Assalamualaikum Zahra

Assalamualaikum Zahra
Assalamualaikum Zahra



..._Assalamualaikum Zahra_ ...


..._Dua Sesak_ ...


..."ketika raga ini sudah cukup lelah, namun keadaan seolah memaksa diri ini untuk terus tersenyum, semua rasa nya terasa mulai sesak" ...


..._Khaliza Sulistya Az Zahra_ ...


masih dengan waktu dan tempat yang sama, namun dengan keadaan yang berbeda


kedua sahabat nya itu yang tak lain adalah Alia dan juga Khanaya kini kedua nya sudah kembali duduk di samping nya, Rafha, dia mungkin sudah pulang terlebih dahulu ke pondok pesantren setelah kedua orang tua nya menghubungi nya untuk segera pulang


kini ketiga bersahabat itu kembali melanjutkan tujuan awal mereka, ber swafoto bersama, dengan pose yang berbeda beda, saat di tengah kegiatan ketiga nya hingga meminta bantuan seseorang yang tengah melewati ketiga nya untuk memotret mereka bertiga dengan gaya bebas dengan ketiga nya yang tengah tertawa dan melempar topi wisuda nya masing masing ke atas, sangat terlihat jelas, jika ke tiga nya begitu bahagia


namun di tengah kesibukan ketiga nya, kini di depan gerbang universitas sana, keluar seorang wanita baru baya yang tengah tersenyum bangga memandangi universitas di depan nya, dengan di ikuti oleh laki laki paruh baya juga yang keluar dari pintu kemudi dengan setelan jas yang rapi dan berwibawa,,


kedua nya terlihat pasangan yang serasi dengan saling bergandengan, hingga netra nya teralihkan kala melihat pasangan serasi ini


"a',, Ayah,,, b',, Bund,,a" gumam nya dengan seketika terhenti dan tertegun kala melihat kedua sosok yang memang sangat dirindukan nya itu


"ada apa Kha, apa kamu baik baik saja?" tanya Khanaya yang merasa sedikit ada perubahan pada sosok sahabat nya ini


"akh,, nggak ada kok Nay, nggak ada apa apa, ayo kita lanjutkan?" jawab nya 'astaghfirullah,,, Liza, kedua orang tua mu tidak mungkin bisa datang ke sini, kedua nya begitu sibuk, ini pasti hanya halusinasimu saja' ujar nya dalam hati, kemudian menggeleng geleng kan kepala nya berusaha menepis pikiran dan harapan nya mengenai kedua orang tua nya


...°°° ...


di ruang rektor ini, terlihat sepasang suami istri yang tengah tersenyum dengan bangga, entah apa yang di bangga kan


"sebagai rektor di sini, saya cukup merasa bangga, kepada nak Khaliza ini, selain berprestasi,, dia juga banyak mencapai dan meraih juara di bidang olahraga dan seni musik, terutama taekwondo, dia sangat ahli dan gigih di bidang ini, sebenar nya, saya cukup merasa terkejut, dengan kehadiran Ayah dan Ibu nya yang memang bisa datang ke sini, dia cukup bersabar dan optimis, meski kedua orang tua nya tidak bisa mendampingi nya di hari istimewa nya ini" jelas pak Hamid


"jika demikian,, boleh kah kami menemui nya pak, tidak bisa di pungkiri, selama ini kami sangat jarang sekali untuk mengunjungi nya, itu membuat hati kami semakin di selimuti rasa bersalah pada nya?" tanya Ayah, yang memang Ayah kandung nya, siapa lagi jika bukan Alif Bilal Al Hanand


"lho, bukan kah anak pak Bilal ini sedang ber swafoto bersama kedua sahabat nya yah, di taman depan universitas?" tanya balik rektor ini dengan kening mengerut


"taman universitas,, akh,, tidak pak, baru saja kami melewati nya, namun tidak ada siapa siapa di sana, hanya ada tiga orang dan, satpam keamanan yang kami lihat" tutur Bunda tidak yakin


"akh,, begitu kah,, emm,,, begini saja,,," ucap pak rektor terhenti, dan beralih menekan tombol yang terhubung langsung dengan keamanan di depan


"pak firman, apa Khaliza masih ada di universitas ini?" tanya pak rektor pada sambungan ini


"masih pak, kenapa?" jawab keamanan ini dari seberang panggilan


"bisa kah pak firman tolong panggil kan dia, suruh nak Khaliza ke ruangan saya sekarang?" tanya pak rektor lagi


"baiklah pak, seperti nya masih ada, nanti akan saya antar ke ruangan bapak" jawab keamanan ini sebelum akhir nya memutuskan panggilan


"harap di tunggu pak, Bu, keamanan di sini akan segera mengantarkan nya ke sini?" tutur pak rektor ini dengan duduk di sofa ruangan ini


tak lama kemudian


ceklek 'suara pintu terbuka dengan menampilkan keamanan dan juga sosok seorang gadis yang sangat di rindu kan oleh kedua orang tua nya ini


"assalamualaikum?" ucap kedua nya dengan sopan


"waalaikum salam warahmatullah, akh,, nak Khaliza, silakan masuk dan duduk di sini nak?" ucap pak rektor dengan sumringah


tanpa melihat sekitar, alias terus menundukkan pandangan nya, kini diri nya pun duduk di sofa samping sosok laki laki paruh baya


Pak firman yang memang hanya mengantarkan nya ke dalam ruangan kini sudah berlalu pergi dan hanya tersisa diri nya, pak rektor dan kedua orang ini


dengan tiba tiba


buk


Ayah tengah berhambur ke dalam pelukan nya, dengan di ikuti oleh Bunda yang merengkuh nya dengan cukup erat


"assalamualaikum anak gadis kesayangan nya Ayah?" ucap Ayah dengan penuh rasa haru


"assalamualaikum anak gadis kebanggaan Bunda?" lanjut Bunda mulai melepaskan rengkuhan erat nya


"w,, waalaikum salam warahmatullah" jawab nya yang mulai mengangkat pandangan nya, menampilkan sosok yang sangat dirindukan nya


"alhamdulillaah,, kakak baik Bund" jawab nya yang juga terharu, namun masih bisa di sembunyikan


Pak rektor yang memang hanya menjadi penyimak setia di antara ketiga nya kini hanya tersenyum simpul


"Pak, apa boleh, jika kami membawa anak kami pulang sekarang juga?" tanya Ayah sambil memandangi pak rektor yang diangguki oleh pak rektor sendiri


"baiklah, kalau begitu kami pamit, terima kasih atas waktu nya, assalamualaikum?" ucap Ayah dan diangguki oleh Bunda juga mendapat jawaban dari pak rektor


"sayang, Bunda nggak nyangka kamu bisa tumbuh sampai sedewasa ini nak, kakak banyak sekali perubahan selama 10 tahun ini, bahkan sudah pakai niqab,, Bunda bangga sama kakak, kita pulang ke rumah Jakarta sekarang ya nak?" ujar Bunda antusias di koridor ini


"tapi Bund, kakak masih harus mengganti dan berpamitan kepada pak kyai di pondok" jawab nya lemah lembut


"hmmm,, baiklah, itu tidak masalah kak, seharian ini, kakak mau pamit sama siapapun, akan Bunda temani, asal kan kakak ikut pulang sama kami ke rumah Jakarta sore ini" jawab Bunda dengan tersenyum


"iya Bund" jawab nya yang memang hanya bisa pasrah saja saat mendengar keputusan dari sang kedua orang tua


...°°° ...


siang ini, diri nya dan kedua orang tua nya sudah selesai berpamitan pada keluarga di asrama, kini ketiga nya beralih untuk berpamitan pada keluarga sahabat nya, Lia


ketiga nya sudah ada di depan pintu rumah sederhana dengan nuansa putih ini, menunggu seseorang, yang kini membukakan pintu untuk nya dan kedua orang tua nya


ceklek


pintu terbuka dengan lebar, menampakan sosok paruh baya dengan penampilan elegan dan sederhana


"waalaikum salam warahmatullah,,, Masya Allah,,, Mila,, ayo ayo, silakan masuk?" ujar Tante Hanna yang terkejut dengan kedatangan nya dengan sang orang tua


"ayo ayo, silakan duduk?" tutur Tante Hanna yang mulai duduk juga


semua nya pun duduk di sofa ruangan ini


"Ya Allah,, bagaimana cerita nya kalian bisa bersama, Mila, sudah lama kita tak berjumpa, aku kangen sama kamu, gimana kabar kamu wahai sahabat ku?" tanya Tante Hanna yang masih memeluk Bunda dengan begitu erat


"alhamdulillaah Na, aku baik, iya, aku juga kangen sama kamu, ke mana saja kamu selama ini, aku cari carin gak pernah ada kabar setelah perpisahan kita waktu itu?" jawab Bunda dengan terus membalas pelukan dari Tante Hanna


"hmmm,, begini lah aku, habis perpisahan dulu, aku harus ikut suami ku pindah ke sini, jadi,, di sini lah aku sekarang" jawab Tante Hanna sambil tersenyum hangat


"aku kangen banget sama kamu, Ammie juga, dia suka tanyakan kamu sama aku yang bahkan, aku sendiri nggak tahu kamu di mana, ternyata di sini" ujar Bunda dengan semangat


"hmmm,,, iya, Khaliza?" tanya Tante Hanna yang merasa bingung dengan memandangi nya intens, membuat Bunda dan Ayah tersenyum juga


"yah, kalian sudah saling kenal rupa nya, dia anak gadis ku, gadis pemalu juga pendiam, kamu mengenal nya dari mana?" tanya Bunda penuh dengan rasa kebingungan


"hmmm,, dulu kita yang sahabatan, sekarang anak kita yang jadi sahabat, dia sahabat anak ketiga aku, Lia" jawab Tante Hanna seraya tersenyum tipis


"akh,, begitu kah,, dunia memang tak seluas daun kelor ya ternyata, dia pasti banyak repot kan kalian di sini, maaf ya Na?" ucap Bunda yang merasa tak enak hati seraya menggeleng gelengkan kepala nya tak heran


"hmmm,, nggak apa apa, justru karena dia di sini, aku senang, selain jadi sahabat dan teman dari anak aku, dia juga terlihat ramah dan akrab sama aku dan keluarga ku, aku nggak tahu, kalau ternyata dia itu sebenar nya anak kamu La, kalau aku sudah tahu, mungkin aku sudah lama menyuruh nya untuk tinggal di sini saja" jawab Tante Hanna


di tengah percakapan semua nya, kini,,,


"assalamualaikum?" ucap laki laki tampan ini dengan tersenyum tipis ke arah mereka yang tengah berkumpul


"waalaikum salam warahmatullah,, akh, Alfi, sini masuk nak, sudah pulang rupa nya?" jawab Tante Hanna


"iya Ma, Om, Tante, apa kabar, hai kakak cantik, apa kabar?" sapa sosok ini dengan ramah, sambil menyalami tangan kanan semua nya


"alhamdulillaah, Tante dan Om sehat Alfi, kamu sendiri bagaimana?" jawab Bunda sambil tersenyum


"alhamdulillaah, Alfi juga sehat Tante, Om" jawab Alfi dengan tersenyum tipis khas nya


"akh, Alfi, sebaik nya kamu ajak kak Khaliza untuk menemui kakak kamu di kamar nya, kak Khanaya juga kebetulan masih ada di sini, nggak apa apa, kalian naik saja" ucap Tante Hanna ramah


_**Assalamualaikum Zahra_


Selasa, 25 Juli 2023**