Assalamualaikum Zahra

Assalamualaikum Zahra
Assalamualaikum Zahra



..._Assalamualaikum Zahra_...


..._Ustazd, Jangan Jatuh Cinta Padaku_...


..."tidak ada kemarahan yang begitu berpengaruh seperti pengaruh dari teladan yang baik,,"...


..._Khakiza Sulistya Az Zahra_...


Khaliza dan Yussuf,, kini kedua nya sudah terduduk di tepi tempat tidur, hendak beristirahat,, setelah diri nya selesai mengantar kan susu ibu hamil dan kupasan buat, nyata nya suami nya itu menjemput nya juga di kamar sang kakak,, lalu kedua nya kembali ke dapur untuk mengambil air putih, dan berakhir di kamar dengan sama sama terdiam


dalam diam diri nya berpikir, akan kah suami nya itu meminta nya untuk memaafkan kesalahan adik nya, atau kah tidak,, jika boleh jujur,, diri nya merasa penasaran,, sedekat apa kedua nya sehingga adik nya itu berani meminta tolong pada suami nya ini agar diri nya memaaf kan kesalahan sang adik?


"maaf neng,, jika aa' boleh tahu,, apa kah neng se jengkel itu dengan apa yang sudah Arsen lakukan,, apa kah neng tidak berniat untuk memaaf kan nya lagi,,?" tanya Yussuf pada akhir nya


"entah lah a',," jawab nya dengan cepat, dalam hati benar benar berusaha menyembunyikan rasa malu yang kian membuncah hanya karena ulah dari Arsen


bergegas ke arah lemari yang kemudian di buka nya dengan lebar, berusaha mencari sesuatu yang tersimpan di dalam lemari itu


hingga tangan putih itu terulur untuk meraih sapu tangan biru navy itu dan kembali terduduk di tempat nya semula,, setelah menutup kembali lemari nya


"maaf a',, neng lupa,, ini sapu tangan nya aa',, terima kasih atas pertolongan nya kala itu?" ucap nya seraya mengulur kan tangan nya yang masih memegangi sapu tangan biru navy itu


menyadari hal itu, kini berhasil membuat Yussuf tersenyum menanggapi nya,, "kan sudah aa' bilang neng,, tidak usah di kembali kan juga tidak masalah sapu tangan nya,, lagi pula,, ini milik kita sekarang,," tutur Yussuf seraya terus tersenyum ke arah nya


"tidak apa a',, neng tidak merasa nyaman jika tidak mengembalikan nya pada pemilik nya,," jawab nya


'sapu tangan milik aa' saja boleh neng miliki,, apa lagi jika hati aa' neng,,' batin Yussuf yang terus tersenyum simpul ke arah nya


"hmm,, baiklah jika memang itu yang neng ingin kan,, sapu tangan nya aa' terima,, terima kasih banyak,, neng sudah merawat sampai mencuci kan nya untuk aa'?" ucap Yussuf dengan memandangi wajah nya


"tidak masalah a',," jawab nya yang hanya bisa terus menundukkan kepala nya


"neng belum menjawab pertanyaan nya aa' yang tadi,, apa kah neng berniat untuk terus menghindar dari pertanyaan aa'?" tanya Yussuf yang pada akhir nya membuat nya mengerti juga


"jika neng balik bertanya bagaimana a'?" tutur nya meminta izin


"boleh dong neng,, memang nya,, neng mau tanya apa,,?" jawab Yussuf


"pantas kah Arsen menerima kata maaf dari neng,, bagaimana jika neng ada di posisi aa' dan Arsen ada di posisi Ratih,, apa kah aa' juga akan mempunyai amarah yang sama dengan yang neng lakukan,,?" tanya nya


"ya,, aa' pasti akan merasa marah juga,, siapa yang tidak akan mempunyai amarah yang besar,, jika adik kita bermain main lebih di luar batas kata main,, neng benar,, aa' juga pasti akan melakukan hal yang sama dengan neng,," jawab Yussuf membenar kan


"tapi,, jika neng merasa malu hanya karena ada aa' yang sudah menjadi suami neng,, neng salah,, seharus nya neng bisa mengesampingkan rasa malu nya neng,, sekali pun dengan aa' sendiri,, justru karena aa' suami neng,, tidak seharus nya neng memiliki rasa malu yang benar benar tinggi,, karena seorang istri,, adalah hak suami nya,," lanjut Yussuf


"boleh memiliki rasa malu,, namun rasa malu yang sewajar nya,, tidak berlebihan,, harus aa' kata kan,, neng memang memiliki rasa malu yang cukup tinggi,, bahkan terlampaui,, sehingga aa' selalu merasa,, jika kehadiran aa' di dalam kehidupan neng membuat neng merasa tidak nyaman,, awal nya aa' dapat mengerti,, jika neng memang perempuan pemalu,, namun aa' tidak menyangka,, jika rasa malu yang neng miliki mampu membuat aa' merasa,, neng selalu segan semenjak kita menikah dan mempunyai hubungan,," penuturan Yussuf kali ini berhasil membuat nya mendongak menatap Yussuf yang tengah bertutur kata dengan lembut


'jika terus menerus seperti ini,, dan jika hanya mendapat perlakuan seperti itu saja sudah berhasil membuat istri ku merasa malu,, bagaimana aku dan dia bisa,,,' batin Yussuf yang masih memandangi wajah nya dari samping


'akh,, Yussuf,, apa yang sedang kamu pikir kan,,?' batin Yussuf lagi seraya menggeleng dengan cepat di kala menyadari sesuatu


"maaf jika selama ini rasa malu neng cukup membuat aa' merasa tidak nyaman,, neng akan membiasa kan diri mulai sekarang,,?" ucap nya yang lagi lagi membuat Yussuf tersenyum


"tidak apa neng,, biasa kan lah untuk selalu bersikap terbuka sama aa',," jawab Yussuf yang membuat nya mengangguk paham


"neng izin ke kamar kecil a',, mengganti pakaian,,?" ucap nya yang sekarang malah membuat Yussuf tersenyum kemudian mengangguk


diri nya pun segera bergegas ke kamar kecil dengan membawa pakaian yang biasa di pakai nya ketika hendak tidur,, dan kemudian kembali ke kamar dan duduk


"maaf a',, aa' bisa mengenakan ini terlebih dahulu untuk sementara,, emm,, apa kah aa' mau mandi,, maksud nya biar neng ambil kan handuk juga,,?" tutur nya seraya menyerah kan paper bag


"hmm,, baiklah neng,, aa' mandi dulu kali ya neng,, seperti nya badan aa' lengket juga,,?" tanya Yussuf


"tidak apa neng,, aa' pakai handuk nya neng saja,, tadi masih ada di dalam kamar kecil bukan,, biar aa' pakai yang itu saja,," tutur Yussuf


"e',, tidak a',, jangan pakai yang itu,, itu,," ujar nya dengan cepat


"itu kenapa neng,, ada apa dengan handuk nya,, apa kah bermasalah,,?" tanya Yussuf yang malah membuat nya tercekat dan ragu untuk melanjutkan kata kata nya


"itu bekas tubuh neng,, tidak sepantas nya neng membiar kan aa' menggunakan handuk bekas neng,," tutur nya dengan ragu


"hmm,, tidak apa neng,, aa' tidak ada masalah dengan ini,," tutur Yussuf yang seraya beranjak dan melangkah mendekat ke arah nya, berdiri tepat di belakang nya, baru berani untuk sekedar mengeluar kan godaan pada sang istri


merasa di dekati oleh laki laki yang sudah halal untuk nya,, entah mengapa,, rasa nya berhasil membuat bulu kuduk nya berdiri,,


"justru ini akan menjadi hal yang menambah keharmonisan di antara kita,," lanjut Yussuf dengan berbisik lembut di telinga kanan nya


"jangan a',, sekalian ganti di kamar kecil ya?" tanya nya yang masih mencerna ucapan Yussuf


"memang nya kalau aa' mau nya ganti pakaian di sini boleh neng?" tanya Yussuf yang membuat nya semakin tercekat


"emm,, ganti di kamar kecil saja deh a' hmm,," tutur nya dengan tersenyum kikuk


"kalau besok boleh kan,, ganti nya di kamar,, bukan kah neng juga harus membiasa kan nya mulai sekarang,," tutur Yussuf mengingat kan


"emm,, membiasa kan apa a'?" tanya nya


"membiasa kan segala nya neng,, tentang status baru yang neng sandang sekarang,, tentang kehadiran aa' di kamar ini,, juga,, tentang hubungan kita,," bisik Yussuf lagi yang malah membuat nya merinding


"wajah nya biasa saja,, tidak perlu merasa tegang seperti itu neng,, aa' ke kamar kecil dulu ya,, neng jangan dulu tidur,, ada yang mau aa' bicara kan sama neng,,?" tutur Yussuf yang hanya melihat nya berhasil di buat mematung di tempat, dan kemudian melangkah menuju kamar kecil


...***...


cukup lama Yussuf menghabis kan waktu di dalam kamar kecil,, namun itu tidak membuat pertahanan nya urung,, dengan setia,, diri nya menunggu sang suami untuk kembali dari kamar kecil nya, mengingat jika ada hal yang ingin suami nya itu bicara kan dengan nya


akh,, diri nya baru tersadar dengan keterdiaman nya setelah tiga menit suami nya di dalam kamar kecil,, entah mengapa,, bisikan lembut sang suami yang tepat di samping indera pendengaran nya itu kini berhasil membuat nya terdiam di tempat nya berdiri tadi,, hingga suara pintu kamar kecil yang di buka dari dalam pun menyadar kn nya dari lamunan nya, menampil kan Yussuf yang sudah terlihat lebih segar dengan rambut yang basah, menambahkan kesan cool pada laki laki ini,, tersenyum ke arah nya dan berjalan menghampiri nya


diri nya yang menyadari hal itu kini menggeser posisi duduk nya, takut takut hal yang tadi terulang kembali


"kenapa geser neng,, sini,, duduk dekat aa'?" tanya Yussuf dengan tersenyum penuh arti


"di sini saja a',," jawab nya "aa' bilang ada yang mau aa' bicara kan,, perihal apa?" tanya nya yang merasa tidak ingin berlama lama berduaan dengan Yussuf


"hmm,, lebih tepat nya,, apa kah aa' boleh bertanya sesuatu sama neng?" tanya Yussuf yang menyadari kegugupan sang istri


"boleh a',, perihal apa?" jawab nya yang di akhiri dengan pertanyaan juga


"ehm,, jika aa' ingin mengajak neng tinggal di rumah pribadi nya aa',, apa kah neng akan bersedia,, bukan kenapa neng,, aa' hanya ingin belajar mandiri tanpa membebani keluarga kita,, entah itu Umi sama Abi,, atau Ayah sama Bunda,, aa' tidak ingin membuat semua nya repot neng,,?" tutur Yussuf yang mulai serius


"tidak apa a',, itu hak aa',, ke mana pun aa' pergi,, neng tidak bisa membantah atau tidak mengikuti apa yang aa' putus kan,," jawab nya yang entah mengapa kembali tidak berani lagi menatap sang suami


"jadi neng akan bersedia?" tanya Yussuf lagi dengan mata berbinar


mengangguk hanya bisa menjadi jawaban dari pertanyaan Yussuf malam ini, saking gugup nya diri nya bahkan menjawab pertanyaan sang suami pun dengan mengangguk


"makasih ya neng,, besok kita meminta izin sama Ayah dan Bunda,, namun jika neng masih ingin menjaga kak Nisa nggak apa,, kita bisa tinggal untuk sementara waktu di sini dulu,," tutur Yussuf dengan tersenyum tipis ke arah nya yang hanya terus tertunduk


_Assalamualaikum Zahra_


Ahad, 3 September 2023