Assalamualaikum Zahra

Assalamualaikum Zahra
Assalamualaikum Zahra



..._Assalamualaikum Zahra_ ...


..._Ketika Rindu Bersenandung_ ...


..."ku tulis nama mu di atas air, agar saat aku menulis nya, nama mu pun hilang dan berakhir, persis juga yang ku harap pada takdir, namun seperti nya hal itu tak berhasil" ...


..._Arsen Deandra Al Hanand_ ...


siang ini, terlihat dua orang pria lajang yang tengah beranjak dewasa sedang terduduk di balkon kamar salah satu di antara kedua nya


"akh iya Sen, untuk latihan TNI nanti, kita berangkat pukul berapa ke gym?" tanya Alfi yang mulai memandang sahabat nya itu


yaah, Arsen dan Alfi yang tengah duduk di kursi balkon kamar Alfi, sahabat nya sendiri, sambil mengerjakan tugas


namun yang di tanya hanya lah terlihat termenung saja dan sedikit melamun,,


"Sen, kamu kenapa?" tanya Alfi yang mulai memandang sahabat nya itu dan tangan yang menepuk pelan pundak Arsen


"akh,, astaghfirullah,, maaf Fi, tadi kamu tanya apa, bisa kamu ulangi lagi pertanyaan mu?" tanya Arsen yang mulai tersadar dari lamunan nya


"hhh, kamu yang kenapa Sen, kamu kenapa sih dari tadi, aku ajak ngobrol kamu malah melamun, aku tanya kamu malah bertanya balik, kenapa, apa kamu sedang sakit, atau, apa kamu sedang menghadapi masalah?" tanya Alfi dengan sedikit khawatir


"akh,,, nggak kok Fi, aku baik kok" jawab Arsen dengan sedikit ragu, pasal nya Arsen tidak pernah menyembunyikan sedikit masalah pun dari sahabat nya satu ini


"aku kasih tahu kamu, jangan mencoba untuk membohongi aku Arsen, kita sudah jadi sahabat lama jika kamu lupa, bahkan dari kita sekolah dasar pun kita sudah di takdir kan untuk menjadi sahabat" ucap Alfi yang membuat nya bingung


"ma,, maksud kamu?" tanya nya dengan penuh perasaan ragu dalam hati nya


"kita itu sudah berteman sejak lama, jadi aku tahu, jika sahabat aku ini sedang ada masalah atau enggak, aku memang nggak tahu kamu sedang menghadapi masalah sebesar apa Sen, tapi,, satu yang hanya bisa aku katakan sama kamu, jangan pernah ragu untuk berbagi cerita sama aku, siapa tahu, aku punya solusi untuk masalah yang sedang kamu hadapi itu" tutur Alfi seraya tersenyum


"hhh,, Ayah Bunda jodoh kan kakak aku Alfi" ucap nya singkat dengan membuang pandangan nya lebih memilih memandangi pemandangan di hadapan nya


"kakak kamu, kak Izza maksud kamu?" tanya Alfi yang sedikit terkejut dan membuat nya mengangguk kan kepala nya


"tapi,, sama siapa Sen?" tanya Alfi yang masih merasa ragu akan apa yang sahabat nya ini katakan


"akh,, apakah kamu masih mengingat kak Yussuf, orang yang pernah mengajarkan dan membantu kita mengerjakan tugas dulu?" tanya nya yang beralih memandangi Alfi dengan intens


mendengar hal itu, sontak saja membuat Alfi yang mendengar nya berusaha mengingat apa yang tengah di lakukan nya di masa lalu nya bersama sahabat nya ini, dan hingga pada akhirnya,,,


"yaah, kini aku dapat mengingat nya sekarang, tapi,, bukan kah dia tipikal kakak idaman bagi kamu, harus nya kamu senang dong mendengar jika kakak kamu akan menikah sama kak Yussuf itu, tapi kenapa, kok kamu kayak yang sedih gitu mendengar berita baik ini?" ujar Alfi yang kini sudah mengetahui keinginan nya, namun entah mengapa demikian


"hhh,, Alfi,, jika aku boleh jujur, di satu sisi aku cukup merasa senang, bahkan begitu senang, dengan perjodohan ini, karena aku cukup menyukai kak Yussuf sebagai kakak aku, namun di sisi lain, aku juga merasa sedih, karena kak Izza, dia lebih terlihat sering bersedih dan murung, dengan perjodohan ini, bukan karena apa, pasal nya kakak aku itu belum pernah bertemu atau bahkan mengenal kak Yussuf secara langsung Fi, dia hanya pernah mendengar nama nya saja, dan ini yang membuat aku takut dan sedih, aku nggak mau memaksakan kehendak ku, dengan berbahagia di atas penderitaan kakak aku sendiri, aku nggak mau egois, sekali pun aku merasa begitu senang, tapi aku nggak mau melihat kakak aku selalu sedih dan murung" jelas nya dengan kepala yang tertunduk meski dengan perlahan


"kakak aku terlihat rapuh Fi, rasa nya aku nggak sanggup lagi melihat nya di kala melihat nya yang selalu seperti itu, aku merasa semakin iba dan bersalah, atas apa yang Ayah dan Bunda lakukan" lanjut nya dengan masih kepala yang menunduk dalam


melihat kesedihan dan bahkan bisa merasakan apa yang sahabat nya ini rasa kan, membuat Alfi merasa ikut tiba, apalagi Arsen yang sejak tadi selalu tak bersemangat akhir akhir ini


dengan perlahan, Alfi pun mulai menepuk bahu nya dengan lembut


"hhh,, yaah, kini aku mengetahui apa yang kamu rasa kan Sen, bahkan aku juga cukup tahu, kak Yussuf itu orang yang baik, bahkan begitu baik, dia bahkan guru private kakak aku dulu, waktu kakak aku mau ikut lomba murrotal, kak Yussuf lah yang membantu kak lili" tutur Alfi berusaha menenang kan


Tok tok tok,, "apa kakak boleh masuk, apa kakak mengganggu waktu kalian?" tanya seorang wanita ber niqab yang tak lain adalah Lia, kakak dari Alfi, begitu juga sahabat nya


kehadiran Lia kini berhasil membuat kedua nya terkejut, namun kemudian, kedua nya terlihat mengangguk dengan ramah


"ada apa ini, kenapa wajah kalian terlihat murung, apa kalian sedang bertengkar?" tanya kak Lia saat sudah mendudukkan diri nya di kursi samping Alfi dengan menatap kedua nya


mendengar hal itu, sontak saja kedua nya menggeleng dengan cepat, mana mungkin kita bertengkar, pikir kedua nya


"lalu ada apa, apa salah satu di antara kalian ada yang sedang mendapat kan masalah?" tebak kak Lia lagi yang meleset


"bukan kak, bukan kami, maksud nya sahabat aku yang lagi dapat masalah, ehm,, lebih tepat nya lagi sahabat kakak yang sedang mendapat kan masalah" jawab Alfi dengan menatap sendu Arsen dari samping


"Sen, mending kamu saja deh, yang menjelaskan, aku sedikit sulit, mulut aku rasa nya kelu untuk membicara kan hal ini" ucap Alfi yang mendapat persetujuan langsung dari nya


"coba katakan, ada apa Arsen, nggak biasa nya lho kamu murung seperti ini, siapa tahu, kakak bisa membantu mu?" tutur kak Lia dengan lembut


"hhh,,, Ayah Bunda jodoh kan kakak aku kak" jawab nya dengan mulai menghampiri Lia dengan langkah pelan dan duduk di samping Lia


"si,, siapa,, bukan kah kakak kamu itu sudah menikah ya, ini bagaimana sebenar nya?" tanya kak Lia yang memang tak kalah terkejut


"hhh,,, siapa lagi jika bukan kak Izza, aku hanya mempunyai dua kakak jika kak lili lupa, yang sudah menikah itu kakak sulung aku, dan sekarang kak Izza yang Ayah Bunda jodoh kan" tutur nya dengan tatapan sendu nya


"hh,, iya tapi sama siapa Sen?" tanya kak Lia lagi dengan hembusan nafas nya


"kak Yussuf" jawab nya singkat, padat dan jelas, namun bisa di pahami oleh kak Lia


"Yussuf,, bukan kah itu adalah guru private nya kakak waktu latihan murottal dulu, Yussuf Ammar Abqari kan?" tanya kak Lia memastikan yang membuat nya mengangguk membenar kan


"kak lili mengenal kak Yussuf?" tanya nya dengan rasa kebingungan


mendengar hal itu, kini membuat kak Lia mengangguk ramah sambil tersenyum tipis di balik niqab yang tengah di kenakan nya


"akh,, dunia ternyata memang sempit ya, kakak cukup mengenali nya dengan baik, karena dia yang menjadi pengajar kakak sehingga kakak bisa meraih juara kedua dulu waktu di tsanawiyah" jawab kak Lia


"menurut kakak dia bagaimana orang nya, apa menurut kakak dia cocok untuk kakak aku?" tanya nya dengan tidak di jauhi oleh perasaan ragu ragu


"hmm,, yaah,, dia cocok dan bahkan seperti nya akan sangat sangat cocok jika di persatukan dengan kakak kamu yang pemalu itu, namun,, kenapa kamu terlihat sedih begitu, bukan kah kalian juga sudah saling mengenal ya, Alfi yang cerita sama kakak?" tanya kak Lia pada akhir nya


"yaah, aku cukup merasa senang di kala mendengar kabar baik ini kak, karena aku dan kak Yussuf sudah saling mengenal sejak dulu, namun selain itu, aku juga nggak harus egois, karena hal ini seperti nya berat untuk kakak aku, yang semata mata, tidak pernah kenal dekat dengan yang nama nya laki laki, bahkan kakak aku pun belum pernah mengenali nya sama sekali, aku tahu ini mungkin cukup sulit untuk kakak aku hadapi kak, lantas aku harus bagaimana?" jelas nya mulai menundukkan kepala nya lagi dengan perlahan


mendengar hal itu kini membuat Lia berhasil menghela nafas panjang, sebagai sahabat dari kakak sahabat adik nya ini, Lia juga merasa sedikit tiba di kala mendengar nya


"hmm,,, yaah,, kakak mengetahui nya Sen, kakak tahu persis bagaimana sifat dan perwatakan sahabat kakak itu, dia yang selalu menutup diri nya dengan sempurna, dan dia juga sangat pemalu dalam tampil di hadapan banyak orang, namun dia cukup berprestasi, itu lah yang membuat nya berbeda di kalangan masyarakat luar,," ucap kak Lia mulai menasehati dan terhenti sebentar "namun kamu jangan takut dan mengkhawatir kan hal ini Sen, karena di satu sisi kakak cukup mengetahui persis apa yang ada dalam diri kakak kamu, kepribadian nya, kemurahan hati nya, juga akhlak mulia yang tertanam sejak kecil pada diri kakak kamu itu, namun di sisi lain kakak juga tahu, kak Yussuf, itu yang kamu takut kan bukan, namun kamu jangan khawatir, dia juga mempunyai kepribadian yang tak kalah lembut dari kakak kamu, dia tidak akan pernah bersikap kasar, dia adalah laki laki yang baik, dan pengertian, yaah, memang sih, dia itu selalu terlihat dingin di depan banyak orang, tetapi jika sama kakak dia selalu terlihat ramah, apa lagi jika sedang mengajar dan membimbing kakak, bimbing kakak sampai meraih juara kedua saja dia bisa, masa bimbing kakak kamu di kala meraih syurga nya Allah nggak bisa sih?" lanjut kak Lia dengan mengelus lembut punggung nya


mendengar lanjutan dari sahabat sang kakak yang perlahan memang bisa sedikit menenangkan hati nya, kini membuat nya menoleh dan tersenyum hangat


"makasih ya kak, sekarang aku paham, aku harus bagaimana, aku tahu, sekarang kakak aku sudah dewasa, dia pasti mempunyai pemikiran yang positif, setidak nya pikiran aku tidak terlalu se kacau tadi?" ucap nya yang memang sudah mengerti jalan pikiran dari sahabat kakak nya ini


yaah, selain tampan, kelebihan nya juga cepat dalam memahami pembicaraan seseorang, entah itu tentang pendidikan, kepribadian atau hal yang lain nya


...°°°...


waktu terus berjalan, hingga sore hari pun tiba, kini hanya menyisakan Arsen dan Alfi, di balkon kamar ini


"Fi, aku mau minta maaf sama kamu, maaf kan aku ya?" ucap nya tiba tiba dengan pandangan yang lurus ke depan


"maaf, maaf untuk apa Sen?" jawab Alfi dengan kening yang berhasil mengerut hingga terlihat lipatan nya


"hhh,,, sebenar nya aku pernah merasa iri sama kamu" jawab nya dengan penuh misterius


"astaghfirullah,, iri,, kenapa kamu pernah merasa iri sama aku Sen?" jawab Alfi di akhiri dengan pertanyaan juga


"hh,, aku cukup merasa iri sama kamu Fi, kamu yang di perboleh kan membawa teman perempuan ke rumah, meski hanya sebatas teman, kak lili yang juga di perboleh kan memilih pasangan hidup untuk di jalani nya bersama, tapi Ayah kamu terlihat ramah dan baik, sedang kan aku, kakak sulung aku menikah atas dasar perjodohan, bahkan kakak kedua aku juga seperti itu, lantas apa aku juga tidak akan menghadapi perjodohan seperti hal nya yang kedua kakak aku alami, cepat atau lambat aku juga pasti akan mengalami hal itu" tutur nya dengan menunduk kan kepala nya


"hhh,, Arsen Arsen,, sebagai manusia biasa kita memang selalu berpikiran positif ya dengan cara hidup orang lain, padahal sekarang, aku yang selalu berpikir baik tentang keluarga kamu, yaah, mungkin kamu memang benar, Ayah aku selalu menerima siapa pun yang menjadi teman aku entah itu laki laki atau bahkan perempuan yang aku bawa ke rumah untuk sekedar mengerjakan tugas, kak Lia yang selalu di perboleh kan Ayah memilih laki laki yang cocok untuk bisa mempersunting nya, namun semua itu berbeda Arsen, aku di perboleh kan mungkin aku di beri kan kebebasan dalam hal yang berbau privasi aku sendiri, tapi di sisi lain aku juga merasa iri juga sama kamu, kamu yang bisa kumpul bareng keluarga, kamu yang bisa bercanda ria bercengkrama bersama keluarga besar kamu, selama ini aku nggak pernah merasakan hal sehangat itu dari keluarga ku sendiri, Ayah dan kak Adhil yang memang mempunyai kesibukan di kantor, kak Rara yang mulai sibuk dengan butik nya, kak Lia yang juga mulai sibuk dengan perkembangan karir nya di dunia per novel an, kamu juga tahu kan kedua kakak aku yang sudah menikah, kedua nya adalah dokter, sesama dokter pasti akan sangat sibuk di rumah sakit, bahkan Mama aku sendiri, beliau sibuk di toko kue nya, cabang nya juga mulai bertambah, setiap hari aku berangkat pagi pulang petang, hanya bisa bertemu di ruang makan saja, meski pun aku pulang di siang hari mereka semua selalu sibuk di atas sibuk nya masing masing, aku nggak bisa berkumpul dengan keluarga aku selain ada acara tertentu, jika ada acara penting, itu pun hanya sebentar" penjelasan Alfi ini terhenti seketika "mungkin kamu benar, kak lili bisa memilih kak Radit untuk menjadi calon suami nya, dan di beri sedikit kebebasan, untuk menjalin hubungan dengan seseorang, tapi kita nggak tahu bagaimana rasa nya di tuduh oleh orang yang kita sayang, melakukan hal yang bahkan kita sendiri enggan untuk melakukan nya, kita nggak akan tahu rasa nya kayak gimana Sen" lanjut Alfi


"maksud kamu gimana?" pertanyaan nya masih dalam keadaan kebingungan


"yaah,, dulu kak lili pernah mengalami hal yang mungkin nggak pernah kita alami sekarang, di tuduh secara terang terangan berpacaran dengan seseorang, padahal Ayah waktu itu tahu, jika kak lili itu sedang menaati perintah dari Mama dan Ayah sendiri untuk menjaga diri dari siapa pun yang mencoba mendekati nya, sampai sini apa kamu bisa bayang kan, seberapa besar rasa sakit nya hati kak Lili, di kala Ayah menuduh nya yang tidak tidak tentang nya?" ujar Alfi yang berhasil membuat nya tertohok


_**Assalamualaikum Zahra_


Selasa, 1 Agustus 2023**