Assalamualaikum Zahra

Assalamualaikum Zahra
Assalamualaikum Zahra



..._Assalamualaikum Zahra_...


..._Sebuab Permainan Di Babak Ketiga_...


..."menang atau pun kalah, itu hanya lah sebuah permainan,, kita hanya harus melewati nya saja dengan peraturan yang ada,,"...


..._Khaliza Sulistya Az Zahra_...


beberapa menit kemudian,, terlihat Arsen yang berjalan dengan kembali menghampiri kedua nya yang sedang sama sama duduk di sofa,, mengulur kan tangan kanan nya ke arah nya yang membuat diri nya heran dan mendongak menatap sang adik dengan tatapan penuh tanya seolah bertanya ada apa


"hhh,, suami kakak,, kata nya mau bicara,," jawab Arsen yang membuat kening kak Nisa juga ikutan mengerut dengan bingung


menerima tanpa beranjak dari duduk nya, lantas menoleh ke arah kak Nisa dengan memberi kan isyarat meminta izin untuk menerima panggilan dari sang suami yang di angguki oleh kak Nisa sendiri


"assalamualaikum a',, ada apa aa' mencari neng?" tanya nya yang masih terduduk dan melihat Arsen yang ikut duduk tepat di samping nya


"waalaikum salam warahmatullah,, ekhem,, memang nya suami sendiri nggak boleh ya cari istri nya sendiri,, padahal ini lagi kangen juga,,?" goda Yussuf yang membuat nya tertegun dalam panggilan, istri nya tanya baik baik malah di tanggapi candaan


"serius a',, ada apa?" tanya nya yang terdengar mendesak,, pasal nya diri nya tidak akan merasa sopan jika kak Nisa dan Arsen bisa mendengar apa yang menjadi percakapan di antara diri nya dan suami nya


"apa neng lupa,, neng sudah aa' seriusin sejak beberapa Ahad lalu lho,," canda Yussuf yang masih saja ingin menggoda sang istri, membuat nya menghela nafas panjang saja


"hmm,, iya juga,," jawab nya dengan menunduk,, memandangi sepasang kaki nya yang mengayun di bawah sana


"maaf ya neng,, aa' hanya bercanda,, aa' mencari neng hanya ingin memberi kan kabar,, jika malam ini,, seperti nya aa' akan lembur di kantor,, tadi waktu aa' sedang mengajar mahasiswa,, ada kabar kata nya ada meeting room di kantor,, jadi buat aa' mampir dulu ke kantor tadi,, neng nggak apa apa tidur duluan saja,," jelas Yussuf yang masih di simak oleh nya, bahkan saudara dan saudari nya ikut terdiam dengan menatap ke arah nya


"hmm,, nggak masalah a',, akan neng tunggu sampai aa' datang nanti,," jawab nya singkat yang tanpa sadar berhasil membuat Yussuf tersenyum di seberang sana


"hmm,, ya sudah neng,, tapi harus aa' bilang,, jika neng kelelahan,, neng tidur duluan saja,, aa' kasih neng izin kok,," tutur Yussuf lagi yang mengerti jika istri nya ini tidak akan melakukan hal tanpa seizin nya


"iya a',, neng mengerti,," jawab nya dengan mengangguk, meski tidak dapat di lihat oleh Yussuf sendiri


"lagi pula,, aa' lupa,, kenapa nggak minta kontak nya neng ya,, padahal kita banyak menghabis kan waktu bersama di waktu waktu sebelum nya,," tutur Yussuf yang membuat nya merasa malu


"iya,," jawab nya yang hanya tidak bisa berkata kata lagi, melihat reaksi adik nya kini membuat kak Nisa heran dan dengan kening mengerut,, begitu juga dengan Arsen yang notabene nya adalah laki laki yang mulai beranjak dewasa


"neng kangen nggak sama aa' neng?" tanya Yussuf di seberang sana, membuat nya lagi lagi tertegun


"emm,, maaf a',, bisa kah aa' ulangi lagi pertanyaan aa' barusan,, takut nya neng salah dengar?" tanya nya dengan cepat


"iya,, aa' tanya sama neng,, neng kangen nggak sama aa' neng,, padahal,, aa' sudah kangen saja lho sama neng,, sebenar nya mau cepat sampai di rumah,, tapi,, apa kah mungkin pekerjaan aa' menjadi dinding pemisah di antara kita?" tanya Yussuf yang tanpa di sadari nya kini berhasil membuat Arsen tersenyum tipis bahkan nyaris tak terlihat


"sudah lah a',, neng bilang jangan bercanda berlebihan,," tutur nya berusaha memberikan peringatan dengan lembut, padahal dalam hati merasa malu karena menyadari tatapan kedua saudara nya


"ada kak Nisa sama Arsen juga di sini,," lanjut nya yang merasa tidak ingin Yussuf salah faham


"ooh,, kenapa nggak bilang,, neng malu sama kedua nya ya,, maaf ya,, aa' nggak tahu?" ucap Yussuf


"nggak masalah a',," jawab nya


"neng sudah makan,, nanti malam,, mau aa' bawakan apa?" tanya Yussuf lagi


"terima kasih a',, tapi tidak usah,, tidak apa,, tidak perlu merepot kan aa',," jawab nya


"hmm,, justru aa' akan merasa senang juga jika di repot kan seperti itu neng,, sama istri sendiri nggak akan merasa di repot kan lah,," tutur Yussuf


"nggak usah a',, nggak apa apa,," jawab nya dengan cepat


"apa neng yakin,, neng mau makan sama apa nanti,, bilang saja,, biar aa' beli dan singgah sebentar?" tutur Yussuf lagi


"yakin a',, Bunda seperti nya akan masak banyak,, jadi makan sama yang ada saja,," jawab nya


"hmm,, ya sudah kalau gitu,, aa' tutup dulu ya panggilan nya neng,, mau kerja lagi,, ada beberapa laporan yang harus aa' cek,, aa' kangen sama neng,, tunggu di rumah ya neng,, assalamualaikum?" ucap Yussuf


"iya a',, nanti pulang yang hati hati,, waalaikum salam warahmatullah,," jawab nya seraya memati kan ponsel milik sang adik


"kakak rasa ponsel kamu bukan yang ini kemarin,, kamu ganti ponsel lagi ya?" tanya nya yang baru menyadari sesuatu, membuat Arsen cengengesan sendiri sambil menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal


"hehehe,, iya kak,, aku minta ganti lagi sama Ayah kemarin,, Ayah aku baik hati si,, jadi satu kali minta langsung saja di beliin,," jawab Arsen dengan tersenyum dan membuat kak Nisa geleng geleng kepala yang menyaksikan nya


"Ayah kita sudah pasti baik hati,, ini kamu nya saja yang kebanyakan permintaan,, sudah sedewasa ini masih saja minta sama Ayah,," gurau nya dengan nada mengejek


"yee,, kakak iri saja sama aku karena kakak sudah menikah jadi nggak bisa minta sama Ayah lagi,, lagi pula,, aku senang kok,, Ayah nya juga nggak merasa keberatan sama sikap aku yang seperti itu" jawab Arsen yang tak ingin kalah


"itu karena kamu anak nya,, jadi mau apa pun di beli kan,, lagi pula kamu sudah punya usaha sendiri dan penghasilan sendiri,, kenapa masih minta sama Ayah,, dan lagi,, di saat Ayah meminta mu untuk ikut serta dalam usaha perkantoran sama kak Ahkam kenapa kamu menolak nya si?" tanya nya


"gimana ya kak,, aku nggak minat saja sama pekerjaan kantoran,, masa atlet kayak aku harus kerja di perusahaan si,, yang ada baju nya nggak ada yang muat di tubuh ku,, secara kan,, otot ku ini mulai membesar juga,, karena aku sering gym,, dan apa kah kakak tahu,, kata nya Ayah mau renovasi kamar aku,, jadi di dalam nya ada ruang olah raga juga nanti nya,," seru Arsen dengan semangat


"sudah sudah,, kita lanjut lagi main nya,, sekarang biar kakak yang putar botol nya,," lerai kak Nisa seraya memegang ujung botol yang kemudian di putar kan nya


di putaran botol ke tiga,, ujung botol tersebut berhenti tepat ke arah nya, mengharuskan nya mengalah dan menerima apa yang di pilih nya


"nah,, seru nih,, kali ini,, mau kakak atau aku yang membuat tak tik sama kak Liza kak?" tanya Arsen seraya menoleh ke arah kak Nisa, mengusap usap kedua telapak tangan nya di sertai dengan seringaian tipis ke arah nya,, seolah mempunyai dendam terpendam pada kakak nya satu ini


"hhh,, kamu saja,, kakak nggak punya pertanyaan atau bahkan tantangan buat kakak kamu,," jawab kak Nisa yang semakin membuat senyuman Arsen merekah


"baiklah kak,, ekhemmm,, kata kan kak,, kakak pilih truth or dare,, jangan lama lama,," tutur Arsen yang sudah terlihat tidak sabaran


"ih apaan sih,, kamu sedikit sabar kenapa,, kakak pilih truth dulu saja,," jawab nya dengan tenang


"oke,, aku mau tanya nih sama kakak,, kata kan yang sejujur nya,, tangan kanan nya jangan lupa letakkan di shocking lie detector,," tutur Arsen dan di turuti juga oleh nya


"hmm,, pertanyaan apa?" tanya nya dengan dingin


"jangan dingin dingin gitu dong kak,, oke,, huuh,, aku harap kakak akan menjawab nya dengan jujur,, jadi kata kan,, apa kah kakak sudah mencintai kak Yussuf sekarang?" tanya Arsen yang berhasil membuat nya terdiam tiba tiba


mendengar pertanyaan seperti itu,, sebenar nya hal itu juga yang selalu menghantui nya selama ini,, diri nya pun bahkan tidak tahu,, mengapa diri nya merasa jika diri nya sendiri cukup sulit untuk sekedar mempunyai rasa suka itu terhadap suami nya


"belum,," hingga jawaban yang berusaha Arsen hindari pun kini di dengar juga, dan berhasil membuat kedua orang yang mendengar jawaban yang di lontar kan nya mengerut kan kening masing masing heran


tidak ada reaksi apa apa dari shocking lie detector ini,, pertanda diri nya memang berkata dengan jujur


"lho,, kenapa kakak masih belum mencintai kak Yussuf,, bukan kah selama ini kalian berdua sudah cukup lama menghabis kan waktu berdua ya?" tanya Arsen yang membuat nya menghela nafas panjang


"hhhhh,,,,, kamu pikir gini deh,, orang orang mana yang dapat dengan mudah mencintai orang asing bagi diri nya sendiri,, atau kakak yang balik bertanya sama kamu,, apa yang akan kamu lakukan jika seandainya ada perempuan yang datang dengan tiba tiba ke dalam kehidupan kamu sementara kamu tidak mengenali nya?" jelas nya yang membuat Arsen mengerti


"iya tapi kan ini beda kak,, bukan kah kakak sudah menikah yang arti nya sudah berstatus halal dengan kak Yussuf,, mengapa kakak begitu sulit dengan hal ini?" tanya Arsen lagi


"memang sudah halal,, tapi kakak sama kakak ipar kamu belum saling mengenal dengan jauh,, mungkin itu alasan nya,," jawab nya


"tapi,,," tutur Arsen yang di cegah oleh kak Nisa


"sudah lah,, dia sudah mau berkata dengan jujur saja itu sudah bagus,, kita tidak perlu mencampuri lebih dalam lagi,," tutur kak Nisa


"tapi,, kakak dapat menerima nya dengan baik bukan?" tanya Arsen lagi yang merasa kurang puas dengan apa yang menjadi jawaban nya sebelum nya


"ya,, kakak dapat menerima kehadiran nya dengan baik,, bukti nya kakak tidak akan se sopan itu berbicara lewat panggilan tadi" jawab nya yang membuat Arsen tersenyum tipis lagi dan lagi


"hmm,, tapi kak,, suami sendiri mau nya manjaan tuh kayak nya meski hanya lewat panggilan,, kenapa nggak kakak ladenin saja dulu,, tinggal ganti pulsa kan beres?" tanya Arsen dengan nada yang menggoda, membuat nya terkejut dan sontak saja memandangi wajah sang adik sekilas


"manjaan gimana kakak nggak ngerti?" tanya nya yang kembali menunduk


"bukan kah kakak dapat mendengar nya sendiri,, jelas jelas kak Yussuf bertanya kakak kangen nggak sama dia,, tapi kakak nya malah berpaling,, kayak nggak minat begitu,," goda Arsen lagi


"dia bilang apa saja dek sama kamu?" kali ini, kak Nisa yang angkat bicara karena ikut merasa penasaran juga


"bukan apa apa kak,, hanya masalah kecil,," jawab nya yang masih saja melihat senyuman menggoda dari Arsen


"kamu menguping ya,, nggak usah di bahas,," putus nya dengan tatapan tajam


"bukan kok,, jelas jelas aku duduk samping kakak,, tapi masih tetap terdengar meski pun aku nggak berniat menguping" jawab Arsen


"sudah sudah,, kita lanjut lagi main nya,, sekarang kakak yang akan memutar botol nya" tutur kak Nisa yang lagi lagi berusaha melerai kedua nya dan berhasil membuat kedua nya terdiam


"huuh,, senjata makan tuan,, siapa yang akan membuat tantangan sama kakak?" ujar kak Nisa dengan mendengus kesal, di kala tutup botol mengarah tepat ke arah kak Nisa sendiri,, membuat kedua nya yang melihat pun terkekeh dalam diam


"memang nya kakak pilih dare sekarang?" tanya Arsen dengan bingung


"hhh,,, boleh saja,," jawab kak Nisa


"oke,, aku akan memberi tantangan untuk kakak sekarang juga" jawab Arsen


"kak,, malam ini,, kakak layani Ayah di acara makan malam ya kak,, sampai selesai,, nggak ada penolakan pokok nya,," imbuh Arsen yang membuat kak Nisa mendengus sebal


"hanya Ayah kan,, oke,, akan kakak layani,, tapi jika Bunda marah,, itu akan menjadi urusan kamu sendiri,, kakak nggak ikut campur,," jawab kak Nisa yang membuat Arsen mengangguk


"beres kak,," jawab Arsen yang mengacungi dua jari jempol ke arah kak Nisa


_Assalamualaikum Zahra_


Rabu, 13 September 2023