
..._Assalamualaikum Zahra_ ...
..._Ada Yang Baru_ ...
..."sebuah harapan seolah datang membawa kebahagiaan, seolah mengatakan, jika aku kelak akan menemukan kebahagiaan ku yang sebenar nya, namun nyata nya,,, tidak cukup sebentar, dan kembali menjatuhkan ku ke dasar kekecewaan" ...
..._Khaliza Sulistya Az Zahra_ ...
hari sudah semakin siang, matahari juga semakin tinggi, menandakan bahwa waktu semakin siang, juga jangan lupa kan ketiga orang yang tengah melepas rindu ini dengan berjalan jalan mengelilingi mall Jakarta ini
"Yah, Ayah kenapa ke sini, Ayah mau ganti ponsel?" tanya nya kala mengikuti Ayah dengan Bunda memasuki area konter modern di mall ini
"hmmm,,, iya sayang, kemarin, ponsel Ayah tercebur di got, waktu memperbaiki wastafel di rumah, jadi sampai sekarang belum bisa juga di aktif kan lagu" jawab Ayah yang membuat nya mengangguk patuh dan mengerti
"selamat siang bapak, ibu, ada yang bisa kami bantu?" sapa reseller ini dengan ramah
"siang mas, saya mau cari ponsel Android terbaru di sini, ada kah, yang biasa saja?" tutur Ayah dengan ramah ketika duduk di kursi kayu ini
"ponsel keluaran terbaru,, kebetulan pak, hari ini, kami sedang ada produk keluaran terbaru yang belum dimiliki oleh seseorang, sebentar, saya ambil kan dulu pak, Bu" ucap reseller laki laki ini dengan ramah
"baiklah, saya tunggu" jawab Ayah yang tak kalah ramah
Tak lama kemudian
reseller ini kembali menunjuk kan beberapa ponsel keluaran terbaru kepada ketiga nya yang sedang duduk santai
"di antara nya ini pak, ponsel Android dari produk Samsung, di antara nya Samsung galaxy a01 core, juga dengan yang ini pak, dari Oppo a15" jelas reseller ini dengan menunjuk kan dua kotak ponsel di kedua tangan nya
"emm,,, baiklah, saya suka yang Oppo ini, seperti nya akan cocok untuk anak gadis kedua saya ini, tapi,,, apa warna nya hanya ini saja, saya mau nya warna putih karena ini khusus untuk nya?" tanya Ayah yang membuat nya benar benar terkejut dengan seketika
"baiklah pak, akan saya ambil kan dulu di dalam, di mohon tunggu sebentar?" ucap reseller ini seraya berjalan saat sudah melihat anggukan kepala dari Ayah dan Bunda
"nggak Bund, Yah, kenapa Ayah Bunda membelikan kakak ponsel, kakak nggak mau pegang dulu untuk saat ini, kakak masih harus fokus pada kelanjutan pendidikan kakak?" tutur nya yang merasa tak percaya
"sayaang, sudah lah, terima saja ya, sudah dari waktu yang lama Ayah mau memberikan ponsel untuk kakak, semua teman kakak sudah pada pegang, bahkan adik kakak saja minta di belikan sama Ayah, terima ya?" tutur Bunda menggenggam tangan kanan nya
"tapi Bund, apa ini nggak kecepatan, kakak masih mau melanjutkan pendidikan kakak?" tutur nya seraya memandangi bunda di samping nya
"hmm,, yaah, Bunda mengerti kenyamanan kakak tanpa ponsel selama ini, tapi,,, kasihan kak Nisa, dia banyak terima pesan dan panggilan dari sebagian besar teman masa tsanawiyah nya kakak dulu" ucapan Bunda ini tak kalah membuat nya benar benar terkejut
"yaah, Ayah setuju, bahkan bukan hanya dengan kak Nisa saja, tapi ada yang langsung sama Ayah juga, bahkan sama adik kakak juga" sambung Ayah
"sayaang, jika kakak tidak mau menerima ini, Ayah Bunda tidak bisa menghubungi kakak lain kali, akan sedikit rumit, jika setiap bulan setiap Ahad, kakak selalu meluang kan waktu kakak hanya untuk pergi ke wartel di sana, tapi Ayah nggak mau itu terjadi lagi nak, itu akan membuat waktu kakak semakin padat, maka terima lah pemberian dari Ayah Bunda ini sebagai hadiah wisuda nya kakak, Ayah tahu, hadiah Ayah Bunda tidak akan pernah bisa seimbang, dengan apa yang telah kami lakukan sama kakak dulu, tapi, jika kakak bisa menerima nya, Ayah bunda akan sangat merasa senang?" tutur sang Ayah yang membuat nya meluluh meski dengan perlahan
"hmm,,, baiklah Ayah, jika memang itu yang Ayah ingin kan, kakak akan menerima nya, terima kasih untuk semua nya, kakak sayang, sama Ayah, sama Bunda juga?" ucap nya seraya mendapat kan pelukan hangat dari kedua orang tua nya
"permisi pak, ini ponsel pesanan nya, maaf sedikit lama, tadi ada insiden kecil?" ucap reseller ini dengan sopan
"iya tidak masalah mas, makasih juga untuk ponsel nya, tapi saya mau sekaligus beli sim card nya buat isi ponsel nya, apa di sini mempunyai nomor cantik juga, ini khusus untuk anak gadis kedua saya?" tutur Ayah yang membuat reseller ini tersenyum juga beralih dengan memandangi wajah sang anak pelanggan yang tidak pernah di angkat
"akh, baiklah pak, kebetulan, hari ini konter kami sedang ada promo, ada kartu sim card dengan nomor nomor cantik, seperti kakak nya, seperti nya, bapak ini begitu menyayangi anak gadis nya ya, sudah dewasa di beli kan ponsel baru, pasti kakak nya merasa senang?" ucap reseller ini dengan bergurau "baik pak, kita atur administrasi nya di sebelah sana, mari?" lanjut reseller ini selera berjalan di samping Ayah
"baiklah pak, ini dia, beberapa kartu sim card di antara nya yang sudah terdaftar dan juga bonus kuota terbaik nya, silakan di pilih?" ucap reseller ini kala sudah duduk semua nya
"hehe, iya mas, tapi bukan begitu, anak gadis saya ini nggak ganti ponsel, ini ponsel pertama nya, ehm, baiklah, saya,, saya pilih semua nya saja boleh nggak mas, soal nya anak saya nggak satu, masih ada yang di rumah?" tanya Ayah dengan merasa ragu
"waah, beneran kakak nya baru pegang ponsel saat dewasa seperti ini, hmm,,, baiklah pak, bapak borong semua kartu sim card nya juga nggak papa, mau sekalian sama konter nya juga nggak masalah bagi saya" jawab reseller ini dengan candaan nya yang membuat nya mengangguk malu
"hahaha, si mas bisa saja, kalau gitu, kalau semua sudah selesai, makasih ya mas, atas pelayanan nya, saya dengan kedua wanita cantik ini permisi, assalamualaikum?" ucap Ayah
"waalaikum salam warahmatullah, iya pak, jangan lupa mampir lagi ke sini di lain hari?" Jawab reseller ini dengan ramah
"lho, kata nya Ayah mau perbaiki ponsel Ayah yang jatuh di got, kok nggak jadi?" tanya nya yang benar benar merasa heran
"hmm,, nggak apa apa sayang, kakak lupa ya, Ayah punya berapa ponsel, ponsel Ayah yang jatuh Ayah ikhlas kan saja, sudah takdir nya, ini, buat kakak?" ucap Ayah tersenyum seraya menyerahkan paper bag berukuran kecil yang berisi kotak ponsel
"Ayah serius dengan apa yang Ayah bicara kan ini, ponsel ini nggak kemahalan buat aku Yah?" tanya nya ragu ragu, kala menyadari Ayah yang mengulurkan paper bag berisi ponsel itu
"hmm,, enggak sayang, Ini hadiah dari Ayah Bunda, kakak pantas mendapatkan nya, terima lah?" jawab Ayah sambil tersenyum tipis ke arah nya
"b,, baiklah Ayah, ini kakak terima, tapi,, alhamdulillaah Yah, sekarang kakak punya penghasilan, itu juga lumayan besar bagi kakak sendiri, kakak bisa membeli ponsel dengan uang itu jika Ayah mau terus menghubungi kakak?" tutur nya yang merasa tak enak hati
"hmm, nggak masalah sayang, ini Ayah Bunda yang mau kasih khusus buat kakak, kakak lupa, apa yang di kata kan reseller di konter tadi, jika Ayah begitu menyayangi kakak, terima ya, Ayah nggak mau nerima penolakan pokok nya?" tutur Ayah yang masih berusaha memberikan paper bag kepada nya
melihat itu membuat nya merasa semakin ragu, diri nya pun beralih memandangi wajah sang Bunda yang di angguki oleh Bunda sendiri, tanda diri nya boleh menerima nya
"terima lah sayang, ini bahkan bukan dari orang asing, ini adalah pemberian dari kedua orang tua mu nak, jadi jangan pernah ragu, jika kedua orang tua mu yang memberikan sesuatu" jawab Bunda yang tahu arti dari tatapan sang anak gadis
"ya,, ya sudah Ayah, ponsel nya kakak terima, terima kasih, kakak akan selalu berusaha untuk menggunakan nya dengan baik?" ucap nya menerima uluran paper bag dari Ayah yang membuat Ayah tersenyum hangat
"gitu dong, ya sudah, sudah masuk waktu dhuhur ini, kita lanjut kan perjalanan pulang ya, kita singgah dulu di masjid terdekat sebentar?" tutur Ayah seraya mulai membuka pintu mobil di parkiran
"ehm, kakak nggak salat hari ini Yah, sejak kemarin" ucap nya ragu dan menunduk dengan malu saat setelah duduk dan memasang seat belt di tubuh nya
"ya sudah, biar Ayah sama Bunda saja yang salat, kakak mau ke mana, cari makan atau ngapain selagi Ayah Bunda di masjid?" tanya Ayah
"emm,, mending saat kakak sedang menunggu kita shalat, kakak pasang email saja ya, cara nya gini, tiap ponsel harus punya email masing masing kak, agar Bunda nggak susah untuk menghubungi kakak nanti nya?" jelas Bunda menunjuk kan cara membuat email yang baru kepada nya
"baiklah Bunda, kakak mengerti cara nya, terima kasih, nanti kakak coba" jawab nya yang memang sangat mudah paham dengan apa yang di pelajari nya
Bunda dan ayah pun kini terlihat tersenyum simpul kala melihat nya mulai serius dengan ponsel di genggaman nya sekarang, kedua nya segera berpamitan untuk pergi ke masjid, menyisakan dia seorang diri
"akh, apa aku masuk kan nomor Khanaya yang sama Lia terlebih dahulu ya di ponsel ini, aku lihat juga Naya sudah memberikan alamat email nya di buku kemarin?" gumam nya sambil mulai mebdaftar kan email address pada ponsel nya
"📧 assalamualaikum?"
"📧 xixi, kamu sudah nggak ingat lagi sama aku, kata nya kamu nggak bisa lupa kan aku,,,?" ketik nya sambil terkekeh sendiri dalam mobil
"📧 apa saya pernah bertemu dengan anda, siapa anda yang sebenar nya?"
"📧 hamba Allah,,,"
"📧 jika itu saya juga tahu, dan kita juga sama, saya juga hamba Allah, tapi,, apa kita pernah bertemu sebelum nya?"
"📧 kita sering ketemu kok, entah mengapa aku merasa kerinduan saja sama kamu 😘"
"📧 maaf ya, anda ini siapa sebenar nya, kok bisa tahu alamat email saya, dari mana?"
"📧 apa nya yang dari mana cantik?"
"📧 dari mana anda tahu alamat email saya?"
"📧 lho, bukan kah kamu sendiri yang memberi ya, masa lupa sama aku sih?"
"📧 iya anda jujur anda siapa, jangan membuat saya bingung"
"📧 memang nya kapan aku pernah membuat kamu bingung?"
"📧 sekarang juga saya bingung anda siapa"
"📧 xixi,, kamu lupa sama sahabat pondok kamu yang punya hobi baca novel berbau keagamaan itu ya?"
"📧 masya Allah,, Khaliza, ini kah kamu?"
"📧 sudah saya bilang, jika saya ini adalah hamba Allah, apa kamu tidak mengerti juga?"
"📧 xixi, iya iya aku mengerti, aku juga sama, tapi kamu Khaliza kan, itu dia sahabat aku satu satu nya di pondok yang punya kebiasaan baca novel lho?"
"📧xixi, iya Nay, ini aku, aku hanya mau kasih kabar saja sama kamu, jika aku sudah di Jakarta sekarang"
"📧 akh, syukur lah, dari kemarin aku sebenar nya mau menghubungi keluarga kamu, tapi takut nya malah mengganggu, eh, kamu sudah di kasih pegangan ponsel, sejak kapan?"
"📧 hmm,,, panjang cerita nya Nay, nanti aku cerita kan lain kali ya, insya Allah"
"📧 waah, parah nih parah parah, kamu banyak tunggakan cerita sama aku, pokok nya kamu harus cerita ya?"
"📧 heem, ya insya Allah Nay, nanti aku cerita jika aku sudah kembali ke sana lagi, tapi, sudah dulu ya, jangan kasih tahu Lia dulu perihal ini, aku mau kasih kejutan buat dia, sudah dulu ya Nay, aku mau lanjut jalan pulang?"
"📧 akh, iya iya, hati hati di jalan sahabat fillah aku, nanti malam aku inbox lagi, daah?"
"📧 iya Nay, assalamualaikum?"
"📧 waalaikum salam warahmatullah sahabat nya aku, tetap jaga kesehatan ya, aku selalu merindukan kamu?"
"xixi, ada ada saja deh" gumam nya dengan menggeleng geleng kan kepala nya tak heran
"anak gadis nya Ayah kenapa nih, kok senyum senyum gitu lihat ponsel nya, hayo, lagi IG sama laki laki ya?"
"ish, Ayah apaan sih, apa itu IG, kakak nggak tahu, kakak hanya lagi mengabari sahabat kakak di pondok kok, jika kakak sudah sampai di Jakarta, akh iya Yah, Bund, kapan kapan,, boleh nggak, kalau misal nya kedua sahabat kakak mengunjungi kakak di sini?" tanya nya yang melihat Bunda tengah memasang seat belt pada tubuh nya
"hmm, boleh dong sayang, anak nya Tante Hanna yang pakai niqab itu sama seperti kamu ya, sama yang satu lagi siapa tuh nama nya, lupa Bunda?" tutur Bunda dengan terlihat berpikir
"Khanaya Bund, boleh kah?" tutur nya membenarkan
"nah iya itu Kanaya, boleh dong kak, masa nggak boleh sih" jawab Bunda sambil terus tersenyum
"ya sudah, kita lanjut pulang ya sekarang, kamu pasti capek banget ya sayang?" ucap Ayah sebelum akhirnya menyalakan mesin mobil dan mendapati anggukan kecil dari nya
perjalanan pun di mulai, merasa tidak pantas untuk nya mengoperasikan ponsel di tengah perjalanan pertama nya ini di Jakarta kembali, kini diri nya pun hanya ingin melihat apa yang di lewati nya di sepanjang perjalanan
gedung gedung yang di bangun tinggi pencakar langit, di bawah awan putih yang menambah kan kecerahan, juga menambah kan kesan tersendiri untuk nya
'assalamualaikum Jakarta, alhamdulillaah, setelah 10 tahun lama nya aku meninggalkan mu, kini aku bisa kembali menginjak kan kedua kaki ku di tanah ini lagi' batin nya dalam hati, sambil terus tersenyum memandang indah nya kota tempat tinggal asal nya ini
"ada apa dengan anak Bunda tersenyum senyum sendiri lagi, hayo,, kakak sedang memikirkan apa?" tanya Bunda yang menangkap basah nya kala tersenyum lebar karena bisa terlihat dari kedua mata nya yang menyipit, seolah ikut tersenyum
mendengar itu, diri nya pun tersadar dan mengalih kan pandangan nya, alias kembali menunduk
"hmm,,, nggak ada apa apa Bund, setelah 10 tahun lama nya aku meninggal kan Jakarta, nyata nya masih sama dengan dulu, tidak ada perubahan ya?" jawab nya seraya tersenyum hangat
"hmm, begini lah Jakarta kak, tidak ada perubahan, sebagian besar orang banyak yang merindukan kamu di sini, mereka nggak tahu jika kamu masuk pondok" jawab Bunda dengan di angguki oleh Ayah
"pusat kota polusi, pusat kota banjir ya di sini, nggak ada yang berubah sama sekali" tambah Ayah membetul kan
"Ayah jangan gitu, mau bagaimanapun kota yang kita tinggali ini, tapi kakak nggak pernah terbesit pun untuk meninggalkan nya, karena kota ini adalah satu satu nya tempat yang menjadi saksi, di mana kakak berusaha dan belajar, di mana kakak bisa mengenal belajar untuk yang pertama kali nya" tutur nya lembut yang membuat Ayah dan Bunda semakin bangga memiliki anak gadis seperti nya, kedua nya tengah mengulum senyum lebar tanpa di ketahui oleh nya sendiri
tanpa di rasa, kini mobil pun sudah terparkir dengan rapi di dalam garasi teduh ini
"sayang, sudah sampai, kita keluar ya, kebetulan kakak masih ada di sini, mau ketemu sama kamu kata nya, ayok?" ajak Bunda setelah semua nya keluar
"tapi, Bund,, kok kakak merasa ragu untuk masuk ya, kakak,,," tutur nya yang merasa ragu ragu antara harus masuk atau kah tetap di luar saja
"hmm, nggak apa apa sayang, kita masuk saja, mungkin semua sudah menunggu di dalam?" jawab Ayah meyakin kan
diri nya hanya bisa mengangguk dan membenarkan Khimar yang tengah di kenakan nya sedikit berantakan
_**Assalamualaikum Zahra_
Kamis, 27 Juli 2023**