Assalamualaikum Zahra

Assalamualaikum Zahra
Assalamualaikum Zahra



..._Assalamualaikum Zahra_...


..._Rahasia Hati_...


..."jangan menebang pohon di musim dingin, jangan pernah membuat keputusan yang paling penting ketika anda berada di suasana hati yang buruk, tunggu,, bersabar lah,, badai akan berlalu,,"...


..._Khaliza Sulistya Az Zahra_...


di dalam pesawat, tepat nya dekat dengan jendela, di pojokan sana, tatapan nya mengarah ke luar jendela, memandangi kicauan burung yang tengah terbang bebas di luar sana


'oh Allah,,, sebebas itu kah kehidupan mereka di luar sana, bergembira bersama dengan teman, berterbangan ke sana ke mari, dengan bebas,, mengapa semua nya begitu cepat berlalu,,


oh Allah,,, benar kah dia adalah calon imam bagi saya, benar kah dalam beberapa hari lagi saya akan menyandang status sebagai seorang istri, sesungguh nya saya belum siap sepenuh nya wahai zat yang Maha suci, namun jika ini memang jalan terbaik, tuntun lah saya agar saya tidak pernah mengecewakan semua nya, ajar kan saya untuk menjadi sosok yang selalu bersabar,,


oh Allah,,, benar kah ada kisah di balik pertemuan saya kala itu, benar kah ada kisah, di balik sehelai sapu tangan biru navy itu, jika memang ada, saya mohon ampun, peluk raga ini hingga raga ini merasa sabar dan ikhlas, atas apa yang saya hadapi'


yaah, batin nya hanya bisa berteriak memohon ampun, kepada sang Maha pencipta, raga nya tidak pernah bisa sanggup untuk menantang keras apa yang sosok sekitar nya ingin kan, sekali pun hati nya menjerit penuh pilu, namun raga nya, nyata nya tidak pernah bisa untuk menentang keras keputusan sang Ayah dan Ibunda, yang sudah merawat nya dari belia


sebaik apa pun proses nya, atau bahkan,, sebaik apa pun sosok yang pernah di cerita kan oleh kedua orang tua nya kepada nya, namun pada kenyataan nya, hati nya masih belum bisa sepenuh nya menerima nya, karena tetap saja, diri nya masih belum pernah mengenali nya sebelum nya,,


berbeda dengan keadaan di Jakarta, ketiga nya sudah kembali duduk dan memulai perjalanan pulang


"Arsen, kakak mau singgah dulu ke konter langganan kakak, apa kamu juga akan isi data di sana, ada yang harus kakak beli di sana?" tanya Yussuf


"nggak apa apa kak, nggak usah makasih, lagi pula,, aku sudah meminta nya sama kak Izza tadi kan, minta di isi data ulang lagi?" jawab Arsen mengingat kan


"tidak kah kamu merasa kasihan kepada kakak kamu itu, minta isi ulang data sama kakak kamu sendiri, takut nya kehabisan uang di sana gimana coba?" ujar Ratih semakin memojokkan Arsen


"xixi, Ratih,, Ratih, nggak bakalan lah, kakak aku nggak bakalan kekurangan uang di sana, sekali pun kakak aku hambur hambur kan uang di sana atau bahkan berfoya foya, orang uang jajan nya kakak aku sudah di jamin kok" jawab Arsen dengan menggeleng


"maksud kamu gimana?" tanya Yussuf masih belum mengerti dari arah pembicaraan Arsen


"iya,, uang jajan nya kak Izza itu sudah di jamin sama Ayah, setiap bulan nya selalu dapat jatah gitu, kiriman dalam ATM, entah berapa nominal nya, lagi pula,, jika uang dari Ayah habis juga kakak masih bisa beli barang kebutuhan kok, dari penghasilan nya" jelas Arsen


"penghasilan?" tanya Yussuf dengan kening mengerut bingung


"iya,, kakak aku pernah bilang, dia di sana sama kedua sahabat nya mempunyai kerja sampingan, emm,, kakak tahu novel nggak, kan kak Izza juga sudah punya satu karya novel yang sudah terbit, jadi dari penghasilan penjualan itu, sekarang kata nya lagi proses juga, masih nulis sih, masih apa tuh nama nya, revisi, ah iya itu revisi" jelas Arsen


"selain itu kakak aku juga suka nulis di blog, entah lah,, aku pernah lihat satu, mau baca karya novel nya juga sih sejujur nya, kakak aku punya yang ori nya, tapi orang rumah nggak di izin kan buat baca, malu kata nya" lanjut Arsen


"iya kali Sen, kan jika orang suka menulis novel seperti teh Izza gitu rata rata suka dikit random juga kalau di blog an, suka dikit barbar juga, apa mungkin memang malu kali, tapi,, kenapa kemampuan nya teh Izza itu seakan di sembunyikan ya, istilah nya, nggak ada satu pun orang yang mengetahui nya perihal ini?" tanya Ratih yang merasa penasaran


"yaah,, memang benar sih, nggak ada satu pun yang tahu perihal ini, orang rumah saja pada nggak tahu, hanya usaha nya saja yang tahu, mengenai karya,, itu nggak sembarang orang tahu, hanya aku, kak Ahkam sama kalian yang tahu, mungkin juga pembaca yang tahu, keluarga di rumah juga nggak mengetahui semua, jika kak Nisa sih, dia sudah pasti tahu semua nya, orang kakak aku itu paling akrab sama kak Nisa kok" jawab Arsen mengambil kesimpulan


'jadi apa yang Ayah bilang benar, dia tidak pernah mau merepotkan keluarga nya, bahkan orang terdekat nya sekali pun, selalu hadirkan lah dia di dalam perlindungan-MU ya Rabb' batin Yussuf sambil tersenyum


...°°°...


waktu terus berjalan, hingga kini, gadis dengan balutan busana muslim moca itu tengah tersenyum hangat memandangi dan menarik koper nya masuk ke dalam asrama Al Hikmah di depan nya


"kamu sudah pulang rupa nya Khaliza, bagaimana kabar keluarga di rumah?" sapa kyai Wildan yang memang sedang duduk di teras rumah


"akh,, assalamualaikum Abah, apa kabar?" ucap nya balik bertanya seraya mencium punggung tangan Sang guru


"alhamdulillaah, kabar Abah baik baik saja nak, ayo kita masuk terlebih dahulu?" ajak Abah seraya berjalan masuk ke dalam rumah yang di ikuti juga oleh nya dari belakang


"Umi, ke sini dan lihat lah, siapa yang datang pagi ini?" panggil Abah seraya duduk di sofa ruang tamu


dari arah dapur, terlihat perempuan paruh baya yang membawa nampan berisi tiga gelas air putih dan cemilan ringan


"masya Allah,, gadis cantik Umi sudah kembali rupa nya, silakan duduk nak?" ucap Bu haji Ningsih seraya menerima ciuman tangan dari sang murid kemudian kedua nya duduk berdampingan


"alhamdulillaah Umi, bagaimana kabar Umi di sini, apa di sini baik baik saja, dan juga,, apa di butik baik baik saja selama saya di Jakarta?" tutur nya lembut


"alhamdulillaah sayang, semua nya terlihat baik, namun begitu lah keadaan di butik nak, nggak ada penghasilan karya nya dari kamu biasa nya, jadi saat kamu mudik kemarin, semua nya pada nganggur, nggak ada yang bisa gambar desain gaun sebagus dan secocok kamu, jadi semua nya pada diam saja nggak ngapa ngapain" jelas Umi yang memang sudah akrab dengan nya


yaah, di keluarga asrama pesantren ini, diri nya begitu terlihat akrab, hingga pada kyai di sana pun dia menyebut nya dengan sebutan Abah, dan Bu haji Ningsih dengan sebutan Umi, bahkan karena keluguan, kepintaran dan kecerdasan nya, di asrama pun dia di percaya sebagai anggota direktur butik yang selalu mengeluarkan desain grafis gaun rancangan nya sendiri


"syukur lah Umi, saya lega mendengar nya, maaf jika saya harus mudik kemarin, kedatangan kedua orang tua saya bahkan begitu mendadak, saya pun tidak tahu jika saya harus ikut pulang ke Jakarta sore nya?" ucap nya yang merasa bersalah


"bukan masalah nak, Umi mengerti, maklum juga, 10 tahun kamu tidak pernah bertemu dengan keluarga mu di sana, mereka pasti begitu merindukan kamu" jawab Umi yang mengerti


"maaf Umi, Abah,, terima kasih karena selama ini telah banyak membantu saya di sini, saya harap,,," penuturan nya menggantung di kala mengeluar kan sesuatu dari dalam tas selempang nya "saya harap Umi dan Abah bisa datang ke acara ini, ini amanah juga dari keluarga besar saya di Jakarta, semua nya menantikan kedatangan Umi dan Abah di acara ini" lanjut nya menyerah kan satu surat undangan pernikahan nya ke atas meja


"apa ini nak, apa kah kamu akan menikah, mengapa secepat ini?" tanya Abah kala melihat nama nya terpampang jelas dari tampilan luar nya saja


"maaf Umi, Abah, berita ini, saya harap,, hanya sebatas kita saja yang mengetahui nya, tapi tidak dengan santri lain, saya sedikit malu mengakui nya?" ucap nya ragu ragu


"Khaliza,, benar kah ini nak,, jika kamu akan menikah?" tanya Umi dengan kening mengerut dan mulai mengambil surat undangan tersebut


"seperti nya iya Umi, ke,, kemarin,, kemarin Ayah dan Bunda pertemukan saya dengan seorang laki laki pilihan kedua nya" jawab nya seraya menunduk


"perbesar lah rasa sabar mu nak, kini Umi tahu, ini yang terbaik untuk kamu, kamu di jodohkan, bukan berarti kedua orang tua mu tidak menyayangi kamu, Umi mengerti, mengapa kedua nya memilih jalan ini, karena kamu lebih dari sebatas yang biasa, kamu adalah gadis yang luar biasa, sudah cukup mapan di usia muda, kamu bisa menghadapi ini semua, hanya itu yang bisa Umi kata kan, perluas dan perbesar lagi rasa sabar pada diri kamu nak?" tutur Umi yang berusaha menenangkan nya


"terima kasih banyak Umi, saya akan berusaha, saya juga akan menantikan kehadiran Umi dan Abah di sana?" ucap nya


"iya nak Khaliza, insya Allah,, Umi dan Abah akan datang jika waktu nya tiba, bukan begitu Umi?" kali ini Abah yang angkat bicara


"tapi,, jika kamu benar benar menikah suatu saat nanti, apa kah kamu tidak akan pernah bisa ke sini lagi, bagaimana nasib butik asrama?" tanya Umi dengan pelan pelan dan hati-hati takut jika penuturan nya menyinggung hati nya


"jika perihal itu, saya tidak mengetahui nya Umi, tapi,, insya Allah saya akan usaha kan kembali lagi ke sini" tutur nya membuat Umi dan Abah tersenyum di buat nya


"benarkah itu Nak?" tanya Umi dengan mata berbinar binar di kala mendengar penuturan nya kali ini


"insya Allah Umi, saya usaha kan ya?" jawab nya dengan tersenyum dan memandangi Umi


"ya sudah, Umi juga lega di kala mendengar nya Kha" jawab Umi


...°°°...


waktu sudah menunjuk kan pukul 20:30, namun di malam ini, diri nya baru sampai di dalam kamar asrama setelah tadi siang bertemu dengan Umi dan Abah terlebih dahulu


tok tok tok


1 menit, 2 menit, 3 menit


Tok tok tok


1 menit, 2 menit


"assalamualaikum?" gumam nya di kala mengucap kan salam


"duh, malam malam larut gini siapa yang mengetuk pintu kamar sih,,," ucapan Khanaya yang menggantung di kala melihat nya yang tersenyum hangat


"assalamualaikum sahabat nya Khaliza,," penuturan nya kali ini terpotong


buk,, grep,,


"ya Allah Kha,, kamu kapan datang, masya Allah, kamu kenapa tidak mengabari aku jika mau datang hari ini, kamu sama siapa ke sini, kamu baik baik saja kan?" hujan pertanyaan dari Khanaya membuat nya sedikit pusing


"duh Nay,, kebiasaan banget deh, aku salah apa sama kamu sampai salam aku saja kamu abaikan?" tutur nya yang membuat Khanaya menepuk jidat


"akh iya, waalaikum salam warahmatullah, ayo ayo, masuk dulu, kamu pasti merasa capek kan, ayo duduk, duh, kamu banyak hutang cerita nih sama aku, bagaimana kabar keluarga kamu di rumah?' tanya Khanaya di kala kedua nya sudah duduk di tepi ranjang milik nya


"alhamdulillaah,, keluarga aku baik baik saja di sana Nay, maaf ya, beberapa hari kemarin aku tidak menemani kamu di sini?" ucap nya yang merasa bersalah


"nggak apa apa Kha, duh, aku sedikit kesel deh sama Radit, masa aku lagi ngobrol ringan sama Lia di cafe dia ajak Lia buat foto untuk persiapan pernikahan kedua nya sih, kan aku jadi sendirian di cafe?" ujar Khanaya yang mulai bercerita


"hmm,, sudah lah Nay, kamu yang sabar saja, lagi pula,, itu juga pasti di butuh kan tuh, untuk nanti acara nya" tutur nya menenangkan


"iya sih, eh iya, aku baru ingat, belum ada persiapan kado buat Lia, kamu sudah ada belum, jika belum kita cari barang besok ya di pusat perbelanjaan kotak sama sama, soal nya kan jika lusa kita di suruh menginap juga menemani dia di hotel?" ujar Khanaya dengan bersemangat


"ya sudah iya, aku juga belum ada tuh, jadi mungkin,, kita akan mencari kado nya besok saja" jawab nya menyetujui


"eh by the way gimana cerita nya nih, sahabat fillah nya aku ini sudah pegang ponsel saja?" tanya Khanaya tanpa berbasa basi


"aku juga nggak tahu Nay, waktu pulang dari sini itu aku nggak sadar jika Ayah sama Bunda aku mengajak aku ke konter, aku kira ada apa, nyata nya untuk membeli kan aku ponsel" jawab nya dengan tenang


"akh, begitu rupa nya, eh iya aku lupa, tadi aku ketemu sama Andra, dia tanya kan kamu sama aku, seperti nya dia mencari kamu deh, dia titip pesan deh sama aku, kata nya jika kamu sudah pulang dia mau ketemu sama kamu Kha" tutur Khanaya membuat nya semakin merasa bersalah


"akh,, begitu kah, ya sudah, besok aku akan menemui kak Andra di tempat biasa, di taman belakang asrama" jawab nya


mendengar perihal apa pun tentang Andra, kini berhasil membuat nya merasa semakin dihantui rasa bersalah, bayang bayang kemarin saat diri nya tengah melewati foto prewedding di taman di kala mendengar kabar pernikahan sahabat nya itu, kini masih menjadi bayang bayang di pikiran nya


yaah, kemarin bukan hanya sekedar jalan jalan di taman saja, melain kan sambil menjalani foto prewedding di sana dengan dampingan dari Ratih, dan paksaan dari Arsen, sang adik dengan foto out door


"akh iya Nay, sebentar ya, aku akan mengabari keluarga di Jakarta jika aku sudah sampai di sini dulu?" pamit nya yang mendapati anggukan dari Khanaya sendiri


"assalamualaikum Ayah, ini kakak?"


"..."


"iya, kakak hanya mau mengabari jika kakak sudah sampai di pondok"


"..."


"iya, tadi sudah kakak kasih, waktu baru sampai di sini, semua sedang apa?"


"..."


"akh,, begitu kah, ya sudah kalau gitu, kakak tutup dulu Ayah, assalamualaikum?"


tak lama setelah itu, kini ponsel nya berdering, tanda ada panggilan masuk, dan hal itu rupa nya berhasil membuat nya tersenyum


"assalamualaikum Ratih, ada apa?"


"..."


"iya alhamdulillaah,, tadi siang teteh baru sampai di pondok"


"..."


"hmm,, kamu lucu deh, baru juga tadi pagi kita bertemu masa udah kangen lagi sih?"


"..."


"nanti, jika acara nya sudah di depan mata teteh baru pulang ke Jakarta, di sini juga masih banyak urusan"


"..."


"siapa?"


"..."


"..."


"emm,, belum sih, rencana nya sih, mau nyari di pinggiran jalan gitu seperti nya enak, kenapa?"


"..."


"hmm,, iya,, nanti teteh makan deh, nyari warung kaki lima saja sama sahabat teteh di sini"


"..."


"ya sudah iya, assalamualaikum?"


"siapa Kha, seperti nya akrab banget?" tanya Khanaya yang melihat nya selalu tersenyum di kala menerima panggilan dari sosok di seberang sana


"ini,, adik kelas aku dulu di tsanawiyah Nay, iya sih, dia memang akrab banget sama aku, nggak tahu juga, telepon aku, kata nya dia kangen, padahal tadi pagi aku dia yang antar kan ke bandara" jawab nya seraya duduk di samping Khanaya yang tengah melipat pakaian


"ooh, gitu ya,, eh iya, kita cari makan dekat kampus saja yuk, aku dengar, ada soto ayam lamongan enak lho di sana, selain harga nya yang terjangkau, porsi nya juga lumayan banyak?" ujar Khanaya dengan antusias


"ya sudah ayo, kamu selesai kan lipat dulu, aku mau ambil tas" jawab nya yang mengingat jika tas nya sudah di masukkan nya ke dalam koper tadi


"lho, tumben kamu pulang mudik tapi nggak beres kan baju kamu ke lemari Kha?" tanya Khanaya yang baru tersadar


"hmm,, iya, nanti aku cerita ya Nay?" jawab nya dengan tersenyum tipis khas nya


"tahu deh, heran banget aku sama kamu, hari ini kamu kenapa sih Kha, aneh banget tahu nggak, nggak biasa nya kamu seperti ini, kamu ada masalah ya?" tanya Khanaya


"hmm,, biar nanti aku cerita ya Nay, jika sekarang kita mencari makan dulu, perut aku sudah laper banget ini?" tutur nya berusaha mengalih kan topik pembicaraan


"hmm,, ya sudah lah ayo" jawab Khanaya mulai berjalan beriringan dengan nya keluar dari dalam kamar asrama


...°°°...


di kala kedua nya sedang asyik bercanda ria di sepanjang perjalanan menuju warung makan kaki lima


"Khaliza,," panggilan seseorang yang kini berhasil membuat kedua sahabat ini menoleh ke belakang, dan mendapati Rafha yang tengah melambaikan tangan kanan nya jauh di belakang sana


melihat hal itu, kini kedua nya pun memilih untuk menunggu Rafha sampai di hadapan kedua nya


"assalamualaikum?" ucap Rafha


"waalaikum salam warahmatullah" jawab kedua nya dengan tetapan bingung


"huuh,, aku cariin ternyata kamu di sini" ucap Rafha dengan nafas memburu karena berlari, dan dengan posisi badan yang seperti ruku' karena menopang badan dengan kedua tangan


"kamu mencari ku, ada apa Raf?" tanya nya bertukar pandangan dengan Khanaya yang mengangkat kedua bahu nya tak tahu


"Nay,, apa aku boleh ber bicara dengan Khaliza hanya berdua, sebentar saja kok, nggak lama?" ucap Rafha tanpa basa basi


"y,, ya sudah,, Kha, aku tunggu di sana ya, kalian berbicara saja terlebih dahulu?" tutur Khanaya yang membuat nya merasa bersalah dari tutur kata nya


"t,, tapi Nay,," ucapan nya yang melihat Khanaya yang mulai menjauh dari kedua nya


"Za, ayo, kita duduk di sana dulu, aku mau berbicara sama kamu?" ucap Rafha mengarah ke arah depan taman dan duduk di bawah pohon rindang yang memang tersedia kursi di sana


hingga kedua nya pun duduk


"Za, kemarin ku dengar, kamu mudik ya, pantas aku cari nggak ada?" tanya Rafha sambil tersenyum


"iya, Ayah Bunda yang menjemput ku, kenapa kamu tahu aku sudah pulang?" jawab nya di akhiri dengan pertanyaan juga


"iya, aku mendengar nya dari pak kyai, jadi aku langsung mencari kamu" jawab Rafha sambil tersenyum tipis ke arah nya


"kenapa kamu mencari ku?" tanya nya tidak sabar


"Za, selama ini,, aku mencintai kamu, kamu mau kan, menunggu ku hingga aku lulus seleksi nanti, jujur saja ya Za, dari dulu apa kamu bisa mengingat nya, waktu kita ikut acar Perkemahan Sabtu Minggu di sekolah, pagi kita bertemu, ini yang mau aku bicara kan sama kamu yang sebenar nya?" tutur Rafha yang mulai serius


"hmm,,, maaf Raf, namun seperti nya aku nggak bisa" jawab nya sambil menunduk dalam


"kenapa, apa karena Andra kamu menolak ku, karena laki laki itu kamu bertahan juga, sampai kapan Za, sampai kapan kamu seperti ini terus?" ujar Rafha


"kamu sudah mengetahui hubungan ku dengan kak Andra Raf, tapi kenapa kamu masih mau berjuang untuk tetap bisa bersama ku?" tanya nya hanya menguji


"Liza,, pahami lah,, dia itu bukan yang terbaik buat kamu, aku yang selama ini sudah menyimpan rasa ini sejak lama, tapi kenapa kamu nggak pernah mengerti dengan apa yang aku tunjuk kan sama kamu?" tutur Rafha


"dan mengapa kamu juga nggak pernah tahu jika sahabat aku juga mempunyai rasa lebih terhadap mu Raf, kenapa, padahal kamu mengetahui dia pun punya rasa yang sama terhadap mu tapi kamu selalu mengabaikan nya?" tanya nya


"s,, siapa,, Khanaya maksud mu, hhh,, dia bicara apa sih sama kamu sampai kamu bisa berbicara seperti ini terhadap ku Za, kamu dia kasih berapa sih sehingga membuat kamu bisa menjadi seperti ini?" ujar Rafha


"Rafha dengar, ini bukan tentang seberapa banyak dia kasih aku berapa, aku nggak butuh jumlah, atau pun nominal, aku sahabat nya, aku tahu dia suka sama kamu, aku tahu kamu juga tahu jika dia mempunyai rasa yang lebih sama kamu, tapi kenapa demikian, kamu malah mengabaikan nya, kenapa kamu seakan selalu menghindari nya, apa salah nya?" tanya nya dengan tak habis pikir


"nggak ada yang dia kasih sama aku, nggak ada yang dia bicara kan sama aku, dan gak ada alasan lain di balik semua ini kecuali satu Raf, aku menghargai dia sebagai sahabat aku, dia yang selama ini selalu menghibur hari hari sepi ku, aku nggak mungkin bisa berbahagia di atas penderitaan sahabat aku sendiri, sekali pun dia mengikhlaskan kamu untuk bisa bersama dengan ku, tapi aku rasa itu hal yang tidak mungkin Raf" tutur nya


yaah, selama ini Rafah sendiri telah mengetahui jika Khanaya mulai mempunyai rasa terhadap nya sendiri, tapi entah lah, mungkin ini ada kisah di balik semua nya


"Raf, apa yang salah dengan diri nya, tidak ada salah nya jika kamu mulai mencoba menerima nya, aku nggak bisa jika aku harus sama kamu, dan,, mungkin ini akan menjawab semua nya, aku harap kamu bisa datang di acara ini" tutur nya mengeluar kan sebuah surat undangan pernikahan dari dalam tas selempang nya


"a,, apa ini Za?" tanya Rafha dengan tatapan meminta jawaban


"Ahad depan aku akan menikah, jadi aku berharap kamu bisa datang ke sana, aku juga nggak bisa sama kak Andra atau kamu, ini lah alasan mengapa aku nggak pernah merasa hal yang sama, karena pada akhir nya, aku di jodoh kan" ucapan nya memperlihat kan sisi lemah nya pada Rafha


"k,, kamu di jodohkan, kamu serius, dengan apa yang kamu bicara kan ini, jika memang benar,,, yang sabar ya Za, aku tahu ini pasti berat buat kamu, tapi,, jika ini memang keputusan keluarga kamu, aku mengalah, semoga kamu bisa bahagia hidup bersama nya, dan aku yakin kamu pasti bisa menerima nya dan menjalani nya juga melewati semua nya dengan hati yang ikhlas" tutur Rafha mulai serius


"iya Raf, terima kasih, kalau begitu, aku permisi, assalamualaikum?" ucap nya seraya melangkah pergi menghampiri Khanaya yang sudah menunggu nya sejak tadi


...°°°...


"assalamualaikum, maaf ya Nay, kamu pasti lama menunggu ku?" tutur nya yang merasa bersalah


"waalaikum salam warahmatullah, akh,, nggak apa apa Kha, santai saja lagi, ayo duduk di sini, soto nya sudah aku pesan kan, porsi normal saja ya?" jawab Khanaya dengan menepuk karpet di samping nya


"hanya saja, makan nya nggak apa apa kan di bawah seperti ini, kamu keberatan nggak Kha?" lanjut Khanaya sambil melirik ke arah nya yang sudah terduduk manis di samping nya


"hmm, enggak kok Nay, aku bahkan merasa senang jika bisa makan duduk lesehan seperti ini, merasa lebih nyaman saja" jawab nya


...°°°...


pukul 21:15, kedua nya baru sampai di dalam kamar asrama, dengan tetapan sendu, diri nya pun mengikuti langkah kaki Khanaya yang sudah duduk di tepi tempat tidur nya


"Nay,, ada yang mau aku bicara kan sama kamu" ucap nya mengawali pembicaraan kedua nya


"apa tuh, ayo sini duduk samping aku Kha?" jawab Khanaya dengan menepuk tempat tidur di samping nya


grep,,


"hiks,, maaf kan aku Nay, a,, aku nggak bermaksud?" ucap nya dengan tiba tiba langsung memeluk sahabat nya itu dengan berderai air mata


"astagfirullah, hey, kamu kenapa Kha, ada apa, kamu nggak punya salah apa apa sama aku kenapa kamu meminta maaf?" seru Khanaya yang mendapat kan pelukan tiba tiba dari nya


"hiks hiks,, aku minta maaf Nay, aku sahabat kamu tapi aku orang yang paling menyakiti hati kamu?" ujar nya di balik pelukan kedua nya


puk puk


"sudah ya, kamu nggak tenang sekarang,, nih,, kamu minum dulu deh, biar hati kamu sedikit tenang, yang tenang ya, lalu cerita sama aku, ada apa sebenar nya, kenapa kamu tiba tiba seperti ini, nggak biasa nya?" tutur Khanaya menepuk dan mengusap lembut punggung nya


kemudian melepas kan pelukan kedua nya perlahan dan menenangkan hati nya dengan memberikan segelas air putih pada nya


diri nya pun meminum air tersebut dan menetralkan nafas nya hingga merasa tenang


"cerita sama aku, kamu kenapa sebenar nya, tiba tiba meminta maaf sama aku?" tanya Khanaya dengan lembut


"aku mau jujur sama kamu Nay, sebenar nya, selama ini,, Rafha,,," ucapan nya terhenti karena merasa ragu


"iya, Rafha, dia kenapa, apa ada masalah dengan nya?" tanya Khanaya lagi


"Rafha,, dia,, dia suka sama aku Nay" jawab nya seraya membuang pandangan nya tak sanggup melihat kemarahan yang akan sahabat nya ini berikan terhadap nya


namun mendengar hal itu, bukan nya malah membuat Khanaya tersulit amarah atau hal yang lain, justru malah membuat nya mengukir senyuman manis nya


"lalu?" tanya Khanaya yang sontak saja membuat nya menoleh dengan segera meski dengan hati yang masih ragu


"kok kamu malah tersenyum gitu sih, aku serius ish,, aku takut kamu marah, tadi dia sempat suruh aku untuk menunggu ku sampai dia lulus seleksi" ujar nya tak sabaran


"hehem, iya, aku tahu kok, terus, apa kamu terima?" tanya Khanaya dengan manggut manggut dan tersenyum


"aku tolak" jawab nya yang membuat Khanaya lebih mengerut kan kening nya terkejut dengan jawaban nya yang sekarang


"lho, kenapa Kha, apa yang salah dari dia?" ujar Khanaya


"harus nya aku yang bertanya hal ini sama kamu Khanaya, kenapa kamu seperti ini, jelas saja aku menolak dia, aku menghargai perasaan kamu sebagai sahabat aku Nay" tutur nya


mendengar hal itu, kini berhasil membuat Khanaya mendengus dan maju beberapa langkah ke depan


"mengapa Kha, nyata nya dia lebih mencintai kamu bukan, dari pada aku, aku nggak mau memaksakan itu Kha, jika memang dia cinta sama kamu, terima lah dia, aku ikhlas jika dia bahagia sama kamu?" dengan hati yang di sertai rasa sakit Khanaya bisa berbicara seperti itu


"enggak Nay, sekali pun aku mau sama dia tapi sampai kapan pun aku nggak akan pernah bisa" ucap nya menunduk


"kenapa sih Kha, kenapa kamu itu benar benar keras kepala, aku tahu, apa Andra, kamu masih saja menjaga hati untuk dia, kenapa?" sahut Khanaya dengan murka


"bukan Nay,, ini bukan perihal kak Andra, bukan juga tentang Rafha, aku rasa,, ini akan menjawab semua tanya mu Nay" tutur nya seraya menyerah kan surat undangan pernikahan pada sahabat nya itu


"a,, apa ini kak?" tanya Khanaya masih dalam keadaan bingung, membolak balik kan surat yang ada di tangan nya


"Khaliza & Yussuf" gumam Khanaya di kala melihat tulisan bertinta emas di depan nya


"ini apa kak jelas kan pada ku, jujur sama aku, ini apa, apa maksud dari ini semua?" tanya Khanaya tidak sabar sambil kembali duduk di samping nya


"aku terlibat dalam perjodohan Nay, aku mau menikah beberapa hari lagi dari acara pernikahan Lia, m,, maaf kan aku Nay, aku datang ke sini hanya untuk membagikan surat undangan itu, dan setelah nya,, aku akan kembali ke Jakarta?" tutur nya yang semakin menunduk dalam


"nggak usah meminta maaf sama aku karena kamu mau menikah Kha, aku nggak masalah, aku akan baik baik saja, kalian menikah saja duluan, aku nggak apa apa, aku nggak masalah, tapi,, aku tahu ini pasti berat banget buat kamu Kha, yang sabar ya, aku yakin kamu bisa menghadapi ini dengan lapang dada?" ucap Khanaya seraya merangkul nya dan membawa nya ke dalam pelukan nya


"maaf karena aku sudah marah besar sama kamu Kha, aku nggak tahu,, tapi,, bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Khanaya dengan hati hati


"baiklah, kamu yang tenang dulu, nggak usah cerita nggak apa apa, aku paham aku mengerti, kita siap siap tidur dulu ya, besok pagi kita ke mall, habis itu malam nya kita langsung ke hotel tempat resepsi Lia?" tutur Khanaya


_**Assalamualaikum Zahra_


Ahad, 6 Agustus 2023**