Assalamualaikum Zahra

Assalamualaikum Zahra
Assalamualaikum Zahra



..._Assalamualaikum Zahra_ ...


..._Pemerhati Ada Di Sini_ ...


..."perpisahan tidak pernah mudah, tapi bagaimana pun, harus tetap menguatkan hati, dan mengantar yang pergi, dengan senyuman dan do'a" ...


..._Khaliza Sulistya Az Zahra_ ...


dengan langkah yang gontai dan hati yang merasa ragu, diri nya pun mulai melangkah, menarik koper merah maroon berukuran sedang itu memasuki rumah sederhana minimalis dua tingkat ini


diri nya terus melangkah dengan menunduk, bahkan saat ini, saking malu nya diri nya mengucap kan salam dengan bergumam yang malah terdengar lembut, namun yang nyaris tak terdengar saat melewati pintu masuk


"waalaikum salam warahmatullah, lho Bund, kata nya Bunda sama Ayah mau jemput Izza, sekarang di mana dia, kok kakak nggak lihat?" akh,, kak Nisa, diri nya bahkan masih sangat mengenali sang kakak sulung nya itu yang bertutur kata lembut sambil menyalami tangan kedua orang tua nya bergantian, di ikuti dengan sosok laki laki bertubuh tegap yang tak lain adalah kak Ahkam, sosok yang sudah menjadi suami sang kakak sekarang, kedua nya keluar dari kamar lantai bawah yang berdampingan langsung dengan pintu utama


"assalamualaikum kak Nisa?" ucap nya sambil menyalami tangan sang kakak membuat sang kakak bingung di buat nya


"assalamualaikum kak,," ucapan nya yang menggantung lupa dengan nama sosok pasangan dari sang kakak


"kak Ahkam Izza, waalaikum salam warahmatullah" potong kak Ahkam ramah sambil tersenyum kala melihat nya menyatukan kedua tangan nya di depan dada nya 'bersalaman tanpa berjabat'


kembali pada kak Nisa


"waalaikum salam warahmatullah, kamu,,?" tanya sang kakak dengan kening yang mengerut


"hmm, ini Izza kita kak, anak gadis kedua di kediaman Al Hanand" jawab Bunda yang menyentuh kedua pundak nya dengan kedua tanganvnya sambil tersenyum hangat


mendengar hal itu, kini berhasil membuat sang kakak sulung benar benar terkejut dengan apa yang di ketahui nya, sang adik yang selama ini di rindukan nya kini sudah berdiri tegak di hadapan nya dengan penampilan yang sudah berubah drastis


"masya Allah,,, Bund, Yah, apa ini benar benar Izza, Khaliza Sulistya Az Zahra si gadis dan sekaligus adik kesayangan nya aku?" seru kak Nisa meminta kebenaran dengan memandangi wajah kedua orang tua yang memang di angguki langsung oleh kedua nya


"waalaikum salam warahmatullah sayang, bagaimana kabar kamu, apa kah kamu merasa nyaman di Tangerang Za, kakak benar benar merindukan kamu, akhir nya Allah kembali mengizinkan kita untuk bertemu setelah 10 tahun lama nya kita berpisah" ujar sang kakak dengan bersemangat kemudian berhambur ke dalam pelukan nya yang juga di balas dan di sambut dengan pelukan hangat nya


"hmm, alhamdulillaah kak, sama seperti apa yang sedang kakak lihat hari ini, aku baik baik saja, kakak sendiri bagaimana, oh iya, aku dengar, kakak hamil, semoga selalu sehat dan di beri kelancaran sampai persalinan nanti ya kak, aku ikut senang mendengar nya?" tutur nya lembut sambil mengusap punggung sang kakak dan tersenyum meski pun tidak di lihat oleh sang kakak sendiri


"syukur lah Za, kakak juga baik, kakak senang mendengar nya, kamu banyak perubahan tahu nggak, hmm iya,, alhamdulillaah,, Allah memberi kepercayaan kepada kakak dan kak Ahkam,, untuk segera memiliki keturunan,, ini kamu banyak perubahan tahu nggak?" ujar sang kakak sambil mulai melepas kan pelukan kedua nya


di tengah percakapan melepas kerinduan nya dengan sang kakak, tanpa di sadari oleh nya sendiri, kini seorang laki laki lajang tengah berdiri tegap di ambang pintu kamar lantai dua dengan memandangi wajah nya dengan tatapan yang sulit di arti kan


diri nya pun tersadar dan menoleh


'akh,, bukan kah itu Arsen, adik yang selama ini selalu menghubungi ku di Tangerang, tapi mana mungkin, terakhir kali aku bertemu dengan nya tubuh nya tidak sebesar dan setinggi itu' batin nya dalam hati


dengan perlahan, sosok laki laki tersebut pun mulai mengayun kan kedua kaki nya ke arah nya, tanpa melihat jalan, pandangan nya pun terkunci hanya ke arah nya saja, hingga,,,


"assalamualaikum, apa kah kamu Arsen, adik laki laki yang pernah kakak tinggal kan selama 10 tahun silam?" sapa nya ramah dengan terus tersenyum hangat ke arah sang adik


"waalaikum salam, begitu lah" jawab Arsen dengan singkat sambil membuang pandangan nya ke arah lain


"kamu kah Arsen, adik kakak yang merasa sedih dengan perpisahan 10 tahun yang lalu?" tanya nya dengan penuh haru, dengan mata yang sudah berkaca kaca karena mengapa demikian adik nya menjadi dingin terhadap nya seperti ini


"mungkin seperti itu" jawab Arsen yang beralih melipat kedua tangan nya di depan dada bidang nya


"kenapa kamu seolah menghindar dari kakak Sen, kenapa sikap mu berbeda jauh dengan Arsen yang kakak kenali dulu?" tanya nya masih dengan keadaan bingung


"hhh,, sudah lah kak, aku rasa tanpa aku menjawab nya pun kakak sudah mengetahui nya, untuk apa juga kakak pulang ke rumah, buang buang waktu saja‽" ujar Arsen sambil berlalu pergi tanpa pamit, dan berhasil membuat nya tercekat, semarah itu kah adik nya? pikir nya


mendapati hal itu, kini berhasil membuat Ayah geram dengan seketika "ARSEN, JAGA BICARA KAMU SAMA KAKAK KAMU, AYAH TIDAK PERNAH MENGAJARKAN HAL INI SAMA KAMU!!" teriak Ayah dengan wajah yang sudah memerah menahan amarah


mengetahui sang Ayah tengah di landa emosi, kini membuat nya memegang tangan kiri sang Ayah dengan lembut, "sudah Yah, tidak apa apa, jangan dibperpanjang, mungkin dia memang butuh waktu untuk sendiri" tutur nya dengan lembut, membuat Ayah perlahan mengembang kan senyum hangat ke arah nya


"rupa nya tidak ada perubahan dari diri putri kedua Ayah ini, tapi kakak jangan terlalu memanjakan nya nak, sesekali dia harus di tegur, biar dia juga tahu" tutur sang Ayah dengan memandangi nya


"hmm, yaah, apa yang Ayah kata kan benar juga, harus nya dia tahu, jika kakak nya ini begitu merindukan nya dan butuh waktu berdua dengan nya, tapi Yah, biar lah dia merenungkan nya sendiri, dia hanya butuh waktu, kakak paham kok, kakak nggak mau paksa kan dia" tutur nya yang membuat Bunda mengembangkan senyuman hangat juga ke arah nya


"hmm, bukan hanya tidak ada perubahan saja yang masih sama, tapi Bunda juga melihat kamu masih mengerti dan semakin mengerti dengan adik bontot kamu itu sayang" tutur Bunda


"hmm,, Bunda bisa saja" jawabvnya yang tersipu malu sambil menunduk dalam


"nggak akan merasa pegel lah Bund, gadis kita ini juara taekwondo jika Bunda lupa, masa kalah kan beberapa orang laki laki dengan tangan kosong kuat berdiri beberapa menit saja nggak kuat sih?" goda sang Ayah yang membuat nya semakin malu dan tertunduk dalam


"hmm, Ayah, jangan buat kakak malu" tutur nya seraya menaut kan kedua jari telunjuk nya terlihat gugup


"apa, adik kakak juara taekwondo Yah, kok kakak nggak tahu?" ujar kak Nisa yang merasa bingung


"xixi,, biar soal itu kakak tanya kan saja pada adik kakak ini langsung, Ayah nggak tahu menahu perihal itu" jawab sang Ayah mengangkat kedua tangan nya dan berlalu menghampiri Bunda yang sudah duduk di sofa


"dek, apa yang di kata kan Ayah benar atau salah, kok kakak nggak tahu?" tanya sang kakak memandangi nya dengan intens


"hmm,, nanti saja ya kak, aku sedikit pusing ini?" jawab nya dengan terkekeh kecil


"emm, pokok nya kamu banyak tungga kan cerita sama kakak, harus cerita pokok nya, kapan pun kakak akan selalu menagih nya" jawab sang kakak sambil berlalu pergi menghampiri Ayah dan Bunda juga dengan di ikuti oleh kak Ahkam


diri nya yang tersisa sendiri pun kini menyapukan pandangan nya ke sekeliling ruangan ini, masih terlihat sama, bersih, nyaman, rapi, dan terutama, banyak kenangan yang terselip di sepanjang benda yang di lewati nya


hingga diri nya pun duduk di sofa samping sosok Bunda tersayang


"kakak nggak istirahat dulu sayang, kakak capek, harus istirahat yang cukup, karena perjalanan panjang kakak dari kemarin?" tutur Bunda dengan lembut sambil menyentuh tangan kanan nya


"Za, gimana, apa kamu nyaman tinggal di asrama Tangerang itu?" tanya kak Nisa yang memecah keheningan siang ini


"alhamdulillaah kak, Allah berikan aku kemudahan dalam menjalani kehidupan ku di asrama sana" jawab nya sambil tersenyum dan memandangi kak Nisa di sebrang nya


"akh iya nak, kakak simpan nomor ponsel Bunda ya, agar Bunda mudah menghubungi kakak?" tutur Bunda dengan bersemangat


"hmm, iya Bund, tapi, aku email Bunda saja deh, soal nya takut nggak aktif nanti nya?" jawab nya yang mendapat persetujuan dari Bunda


"kamu sudah pegang ponsel dek?" tanya kak Nisa dengan kening yang mengerut


"hmm, iya kak, Ayah saran kan aku buat pegang ponsel, mungkin karena sering rindu sama aku, jadi Ayah saran kan, habis itu aku nggak bisa nolak lagi" jawab nya yang berbisik bercanda, namun masih bisa divdengar oleh Ayah yang membuat Ayah tersenyum simpul


"ish, Ayah, Ayah paksa adik aku buat pegang ponsel, padahal Ayah tahu adik aku nggak mau, Ayah ini gimana sih huuh" ujar kak Nisa menghembus kan nafas panjang nya


"xixi, kan kamu sendiri sudah tahu kak, Ayah sering banget rindu berat sama dia, kamu jangan rindu sama Ayah, berat, kamu nggak akan kuat, biar Ayah saja ya Za?" ujar sang Ayah dengan bercanda


"hiss,, gombalan basi ala Dilan itu, kalau mau gombal itu hasil gombalan sendiri, karya sendiri, jangan menirukan Dilan dong" ujar sang kakak dengan mengejek Ayah


"sudah sudah ish,, kalian itu ya, gak ada henti nya, sudah mau ashar nih, kita siap siap shalat berjamaah ya?" lerai Bunda mengingat kan waktu


"hehe, iya Bunda, habis nya anak kamu tuh, ejek Ayah terus dari tadi, bikin ayah gemes tahu nggak" jawab ayah


"anak kita Ayah, lagi pula kalau di pikir pikir dia itu mirip sama Ayah waktu dulu, keras kepala banget, nggak mau kalah, kak Ahkam harus sabar ya dalam menghadapi sikap nya?" tutur Bunda yang di angguki dan di tanggapi dengan senyuman malu oleh kak Ahkam sendiri


"emm,, ya sudah Bund, Yah, kak, aku pamit ke kamar dulu ya, mau beres kan barang barang juga?" pamit nya


"akh, iya sayang, ber istirahat lah yang cukup terlebih dahulu, kakak harus banyak istirahat, nanti Bunda ke kamar" jawab Bunda sebelum akhir nya diri nya melangkah kan kedua kaki nya menaiki anak tangga menuju arah kamar nya


...°°° ...


ketika diri nya masuk ke dalam kamar lama nya itu, diri nya pun mulai mengedar kan pandangan nya untuk melihat seisi kamar yang sudah tidak dibtinggali nya selama bertahun tahun lama nya


tidak ada perubahan pada kamar bernuansa islami ini, lukisan kaligrafi yang pernah di lukis nya dulu pun masih ada dan terpajang dengan rapi, foto foto nya sejak kecil masih tersimpan rapi di atas nakas, akh,, foto saat diri nya mengenakan gamis hijau army nya saat usia nya kurang lebih 4 tahun itu, mengingat kan nya pada masa itu, hingga tanaman mawar yang senantiasa menemani suasana pagi nya ini


semua nya masih terlihat sama, dengan apa yang dulu di lihat nya, semua terlihat rapi, dan juga bersih, mungkin Bunda selalu membersihkan nya kala diri nya tidak tinggal di sini


namun ada yang sedikit mengganjal di hati nya, diri nya masih teringat, akan buku harian yang selalu di bawa nya kemanapun diri nya pergi melangkah, buku yang selalu menjadi penyemangat kala diri nya sedang terpuruk, buku yang selalu menjadi teman cerita nya, akh, buku itu kini hanya tinggal kenangan, entah di mana buku itu berada, diri nya bahkan merasa tidak yakin, jika buku itu ada di kamar asrama nya, karena sebelum nya, diri nya sudah mencari nya saat diri nya berpamitan kepada keluarga di asrama


"huft,, kemana lagi aku harus mencari mu, aku mohon, jangan pergi jauh dari ku, semoga kamu di temukan oleh orang yang berhati baik" gumam nya saat sudah selesai dengan memberes kan barang barang nya


_**Assalamualaikum Zahra_


Jum'at, 28 Juli 2023**