
..._Assalamualaikum Zahra_...
..._Berat Melangkah_...
..."jika kamu kehilangan sesuatu yang tidak pernah kamu duga akan hilang secepat itu, maka suatu saat nanti, Allah akan memberimu sesuatu yang tidak pernah kamu duga pula"...
..._Khaliza Sulistya Az Zahra_...
dengan waktu, tempat dan keadaan yang berbeda, di dalam sebuah ruangan dengan bernuansa biru muda yang di padukan dengan putih itu kini tengah duduk tiga orang perempuan dewasa, dan seorang laki laki, raut wajah nya terlihat begitu serius masing masing
"Kha, kamu yakin, akan ikut pulang ke Jakarta sore nanti dengan kedua orang tua mu?" tanya Lia
yaah, mereka lah yang sedang berkumpul, Alia, Khanaya, juga Alfi yang tengah menyimak dengan serius pembicaraan nya dengan kedua sahabat nya ini
"hmmm, seperti nya seperti itu Li, lagi pula,, aku juga masih harus meminta persetujuan dari keluarga ku perihal kelanjutan pendidikan yang akan ku jalani nanti nya" jawab nya dengan tersenyum meski sedikit terpaksa
"kita akan jauh banget dong Kha,, aku nggak bisa lama lama jauh dari kamu,, gimana dong?" ujar Khanaya dengan lesu
"Nay, dengar kan aku, suatu saat nanti, aku pasti akan ke sini lagi kok, aku akan kunjungi kalian lagi di sini, insya Allah, kamu nggak boleh sedih aku tinggal yah Nay,, lagi pula,, aku hanya sementara di sana, masih ada barang yang aku tinggal kan di pondok, tapi,, aku tidak menemukan buku harian ku di sana" tutur nya yang tiba tiba saja menjadi lesu
"kamu tenang saja yaah, kalau buku itu memang benar benar hilang,, semoga orang baik lah yang menemukan dan menyimpan nya untuk mu" tutur Lia yang mampu membuat nya kembali tersenyum simpul kemudian mengangguk dengan yakin
"yaah, kita nggak akan jumpa lama dong, gimana nih, gimana kalau nanti aku kangen sama kamu Kha?" ujar Khanaya dengan penuh rasa waspada dan kemudian melesu
mendengar sahabat nya berbicara seperti itu, kini berhasil membuat nya tersenyum "kamu tenang saja, Bunda aku sama Tante Hanna itu sebenar nya sahabatan, bukti nya kedua nya cukup akrab waktu bertemu di awal tadi, kalau kamu kangen sama aku, kamu bisa mengunjungi rumah aku di Jakarta yah, akan ku tunggu kedatangan kalian di sana?" tutur nya dengan antusias
"Ya Allah ya Rabb,, saya mohon,, izin kan saya untuk kembali bertemu dan berkumpul bersama kedua sahabat saya ini, saya tidak terbiasa hidup tanpa kedua nya Ya Allah,, allahumma aamiin,," do'a Khanaya di hadapan kedua sahabat nya sekali gus Alfi juga mendengar dan menyaksikan nya, membuat semua nya terkekeh geli, namun di amini juga oleh semua nya
"Allahumma aamiin,, Allah pasti mendengar dan mengabul kan do'a do'a kita kak" tambah Alfi dengan senyum ramah nya
"lho, kamu amini do'a do'a kakak, kamu kenal sama Khaliza, maksud nya, kenal akrab gitu?" tanya Khanaya merasa bingung
"xixi,, ya kenal lah kak, cukup akrab pula, mana ada orang yang nggak akrab sama kakak dari sahabat nya sendiri?" jawab Alfi penuh dengan teka teki
"bentar kakak pikir kan dulu, maksud kamu ini gimana sih, kakak nggak paham?" tanya Khanaya kembali
"xixi, jadi gini lho kak, aku itu sahabatan sama adik nya kak Khaliza ini, dia juga punya tujuan yang sama sama aku, jadi TNI internasional, jadi kita akrab dong, eh, kakak tahu nggak kak, Arsen, dia itu suka ngeluh tahu kak, sama aku, sampai sampai aku sudah merasa bosan mendengar ocehan nya itu lho" ujar Alfi yang beralih pada nya
"naksud kamu,, dia ngoceh gimana?" tanya nya sambil memandangi wajah Alfi
"iya ngoceh saja, jadi gini, kata nya gini, Fi, kapan ya aku bisa ketemu dan kumpul bersama lagi bareng sama kakak kedua aku, dia apa kabar di sana, kata nya gitu kak, tolong sampai kan sama kakak aku ya kalau kamu mudik nanti, bilang sama dia kalau aku kangen berat sama dia, mau ketemu, kata nya gitu kak" jelas Alfi dengan tersenyum
"hmmm,, begitu kah, sudah lah Fi, tapi kalau kita ketemu, dia selalu berusaha menjadi sosok yang jahil dan usil sama kakak tau nggak" jawab nya
...°°°...
kini Ayah mengajak nya ke sebuah hotel terlebih dahulu untuk sekedar beristirahat, karena tidak memungkin kan bagi ketiga nya untuk langsung pulang ke rumah di jam seperti ini
ketiga nya tinggal di kamar hotel yang berbeda, tepat nya hanya diri nya, karena kedua orang tua nya tinggal di kamar hotel yang sama, kini di kamar bernuansa putih ini, diri nya tinggal seorang diri, ingatan nya terus berputar saat siang tadi diri nya di hampiri dengan perlahan oleh Rafha, namun kedua tangan nya yang memang memegangi buku yang sudah berisikan nomor ponsel kedua sahabat nya sewaktu waktu kala diri nya ingin menghubungi kedua sahabat nya di kota yang jauh di sana
"akh,, begitu kah, baiklah, sama kamu aja ya, ini buat kamu, selamat atas prestasi belajar kamu selama ini ya?" ucap Rafha menyerah kan sebuket bunga dengan ukuran sedang juga dengan tersenyum ramah
"akh,, maaf Rafha, aku tahu niat mu baik dengan memberi kan hadiah ini untuk ku, tapi,, aku tidak bisa menerima nya, do'a saja sudah cukup membuat ku senang Raf, tapi tidak dengan ini" ujar nya karena teringat pada salah satu sahabat nya
"nggak papa, aku ikhlas dengan ini, terima ya, aku tahu ini tidak seberapa dengan apa yang sudah kamu raih, tapi,, Khaliza, niat ku tulus, jadi mohon di terima, akh iya, aku tidak menerima penolakan" ucap Rafha tersenyum hangat, membuat nya terpaksa menerima pemberian nya
"a,, akh, baiklah, ini aku terima, terima kasih untuk semua nya?" ucap nya menerima pemberian dari teman tsanawiyah nya itu
"hhhhh,,, maaf kan aku Khanaya, ak,, aku nggak ada maksud untuk menyembunyikan ini dari kamu, entah rasa apa yang dia berikan untuk ku, tapi,, aku hanya menganggap nya sebagai rekan satu tim dan teman satu angkatan dengan sekolah lama saja dengan nya, tidak lebih, maaf kan aku Khanaya" gumam nya perlahan sambil terus memandangi buku di kedua tangan nya
yaah, malam ini diri nya terlihat tidak bisa tertidur, hanya karena rasa bersalah yang mungkin membelenggu dalam kalbu, padahal jika kita ada di posisi nya, kita selalu terbiasa saja menyikapi semua nya, namun beda hal nya dengan gadis lugu ini, dia teramat sangat merasa bersalah sekali pun di pikiran nya Khanaya memang tidak mengetahui nya
beberapa menit setelah nya
'entah di mana buku itu berada, aku rasa,, aku tidak lupa menyimpan nya, mungkin kah buku itu benar benar hilang, ke sana ke mari aku mencari nya, tapi juga tidak bisa ku temu kan, apa pun yang terjadi pada buku itu, semoga dia berada di tangan orang yang tepat' batin nya kala di harus kan menyerah begitu saja dalam pencarian nya mengenai buku harian yang di cari nya
...°°°...
pagi hari menyapa, diri nya tidak bisa tertidur semalaman, hingga membuat nya harus terlambat bangun pagi ini, dengan segera, diri nya pun bersiap siap, dan dengan rutinitas pagi nya
hanya membutuh kan waktu beberapa menit, kini diri nya sudah siap dengan gamis biru navy dengan di padukan khimar abu abu nya juga dengan niqab dan manset yang senada
kini ketiga nya memasuki area mall setelah dari penginapan hotel semalam itu, sejujur nya hal ini begitu sangat membuat nya cukup merasa bingung
"Ayah, Bunda, kenapa kita ke sini, untuk apa?" tanya nya saat ketiga nya berjalan di dalam mall ini
"hmmm, anak gadis Bunda ini masih polos saja rupa nya, kita sarapan dulu di sini sebelum melanjutkan perjalanan pulang ya sayang,, nggak masalah kan?" tutur Bunda dengan tersenyum hangat memandangi wajah teduh nya
"tapi kan kita bisa sarapan di hotel penginapan tadi Bund, kenapa,, makanan nya nggak enak ya di sana?" tanya nya dengan ragu namun memilih positif thinking untuk segala hal
"ehm, nggak apa apa sayang, Ayah hanya lagi mau sarapan di ini saja sama kakak, nggak papa kan?" ucapan Ayah ini berhasil membuat nya berhenti bertanya dan memilih untuk menuruti apa yang kedua orang tua nya ini putus kan
hingga tanpa di rasa, ketiga nya tengah duduk di salah satu meja food court makanan khas seafood, kesukaan nya sendiri
_**Assalamualaikum Zahra_
Rabu, 26 Juli 2023**