status seperti ini lagi Kha, kita akan resmi bertunangan suatu saat nanti, dan kemudian menikah kelak?" jelas Andra dengan mata yang terus menerus memandangi nya yang memang selalu tertunduk
"huuh,, maaf kak Andra, seperti nya saya tidak bisa, maaf, beribu kata maaf saya ucap kan pada kak Andra, tapi,,, saya berharap kak Andra bisa menghadiri ini?" tutur nya seraya meletak kan sebuah surat undangan pernikahan nya di samping kanan Andra, membuat Andra bingung setengah mati
"a,, apa ini Kha?" tanya Andra yang masih dengan penasaran melihat nama yang tertera di bagian depan surat
"apa kamu serius dengan ini Kha, tapi,,, mengapa?" tanya Andra dengan tersenyum paksa
"saya tahu mungkin ini memang berat untuk kak Andra hadapi sendirian, bahkan ini juga menjadi luka yang cukup dalam untuk saya pribadi kak, tapi,, terima kasih untuk semua nya, saya rasa,, cukup sampai di sini hubungan tanpa status yang pernah saya jalani bersama dengan kak Andra, dan maaf, jika hanya cukup sampai di sini saya menjaga hati untuk kak Andra, saya,, saya benar benar minta maaf yang sebesar besar nya untuk ini kak, saya merasa semua nya cukup rumit, bahkan saya rasa semua nya cukup sulit, untuk bisa saya terima, kala saya yang masih ingin selalu bisa melanjut kan pendidikan saya, namun saya juga tidak bisa menolak apa,, yang sudah menjadi keinginan, dari kedua orang tua saya?" jelas nya semakin menunduk dalam
"s,, siapa kah dia Kha, siapa laki laki beruntung yang nama nya telah tertulis di sini, sudah kah kamu mengenali sosok nya?" tanya Andra
melihat nama laki laki lain yang tertulis dan terpampang jelas di permukaan surat undangan pernikahan itu, kini berhasil membuat hati Andra kian menyesak dan tersentak
"saya tidak mengetahui nya dengan pasti kak, namun orang tua saya bilang, beliau adalah seorang ustadz,, namun saya masih belum mengetahui dan mengenali nya dengan pasti" jawab nya terdengar sangat singkat di telinga Andra sendiri
mendengar hal itu, mau tidak mau, ikhlas tidak ikhlas, kini membuat Andra menghembuskan nafas panjang dan kemudian,,,
"terima lah kehadiran nya Kha, aku yakin, dia adalah orang yang tepat, yang kedua orang tua mu pilih kan untuk mu, hormati lah dia, sebagaimana kamu menghormati Ayah mu" tutur Andra masih dengan tersenyum paksa, membuat nya yang mendengar pun menjadi bingung
"m,, maksud dari ucapan kak Andra apa, mengapa kak Andra dapat berbicara demikian?" tanya nya belum mengerti dengan arah pembicaraan Andra
"Khaliza,, kini kakak tahu, jika kamu bilang dia adalah sosok pilihan kedua orang tua mu, maka kamu juga terlibat dalam sebuah perjodohan bukan, kakak percaya sama kamu, kamu pasti bisa melalui semua nya dengan hati yang ikhlas dan sabar" jawab Andra dengan berusaha tenang
"bukan kah kakak mempunyai rasa yang berbeda terhadap saya, lalu apa arti nya dengan semua ini?" tanya nya lagi
"Khaliza,, yaah, kamu memang benar, bahkan begitu tepat, jika kakak memang mencintai dan menyayangi kamu, tapi,, untuk apa kamu mengetahui rasa itu, rasa yang tertanam di hati kakak untuk kamu, untuk di respon cinta balik sama kamu, Khaliza,, bukan kah orang yang cinta sejati itu tidak menunggu balasan orang yang dia cintai, karena cinta itu ingin melihat orang yang dia cintai bahagia, baik dengan dia, atau pun dengan orang lain,, sekali pun kakak tahu, kesempurnaan cinta ketika kita bisa memiliki yang kita cintai, itu bahkan akan terasa begitu indah, namun ketika kita tidak bisa memiliki nya, lantas,, untuk apa pengorbanan itu masih ada,,
kakak tidak masalah, jika kamu memang di takdir kan bukan untuk kakak, kakak akan mencoba untuk ikhlas Kha, kakak cinta sama kamu, kakak tidak pernah ingin kehilangan atau bahkan berpisah dengan mu, untuk itu kakak mau kamu bahagia Khaliza, meski bukan bersama dengan kakak, kakak akan ikut bahagia, jika kamu juga merasa bahagia, kita sama sama berbahagia, meski bukan dengan orang, yang kita cintai, mungkin memang bukan nama kakak, yang tertulis di pohon lauhul Mahfudz untuk mu,,
percaya lah Kha,, kakak akan selalu mencintai kamu, yah, mungkin bagi sebagian besar orang, ini begitu sulit, tidak bisa bersatu, dengan orang yang kita cinta, tapi sejati nya cinta itu fitrah, yang bagi sebagian orang yang mencintai sosok dengan benar, mereka akan lebih memilih untuk mengikhlaskan, bukan tak mampu lagi untuk berjuang dan memperjuangkan mereka yang dia cintai, tapi seperti apa yang telah kita ketahui, sulit juga rasa nya menentang takdir, itu juga bukan jawaban yang tepat, untuk apa yang sedang kita alami sekarang,,
sekarang kakak boleh bertanya sesuatu sama kamu?" tanya Andra dengan suara lembut
"tanya apa kak?" jawab nya yang masih setia mendengar kan Andra
"apa kah kamu sudah mempunyai rasa cinta terhadap dia yang di pilih kan untuk mu?" tanya Andra yang berhasil membuat nya sedikit tertohok
"entah lah kak, namun rasa rasa nya,, saya akan sedikit sulit menerima nya" jawab nya dengan membuang pandangan nya juga menggeleng sebelum nya
"Khaliza,, terima lah dia, hormati dia seperti kamu menghormati Ayah mu, dia calon imam bagi kamu, sosok yang akan menuntun mu, ke jalan yang lurus, melalui apa yang akan kalian jalani nanti nya" tutur Andra
"hhh,, menjalin hubungan tanpa ada rasa, itu kah yang kak Andra maksud kan?" tanya nya dengan seringai an paksa khas nya
"terbiasa bersama, misal nya" sambung Andra dengan tersenyum kecil
"Khaliza,, jika kamu terus memikirkan kakak, yang tidak halal untuk mu, itu tidak lah baik, bahkan itu akan semakin menambah dosa baru bagi kamu, kakak ikhlas kok, kakak yakin kakak bisa, dan kakak yakin, kamu juga bisa, maka jangan mengecewakan kakak hanya karena kamu takut akan kehilangan kakak, kakak di sini, dan seterusnya akan selalu di sini, mendukung kamu, tidak bisa bersama bukan berarti kita tidak bisa mempunyai hubungan lagi kan, kakak tetap akan menjadi kakak bagi kamu, kamu bebas menemui kakak, asal kan kamu mendapat izin dari suami mu kelak" penuturan Andra kali ini berhasil membuat nya perlahan luluh
"untuk kali ini kakak mohon dengar kan kakak Khaliza,, kakak tahu ini mungkin memang cukup sulit bagi kamu, kakak tidak bisa mengelak jika kakak tidak tersakiti juga di sini, ini bahkan juga sulit untuk kakak terima, tapi,, kita harus berusaha menerima semua nya dengan ikhlas, kakak mengerti, jadi,,, kamu mau kan?" tutur Andra dengan hati hati
"baiklah kak, jika memang itu yang kakak ingin kan, saya akan mencoba untuk bisa menerima nya dengan ikhlas, terima kasih untuk semua nya, saya tunggu kehadiran kakak di acara ini, saya permisi, assalamualaikum?" ucap nya seraya berdiri
"yaah, kakak akan datang nanti, semoga kamu dapat berbahagia bersamanya ya, waalaikum salam warahmatullah" jawab Andra yang masih bisa di dengar oleh nya
"kakak tahu ini sangat sakit Khaliza,, bahkan ini menjadi luka tersendiri di hati kakak, tapi kakak bahagia, jika kamu juga bahagia, semoga kamu bahagia bersama dengan nya ya, hati kakak hancur di kala melihat nama mu terlihat jelas dalam surat undangan pernikahan ini, melihat mu yang akan bersanding dengan yang lain, tidak ada luka yang lebih dalam, selain melihat orang yang kita ingin kan bersama dengan orang lain, kamu,, sosok yang pernah ada, di dalam pikiran dan hati kakak, nyata nya takdir tidak mengizin kan kita untuk bersama nanti nya, semoga Allah selalu menghadirkan kamu dalam perlindungan-NYA" gumam Andra yang melihat nyata kepergian nya
"aku Ridha ya Allah,, aku Ridha dia bahagia dengan seseorang yang di pilih kan untuk nya, ya Allah,, kenapa sesakit ini, kenapa sesesak ini di kala mengetahui nya, dia yang aku ingin kan, bukan lah orang lain, berikan lah kebahagiaan kepada nya, juga kepada keluarga nya" ungkapan hati Andra dengan mata yang sedikit berair
tanpa Andra dan diri nya sendiri ketahui, kini 2 pasang mata tengah mengawasi kedua nya
"apa aku menjadi penghalang kebahagiaan kedua nya Lis, harus kah aku membatalkan semua nya, aku rasa,, untuk apa lagi semua nya di adakan, jika kehadiran ku kini hanya membuat luka baru bagi nya?" tanya sosok yang sedang dalam panggilan video itu
"tidak Ri, kamu bahkan melihat nya sendiri, kedua nya tidak ada perubahan, dia Andra, sosok yang memang sudah dekat dengan nya, namun hanya sebatas teman dan kakak bagi nya, sekali pun aku tahu, kedua nya pernah menjalin hubungan sebelum nya, tapi dia terlihat dewasa dalam menentukan keputusan, kamu bukan orang yang merusak kebahagiaan kedua nya, ini juga bukan salah kamu"
"tapi aku merasa aku telah melukai hati kedua nya tanpa sadar Lis, dengan hadir tiba tiba di dalam hidup nya Lis?"
"ini bukan salah kamu Ri, percaya lah, kita saling menerima saja"
...°°°...
malam ini, Khaliza, Khanaya, dan juga Lia, ketiga nya tengah berkumpul saat setelah Khanaya dan diri nya memberi kan kejutan kedatangan nya pada Lia
"huhu, aku kira kamu benar benar nggak akan bisa datang Kha, aku sudah takut banget tadi, waktu tahu kamu nggak bisa datang lho?" ujar Lia saat ketiga nya tengah duduk di tengah tempat tidur hotel
"xixi,, aku datang lah Li, mana mungkin sahabat aku sendiri mau akad aku nggak bisa datang, lagi pula,, Bunda sudah kabari Tante Hanna kok, jika aku bisa datang, malahan Bunda minta maaf langsung sama Mama kamu di telpon karena nggak bisa hadir di acara ini, kenapa?" tutur nya
"kalian ada ada saja ya, aku bahkan sudah panik dari tadi lho, cemas takut gitu bercampur jadi satu, tapi syukur lah jika kamu bisa datang" ujar Lia dengan antusias
"akh,, nama nya juga surprise buat kamu, jadi kita tidak memberi tahu kamu lah, ya kali orang yang di surprise in di kasih tahu dulu, eh iya, by the way gimana nih rasa nya, yang mau di halal kan sama si mas R?" goda Khanaya dengan menaik turun kan alis nya sambil tersenyum
"akh,, kamu ini gimana sih, jangan membuat aku merasa semakin malu deh" ucap Lia dengan menunduk
"iya nih, gimana rasa rasa nya, mau di halal kan sama seseorang yang di ingin kan?" tanya nya dengan lembut
"rasa nya gimana ya', inti nya nggak tahu lagi mau bicara apa, rasa gugup, deg degan, sama waw,, gitu kayak,, nggak percaya jadi satu, campur aduk deh pokok nya" cerita Lia yang sedang di dengar kan oleh kedua sahabat nya ini
"hmm,, Lia,, aku sudah datang dan insya Allah bisa hadir di acara pernikahan kamu sama kak Radit besok, namun aku juga berharap, kalian juga bisa datang ya, di acara pernikahan aku 15 hari mendatang?" tutur nya mulai serius dan mulai menyerah kan surat undangan pernikahan nya pada Lia sahabat nya
"eh, bentar bentar,, ini,, ini apa Kha,, kamu,, kamu mau menikah juga, kapan?" tanya Lia tak kalah terkejut di kala menerima uluran surat undangan pernikahan nya dengan tatapan yang hanya terkunci pada nya
"dia di jodoh kan Li, sama Om Bilal dan Tante Mila, kamu yang sabar ya Kha, kini aku yakin kamu pasti bisa melalui nya?" ucap Khanaya menenangkan dengan menepuk lembut pundak serta mengusap lembut punggung nya
"hmm,, terima kasih Nay?" ucap nya seraya tertunduk
"apa, ini,, ini apa kamu tidak salah, mempelai pria nya, Yussuf Ammar Abqari M.Ag., lulusan S2 magister agama atau keagamaan Kha?" ujar Lia tak kalah terkejut nya di kala membuka dan membaca nama mempelai pria nya yang memang tertera jelas di dalam nya
"iya Li, mungkin itu memang calon mempelai pria nya, namun mengapa demikian, apa ada masalah dengan hal itu?" tutur nya dengan lemah
"apa kah kamu sendiri mengenal nya?" tanya Khanaya dengan memandang aneh sahabat nya
"ya jelas lah aku mengenali nya, dia ustadz muda pondok pesantren Al ikhlas, pesantren kakak aku kak Adhil, dia guru privat ku, yang mengajarkan ku cara murottal, aku selalu bimbingan sama dia, ya,, memang sih, dia itu terkesan pria dingin, inti nya terkenal dingin pokok nya, tapi sampai sejauh ini aku kenal dia baik kok, kamu kenal dia di mana Kha?" ujar Lia lagi
"hhhhh,, sudah ku bilang Lia, jika dia itu di jodoh kan sama kedua orang tua nya, kamu ini bagaimana sih?" sahut Khanaya yang tak habis pikir
"kamu tenang saja ya Kha, dia seorang ustadz muda, dia baik, aku bahkan mengenal dia cukup baik, aku anggap dia sebagai kakak aku sendiri, dia juga, sahabat nya kak Radit dan ustadz Mukhlis, kata nya besok pasti datang di acara pernikahan kita, apa kamu sudah mengenali nya?" tanya Lia lagi
"aku memang sudah mencoba mengenali nya Lia, tapi,,," tutur nya dengan penuh keraguan
"e' e' em, nggak, dia orang yang cukup baik bagi aku, ya,, meski pun dia terkenal dingin, julukan nya saja planet Uranus berjalan, ustadz paling pelit nilai, tapi tenang saja, kalau dia berani macam macam sama sahabat aku ini,, aku akan buat dia jengkel, awas saja,,
tapi dia baik kalau sudah akrab lho Kha, nggak ada salah nya juga jika kamu mencoba nya terlebih dahulu, kamu akan cocok sama dia Kha, kalian sama sama pemalu, dan pendiam, tapi selain itu, dia juga berwibawa,,, emm,,, kemarin sebenar nya,, Arsen juga ada cerita sama aku di rumah, jika kalian di jodoh kan, aku yakin dia pasti akan memperlakukan kamu dengan baik" tutur Lia yang sedikit membuat hati nya meluluh
"baiklah Li, Nay, jika memang ini yang terbaik, insya Allah,, aku akan mencoba untuk menerima nya" tutur nya sedikit pasrah
"sudah lah, jangan merasa sedih gitu akh,, kita hadapi ini sama sama ya, aku akan ada di saat kamu butuh cerita, tapi,, apa yang kamu masalah kan?" tanya Khanaya
"maaf ya Nay, aku nggak ada maksud untuk mendahului mu menikah, aku,," ucap nya terpotong
"ya Allah,, kamu masih mempermasalah kan hal ini rupa nya, aku bercanda kali Kha,, lagi pula,, ini sudah takdir, ini juga bukan kemauan kamu kan, ini bukan salah kamu kok, gimana nanti nya saja, jangan pikir kan aku, aku mau betah dulu menjomblo nih, aku masih mau sendiri" jawab Khanaya menenangkan
"hmm,, terima kasih ya Nay, Li, kalian selalu ada, saat aku merasa terpuruk?" ucap nya dengan tatapan sayu nya
"hmm, iya sama sama Kha, eh tapi bentar deh, jadi sekarang itu Kha ustadz sudah mendapat kan gelar magister ya, jika dulu waktu masih bimbingan sih belum, tepat nya masih menyandang gelar S1, sarjana hukum apa gitu aku lupa, tapi,, bisa jadi kuliah lagi sih, orang dulu aku bimbingan waktu masih duduk di kursi tsanawiyah kelas 8 kok, sekarang aku juga sudah raih gelar S1, pasti dia kuliah lagi lah" ujar Lia penuh semangat
"begitu kah, duuh, kok aku jadi merasa penasaran ya, sama aku gimana ya, bakalan dingin juga nggak ya, secara kan,, aku sahabat dari calon istri nya?" timpal Khanaya dengan tersenyum
"emm,,, nggak tahu juga yah Nay, tapi jika sama kamu dia dingin juga nggak Kha?" tanya Lia seraya menoleh ke arah nya
"emm,, b,, biasa saja sih,, ma,, maksud nya,, ng,, nggak terlalu dingin" jawab nya singkat, yang entah mengapa jika membicara kan sang ustadz kini malah menjadi mendadak gugup
"ya akan biasa saja lah Li,, Li, kamu itu gimana sih, sedingin dingin nya orang, jika sama yang nama nya calon istri atau bahkan istri sendiri, ya pasti menghangat lah, bahkan mungkin perhatian, atau,, sisi lain nya di tunjukkan, iya nggak Kha?" ujar Khanaya menggoda dengan menyenggol lengan nya
"biasa saja kali Nay,, nggak usah di lebih lebih kan" imbuh nya di kala tak suka dengan memasang wajah datar nya
"xixi, biasa juga kali dengan kondisi wajah nya Kha, jangan datar datar gitu kenapa, masa yang mau menikah datar datar gitu sih kondisi wajah nya, tuh,, Lia saja yang mau menikah ceria ceria saja, iya kan Li?" cerocos Khanaya
"Nay,, kamu kalau sudah bar bar gitu banget deh kebiasaan nya, susah banget berhenti, sudah akh,, jangan buat aku sama Khaliza makin gugup di kala menjelang hari H,," tutur Lia
"eh tapi benar juga, kamu samaan lho Kha, sama kak ustadz gitu, dia juga jika sedang merasa kesal suka gitu juga tuh, pasang wajah datar datar gitu, kayak kamu gini, xixi, bisa gini juga ya?" tanya Lia yang merasa tak heran
"yaah biasa lah Lia, kan, yang nama nya jodoh, itu cerminan diri, sekarang aku yakin, jika jodoh kamu baik, orang kamu nya juga baik banget, tapi dingin nya itu lho, takut nya aku sedikit nggak suka, ya kalau buat jaga image sih nggak masalah,,?" jawab Khanaya
"sudah lah, kenapa sekarang jadi pada bahas aku sih, kan yang mau akad duluan Lia, kenapa jadi aku yang banyak di goda coba?" ujar nya dengan tak suka
"ekhemmm,, kita berdua sudah ada yang mau jagain di hidup kita, jadi pendamping hidup kita dan pasangan separuh agama kita,, tapi kamu tenang saja yah Nay, aku akan bantu mencari kan kamu jodoh kok,,?" ucap Lia dengan berdeham
"hmm,, iya tuh,, benar, nanti aku cari kan jodoh deh sama Lia, iya benar Li, kita cari kan ya, kamu jangan paksa kan kalau Rafha nggak mau, nanti aku akan bawa orang Korea Selatan deh ke sini, agar jadi mualaf, dan sama kamu, menghalal kan kamu juga,," tambah nya mengerti arah pembicaraan Lia
"kalau aku suka sama Rafha,,, itu Rafha yang nggak suka balik sama aku, tragis banget sih kisah cinta aku,,, xixi, ya sudah deh, jika kalian jodoh kan aku sama orang Korea nggak apa apa, aku nggak bisa nolak juga tampan nya seperti apa, ya meski pun aku suka sama Rafha, tapi jika bertepuk sebelah tangan nggak bakalan baik juga, tapi beneran sama orang Korsel lho ya?" ujar Khanaya serius juga membuat kedua sahabat nya mengangguk semangat dan menyetujui
"tapi kalau aku harus LDR sama kamu nggak mau akh, kejauhan, Korsel indo, gimana coba,,?" ujar Lia dengan menggoda
"jika soal itu kalian tenang saja, aku akan usaha kan tetap di sini kok, nggak bakalan jauh ke Korsel, lagi pula,, keluarga aku juga di sini kan,,?" jawab Khanaya percaya diri
"Nay,, wanita yang sudah menikah itu, harus menurut sama suami, karena sudah jadi tanggung jawab suami sepenuh nya lho, mau keluarga kita di mana pun, jika suami kita ajak kita untuk merantau ya kita bisa apa,,?" tutur nya yang membuat Khanaya kembali melemas
"yaah, perihal itu aku juga nggak tahu deh,," jawab Khanaya sambil cemberut yang berhasil membuat kedua sahabat nya terkekeh kecil
"sudah sudah,, masalah itu tidak perlu di hirau kan, yang penting nggak putus komunikasi saja" tutur nya yang di setujui oleh kedua nya
_**Assalamualaikum Zahra_
Senin, 7 Agustus 2023**