
..._Assalamualaikum Zahra_ ...
..._Ruang Dan Waktu_ ...
..."tuhan tidak akan membiarkan mu terus berkesusahan, akan ada kemudahan di balik setiap kesusahan, akan ada tawa, di balik setiap air mata" ...
..._Khaliza Sulistya Az Zahra_ ...
jujur saja, mendengar pembicaraan formal dan akrab dari kedua orang yang mungkin sudah berstatus menjadi suami istri itu, kini berhasil membuat kedua nya merasa benar benar bertambah canggung
pasal nya, bagaimana bisa dua insan yang baru saja menjalin hubungan bisa se akrab dan se dekat itu, mungkin kah kedua nya tidak terlibat dalam sebuah perjodohan, pikir nya
ting,,
pintu lift pun terbuka, menandakan kedua nya telah sampai di lobby dengan arah jalan keluar dari hotel ini
"ayo neng?" tutur Yussuf dengan lembut seraya menoleh ke arah nya yang masih terdiam dan sontak mengangguk juga mengekor di belakang sang suami
"kenapa ustadz,, apa kah ada masalah?" tanya nya ketika melihat ada yang berbeda dari pergerakan Yussuf
"neng itu istri nya aa' sekarang, bukan sekretaris nya aa', maka tidak sepantas nya neng mengikuti langkah aa' dari belakang, jadi, kita berjalan beriringan saja ya?" tutur Yussuf dengan lembut dan hanya di tanggapi dengan anggukan kepala saja dari nya
"ya sudah, kita mau mencari sarapan apa hari ini, mau naik taksi atau bagaimana neng, hari Sabtu, jalanan pasti sedikit padat neng?" tanya Yussuf dengan tatapan yang terkunci hanya pada nya
"ehm,, jalan kaki saja ustadz, maaf,, saya lebih suka makan di warung kaki lima" jawab nya mengemukakan pendapat nya
mendengar hal itu, kini berhasil membuat Yussuf mengulum senyum lantas mengangguk
'bahkan sesederhana ini kah selera mu sayang?' gumam Yussuf dalam hati
"hmm,, ya sudah, kita sarapan di warung kaki lima saja pagi ini, kebetulan,, di ujung jalan sana ada taman, banyak juga yang berjualan di sana, aa' sedikit tahu ada makanan enak di sana" jawab Yussuf memberi tahu nya dan lagi lagi hanya di tanggapi dengan anggukan saja
namun merasa ada yang mengganjal di hati Yussuf, apa lagi di kala melihat sesuatu pada bahu sang istri kini berhasil mengalihkan perhatian nya dan,,
"ehm,, maaf ya neng?" ucap Yussuf tiba tiba dengan pandangan memusat pada nya, membuat nya sedikit malu dan bertambah gugup
dengan tanpa rasa ragu lagi, Yussuf melangkah lebih mendekati ke arah nya yang memang berdiri di samping nya, hingga kedua nya terlihat berhadapan
"maaf neng, bisa kah neng menutup mata neng, sebentar saja?" tutur Yussuf yang berhasil mengundang rasa penasaran yang cukup mendalam pada diri nya sendiri
tidak ada hal aneh apa pun yang di rasa kan nya, di kala menuruti apa perkataan dari sang suami, hanya merasa sendiri angin sepoi sepoi saja yang membuat Khimar nya sendiri berkibar mengikuti arah mata angin
"sekarang neng bisa membuka mata neng, maaf,, bukan aa' mempunyai maksud lancang, tapi,, ada laba laba yang hinggap di bahu kiri neng?" ucapan Yussuf kali ini benar benar berhasil membuat nya terdiam
dan,,,
grep,,
sontak diri nya yang begitu terkejut memeluk erat tubuh nya sendiri dengan mata terpejam, benar benar terpejam, bukan tanpa alasan, pasal nya wanita ini mempunyai phobia pada hewan berkaki 6 itu
"s,, saya mohon ustadz, hhhhh,,, tolong hhhhh,,, jangan biar kan hhhhh,,, saya melihat hhhhh,,, melihat nya hhhhh,,,?" ucap nya masih dengan mata terpejam sempurna, bertambah dengan deru nafas yang semakin memburu saking takut nya, dan tubuh nya pun ikut bergetar hebat
menyadari hal itu, sontak membuat Yussuf terdiam, mengapa dia bisa lupa, jika istri nya itu mempunyai phobia pada hewan tersebut
"maaf neng, itu tadi, sekarang aa' sudah mengusir nya dari bahu neng, maaf, aa' lupa jika neng punya phobia pada laba laba?" ucap Yussuf yang merasa bersalah seraya memegangi bahu nya yang masih diri nya peluk sendiri
"e,, u,, ustadz tahu,, saya,,, memiliki phobia,, pada laba laba?" tanya nya yang merasa heran, pasal nya diri nya sendiri pun tidak pernah banyak bercerita pada siapa pun mengenai phobia nya itu
"hmm,, kak Nisa pernah bilang sama aa' perihal neng, jadi aa' sedikit mengetahui nya tentang neng" tutur Yussuf mengulum senyum memandangi nya
'kak Nisa,, entah sudah berapa banyak perihal ku yang sudah kakak beritahu kan pada ustadz Yussuf' batin nya kembali memejamkan kedua mata nya, tidak masalah jika sang ustadz mengetahui apa pun mengenai nya, yang terpenting sekarang diri nya sangat merasa lega karena tidak melihat hewan yang membuat phobia nya itu kambuh lagi
"akh,, maaf neng, aa' nggak ada maksud untuk mencari kesempatan sama neng?" tutur Yussuf di kala melihat nya kembali memejamkan kedua mata nya, pikir nya mungkin istri nya ini tidak akan nyaman berada sedekat ini dengan nya, padahal bukan,,
"ehm,, nggak masalah ustadz, saya juga minta maaf?" ucap nya mulai melepaskan pegangan di kedua bahu nya
mendengar itu, Yussuf pun mengangguk paham sambil kembali berjalan
jalanan di pagi hari ini masih tampak sepi, angin sepoi sepoi yang perlahan bisa membawa daun pada pohon rindang yang tinggi itu terlihat mengikuti arah mata angin, di musim semi ini, semua nya nampak sempurna, tidak ada banyak kendaraan yang melalui nya, hanya satu atau dua saja
diri nya yang berjalan beriringan di samping sang ustadz di sebelah kanan trotoar jalan membuat nya berjalan tepat di pinggir jalan, mungkin terlihat romantis, namun rasa canggung yang masih melanda di antara kedua nya membuat suasana semakin hening
kedua nya hanyut dalam pikiran masing masing, akh, latah, bukan kedua nya, lebih tepat nya, hanya diri nya lah yang hanyut dalam lamunan dan kesibukan nya, namun dengan Yussuf yang terlihat mencuri curi pandang ke arah nya tanpa di sadari nya juga
melihat ada mobil yang melaju dengan kecepatan normal ke arah nya sontak membuat kedua mata Yussuf membulat dengan sempurna
"neng awas!!" ucap Yussuf dengan sedikit panik, refleks tangan kanan nya menarik tangan kanan sang istri ke dalam pelukan nya, dan tangan kiri nya memeluk erat pinggang langsing wanita nya ini
seketika,, tatapan kedua nya bertemu, dengan nafas Yussuf yang sedikit memburu, membuat nya bisa merasakan nafas hangat itu meski mengenai mata nya, mulut nya terasa tercekat saking terkejut nya, mendapati suami nya kini tengah sedikit menunduk, karena tatapan kedua nya sedang bertemu
ada rasa yang sedikit berbeda, di kala mendapati sang ustadz menatap nya, tatapan nya terlihat, begitu dalam, hati nya kian berdebar begitu cepat, membuat nya semakin gugup
"tiiiiin,,," suara klakson mobil yang sedikit nyaring itu sontak membuat kedua nya tersadar dari lamunan kedua nya, diri nya pun sontak mengalih kan pandangan nya ke arah yang berlawanan
saat diri nya hendak melepas kan pelukan kedua nya
"neng" panggilan lembut dari Yussuf masuk ke dalam indra pendengaran nya, membuat nya kembali melihat wajah sang ustadz meski dengan sekilas
"boleh kah biar kan ini terjadi sejenak?" tutur Yussuf meminta izin dari nya, dengan tatapan teduh yang tidak pernah di lihat nya
"terima kasih?" ucap Yussuf tulus dengan senyuman menawan nya
kini, tidak bisa di pungkiri, Khaliza, wanita ini masih merasa benar benar canggung dan tak pernah merasa siap untuk semua nya, wajar saja, jika biasa nya diri nya hanya akan bergaul dengan kedua sahabat nya di asrama, juga dengan pendidikan nya, kini harus melalui hari bersama dengan, suami nya sekarang, itu bahkan masih sangat terasa mimpi bagi nya sendiri
sekali pun selama ini diri nya selalu menundukkan pandangan nya dari lawan jenis, di kala melihat suami nya hanya sejenak, seketika itu kepala dan pandangan nya pun akan kembali menunduk karena rasa malu nya memang lebih banyak di banding kan dengan amarah nya
melihat pergerakan yang tak mengenakkan dari sang istri, membuat Yussuf kini benar benar merasa harus banyak mengalah, mungkin istri nya ini belum siap sepenuh nya untuk diri nya, sejujur nya ada sedikit rasa kecewa di kala sang istri yang tidak pernah menatap wajah asli nya yang sesungguh nya, sekali pun Yussuf tengah merasa senang sang istri yang tidak pernah menatap lawan jenis lebih lama, bahkan sudah sah pun mengapa demikian sang istri masih tidak berani menatap diri nya dengan jangka waktu yang cukup lama?
dengan perlahan tapi pasti, Yussuf pun mulai melepas kan pelukan nya dan membebas kan sang istri, kini Yussuf cukup tahu, ketidak siapan itu, mungkin diri nya memang harus banyak mengalah untuk saat ini
"ma,, maaf neng, aa' nggak ada maksud, neng nggak apa apa, apa kah neng terluka?" tutur Yussuf yang memang sudah di pahami oleh nya
"emm,, saya tidak apa apa ustadz, terima kasih,, sudah menyelamatkan saya, alhamdulillaah, saya baik baik saja" jawab nya seraya menunduk dalam
"ya sudah, kita lanjut jalan lagi, sebentar lagi kita akan sampai di warung bubur ayam, kita sarapan bubur ayam itu saja pagi ini" ucap Yussuf yang di setujui oleh nya
...*** ...
di sini lah kedua nya berada, di depan warung makan bubur ayam pinggir jalan yang bertuliskan "warung bubur pak Tejo"
"assalamualaikum?" ucap Yussuf di kala kedua nya sudah memasuki area ruangan makan
"waalaikum salam warahmatullah, waah, ada nak Yussuf ternyata, ayo sini silakan duduk?" ajak pak Tejo dengan ramah, di kala mengetahui siapa tamu pertama kali yang datang pagi ini di warung bubur nya
"iya pak, terima kasih?" ucap Yussuf dengan senyuman tipis khas nya
"ayo duduk neng?" tutur Yussuf dengan penuh perhatian sambil menoleh ke arah nya
"waah, sudah pacaran ternyata, bagus bagus, ada kemajuan jadi nih, pak dosen planet Uranus" ujar pak Tejo yang menggoda Yussuf
"hmm,, iya pak, alhamdulillaah, baru berani pacaran, pakai ijab Qabul juga" jawab Yussuf dengan enteng nya
"ealaah, kok nggak kasih tahu bapak jika kamu sudah menikah sih, kapan acara nya?" tanya pak Tejo yang menjadi asyik berbincang
"emm, baru pagi kemarin pak, alhamdulillaah" jawab Yussuf sambil terus tersenyum
"waah,, pasutri baru nih jadi, ya sudah, karena kalian pagi ini ke sini membawa kabar baik, kalian makan nya di dalam saja, nggak ada siapa siapa kok, hari ini bapak punya ruangan khusus untuk tamu spesial" ucap pak Tejo ramah
"eh, tapi bapak juga mau kenalan dong, kenalkan lah pak dosen?" tanya pak Tejo
"hmm,, iya maaf pak saya lupa, maaf pak, kenal kan, ini istri saya, Khaliza, neng, kenalkan, ini pak Tejo, pemilik warung bubur langganan aa' di sini?" tutur Yussuf yang memperkenal kan kedua nya
"assalamualaikum pak, saya Liza?" sapa nya ramah dengan menangkup kan kedua telapak tangan nya di depan dada nya
"waalaikum salam warahmatullah, Masya Allah,, selain cantik, ternyata istri kamu juga penuh tata krama ya pak dosen, bapak ini teman nya suami mu nak, panggil saja pak Tejo, jika mau panggil mamang juga boleh" jawab pak Tejo tak kalah ramah
ada sedikit rasa tak percaya dengan apa yang baru saja di bilang pak Tejo, bukan kenapa, pasal nya usia pak Tejo dan Yussuf ini bisa terbilang sangat lah terpaut jauh, jadi sangat sulit di percaya jika kedua nya mempunyai hubungan pertemanan
"maaf neng, maksud pak Tejo ini bukan teman aa', tapi,, dulu aa' sering ke sini sama teman aa', dan akrab juga sama pak Tejo" tutur Yussuf merasa mengetahui apa yang tengah di pikir kan sang istri
"ehm,, iya ustadz" jawab nya mengangguk mengerti
"ya sudah, sebaik nya kalian duduk di dalam saja, mumpung masih sepi, mau pesan apa, biar bapak buat kan menu spesial sarapan pagi ini untuk kalian?" ucap pak Tejo
"saya mau dua porsi bubur ayam nya, sama,, minum nya mau apa neng?" tanya Yussuf meminta jawaban
"ehm,, air putih saja ustadz" jawab nya yang membuat bapak paruh baya ini tersenyum
"ya sudah, kita pesan dua porsi bubur ayam sama 2 gelas air putih ya pak?" tutur Yussuf
"oke, di tunggu di dalam ya, bapak buat kan dulu?" ucap pak Tejo mempersilahkan
...***...
kedua nya kini sudah duduk lesehan di sebuah ruangan yang berukuran minimalis, dengan meja terbuat dari bambu asli yang di padukan dengan pemandangan danau yang indah di pinggir nya, juga semilir angin yang tak terlalu bertiup serta embun pagi yang masih menempatkan diri di beberapa dedaunan
sangat membuat suasana nyaman dan tentram
"neng" panggil Yussuf dengan lembut, kedua mata nya kini tertuju ke arah nya yang tengah memandangi danau di samping nya
"i,, iya ustadz, ada apa?" jawab nya segera menunduk dan menautkan kedua jari telunjuk nya
"perihal pak Tejo, itu dulu nya aa' suka makan di sini, langganan aa', jadi sudah sangat akrab sama aa', tidak merasa segan lagi" tutur Yussuf berusaha menjelas kan
"jika boleh tahu,, kenapa pak Tejo memanggil ustadz dengan sebutan pak dosen?" tanya nya dengan lembut, berusaha memberanikan diri untuk sekedar bertanya
"itu karena profesi aa', semua nya jadi suka memanggil aa' dengan sebutan pak dosen, Radit sama Mukhlis juga seperti itu" jawab Yussuf yang membuat nya mengerti
tanpa menunggu waktu yang lama, kini 2 porsi bubur ayam sudah tersaji di hadapan kedua nya, dan jangan lupakan segelas air putih yang berdiri di masing masing pinggir mangkuk
setelah membaca do'a hendak makan, kini kedua nya pun memulai sarapan dengan tenang, tanpa ada hambatan
_Assalamualaikum Zahra_
Selasa, 15 Agustus 2023