
..._Assalamualaikum Zahra_...
..._Lembaran Semu_...
..."menahan amarah, hasad dengki, riak, takabur, itu adalah jihad yang besar, dan kebanyakan dari pada kita dengki atas sebab dunia,,"...
..._Khaliza Sulistya Az Zahra_...
di sini lah diri nya berdiri, bergelut dengan panci yang akan di gunakan untuk menyeduh susu ibu hamil,, panci itu tengah memasak air,, seiring dengan kedua tangan nya yang sedang mengupas buah buahan malam ini untuk sang kakak sulung
tanpa di sadari oleh nya,, tangan kekar kini berhasil melingkar di pinggang nya, juga dagu yang bertumpu di bahu nya,, bahkan hirupan dalam dalam itu tidak bisa di hindari nya lagi,, namun diri nya yang mendapat kan perlakuan seperti itu pun hanya bisa membuang nafas pasrah,, mengingat siapa lagi yang berani memperlakukan diri nya seperti ini selain Arsen, adik bungsu nya
"kak Nisa bilang nanti susu nya minta di antar kan saja ke kamar kak,, huft,," tutur Arsen seraya kembali menghirup dalam aroma di sekitar nya
"hmm,," jawab nya yang masih fokus dengan sesuatu di kedua tangan nya
"kak,, ayo lah,, jangan mendiam kan aku seperti ini,, kakak tahu kan,, kalau aku nggak pernah merasa terbiasa dengan suasana seperti saat ini?" tanya Arsen dengan lembut juga dengan mata yang terpejam sempurna
"hmm,," jawab nya yang lagi lagi merasa malas menanggapi setiap penuturan dari Arsen
"jangan hmm hmm hmm hmm terus dong kak,, aku nya jadi nggak nyaman kalau kayak gini jadi nya,," keluh Arsen
"bisa kamu lepas kan tangan kamu ini,,?" imbuh nya yang malah terdengar seperti perintah karena terus terusan berbecara dengan wajah datar
"e,, eum,, nggak bisa,, kakak harus memaaf kan aku dahulu,," jawab Arsen dengan menggeleng pelan
"apa kah kamu mau kakak menggores kan pisau di tangan kakak ini pada tangan mu,,?" tanya nya yang malah terdengar seperti sebuah ancaman tersendiri untuk Arsen
"ya,, kakak jangan gitu dong kak,, kalau kakak buat tangan aku terluka,, aku nggak bisa peluk kakak dari belakang lagi dong,,?" tutur Arsen,, meski Arsen mengetahui jika ancaman nya hanya terkesan tidak serius,, namun Arsen mengetahui jika kejengkelan sang kakak benar benar sudah berada di puncak
"suruh siapa kamu memberi kan hadiah itu sama kakak,,?" tanya nya di kala mengingat hal memalu kan yang sang adik lakukan berimbas kepada nya
"ya,, maaf kak,, aku kan hanya main main saja sama kakak,, aku hanya mau menghibur kakak saja,, nggak lebih,," jawab Arsen dengan gugup setengah mati
berhasil merasa di buat benar benar jengah oleh sang adik,, kini berhasil membuat nya membuka paksa pelukan dari arah belakang itu dan menghadap sang adik dengan pelan "Sen,, harus kakak ingat kan,, ijab Qabul yang kakak ipar kamu lantun kan tidak main main untuk kakak,, jika kamu ingin bermain main atau bahkan menghibur kakak,, harus nya itu bisa membuat kakak senang dan tersenyum,, bukan hal memalu kan seperti ini,, apa kah kamu paham,,?" tanya nya seraya mendongak menatap Arsen yang kini lebih tinggi dari tubuh nya
"kakak tidak merasa semarah ini sama kamu karena biasa nya kakak hanya sendiri,, kamu pun juga tidak pernah membuat kakak malu di hadapan Ayah dan Bunda,, tapi sekarang kakak sudah berbeda Arsen,, mengerti lah,, sekarang kakak sudah mempunyai,,," penuturan nya yang menggantung,, di kala melihat sang suami yang bersedekap dengan menyandar kan tubuh nya pada bingkai pintu,, menyaksikan interaksi antara sepasang kakak beradik ini dengan terus tersenyum "suami,," lanjut nya dengan mengalih kan pandangan nya ke samping kanan, tidak ingin menatap kedua mata yang sejak tadi menyaksikan kedua nya
kembali berbalik,, hingga kini,, diri nya pun segera mengangkat air yang sudah masak dan menuangkan nya ke dalam secangkir gelas, kemudian menyelesai kan kupasan buah yang sempat terhenti dan bergegas menuju ke arah kamar kak Nisa
"hmm,, tubuh se kekar ini,, garang di hadapan orang asing,, nyata nya lemah juga di hadapan kakak sendiri,, sudah cukup kamu menggoda kakak kamu Arsen,," tutur Yussuf seraya berjalan semakin dalam ke arah dapur,, menghampiri Arsen yang masih terdiam menunduk di tengah berdiri nya, menepuk bahu adik ipar nya dengan lembut
mendapati hal itu,, kini berhasil membuat Arsen menoleh ke arah Yussuf "hhh,, mau sekuat apa pun aku,, nyata nya aku nggak pernah bisa berbuat kasar sama permata kesayangan aku itu kak,, sulit juga untuk mendapat kan kata maaf dari nya,, aku menyesal,," tutur Arsen
"ya,, kakak mengerti,, lagi pula,, kamu juga si,, coba main main sama kakak kamu,, sudah tahu kakak kamu itu adalah perempuan pemegang sabuk hitam,, jika orang lain yang ada di posisi mu saat ini,, maka sudah di pasti kan,, jika kamu sudah di buat babak belur,, untung saja kamu adalah adik nya istri kakak itu,," jawab Yussuf dengan mengangguk angguk
"his,, kakak jangan menakut nakuti ku seperti ini dong kak,, hanya dengan mendengar nya saja sudah membuat bulu kuduk ku merinding,, apa lagi jika aku benar benar merasakan nya,," keluh Arsen dengan meringis pelan
"ya makan nya jangan coba coba untuk main main dengan berlebihan sama kakak kamu,, jadi kamu sendiri kan yang ujung nya menyesal,,?" tutur Yussuf yang membuat Arsen kembali menunduk
"kak,, kakak kan akan selalu bersama kakak ku sepanjang malam,, kakak tolong bantu aku untuk membujuk nya ya kak,, aku mohon kak,, aku nggak mau marahan lama lama sama kakak aku itu,, aku nggak bisa,,?" tutur Arsen yang tiba tiba saja menggenggam erat tangan kanan Yussuf dengan kedua tangan nya sendiri dengan cepat dan segera
"hhh,, akan kakak usaha kan,, tapi jangan di ulangi lagi,, kakak nggak ikhlas jika kamu bermain main di luar batas sama istri nya kakak lagi,," jawab Yussuf yang membuat Arsen mengangguk dengan penuh semangat
"pasti kak,, pasti,, kakak pegang pembicaraan aku ini,, aku nggak akan melakukan hal candaan di luar batas sama kakak aku,," seru Arsen yang kini menjadi kembali bersemangat
tanpa kedua nya sadari, ini sepasang telinga sudah mendengar pembicaraan antara pasangan kakak beradik ipar ini, bukan berniat ingin menguping,, hanya saja,, sesuatu milik nya ada yang tertinggal di dapur
'jika kamu memang menyesal,, mengapa kamu harus melakukan hal ini Arsen,,?' tanya nya dalam hati dengan terus tentunduk
ya,, dia adalah Khaliza sendiri,, kini diri nya lupa membawa kunci lemari yang selalu di bawa nya ke mana pun diri nya pergi,, sehingga kedua telinga nya harus mendengar pembicaraan itu
jujur,, diri nya bahkan merasa tidak tega jika harus mendiam kan sang adik dan berbicara dengan wajah datar seperti ini pada adik bungsu nya itu,, namun hal ini akan terus di hadapi nya jika diri nya terus terusan terdiam dan berusaha mengikhlaskan semua nya
_Assalamualaikum Zahra_
Sabtu, 2 September 2023