Assalamualaikum Zahra

Assalamualaikum Zahra
Assalamualaikum Zahra



..._Assalamualaikum Zahra_...


..._Kehidupan Di Balik Topeng_...


..."bukan tentang siapa yang kita kenal paling lama, yang datang pertama, atau yang paling perhatian, tapi,,, tentang siapa yang datang, dan tidak pergi"...


..._Khaliza Sulistya Az Zahra_...


dini hari mendatang, dengan langit yang masih menyembunyi kan pancaran sinar matahari nya, namun tiga gadis cantik nan lugu itu kini terlihat sudah di sibuk kan dengan aktivitas masing masing


"aku mandi dulu ya Li, kamu aku tinggal nggak apa apa kan?" pamit nya sebelum akhir nya pergi ke arah kamar kecil di dalam kamar hotel ini


"iya nggak masalah Kha, sebentar lagi juga seperti nya perias datang, biar Khanaya, aku bangun kan dulu ya?" jawab Lia sambil duduk di samping tubuh Khanaya bersiap membangun kan


mendengar jawaban seperti itu dari Lia, kini membuat nya mengangguk dan lantas melangkah kan kaki menuju kamar kecil


...°°°...


"aduh aduh, ini gimana yah, Kha, Li, kalian kenapa santai saja sih, mana aku belum pakai kerudung lagi,,?" ujar Khanaya merasa ricuh sendiri


"xixi, kamu lucu Nay, yang mau menikah siapa yang ricuh sendiri siapa, santai saja kali, lagi pula,, ini juga belum jam enam kok, kenapa kamu terlihat repot begitu?" tutur nya yang sedang duduk dan tengah di pasang kan sifat alis pada kelopak mata nya


"ya habis nya, nggak tahu lah, kalau ada acara aku memang suka gini, kalian kan juga sudah tahu, aku takut kesiangan tahu nggak?" ujar Khanaya


"ya sudah Mbak nya sudah selesai saya rias, tinggal Mbak yang satu nya lagi, mau saya pakai kan kerudung dengan model seperti apa?" tanya perias yang sudah selesai merias wajah nya dan beralih pada Khanaya yang mulai ricuh lagi


"akh,, yang biasa saja Mbak, yang seperti teman saya ini lho, biasa saja, simpel juga jadi nggak ribet gitu" jawab Khanaya menunjuk ke arah nya


"masya Allah,, Lia,, kamu cantik sekali, calon mempelai pria nya pasti pangling di kala melihat penampilan mu,,?" tutur nya yang melihat Lia tengah duduk di tepi tempat tidur dan selesai di rias


"hmm,, kamu bisa saja Kha, biasa saja kali, duuh, kok aku jadi deg degan gini ya, aku merasa takut Kha,,?" keluh Lia dengan raut sedih nya


"hmm,, nggak apa apa, nggak usah merasa gugup gitu, kita tunggu instruksi dari Alfi saja, dia akan menyuruh kita untuk segera turun di saat ijab nya sudah selesai di ucap kan, kamu yang tenang ya, kalau nggak istighfar deh, agar hati kamu juga ikut merasa tenang" saran nya yang kemudian di turuti oleh Lia sendiri sambil terus memegangi dada nya


'oh Allah,, mungkin kah ini juga yang akan saya alami nanti nya, gugup di sertai dengan rasa takut secara bersamaan, ikhlas kan hati saya dalam menerima semua ketetapan-MU ya Rabb' melihat kegugupan yang melanda sahabat nya itu, kini berhasil membuat nya sedikit miris dengan apa yang akan di lalui nya


tok tok tok


tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu yang membuyar kan lamunan nya dan menyadarkan semua nya yang telah sibuk di dalam


"masya Allah,, kakak nya Alfi begitu cantik hari ini, ayo kak foto dulu sama Alfi, takut nya nanti Alfi nya nggak kebagian lagi?" ujar Alfi dengan bersemangat sambil mengangkat tinggi tangan kanan nya yang tengah menggenggam kamera kesayangan nya


semua nya pun ikut berfoto, dengan sendiri sendiri, Alfi dengan Lia, Khanaya dengan Lia, Khaliza dengan Lia dan juga Lia sendiri serta mereka semua berempat berkumpul yang di foto dengan bantuan perias


"sudah, ayo kak, sudah selesai kan, semua nya sudah pada menunggu di bawah, terutama eemm, kakak ipar aku dong, dia terlihat sudah nggak sabar ketemu sama sang istri" goda Alfi dengan menaik turun kan kedua alis nya yang berhasil membuat Lia malu


"ya sudah, aku duluan ya kak, kakak nanti sama kak Khanaya juga kak Khaliza ya?" ucap Alfi seraya berjalan keluar dari dalam kamar hotel


"selamat sahabat fillah aku, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah dan warahmah, juga membina rumah tangga yang berkah?" ucap nya sambil memeluk sahabat nya itu


"allahumma aamiin,, terima kasih do'a nya Kha?" ucap Lia dengan tersenyum penuh haru


"Ha-a,, selamat ya sahabat ku, semoga menjadi pasangan dunia akhirat kelak, selalu rukun dan damai, pokok nya do'a terbaik dari kita, akh iya, mumpung kita masih di sini, ini ada sedikit dari kita, semoga kamu menyukai nya ya?" ucap Khanaya sambil menyerah kan paper bag berisi kado pada Lia


"apa ini?" tanya Lia dengan tatapan yang terkunci pada paper pemberian Khanaya


"hmm,, terima lah, semoga kamu dapat menyukai nya ya?" tutur nya seraya tersenyum


"tiket?" celetuk Lia di kala sebuah tiket dengan tujuan raja Ampat terlihat jelas di kedua telapak tangan nya


"hmm,, buat liburan dan refreshing kamu sama kak Radit, aku tahu kok, hadiah ini nggak seber,,," ucapan nya terhenti dan menggantung di kala terpotong dengan hamburan pelukan dari Lia yang juga mengajak Khanaya untuk ikut berpelukan


"huhu, ini sudah benar benar berarti banget buat aku, terima kasih ya Kha, Nay, kalian sudah memberikan aku tiket liburan ke sana?" ucap Lia penuh haru di balik pelukan ketiga nya


"iya sama sama, semoga kamu suka ya, dan semoga liburan nya menyenang kan, aku sengaja mencari tiket yang kunjungan hanya 5 hari saja buat kamu sama Radit, karena setelah itu kita akan hadiri acara pernikahan sahabat kita juga yang satu lagi" jawab Khanaya


"iya nggak masalah kok, aku bahkan suka banget sama hadiah nya, ini makasih banyak lho, aku nggak pernah terpikirkan jika akan mendapat hadiah sebagus ini dari kalian?" ucap Lia di kala pelukan ketiga nya terurai


"iya sama sama" jawab kedua nya mengangguk kompak sambil tersenyum hangat


"lho, ini masih ada lagi, aduh,, hari ini kalian benar benar membuat aku senang ya, terima kasih, bagus banget jam dinding nya, aku suka, makasih banyak ya?" ucap Lia kembali di kala mendapati jam dinding yang unik dalam paper bag


"hmm,, iya sama sama, ya sudah yuk, kita ke bawah sekarang, apa kah kamu tidak mendengar nya, semua sudah menunggu kita lho ini, kak Radit pasti lumutan tuh, jika harus menunggu kamu sampai kapan lagi?" celetuk Khanaya yang lagi lagi membuat Lia merasa malu dan merona


"ya sudah yuk, kasihan jika semua nya memang menunggu?" jawab nya yang memang di angguki oleh kedua nya


terlihat jauh dari atas sana, turun tiga gadis, akh,, latah, seharus nya dua gadis, karena satu gadis di antara ketiga nya sudah ada yang meminang


turun ke tiga gadis yang di antara salah satu nya sudah berganti status sebagai seorang istri dan kedua nya masih murni gadis, ketiga nya tengah tersenyum hangat dengan dua gadis di antara nya yang mengenakan niqab dan setia menunduk kan pandangan nya, juga satu gadis yang tersenyum simpul menyapukan pandangan nya melihat betapa ramai nya tamu undangan yang kini tengah menjadikan diri nya dan kedua sahabat nya pusat perhatian


ketiga nya kini terlihat anggun dengan Lia di tengah dengan menggunakan setelan kebaya berwarna putih khas ijab Kabul dan 2 bridesmaid di kedua samping nya yang satu mengenakan kebaya panjang berwarna biru navy dengan panjang hingga sebatas lutut dan di sambung dengan sarung batik khas bridesmaid, itu adalah Khaliza, dan bridesmaid satu nya lagi yang tengah mengenakan setelan kebaya berwarna abu abu dan kini di lengkapi dengan apa yang Khaliza kenakan sama persis, namun hanya warna nya saja yang berbeda, ketiga nya sama sama terlihat anggun, meski dengan baju dan riasan wajah yang berbeda


Khaliza dan Khanaya, dengan perlahan, kedua nya menuntun dan mendudukkan Lia tepat di samping Radit, yang sedari tadi, tidak henti nya mengedip kan kedua mata nya memandang Lia yang sekarang sudah sah, menjadi istri nya


"Lia,, ayo sambut suami mu nak, cium punggung tangan nya, dan minta lah do'a restu dari nya" tutur Om Aldi yang kini duduk di depan Lia


dengan perlahan tapi pasti, Lia pun mulai menyambut dan mencium punggung tangan kanan Radit dengan khidmat, di balas dengan ciuman di kening dari Radit sendiri, kemudian Radit yang mulai menyentuh ubun ubun Lia dan mendoakan Lia


"kamu juga pasti seperti itu nanti sama ustadz Kha, jangan gugup ya, semangat" bisik Khanaya yang membuat hati nya kian menyesak


"aku tahu ini pasti sangat sulit buat kamu Kha, tapi aku juga yakin, kamu tidak akan mengecewakan semua nya, dan kamu pasti bisa melalui semua nya" sambung Khanaya


"hmm,, semoga saja ya Nay, aku mohon do'a kan aku ya Nay, a,, aku benar benar merasa,, semua nya begitu sulit" jawab nya balik berbisik dengan perasaan ragu


"hmm,, nggak apa apa Kha, apa pun rintangan nya, selalu hadir kan asma Allah di dalam hati mu Kha, agar hati mu juga merasa tenang dan damai" tutur Khanaya sambil tersenyum simpul ke arah nya


...°°°...


pagi menjelang siang, kini waktu pun sudah menunjuk kan pukul 10.30 siang, Khaliza dan Khanaya yang sedang sibuk di meja depan tepat nya buku tamu dan souvenir pernikahan, kini netra kedua nya teralih kan di kala melihat Salsa dan Danish yang terlihat baru saja datang di acara pernikahan Lia


"assalamualaikum?" ucap Salsa yang di ikuti oleh Danish di belakang nya yang tengah tersenyum tipis


"waalaikum salam warahmatullah, hai Sa, apa kabar?" jawab nya secara bersalaman ala sesama perempuan dengan Salsa dan di ikuti juga oleh Khanaya


"alhamdulillaah Kha, kabar ku baik, kamu sendiri bagaimana?" jawab Salsa sambil tersenyum


"aduh,, nggak nyangka banget nih, bisa ketemu sama bu bidan di sini, bagaimana pendidikan di Kairo, eh, sesama Lia kan, sudah lulus juga dong, resmi jadi bu bidan nih, CIEE?" goda Khanaya yang memang sudah akrab dengan Salsa


SALSA AULIA AZZAHRA, sahabat masa kecil Lia yang sekarang sudah menyandang status sebagai seorang bidan dan kebidanan, satu tsanawiyah juga dengan Lia, namun akrab juga dengan nya dan juga Khanaya yang merupakan sahabat satu universitas dengan Lia


DANISH ALI FIRMANSYAH, pria yang tengah menyandang status sebagai tunangan Salsa ini kini tengah sama dengan Salsa, namun keinginan nya dan karir nya yang tengah memimpin salah satu perusahaan Ayah nya membuat nya terpaksa harus berbeda profesi dengan sang calon istri


"hmm, iya Nay, alhamdulillaah, aku lulus, kalian bagaimana, sudah pada lulus juga kan?" tanya Salsa


"yaah, kita juga sudah lulus alhamdulillaah, eh by the way nih, sudah ada yang jaga, kapan di halal kan nya, kok masih tunangan, kapan nih menyusul Lia?" goda Khanaya lagi


"ehem,, mau nya sih gitu Nay, hanya saja, aku bisa apa kalau calon istri aku sama belum siap, aku mau semua nya siap, insya Allah nanti undangan nya, kalian datang ya?" kali ini Danish sendiri yang angkat bicara


"hmm, iya insya Allah kita pasti akan datang kok, kalian gak usah khawatir" jawab Khanaya


"oh iya, apa kalian sudah ke sana, mengucap kan selamat untuk kedua mempelai?" tanya Salsa


"emm, belum juga sih Sa, hehe, kita jaga ini dulu soal nya dari pagi" jawab Khanaya


"ya sudah, kita barengan saja ke sana yuk, biar kelihatan kompak gitu?" ajak Salsa


"emm,,, nggak dulu deh Sa, makasih, tapi kita nanti saja, kamu duluan saja sama Danish ya, kita gampang kok" tutur nya yang memang di angguki oleh Salsa dan Danish sendiri


"ya sudah kalau begitu, aku ke sana duluan ya, eh tapi bentar deh, aku baru sadar ternyata kalian cantik cantik ya, aku mau foto dulu boleh nggak, sama kalian?" ucap Salsa yang di angguki dengan ramah oleh kedua nya


untuk sejenak, mereka bertiga tengah asik ber foto bersama dengan bantuan dari Danish yang memang mempunyai sedikit keahlian dalam bidang fotografi


beberapa menit, hingga pada akhirnya,,,


"selesai, makasih ya foto nya, aku sama Danish ke sana dulu?" pamit Salsa seraya menuju Lia yang tengah menerima salaman dari tamu dan mendapat anggukan dari kedua sahabat nya


"xixi, terkadang lucu juga ya, nikahan nya Lia, kita serasa jadi model dadakan, foto sana foto sini?" ujar Khanaya saat Salsa dan Danish sudah berlalu pergi dan hal itu sukses membuat nya ikut terkekeh


"sudah lah, nggak masalah, tapi benar deh, aku serasa nggak PD gitu jika menatap kamera ponsel, apa mungkin karena jarang kali ya?" tutur nya


tak lama kemudian, dari kejauhan sana terlihat ustadz Mukhlis, kak Adel, dan,,, ustadz Yussuf yang tengah berjalan ke arah nya dan Khanaya


"assalamualaikum?" ucap kak Adhel dengan senyuman ramah nya


"waalaikum salam warahmatullah, kak, silahkan tanda tangani buku tamu ini terlebih dahulu, dan souvenir ini?" tutur Khanaya mempersilahkan dan di angguki oleh kak Adhel sendiri


"iya, makasih Nay, jadi yang jaga buku tamu nya kalian rupa nya, bagus lah, apa kalian sudah memberi selamat kepada kedua mempelai di sana?" tanya kak Adhel dengan tatapan yang terarah pada pelaminan


"emm, belum kak, soal nya kita jaga ini dulu, nanti kita juga ke sana kok" jawab Khanaya menunduk di kala mendapati seseorang yang tidak di kenali nya


"akh iya, Nay, kenal kan, ini Yussuf, sahabat nya suami kakak, sahabat nya kak Mukhlis, maaf ustadz, ini Khanaya, sahabat nya Khaliza?" tutur kak Adhel memperkenalkan kedua nya


"akh,, halo ustadz, saya Khanaya, jadi ini, orang yang pernah Khaliza cerita kan itu ya?" ucap Khanaya dengan menyatu kan kedua telapak tangan nya di depan dada nya yang hanya di tanggapi senyuman tipis oleh ustadz Yussuf sendiri


"oh,, ya sudah kalau begitu, kita barengan saja ke sana nya, nggak ada salah nya juga kan?" ajak kak Adhel sambil tersenyum tipis


"emm,, terima kasih kak, tapi nggak masalah, kita menyusul saja nanti" jawab nya yang merasa tak enak hati


"eh nggak apa apa, kita barengan saja, tuh, mumpung lagi agak kosong tamu nya, sekalian kita minta foto yuk?" ajak kak Adhel lagi yang berhasil membuat nya mengangguk dengan terpaksa karena paksaan juga dari Khanaya


"sudah ayo, kapan lagi kita bisa ke sana, lagi luang juga kan, nggak apa apa" ujar Khanaya sambil menarik paksa tangan atas nya


"assalamualaikum Lia, selamat ya, buat pernikahan nya, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah dan warohmah?" ucap kak Adhel dengan bersalaman dan senyuman manis nya pada Lia


"akh,, waalaikum salam warahmatullah kak, allahumma aamiin, do'a nya saja kak, terima kasih banyak lho, aku kira kakak nggak bisa datang, tapi alhamdulillaah kalau bisa?" ucap Lia


"bisa dong, masa di pernikahan adik nya aku aku nggak bisa datang sih, eh iya, ngomong ngomong hari ini kamu cantik, foto ya sama kakak, biar dapat kenangan?" ujar kak Adhel seraya mengambil posisi


"hmm,, iya kak, ayo foto, kalian juga ikutan ya?" ucap Lia sambil menoleh ke arah nya dan Khanaya, membuat nya salah tingkah


"akh,, aku yang masih sendiri di sini, pengen nya di tengah tengah saja deh, biar pro gitu" ujar Khanaya dan mengambil posisi di tengah antara Radit dan Lia


jadi ketujuh nya kompak berfoto dengan posisi ustadz Mukhlis - kak Adhel - Radit - Khanaya - Lia - Khaliza - dan ustadz Yussuf


tanpa di sadari oleh semua nya kini dengan pakaian yang di kenakan oleh ustadz Yussuf sendiri adalah jas biru navy dengan celana chinos dengan peci hitam nya, menambah kan pesan kewibawaan kepada pria satu ini


"sekali lagi selamat ya Li, semoga menjadi jodoh dunia akhirat?" ucap nya menyalami tangan Lia khas wanita dan "selamat atas pernikahan nya kak Radit?" juga salaman tanpa bersentuhan dengan Radit


"iya, makasih lho Kha, ehem,, ngomong ngomong kita sudah halal nih, kamu kapan susul kita nih Za, sama sahabat kita yang satu ini, jomblo fisabilillah" ujar kak Radit yang sebenar nya membuat nya sedikit tersipu malu


"huuh, iya tuh, kakak sama kak Radit sudah lho Khaliza, kamu kapan nih, segera izin kan sobat bujang kita ini untuk menikahi kamu, kasihan lho Kha?" tahu arah pembicaraan dari Radit, kini kak Mukhlis pun mulai semakin gencar dalam menggoda nya


"selamat ya Li, semoga keberkahan selalu menyertai keluarga kecil mu?" ucap Khanaya sambil mengulur kan kedua tangan nya menyalami tangan sahabat nya bergantian dengan Radit


"kamu juga Nay, kapan nih, mau menyusul kita, sudah pada dipersunting lho ini, apa kamu sudah mempunyai calon?" tanya kak Adhel yang mengetahui di kala diri nya yang tengah menahan malu


"hmm,, do'a nya saja kak, jika jodoh nya sudah ada, insya Allah nggak akan lama" jawab Khanaya menunduk


"kakak do'a kan jangan lama lama ya, biar kita bisa kompak kan semua nya?" ujar kak Adhel dengan penuh semangat


"hmm,, iya kak, allahumma aamiin, terima kasih do'a nya?" ucap Khanaya yang di angguki oleh kak Adhel sendiri


...°°°...


semua nya kini tengah duduk dengan memangku makanan masing masing


"Khaliza, kamu tidak merasa tanggung makan sambil memakai niqab seperti itu?" tanya kak Adhel di kala melihat nya menyuap kan sesendok makan nasi


"hmm,, alhamdulillaah nggak kak" jawab nya dengan berdehem ringan


"Kha, aku boleh bertanya sesuatu nggak, sama kamu?" tanya kak Adhel setelah lama nya terdiam


"boleh kak, tanya apa?" jawab nya saat tengah menyelesaikan makan nya


"kamu,,, apa kah kamu pernah makan dengan di suapi?" tanya kak Adhel dengan rasa ragu dan hati hati


"uhuk,,," mendengar pertanyaan kak Adhel spontan saja membuat ustadz Yussuf terbatuk karena belum menyelesai kan makan nya


"duuh, kalau perihal itu pernah kak, terbilang sering bahkan" serobot Khanaya yang membuat ustadz Mukhlis tersenyum tipis


"sama siapa hayo, jangan jangan sama laki laki ya?" tambah ustadz Mukhlis sambil terus tersenyum tipis


"ehm,, kalau perihal itu tergantung sih kak, iya enggak Kha?" ujar Khanaya meminta persetujuan dan di angguki oleh nya


"kalau sama laki laki, kalau boleh tahu, kira kira sama siapa saja kamu di suapi Kha?" tanya kak Adhel


"emm,, paling sama Ayah, sama Arsen, juga kak Ahkam kak, itu juga saat ulang tahun yang ke-16 lalu jika enggak salah" jawab nya di kala berusaha mengingat sesuatu


"akh,, begitu, emm,, pernah sama laki laki lain nggak, maksud nya, pernah sama siapa gitu, yang bukan keluarga?" tanya kak Adhel semakin mendalami pertanyaan


"emm, alhamdulillaah nggak pernah sih kak, jika kak Ahkam, itu juga suap nya pakai sendok, jadi hanya sendok saja yang masuk niqab, tangan nya nggak" jawab nya berusaha menjelas kan


"emm,,, gitu,, kalau sama Ayah juga Arsen, bagaimana yang itu?" kali ini, kak Mukhlis yang ikut penasaran


"kalau sama Ayah dan Arsen, pakai tangan langsung, tapi tanpa membuka niqab kak" jawab nya seada nya


"kak Adel, Khaliza, dia itu anti buka niqab kak, kadang tidur saja suka memakai nya, padahal nggak apa apa kali, kan di kamar hanya ada aku saja sama dia" ujar Khanaya


"kenapa Kha, perihal itu, kamu sendiri bagaimana sih, pandangan kamu sama niqab, secara kan, kamu itu bisa di sebut pengguna setia niqab gitu lho?" ujar kak Adhel


"emm,, bagaimana ya kak menjelaskan nya, sebenar nya aku pribadi biasa saja sih sama niqab sendiri, sebenar nya nggak pakai juga nggak apa apa, hanya saja ini kan lebih karena aku sendiri punya kepribadian yang sedikit pemalu saja, jadi aku sendiri suka nggak percaya diri sih, jika melepas niqab" jawab nya


"emm,, gitu, eh tapi kalau sama keluarga di rumah gimana, pas pertama kali lihat kamu pakai niqab?" tanya kak Mukhlis


"emm,, ya nggak gimana gimana sih kak, memang awal nya pada tanya saja, kenapa kamu lebih memilih jalan ini sedang kan di asrama saja tidak mewajibkan gitu kan, nah, aku bilang, aku merasa nggak percaya diri gitu setelah apa yang telah aku lalui di tsanawiyah, dan, alhamdulillaah semua keluarga aku menerima dan mengizin kan aku untuk memakai niqab sampai sekarang dan insya Allah seterusnya kak" jelas nya sambil menunduk


tanpa di rasa, kini semua nya sudah selesai dengan makanan masing masing, kini semua nya pun memilih untuk meninggal kan acara


"Khaliza, kak Adhel sama kak Mukhlis pulang duluan ya, akh iya, Abah sempat menanyakan kamu, kata nya kapan kamu pulang?" ucap kak Adhel


"emm,, seperti nya agak sorean kak, soal nya di sini juga belum selesai, nggak mungkin aku tinggal kan juga tanpa pamit" jawab nya


"ya sudah kalau gitu, kakak pamit pulang duluan nggak apa apa kan, kamu sama Khanaya di sini?" pamit kak Adhel lagi


"iya nggak apa apa kak, aku sama Khanaya saja di sini, insya Allah, nanti aku pulang agak sorean" jawab nya mengulangi


"ya sudah Khaliza, kakak pamit pulang duluan sama kak Adhel ya, kamu baik baik di sini, nggak lupa arah jalan pulang kan?" ujar kak Mukhlis dengan berniat menggoda nya


"kakak apaan sih, kakak kira aku amnesia apa, di ingatkan segala, aku ingat kok, kakak tenang saja" jawab nya


"ehm, Lis, aku masih ada urusan sebentar, kamu sama Adhel nggak apa apa pulang duluan saja, nanti aku susul ke rumah Umi" ucapan singkat ustadz Yussuf dengan tiba tiba


"lho, kamu mau ke mana dulu Ari, awas nyasar lho, kamu kan bukan asli warga sini?" ucap kak Mukhlis


"Nggak apa apa, bisa tanya Google map" jawab ustadz Yussuf yang membuat kak Mukhlis memutar bola mata nya malas


"hhh,, ya sudah" jawab kak Mukhlis


"Ya sudah lah semua, kita pamit pulang duluan ya, assalamualaikum?" ucap kak Adhel yang memang mendapat kan jawaban salam dari ketiga nya


kak Adhel dan kak Mukhlis pun sudah mulai menjauh dari ketiga nya untuk menuju pulang, suasana hening sejenak, hingga pada akhirnya,,,


"ehm,, maaf Khanaya, apa saya boleh meminjam neng Zahra nya sebentar, ada yang mau saya bicara kan, tapi tidak di sini?" tutur ustadz Yussuf dengan wajah datar nya


"a,, akh,, baiklah ustadz, boleh, Kha, kamu sama ustadz dulu saja enggak apa apa, ini biar aku yang jaga" ucap Khanaya memberi kode sambil melihat ke arah ustadz Yussuf yang mulai berjalan keluar gedung hotel


mendengar pertanyaan yang sang ustadz tanyakan kini berhasil membuat nya cukup merasa tak nyaman, entah apa yang akan di bicarakan oleh ustadz, pikir nya


"sudah lah enggak masalah, kamu bicara saja dulu sama ustadz, seperti nya juga begitu penting, privasi gitu, ini biar aku yang jaga" jawab Khanaya meyakinkan


"y,, ya sudah, aku pamit kalau gitu, jika ada apa apa langsung telepon atau kabari aku saja, nanti aku ke sini lagi?" ucap nya yang di angguki oleh Khanaya


...°°°...


di sini lah diri nya berada, terduduk di taman halaman hotel dengan ustadz Yussuf di samping nya, namun masih tersisa jarak di antara kedua nya


"neng, ini dari Arsen, nomor baru nya, apa kah tidak sebaik nya kita isi terlebih dahulu agar semua nya cepat selesai sekarang juga?" tutur ustadz Yussuf seraya menyerah kan secarik kertas catatan tempel


"a,, akh,, baiklah ustadz, nanti saya akan segera isi, tapi sekarang, Khanaya sendirian di dalam" tutur nya seraya menunduk dalam


"nggak apa apa, dia bisa sendiri, neng sama aa' saja sekarang, aa' juga mau isi paket data, yang kemarin lupa, biar sekalian" ucap ustadz Yussuf yang sedikit memaksa


"tapi,,, baiklah ustadz, namun saya harus pamit terlebih dahulu pada Khanaya?" ucap nya yang di setujui oleh ustadz Yussuf sendiri


setelah berbicara demikian, kini Khaliza pun mulai menghampiri Khanaya yang tengah selesai melayani tamu undangan


"emm, Nay?" Panggil nya


"kenapa Kha, apa kah ada masalah?" tanya Khanaya seraya menoleh ke arah nya yang baru saja datang


"i,, itu,," ucap nya dengan ter gugup seketika


"iya itu apa?" tanya Khanaya yang melihat nyata kegugupan yang tengah melanda nya


"u,, ustadz meminta aku untuk mengantar ke konter ponsel Nay, kamu nggak apa apa kan, jika aku tinggal sendirian?" tutur nya dengan ragu


"hmm,, nggak masalah, aduh, aku mengira ada apaan, hanya masalah ke konter ponsel rupa nya, ya sudah, kalian pergi saja dahulu, aku nggak apa apa kok" jawab Khanaya dengan tersenyum


"hanya ustadz Yussuf minta antar saja sampai bisa gugup segitu nya sih, nggak apa apa kali, dia kan juga calon suami kamu Kha, jangan dingin dingin sama dia ya, dia orang nya ramah lho?" tambah Khanaya yang semakin gencar dalam menggoda nya


"hmm, ya sudah, aku pamit ya, jika ada apa apa langsung kabari aku saja, insya Allah secepat nya aku akan kembali ke sini" tutur nya tak enak hati tanpa memperdulikan godaan dari Khanaya


"hhh, mau pergi lama juga nggak apa apa kali Kha, melepas rindu sama ustadz nya, kan bentar lagi dipingit?" ujar Khanaya


"kamu ini ada ada saja, ya sudah, aku pamit ya, assalamualaikum?" ucap nya yang seraya berlalu pergi di kala telah mendapat jawaban salam dari sahabat nya


melihat punggung Khaliza yang telah semakin menjauh menjadi titik kecil dari kejauhan tempat nya berdiri, membuat nya menggeleng kecil


"Khaliza,, Khaliza, kamu sungguh pemalu, untuk sekedar jalan saja bisa se gugup itu, kamu tuh unik banget tau nggak sih, gimana jika sudah satu atap nanti nya ya,, akh,, apa yang aku pikir kan, apa pun yang terjadi di masa depan nanti, semoga Allah selalu hadir kan kamu dan keluarga mu di dalam perlindungan-NYA" gumam Khanaya seraya tersenyum simpul


...°°° ...


melihat kedatangan sang calon istri dari kejauhan, kini berhasil membuat ustadz Yussuf cukup terperanjat kaget sontak berdiri dari duduk nya


"sudah pamit nya neng?" tanya ustadz Yussuf lembut di kala diri nya sudah berdiri di hadapan sang ustadz dan hanya menanggapi dengan anggukan kepala karena terlewat malu


"ya sudah, kita berangkat sekarang ya, aa' parkir mobil di sana, yuk?" ajak ustadz Yussuf lembut mulai berjalan dan di ikuti dari belakang oleh nya


beberapa menit kemudian


"ayo masuk?" ucap ustadz Yussuf saat pintu mobil sudah terbuka lebar untuk nya


"t,, terima kasih ustadz?" ucap nya yang memang selalu menunduk bahkan tidak menyadari anggukan kepala dan senyuman manis dari ustadz Yussuf sendiri


ustadz Yussuf pun mulai mengitari mobil bagian depan nya dan mulai masuk ke dalam tepat di belakang setir


"maaf ya neng, seperti nya neng selalu lupa, seat belt nya di pasang, agar aman saja" tutur ustadz Yussuf seraya memasang kan seat belt pada tubuh nya


dengan seketika, hati nya kian bergetar hebat lebih dari biasa nya, membuat nya semakin gugup karena harus berdekatan sedekat ini dengan sang ustadz


'akh,, astagfirullah,, ada apa dengan hati ku, apa yang terjadi, mengapa hati ku kian semakin bergetar di kala bisa sedekat ini dengan ustadz, astagfirullah,, saya berlindung kepada-Mu ya Robbi' batin nya saat menunduk dalam, hingga tidak menyadari di kala ustadz Yussuf yang tengah memperhatikan nya


"kenapa neng, apa ada yang salah, apa neng tidak enak badan, harus kah kita pergi ke rumah sakit terlebih dahulu?" sontak pertanyaan beruntun itu keluar dari mulut ustadz Yussuf yang tengah kebingungan melihat keterdiaman nya dalam menunduk


juga pertanyaan itu mulai menyadarkan nya dari lamunan "a,, akh, nggak ada apa apa kok ustadz, alhamdulillaah, saya baik baik saja, bisa langsung ke konter saja" tutur nya yang sontak di kala tersadar


"mm,, baiklah, kita jalan sekarang ya?" ucap ustadz Yussuf yang di angguki oleh nya kemudian mulai menyalakan mesin mobil dan melajukan nya membelah jalanan kota Tangerang


...°°° ...


di tengah perjalanan suasana hening seketika melanda mobil yang sedang melaju dengan kecepatan normal itu, tidak ada pembicaraan, baik antara diri nya, ataupun ustadz Yussuf sendiri, kedua nya terlihat sibuk dengan isi pikiran masing masing


dengan ustadz Yussuf yang tengah fokus pada arah jalan di depan nya, dan Khaliza, dia terlihat memandangi jalanan kota Tangerang siang ini melalui kaca pintu mobil tepat di samping nya


'oh Allah,,, benar kah ada kisah, di balik langit senja yang saya sukai itu, mengapa semua nya cepat berlalu, rasa rasa nya,, baru kemarin saya duduk di bangku sekolah dasar, rasa nya baru kemarin Ayah Bunda mengantar kan saya pergi ke sekolah untuk pertama kali nya, dan sekarang,,, saya harus menerima kenyataan yang bahkan tidak pernah saya bayang kan, saya benar benar merasa bingung, di kala di hadap kan dengan dua pilihan, di satu sisi, saya masih ingin terus menimba ilmu, namun di sisi lain, saya juga harus di hadap kan dengan kenyataan ini, kenyataan yang tidak bisa saya hindari, apa pun yang terjadi, saya mohon, permudahkan lah semua nya ya Rabb' batin nya sedikit tersirat rasa sedih dalam hati nya


di tengah keheningan yang melanda itu, kini Khaliza, diri nya pun mulai tersadar dari lamunan nya di kala mendengar suara dering ponsel di genggaman tangan nya


"halo assalamualaikum Lia, kenapa?"


"..."


"akh,, iya, maaf, tadi aku langsung berangkat, jadi tidak sempat pamit dulu sama semua nya?"


"..."


"iya, kenapa?"


"..."


"ooh, kalian makan saja, aku sudah makan kok sebelum nya, barengan sama kak Adhel juga tadi, kalian makan saja nggak apa apa, tidak usah menunggu ku"


"..."


"iya maaf, ada yang harus aku beli di konter, mungkin nanti sore baru bisa kembali ke hotel"


"..."


"hmm,, bagaimana ya, aku juga nggak enak nih sama Tante Hanna dan Om Aldi, tolong sampai kan maaf aku ya, nanti sore kemungkinan aku baru bisa kembali?"


"..."


"hmm, iya insya Allah aku jaga diri kok, terima kasih, maaf juga ya, mungkin buat kalian cemas?"


"..."


"ya sudah iya, waalaikum salam warahmatullah"


"dari siapa neng?" tanya ustadz Yussuf saat diri nya sudah selesai berbicara di panggilan telepon


"Lia ustadz" jawab nya yang kembali menunduk


"akh, begitu kah, mungkin dia merasa cemas, apa hubungan neng dengan kedua orang tua nya cukup erat?" tanya ustadz Yussuf semakin mendalam


"iya ustadz" jawab nya seada nya


"neng" panggil ustadz Yussuf yang mulai menatap nya dengan serius namun masih fokus juga pada kemudi


"apa kah aa' boleh berta nya sesuatu sama neng?" tanya ustadz Yussuf dengan ke dua tangan masih memegang setir


"boleh ustadz, tanya apa?" jawab nya balik bertanya


"apa,,, neng sempat bercerita tentang aa' pada orang terdekat neng di asrama?" tanya Yussuf dengan ragu ragu


mendengar hal itu sontak membuat kepala nya menggeleng dan "tidak ustadz, maaf, mungkin ustadz salah paham, memang Khanaya sempat bertanya pada saya di kala saya memberikan surat undangan pada nya,, namun,, memang ada seseorang yang saya beri tahu perihal ustadz, maaf?" jawab nya yang mengerti arah pembicaraan sang ustadz


"namun saya tidak pernah cerita tentang ustadz pada siapapun selain itu, karena memang saya tidak mengetahui apa apa tentang ustadz" lanjut nya dan dilanjut dengan batin nya dalam lubuk hati nya


pembicaraan nya sontak saja membuat ustadz Yussuf berpaling dan malu sendiri


"a,, akh,, begitu kah, maaf, aa' sudah salah paham, dengan neng, a' kira,,," ucap ustadz Yussuf yang menggantung


"tidak masalah ustadz, saya mengerti" sambut nya yang telah paham jika ustadz Yussuf sendiri merasa bingung


"dan apa,, semua orang terdekat neng di asrama sudah mengetahui,, perihal kita yang di jodohkan,, dan akan segera menikah?" tanya ustadz Yussuf takut takut menyinggung hati nya


"iya ustadz, semua nya sudah mengetahui perihal ini, saya juga telah mengundang semua nya, namun hanya sedikit yang saya undang, selebih nya,, saya tidak terlalu akrab" jawab nya yang membuat hati ustadz Yussuf lega


"dan Khanaya juga Lia, kedua sahabat neng,, apa kedua nya bisa menerima nya, aa' tidak ingin ada kesalah pahaman suatu saat nanti?" tanya ustadz Yussuf masih ragu


"alhamdulillaah ustadz, kedua nya bisa menerima nya dengan ikhlas, bahkan sangat mendukung saya menikah di usia muda" jawab nya yang berhasil membuat ustadz Yussuf nyaris melebar kan senyuman nya


...°°°...


kedua nya kini duduk di kursi konter saat setelah sekian lama nya menempuh perjalanan yang cukup panjang


"permisi mas, apa saya bisa mengisi data untuk nomor ponsel baru ini?" tutur nya pada pelayan konter tersebut


"baiklah kak, mau yang berapa GB, nanti saya bantu isi kan?" tanya balik pelayan tersebut dengan ramah


"emm,, 50 GB saja mas, bisa kan?" jawab nya masih menunduk


"baiklah, mohon di tunggu kak, data nya akan saya isi" ucap pelayan tersebut seraya berlalu


beberapa saat kemudian


"kak, data nya sudah saya isi ke nomor ponsel yang ini, apa ada hal yang lain lagi?" tanya pelayan konter itu saat sudah duduk di kursi meja nya


"emm,, apa boleh sama nomor ponsel yang ini juga mas?" tanya nya seraya menyerah kan ponsel nya yang memang sudah tertera nomor ponsel cantik di sana


"baiklah kak, mau yang berapa GB kalau yang ini?" tanya pelayan ini dengan menoleh


"yang ini 25 GB saja mas nggak apa apa" jawab nya yang sontak membuat ustadz Yussuf di samping nya mengurutkan kening nya heran


"baiklah kak, mohon di tunggu data nya?" ucap pelayan ini seraya berdiri dan kembali berlalu dari hadapan nya


"ehm, kenapa neng hanya mengisi 25 saja, sementara neng isi punya Arsen 2 kali lipat?" tanya ustadz Yussuf yang membuat nya menoleh sekilas


"nggak apa apa ustadz, saya rasa,, 25 saja sudah cukup, lagi pula,, Arsen dan saya lebih butuh Arsen daripada saya, karena itu,," penuturan nya yang membuat ustadz Yussuf mengangguk paham dan semakin mengagumi sang calon istri


"data nya sudah selesai di isi kak, apa sudah masuk?" tanya pelayan konter ini sontak membuat nya membuka ponsel nya


dan data tersebut memang sudah terisi di ponsel nya


"naaf kak, kami sedang ada promo untuk power bank advance, apa kakak nya berminat untuk membeli nya?" ucap pelayan konter ini menunjuk kan beberapa power bank di hadapan nya


"emm,, ya sudah mas, tolong bungkus kan dua ya, saya mau?" tutur nya yang di angguki oleh pelayan konter ini


"semua nya jadi berapa mas, sama data nya?" tanyanya seraya membuka tas selempang nya


"total semua nya jadi 338.000 kak, itu sudah termasuk dua power bank advance nya" jawab pelayan ini


"akh, baiklah, ini mas, terima kasih untuk semua nya?" ucap nya seraya menyerah kan uang 4 lembar rp100.000


"baiklah kak, kembalian nya harap di tunggu sebentar" ucap pelayan ini yang hendak berlalu


"eh nggak apa apa mas, kembalian nya ambil saja, saya ikhlas" tutur nya menghentikan langkah pelayan konter ini


"waah, alhamdulillaah, terima kasih banyak ya kak, kakak nya sudah cantik, baik lagi, semoga Allah balas yang lebih?" ucap pelayan konter ini yang merasa senang


"allahumma aamiin, terima kasih kembali mas, ini power bank nya saya ambil?" ucap nya yang di angguki oleh pelayan konter ini


"mas, saya mau isi data 50 GB ya, ke nomor ponsel yang ini?" tutur ustadz Yussuf seraya menunjuk kan ponsel nya namun dengan raut wajah yang sedikit muram, entah mengapa


"baiklah mas, mohon di tunggu" jawab pelayan konter ini seraya berlalu


'entah mengapa, semenjak aku mengenali sosok calon istri ku ini, apa lagi dengan hubungan perjodohan ini, aku merasa tidak rela jika diri nya di puji oleh laki laki lain' batin ustadz Yussuf sambil terus memandangi nya dari samping


beberapa menit kemudian


"apa sudah terisi mas?" tanya pelayan konter ini sambil duduk di kursi meja nya


"iya mas, sudah, terima kasih ya, ehm, saya tidak ada uang cash, jadi pakai kartu debit saja ya mas, nggak apa apa kan?" tutur ustadz Yussuf seraya menyerah kan kartu debit nya


"baiklah mas, di tunggu sebentar?" ucap pelayan konter ini seraya berlalu


beberapa waktu kemudian


"ini kartu nya mas, terima kasih, mas sama kakak nya, silakan datang lagi ke sini?" ucap pelayan konter ini ramah dengan menangkup kan kedua telapak tangan nya di depan dada nya kala melihat pelanggan nya mulai berlalu keluar dari konter


di dalam mobil


"kita jalan sekarang ya neng, apa mau mampir ke suatu tempat terlebih dahulu sebelum ke lokasi?" tanya ustadz Yussuf dengan lembut sambil menoleh ke arah nya yang sedang memasang seat belt


"ehm,, nggak apa apa ustadz, langsung kembali ke lokasi saja, takut nya yang lain pada khawatir" jawab nya dengan cepat


"hmm,, baiklah" tutur ustadz Yussuf seada nya seraya memutar dan menyala kan mesin mobil


di sepanjang perjalanan, Khaliza, kini gadis itu hanya terdiam, dan tak sedikit pun berbicara, bahkan saat ustadz Yussuf pun bertanya sesuatu, diri nya hanya akan menggeleng dan mengangguk, sebagai jawaban, pandangan nya kini hanya tertuju pada jendela mobil yang menampak kan jalanan yang di lewati nya dengan perlahan


"neng Zahra, apa neng Zahra mengenal Radit?" tanya ustadz Yussuf berusaha memecah keheningan


"saya cukup tahu ustadz" jawab nya sangat singkat, dan berhasil mencubit hati ustadz Yussuf hingga merasa sedih


tak lama kemudian


Dddrrrttt,,, dddrrrttt,,,


suara dering ponsel nya itu kini berhasil membuat nya mengambil ponsel nya dan mengangkat panggilan nya


"akh,, assalamualaikum Umi?"


"waalaikum salam warahmatullah, nak, kamu di mana, kapan pulang?"


"akh,, ini Izza masih di jalan Umi, menuju lokasi, mungkin nanti sore baru bisa pulang, apa kah ada sesuatu Umi?"


"tidak ada sayang, Umi hanya mau tanya saja sama kamu, apa kamu sudah buat sketsa gambar desain gaun muslim, semua nya menunggu di butik nak?"


"akh, maaf jika untuk hari ini Izza nggak sempat menggambar nya Umi, tapi untuk besok, sudah Izza siap kan, hanya tinggal print saja sama kak Sofyan"


"akh,, begitu kah, baiklah sayang, Umi tunggu, sekalian kamu juga gambar desain gaun pengantin buat kamu nanti ya, biar di rancang kan sama yang lain?"


"tidak apa apa Umi, Izza bisa sendiri, Ayah Bunda juga sudah pesan di WO Umi"


"nggak masalah nak, anggap saja ini adalah hadiah pernikahan kamu dari kami semua, gaun putih nya saja nggak apa apa, jangan menolak sayang, semua sudah antusias memberikan hadiah ini sama kamu"


"b,, baiklah Umi, terima kasih banyak sebelum nya, secepat nya Izza pulang, Umi mau Izza bawa kan apa, jika nanti Izza sama Khanaya pulang?"


"nggak usah membawa apa apa nak, Umi hanya mau kalian saja pulang dengan selamat ke asrama ya, Umi tunggu, Abah, dia kangen kata nya sama teh buatan kamu"


"hmm,, iya nanti Izza buat kan"


"ya sudah, kamu hati hati di jalan ya nak, Umi Abah menunggu kamu, akh iya, malam ini kamu tidur di rumah ndalem ya, Umi sama kak Adhel masak banyak hari ini, kan ada teman nya kak Mukhlis juga?"


"emm,, iya insya Allah Umi, Izza izin sama Khanaya dulu, takut nya nggak berani sendirian dia"


"iya ya, tapi jika dia nggak berani di kamar asrama sendirian, kamu ajak dia saja tidur di rumah ndalem, Umi tutup dulu, assalamualaikum?"


"iya Umi, waalaikum salam warahmatullah"


_Assalamualaikum Zahra_


Rabu, 9 Agustus 2023