Assalamualaikum Zahra

Assalamualaikum Zahra
Assalamualaikum Zahra



..._Assalamualaikum Zahra_...


..._Dari Relung Hati_...


..."menunggu mu dalam kesabaran lebih indah bagi ku dari pada mengungkapkan nya, menanti mu dalam do'a lebih bermakna dari pada menjelas kan nya"...


..._Khaliza Sulistya Az Zahra_...


setelah kedua nya selesai dengan sarapan masing masing, kini kedua nya pun memutuskan untuk pulang dengan menaiki taksi yang kosong dengan penumpang


"ayo neng, masuk?" ucap Yussuf dengan membuka pintu mobil bagian belakang, mempersilahkan sang istri untuk masuk terlebih dahulu


melihat perlakuan manis yang Yussuf lakukan pada nya, membuat nya merasa semakin canggung dan segan, padahal sebelum nya, laki laki ini tidak pernah bersikap manis layak nya raja yang memperlakukan ratu nya


"ada apa, apa kah neng sakit, ayo masuk, di luar panas?" tanya Yussuf meletakkan tangan kanan nya di penjuru pintu mobil, agar sang istri tidak terbentur


"hmm,, apa mau aa' menggendong neng ke dalam?" tanya Yussuf lagi di kala mendapati nya hanya bisa menunduk dalam dan melamun


sontak pertanyaan itu kini berhasil membuat nya yang tengah melamun pun terlonjak kaget, mengapa bisa ustadz berbicara seperti itu? pikir nya


dengan perlahan tapi pasti, karena melihat tatapan wajah yang meyakinkan seakan memberi perintah pada nya untuk segera masuk, diri nya pun masuk dengan ragu ke dalam mobil yang sudah di buka kan pintu nya oleh sang suami


"te,, terima kasih ustadz?" ucap nya sebelum akhir nya benar benar memasuki mobil dan mendapat anggukan serta senyuman tipis dari Yussuf sendiri


terlihat Yussuf juga yang mulai mengitari sekitar mobil, kemudian masuk dan duduk di kursi samping nya


"maaf ya jika aa' lama, pak, ke jalan Jatinegara ya?" tutur Yussuf dengan tatapan ke arah nya kemudian menoleh sekilas pada sopir taksi


"baik mas, kita jalan sekarang" jawab sopir taksi ini dengan tatapan ke arah spion di depan nya yang memantulkan Yussuf dan Khaliza yang tengah duduk


entah lah, rasa rasa nya kenapa masih seperti mimpi, namun semua nya terlihat begitu nyata, perjodohan itu,,, pernikahan itu,,, dan kata sah itu,,, semua nya seolah di buat berjalan dengan cepat dan sengaja, seakan menakdirkan nya memang hanya untuk diri nya lalui, bagaimana diri nya harus bersikap ke depan nya, bagaimana diri nya harus menghadapi semua nya tanpa harus mengecewakan orang terdekat nya lagi, kini pertanyaan pertanyaan itu mulai banyak melintas di pikiran nya


tatapan ya sendu ke arah luar jendela mobil, memandangi banyak nya gedung gedung tinggi yang mencakar langit pagi ini


melihat sang istri yang hanya terdiam membisu dengan tatapan yang teralih pada pemandangan di luar, kini membuat hati Yussuf sedikit tahu, mungkin sang istri merasa lelah dengan perjalanan sepagi ini,,


Yussuf ini memang tipikal suami idaman bagi banyak nya kalangan wanita, dia mampu mengerti dan berhati lembut pada istri nya, sekalipun diri nya terkenal dengan kepribadian yang dingin dan jutek di mata orang, namun perlakuan nya selalu manis terhadap sang istri, benar benar dambaan setiap kaum hawa


cukup lama Khaliza melamun, namun dengan hati yang tidak pernah luput dari asma-NYA, hingga diri nya pun mulai jatuh tertidur dengan kepala yang jatuh dan sedikit terbentur pintu jendela mobil, namun karena diri nya mungkin yang memang merasa sedikit kecapekan, jadi diri nya sendiri pun tidak merasa sakit dan segera menjemput alam mimpi nya dengan wajah yang tenang, memang sejak kecil, wanita ini mempunyai kebiasaan tertidur di dalam mobil di kala sedang dalam perjalanan, sungguh kebiasaan yang unik


mendengar kepala sang istri yang terbentur dengan suara yang sedikit keras kini berhasil membuat Yussuf sendiri menoleh dan cukup terkejut, ternyata sang istri sudah mulai menjemput alam mimpi nya, dengan perlahan tapi pasti, Yussuf pun kemudian mulai memindahkan kepala sang istri hingga tertidur di bahu nya dengan pelan, takut sang istri terusik dari tidur nya, namun untung nya tidur sang istri sudah terlihat pulas dan terlelap, sehingga tidak membuat sang istri terbangun, seberapa besar pun pergerakan di sekitar nya


"ehem,, adik nya tidur ya mas?" tanya sopir taksi ini yang berusaha memecahkan keheningan di dalam mobil


mendengar hal itu, kini berhasil membuat Yussuf yang di tanya pun mengulum senyum, tangan nya terulur untuk mengusap lembut puncak kepala sang istri melalui belakang kepala sang istri "hmm,, ini istri saya pak, tapi memang terlihat adik ya, karena usia nya memang lebih muda 5 tahun di bawah usia saya" jawab Yussuf dengan sopan


"ooh, jadi istri nya toh, maaf maaf, saya kira adik nya tadi, habis nya terlihat seperti kakak beradik, tapi mas nya begitu perhatian sekali, kapan menikah?" tanya sopir taksi ini yang merasa bersalah


"nggak masalah pak, mungkin memang orang lain melihat nya seperti itu, saya pun mengerti, kami baru kemarin melaksanakan ijab Qabul, alhamdulillaah" jawab Yussuf dengan tenang


"ooh, pengantin baru toh, selamat ya mas dan Mbak, atas pernikahan nya, semoga menjadi pasangan sehidup semati?" tutur sopir taksi ini yang memberi selamat


"allahumma aamiin,, terima kasih banyak pak, atas do'a nya?" ucap Yussuf dengan senyuman dan di angguki oleh sang sopir


suasana kembali hening, tidak ada percakapan lagi di antara kedua nya, sehingga perhatian Yussuf pun teralihkan di kala mendengar deringan ponsel di genggaman sang istri memberitahu ada panggilan masuk


dengan ragu, Yussuf pun melihat nya, siapa kah yang sudah menghubungi nya pagi ini, hingga Yussuf pun memilih mengangkat panggilan nya di kala melihat nama "Bunda,," yang terpampang jelas pada layar ponsel nya


"assalamualaikum Bunda?"


"waalaikum salam warahmatullah, Yussuf, kenapa kamu yang mengangkat panggilan nya nak, apa putri Bunda ada, bagaimana dengan keadaan nya sekarang?"


"akh,, syukur alhamdulillaah,, putri Bunda baik baik saja sekarang, maaf jika harus Yussuf yang mengangkat panggilan Bund, neng Zahra nya tertidur, mungkin karena lelah"


"ohouh,, begitu rupa nya, Bunda mengganggu waktu nya kalian dong pagi ini, kalau Liza nya masih lelah?" goda Bunda yang salah fokus


"bu,, bukan begitu bunda, tapi,, kita sedang dalam perjalanan pulang sekarang, Bund,, nggak apa apa kan, jika Yussuf mengajak neng Zahra pulang ke rumah Umi terlebih dahulu, untuk 1 sampai 2 hari, nanti Yussuf akan mengajak neng Zahra pulang ke rumah Bunda setelah dari rumah Umi?" tutur Yussuf yang berusaha meminta izin


"ooh, gitu,, Bunda kirain ada apa,, ya sudah boleh, nggak masalah, kalian pulang ke Jatinegara dulu saja, baru jika sudah dari sana, kalian boleh pulang ke rumah Bunda"


"iya Bunda,, terima kasih atas izin nya?" tutur Yussuf yang merasa senang


"iya nggak masalah nak, eh itu Liza nya tidur ya, lebih baik kamu bangun kan saja deh, soal nya dia pasti akan membuat kamu repot nanti, dia punya kebiasaan, jika dalam perjalanan sedikit panjang suka nya ketiduran di jalan, kamu bangun kan saja deh, kamu pasti pegal, repotin kamu juga nanti" ujar Bunda memberi saran


"oh, nggak Bund, nggak sama sekali kok, neng Zahra sudah menjadi tanggung jawab Yussuf sekarang Bund, insya Allah, tidak akan merasa pegal juga" jawab Yussuf tetap kekeh dengan pendirian nya


"ya sudah jika itu tidak membuat kamu repot, jaga kan dia ya Yussuf selagi Bunda Ayah nggak ada di samping nya, ingat kan dia untuk makan juga, dia kadang suka lupa makan jika kebanyakan sibuk?"


"ya sudah, kalian hati hati di jalan ya, Bunda tutup dulu ini lagi masak, assalamualaikum?"


"iya Bunda, makasih banyak atas izin nya juga Bund, waalaikum salam warahmatullah"


Yussuf pun kembali mematikan ponsel di genggaman nya dan memilih menyimpan nya bersama ponsel nya di saku jas nya


"dari siapa mas?" tanya sopir taksi yang masih fokus mengemudikan mobil


"hmm,, dari mertua saya pak" jawab Yussuf masih dengan lembut dan tenang di sertai dengan senyuman


"maaf, tapi seperti nya mas nya sudah sangat akrab dan mempunyai hubungan dekat dengan mertua ya?" tanya sopir taksi ini yang berusaha menebak


"hmm,, iya pak, alhamdulillaah, kami mempunyai hubungan yang cukup baik" jawab Yussuf yang lagi lagi hanya bisa tersenyum tipis di kala menanggapi setiap pertanyaan dari sopir taksi ini


"sama mertua saja bisa seakrab dan sedekat itu, tapi kok sama istri nya kayak nya jarang berinteraksi mas, padahal jika pengantin baru lagi hangat hangat nya itu lho" ujar sopir taksi ini


"hmm,, iya pak, istri saya memang mempunyai kepribadian seseorang yang pemalu, jadi agak sedikit bicara nya" jawab Yussuf dengan terus memandangi wajah nya yang sedang terlelap


"ooh, pantas saja sejak tadi nunduk terus, nggak banyak bicara lagi, eh maaf, saya jadi banyak tanya nih sama mas nya?" tutur sopir taksi ini yang baru menyadari


"iya pak, tidak masalah, saya nggak bosan juga ngobrol sama bapak nya" jawab Yussuf


tanpa di sadari, kini taksi pun sudah terparkir rapi di depan rumah Umi, membuat Yussuf harus segera turun


"sudah sampai mas, apa benar ini rumah yang di tuju?" tanya sopir taksi ini seraya mengedarkan pandangan nya ke arah luar


"iya pak, benar, ini rumah orang tua saya" jawab Yussuf dengan bertutur lembut


setelah itu pun, Yussuf keluar setelah memberikan ongkos taksi pada bapak sopir nya dan menggendong sang istri ala bridal style ke dalam rumah


tepat saat Yussuf sudah berdiri satu langkah di depan pintu, tiba tiba Umi menghampiri nya


"apa yang sudah terjadi dengan menantu kesayangan Umi ini Yussuf?" tanya Umi dengan wajah yang sudah sedikit cemas, namun terlihat berpenampilan rapi


"nggak apa apa Umi, neng Zahra ketiduran di dalam mobil, saat perjalanan pulang tadi, mungkin karena kecapekan" jawab Yussuf yang melirik sekilas wajah sang istri di pangkuan nya dengan tersenyum


"ooh, gitu,, ya sudah, kamu istirahat kan istri mu dulu, Umi sama Abi sekalian pamit saja sama kamu, mau jemput bibi sama paman kamu di bandara, pulang nya juga langsung ke rumah bibi mu, mungkin kita akan menginap selama beberapa hari di sana, kamu jaga Ratih di rumah ya, jaga juga istri mu, sebelum Umi tinggal, Umi sudah menyiapkan makan siang untuk kalian, bisa langsung kalian panas kan, untuk kabar selanjutnya, nanti Umi kabari kamu lagi" tutur Umi dengan panjang lebar


"emm,, baiklah Umi, aku jaga Ratih sama neng Zahra di rumah, Umi sama Abi hati hati?" jawab Yussuf


"iya, kamu jaga rumah ya, perihal pesantren kamu tidak usah khawatir, sudah ada orang kepercayaan Abi yang memantau, kamu tinggal meminta laporan nya saja jika kamu mau mengecek nya" kali ini, Abi yang berbicara sambil menepuk pundak nya yang membuat Yussuf tersenyum dan mengangguk pelan


"baik Abi, percaya kan Ratih sama nanya Zahra pada Yussuf, Yussuf akan menjaga kedua nya" jawab Yussuf menenangkan


"kamu juga tidak perlu merasa terbebani untuk masalah pesantren nak, di sana sudah ada yang menanggung jawab, urus saja pekerjaan mu" tutur Umi yang membuat Yussuf sontak mengangguk paham


"ya sudah, kalau begitu, kami pamit dulu, Ratih masih di kampus, seperti nya sebentar lagi pulang, jangan khawatir, dia membawa motor kesayangan nya bersama nya, kamu jaga menantu Umi terlebih dahulu, jangan biar kan dia sungkan di rumah ini, suruh dia melakukan apa yang bisa membuat nya betah dan nyaman tinggal di sini?" tutur Umi panjang lebar


"kami pamit, assalamualaikum?" ucap Abi seraya menarik koper mengikuti Umi yang sudah keluar


"waalaikum salam warahmatullah" jawab Yussuf sebelum akhir nya Abi dan Umi benar benar pamit


...***...


di sini lah kedua nya berada, di dalam sebuah kamar dengan nuansa abu putih yang di dominasi dengan warna yang senada


dengan perlahan, Yussuf pun mulai mengitari sekitar tempat tidur, dan mulai membaring kan tubuh sang istri di sisi kiri tempat tidur


memandangi wajah lugu dan tedu hanya, memang benar benar menenangkan hati nya, alis yang tebal, bulu mata yang lentik nan panjang, namun sejenak laki laki ini pun merasa sedikit penasaran, jika wanita istimewa di hadapan nya ini sudah berhasil merebut hati nya dengan kecantikan akhlak nya, bahkan lebih dari itu wanita ini mempunyai kelopak mata dan alis yang indah untuk di pandang, lantas bagaimana dengan hal yang lain nya seperti mulut dan hidung nya yang selalu di tutupi nya selama ini, bahkan Arsen, Ayah, Bunda, dan keluarga yang lain nya pun tidak mengetahui semua nya, apa lagi dengan nya yang notaben nya masih terbilang sangat asing dengan nya?


yaah, sejak awal, laki laki ini memang menyetujui permintaan dari sang istri untuk tidak memaksa sang istri membuka niqab yang selalu di kenakan nya


wajah nya sungguh anggun jika di lihat, suara nya begitu merdu saat terdengar, bahkan rasa nyaman pun tak pernah luput, ketika laki laki ini duduk di samping nya, untuk sejenak, Yussuf pun terdiam, dengan terus memandangi wajah nya yang masih tertidur pulas, bibir yang biasa nya menampil kan ekspresi dingin itu seketika mengulum senyuman tipis nya kembali


"neng begitu cantik saat di pandang, baik akhlak, mau pun fisik, aa' tidak ingin egois, kini aa' mengakui jika neng memang wanita cantik yang pernah aa' temui, kini aa' merasa bahagia karena aa' adalah orang yang beruntung bisa mendapat kan neng" ucap Yussuf sambil terus tersenyum dan mengusap lembut puncak kepala nya yang masih tertutupi Khimar nya


"aa' tidak akan memaksa jika memang neng tidak siap untuk membuka niqab ini sayang,, namun,, jangan membuat aa' cemburu hanya karena niqab ini lah yang setia menutupi keindahan wajah neng denga sempurna di setiap saat nya,," tutur Yussuf dengan lembut


"aa' izin ke kamar kecil ya neng?" ucap Yussuf meminta izin, meski tidak dapat tanggapan darinya karena tertidur


_Assalamualaikum Zahra_


Rabu, 16 Agustus 2023