
..._Assalamualaikum Zahra_ ...
..._Haruskah Aku Yang Mengawalinya_ ...
..."aku tidak lelah, aku hanya butuh istirahat untuk mengembalikan semua dan untuk tampil baik baik saja di depan mu, untuk tampil terlihat baik baik saja itu sangat sulit, karena kau terlanjur hafal semua tingkah, tutur kata dan raut wajah yang tercipta" ...
..._Khaliza Sulistya Az Zahra_ ...
makan malam pun berlalu dengan suasana hening melanda meja makan, sibuk bergelut dengan pikiran masing masing
kak Nisa juga Arsen yang melihat nya terlihat baik baik saja, kedua nya sebenar nya menguping pembicaraan Ayah dengan diri nya sore hari tadi, kini yang berhasil membuat kedua nya terkejut, namun tidak merubah apa pun yang ada pada nya, dia tetap seorang perempuan penurut dari keluarga mereka, hanya saja,, tatapan mata nya itu, tidak se teduh tadi siang, tepat nya, kala diri nya kembali menginjakkan kedua kaki nya di rumah ini, kala melihat wajah nya, membuat kak Nisa dan juga Arsen merasa iba
"ehm,, kak, kakak mau ke mana?" tanya Bunda yang melihat nya beranjak dari tempat duduk nya
"emm,, ke belakang Bund, Izza sudah selesai makan" jawab nya seraya berjalan dan berhasil membuat Bunda merasa bersalah dan memandangi kepergian nya dengan tatapan nanar
"sudah lah Bund,, dia baik baik saja, dia akan terbiasa,, Bunda tenang saja" tutur Ayah yang mengusap lembut punggung tangan Bunda di atas meja makan, namun hal itu nyata nya masih kurang membuat Bunda merasa tenang, meski pun Bunda terlihat mengangguk dan menunduk, namun hati dan pikiran Bunda nyata nya masih belum merasa tenang
tidak berapa lama, Bunda menghampiri nya dengan memangku tumpukan piring kotor bekas makan malam keluarga nya yang memang tengah mencuci piring
"ehm,, malam ini biar Izza yang cuci piring nya ya Bund?" tutur nya seraya mengambil dan mulai menggosok piring dengan spons cuci piring
"tapi nggak usah sayang, biar Bunda yang cuci, lebih baik kakak istirahat saja, sejak tadi kakak belum istirahat yang benar Bunda perhatikan" tutur Bunda
"hmm,, nggak masalah Bund, kakak bisa kok, kakak nggak masalah, sudah lama juga nggak cuci piring di rumah" jawab nya yang berhasil membuat Bunda pasrah, anak ini,, selalu saja keras kepala jika menyangkut kebaikan,, pikir Bunda
"emm,, Bunda,, maaf kan pembicaraan kakak tadi sore ya Bund,, kakak sudah lancang dengan berbicara kasar seperti tadi,, kakak,,, kakak terlanjur shok tadi?" lanjut nya berucap dengan ragu dan menunduk
"hmm,, nggak masalah sayang,, Bunda paham,, bahkan begitu paham dengan apa yang kakak rasa kan tadi sore, maaf kan bunday juga ya nak, jika perkataan Bunda membuat kakak benar benar shok?" jawab Bunda yang di angguki oleh nya
"ya sudah sayang, kalau gitu,, Bunda tinggal dulu yah, kakak mau minum apa, biar Bunda buat kan, Bunda juga mau buat kan kopi instant untuk Ayah nak?" tanya Bunda yang tidak ingin larut dalam kesedihan
"hmm,, makasih Bund, tapi nggak apa apa, nggak usah, nanti kalau kakak mau, kakak bisa buat sendiri, sekarang, kakak sedang tidak ingin minum" jawab nya
mendengar hal itu membuat Bunda mengangguk paham dan beralih meninggal kan nya seorang diri di depan wastafel
saat diri nya tengah fokus dengan aktivitas yang sedang di kerja kan nya, tiba tiba, dua tangan kekar dan kokoh berhasil memeluk dan melingkari pinggang nya dari belakang, seseorang tengah menghirup aroma vanilla khas nya
"huft,, masih dengan aroma yang sama" gumam sosok ini yang memang adalah Arsen, yaah, Arsen, siapa lagi orang yang berani menghirup aroma nya berlebihan seperti ini selain Arsen, adik bontot nya sendiri?
"hhhhh,, bukan kah adik kakak ini tidak merasa senang dengan kedatangan kakak kembali di rumah ini, lantas mengapa kamu seperti ini sekarang?" goda nya dengan mengejek
"oh ayo lah kak,, mana bisa aku marah lama lama sama kakak yang selalu kau rindu kan ini, aku kesal saja, tapi aku sedang tidak ingin membahas kekesalan ku sekarang, aku hanya ingin temu kangen sama kakak sekarang" jawab Arsen yang masih saja menempel di belakang nya
"hmm,, ada mau nya nih, kenapa, adik nya kakak ini mau apa?" tanya nya singkat namun Arsen merasa diri nya bertanya jutek kepada Arsen sendiri
"nggak mau apa apa, kakak sedang apa di sini?" tanya Arsen masih memeluk nya dari belakang
"sedang mencuci piring, lepas ish, kakak jadi susah gerak nya?" ujar nya menggerakkan tubuh nya agar terlepas, namun bukan nya melepas, pelukan sang adik kini malah semakin mengerat
"ish, bentar dulu, aku sedang cium aroma nya kakak banyak banyak, rindu ini, aku candu banget jadi nya" jawab Arsen sambil menggerakkan lembut kepala nya di ceruk leher nya yang tertutupi hijab
"hhhhh, sesuka mu lah" jawab nya yang hampir selesai dalam mencuci piring
...°°° ...
waktu terus berjalan, hingga di malam yang sunyi ini, diri nya tengah duduk bersila dan menunduk kan kepala nya di atas dipan kayu halaman belakang rumah, memandangi langit malam yang terlihat kelam, dan tidak kelabu, namun di hiasi bintang bintang
malam ini, diri nya merasa serba salah, apa lagi dengan apa yang telah di ketahui nya perihal perjodohan dari kedua orang tua nya, di satu sisi, diri nya cukup memiliki semangat yang tinggi untuk masih mengejar cita cita nya di bidang pendidikan strata dua, namun di sisi lain, kenyataan ini seolah pedang yang menusuk semua impian nya dengan perlahan
'oh Allah,, kini saya merasa cukup bingung, di satu sisi, saya tidak ingin mengecewakan keluarga besar saya, dan di sisi lain, saya juga masih cukup memiliki semangat yang begitu tinggi untuk masih mengejar impian saya, dan mewujud kan nya'
'saya harus bagaimana ini, bahkan, untuk mengenali nya saja saya tidak, bagaimana saya bisa menjalan kan tugas saya sebagai seorang istri kelak, jika saya saja tidak mempunyai cukup keberanian, hanya untuk berkomunikasi dengan nya,,?'
'oh Allah,, saya tidak mengenali nya saat ini, saya merasa begitu bingung, saya merasa di hantam dengan kenyataan, yang perlahan mampu membuat saya hampir menyerah, saya mohon,, permudahkan lah segala urusan saya,,' batin nya dalam hati, dengan tatapan kosong ke arah rumput di belakang rumah nya, kedua jari nya saling bertaut
jauh di bingkai pintu belakang sana, terlihat kedua orang kepercayaan nya, orang tersayang nya, orang yang selalu mendukung nya
"kak,, entah mengapa, aku ikut merasa sakit, kala melihat tatapan dari wajah teduh nya, ak,, aku nggak sanggup menatap nya, meski kak Yussuf sendiri menjadi tipikal kakak ipar idaman bagi aku, tapi,, melihat kakak murung dengan tatapan yang kosong seperti itu aku ikut merasa iba" keluh Arsen pada kak Nisa yang setia berdiri di samping nya
yaah, kedua nya kini tengah menyaksikan kesakitan nya dan kesendirian nya di depan sana, dengan tatapan iba kedua nya masing masing
"hhh,, yaah, kakak cukup tahu dengan apa yang kamu rasa kan Sen, bahkan kakak juga merasa kan hal yang sama, padahal dia tidak pernah mengeluh, dengan apa yang selalu menghantam nya di masa lalu, dan sekarang pun sama, kini diri nya tengah menyembunyikan luka nya jauh di benak nya" jawab kak Nisa sambil menyilang kan kedua tangan nya di depan dada, kemudian mengambil langkah kaki menghampiri nya yang tengah duduk menunduk
"kakak mau ke mana?" tanya Arsen yang melihat sang kakak sulung mulai berjalan perlahan
"ke sana, kakak akan mencoba memberikan pengertian untuk nya" jawab kak Nisa yang di angguki oleh Arsen
"hehem,, nanti aku nyusul, aku buat minuman dulu" jawab Arsen sambil berlalu ke dalam dapur
"kakak cariin ternyata kamu di sini Za?" ucap kak Nisa yang berhasil membuat nya terlonjak kaget dan menatap sang kakak
"hmm, kak Ahkam nya sedang menemani Ayah di dalam, kata nya ada proyek besar besaran, jadi kakak ke sini sehabis buat kan makanan ringan, boleh kakak duduk samping kamu?" tanya kak Nisa berbasa basi
"akh, begitu kah, iya, duduk lah, samping aku" jawab nya menggeser posisi duduk nya
"kamu kenapa di sini sendiri?" tanya kak Nisa yang sudah mendudukkan diri di samping sang adik
"akh, ngg,, nggak apa apa kak, sudah lama, aku kangen saja suasana malam di sini, bisa lihat bintang juga" jawab nya berusaha mengelak
"hhh,,, apa kah kamu masih terpikir kan perihal pembicaraan mu sama Ayah tadi sore, perihal perjodohan?" tebak sang kakak yang begitu tepat pada sasaran
mendengar hal itu, kini berhasil membuat nya cukup terkejut, mengapa kakak tahu? pikir nya
"kakak tahu?" tanya nya memandangi wajah sang kakak dengan intens
"hmm,, yaah, kakak cukup tahu perihal ini, namun, apa yang membuat mu begitu berat dengan keputusan yang akan kamu putus kan perihal ini?" tanya kak Nisa mencoba untuk meminta penjelasan dari nya
"kak,, jelas aku begitu merasa berat dengan pilihan ini, di satu sisi, aku masih ingin berpendidikan tinggi, namun di sisi lain, Ayah sama Bunda langsung meminta ku untuk ini, dan aku benar benar merasa bingung sekarang, boleh kah aku merasa sakit?" tanya nya mengalih kan pandangan nya lurus ke depan
"Za,, kita boleh kok, merasa sakit, tapi,,, bukan kah Ayah sama Bunda jodoh kan kakak dulu sama kak Ahkam, kakak pernah merasa kan apa yang sedang kamu rasa kan sekarang, namun apa yang membuat kamu merasa berat?" tanya kak Nisa seraya mengelus lembut bahu nya
"hhh,,, kak, jelas aku merasa begitu berat dengan ini, kakak dengan aku berbeda, maski terlahir, dari rahim yang sama, kini kakak di jodohkan dengan orang yang sudah kakak kenali sebelum nya, bahkan kak Ahkam dan kakak sendiri mempunyai perasaan yang sama, itu akan sedikit lebih mudah dalam menjalani nya, sedang kan dengan aku,, jangan kan untuk membuat ku mudah dalam menjalani nya, jika mengenali nya saja aku enggak kak, kakak mempunyai kepribadian yang berbeda dengan ku, kakak sangat berwibawa dan mudah akrab dengan orang luar sekali pun, sedang kan aku, aku begitu pemalu, lantas, bisa kah aku menjalani ini semua dengan mudah?" ujar nya sambil melangkah lebih depan dari dipan, menyilang kan kedua tangan nya di depan dada nya
"sayang, Yussuf itu laki laki yang cukup baik menurut kakak, dia cukup mengertian dan perhatian, selain berpendidikan juga, dia begitu dekat mengenal agama Za?" bujuk sang kakak dengan menghampiri nya yang masih terlihat membuang pandangan nya
"tapi itu menurut kakak, yang sudah pernah akrab dan bertemu dekat dengan nya, namun sulit bagi aku yang tidak pernah mengenali nya sebelum nya" jawab nya
"hh,, keakraban kakak sama dia, itu sama hal nya seperti keakraban kakak beradik, sama, seperti hal nya kamu dengan Ratih yang menjadi adik kandung nya" tutur sang kakak yang membuat nya perlahan menoleh kan pandangan nya ke arah sang kakak
"tapi,, Ayah bilang dia lulusan S2 Kairo kak, pantas kah aku untuk dia yang sudah benar benar berpendidikan tinggi?" tanya nya dengan ragu
mendengar hal itu, kini berhasil membuat sang kakak tersenyum menggoda, terselip kejahilan pada kedua mata nya "hmm,,, bukan kah adik kesayangan kakak ini juga sudah lulus kuliah, dan menjadi Khaliza Sulistya Az Zahra S.Pd.I. kamu cocok kok sama dia, tapi,, iya juga sih, kamu cukup pemalu, tapi dia juga pemalu, namun terkadang,, dia cukup agresif kalau ada mau nya,," goda sang kakak sambil mencubit dan meraih dagu nya yang tertutupi niqab, kemudian kembali duduk di atas dipan kayu
"ish,, kakak, jangan gini dong, jangan suka godain aku akh,, kakak nggak asyik" ujar nya merajuk dan duduk di samping sang kakak kembali
"akh iya, hampir saja lupa, kamu sampai rumah sudah pakai niqab saja, kakak nggak bisa lihat wajah teduh nya kamu dong, kamu berubah nggak sih wajah nya?" tanya kak Nisa dengan pandangan terkunci ke arah nya dan hanya pada nya
"cemilan malam sudah siap, nih, ini coklat panas untuk kak Nisa, ini milk shake untuk kakak, aku minum jus mangga, cemilan nya keripik kentang buatan Arsen, laki laki cool dengan kepribadian yang insya Allah baik ini" ujar Arsen yang datang dengan nampan penuh dan duduk menyila di tengah kedua nya
"dih, bisa buat keripik kentang saja bangga kamu, kamu bisa masak?" tanya nya yang merasa ragu dengan si adik bontot, seraya mencicipi hidangan buatan sang adik
"dih, hati hati kak, jangan remeh kan Arsen Deandra Al Hanand yah, gini gini tuh aku jago banget masak lho, kakak baru tahu?" ujar Arsen dengan menepuk dada kiri nya bangga
"bisa masak apa saja coba, tapi ini, keripik buatan kamu enak juga yah, kamu belajar dari mana masak seperti ini, se tahu kakak, Bunda nggak ahli dalam memasak makanan kering?" tanya nya yang mengingat bahwa keahlian sang ibunda di bidang kue dengan heran dan membuat kak Nisa tersenyum simpul karena mengetahui sesuatu yang bahkan belum di ketahui oleh nya
"dari kak Yussuf kak, dia itu jago banget masak lho, makanan buatan nya enak enak lagi, padahal dia laki laki, nanti kakak bisa tuh, minta masakin makanan kalau kalian sudah menikah" jawab Arsen membangga kan sosok bernama Yussuf itu
"sudah ish,, memang nya kalian sudah sangat mengenal nya?" tanya nya yang merasa penasaran
"dengan siapa?" goda Arsen yang di angguki oleh kak Nisa di samping nya
"hh,, kalian itu benar benar yah, orang yang di jodoh kan sama aku, apa kalian sudah mengenal nya?" tanya nya memperjelas, dan membuat kedua orang yang mendengar itu tersenyum simpul kembali
"yaah, tentu saja, siapa sih, yang nggak kenal sama kak Yussuf, aku kenal akrab lho kak, kakak mau aku minta ID LINE, WhatsApp, Ig, alamat emai,,," ucapan Arsen terhenti kala sang kakak menempel kan jari telunjuk nya di depan bibir nya, sekali nya nyerocos, akan sulit juga menghenti kan nya
"sudah ish,, kamu apaan sih, orang kakak hanya tanya saling kenal saja kok, nggak usah di lebih lebih kan deh, kakak nggak suka yah?" ujar nya dengan mendelik kesal, membuat kak Nisa terkekeh
"ya habis nya,,tapi nggak apa apa, biasa nya cinta itu berawal dari rasa penasaran, kayak kakak gitu" masih saja menggoda sang kakak
"sesuka mu lah" ucap nya sambil berdiri, namun tangan nya di tahan oleh kak Nisa
"eh tapi benar lho kak, apa yang kak Nisa bilang tadi, setidak nya, buka niqab kakak dong, di sini saja, kan hanya ada aku sama kak Nisa?" pinta Arsen yang membuat nya cukup terkejut
"ha-a,, nggak akh, kakak nggak mau, kakak malu untuk memperlihat kan wajah kakak sekarang, kakak makin jelek, karena itu kakak pakai niqab sekarang, kamu apaan sih?" jawab nya tak habis pikir
"ayo lah kak, aku penasaran ini, kakak banyak berubah, pasti makin cantik ish, bukan makin jelek, pasti makin glow juga" ujar Arsen
"sekali enggak ya nggak Arsen, harus berapa kali kakak bilang sih" ujar nya
"sudah, nggak usah paksa kan kakak kamu ini, dia sedang beribadah, jangan kamu halangi, nanti ibadah nya jadi dosa" lerai kak Nisa
"lha,, kamu mau ke mana?" tanya kak Nisa sambil menahan tangan kanan nya yang sudah berdiri dan hendak berlalu pergi
"masuk lah kak, sudah hampir larut juga, aku duluan yah, assalamualaikum?" ucap nya yang mendapat kan jawaban salam dari kedua orang yang masih asyik bercanda di sana
_**Assalamualaikum Zahra_
ahad, 30 Juli 2023**