Assalamualaikum Zahra

Assalamualaikum Zahra
Assalamualaikum Zahra



..._Assalamualaikum Zahra_...


..._Bagaimana Ini Bisa Terjadi_...


..."kesalahan yang paling besar bukan lah kegagalan, tetapi adalah berhenti dan menyerah sebelum merasakan keberhasilan"...


..._Khaliza Sulistya Az Zahra_...


semua sudah membubarkan diri masuk ke dalam kamar masing masing, lebih tepat nya Lia dan Khanaya yang sudah mengikuti kak Rara ke kamar tamu untuk melihat dan mencoba gaun kebaya wisuda yang akan dikenakan di acara besok, kini hanya Khaliza dan Tante Hanna saja yang masih ada di ruang makan ini


"Tante, biar Khaliza bantu cuci piring nya ya?" tutur nya saat sudah sampai di depan wastafel dan tumpukan piring yang di bawa nya


"akh, nggak usah sayang, nggak papa, biar Tante saja yang kerjakan sendiri, kamu sebaik nya susul kak Rara, Khanaya sama Lia saja di kamar tamu, seperti nya mereka sudah menunggu mu" jawab Tante Hanna tidak enak hati sambil menunjuk ke arah pintu kamar tamu di mana kedua sahabat nya berada


"nggak masalah Tante, biar aku saja yang cuci, nanti kita pergi ke sana bersama ya Tan, aku mau minta pendapat Tante perihal gaun yang akan aku pilih?" tutur nya lemah lembut


"tapi apa kamu bisa cuci piring nak?" tanya Tante Hanna yang sedikit merasa ragu


"hmmm,,, Tante tenang saja, insya Allah, aku bisa kok Tan, kalau cuci piring, soal nya di pondok juga di biasa kan seperti itu" jawab nya dengan memulai mengoles kan spons cuci piring


"kamu itu benar benar anak yang berbakat ya sayang, beruntung keluarga mu memiliki putri cantik seperti mu, sudah berprestasi di bidang pendidikan, taekwondo di bidang olah raga, bahkan kamu juga bisa dan terlihat lihai dalam mengerjakan pekerjaan rumah" puji Tante Hanna


"akh, Tante bisa saja, biasa saja kali Tan, Lia juga gitu, dan, alhamdulillaah, Allah titip kan kelebihan seperti ini pada diri aku agar aku bisa menjaga diri ku sendiri" jawab nya yang memang selalu malu kala mendengar seseorang memuji nya


"selain itu kamu juga selalu rendah hati, Lia sangat beruntung mempunyai sahabat seperti kamu di sini" lanjut Tante Hanna


"biasa saja Tante, nggak usah di lebih lebih kan, harus nya aku yang bilang gitu, aku begitu beruntung karena Allah pertemukan aku dengan Lia sehingga mengenal keluarga hangat ini" tutur nya yang memang tengah selesai dengan aktivitas mencuci piring nya


"makasih ya nak, kamu sudah banyak bantu Tante di sini?" ucap Tante Hanna sambil tersenyum ramah ke arah nya


"akh Tante, harus nya aku yang berterima kasih, terima kasih Tante, karena Tante sudah mengizin kan aku untuk menginap di sini barang sehari, itu sudah lebih dari cukup" ujar nya dengan tersenyum


"hmm,,, iya sayang,,, Tante lihat, kamu bisa mencuci piring, apakah kamu juga bisa memasak, atau bahkan,,, bisa mengerjakan pekerjaan rumah yang lain?" tanya Tante Hanna yang merasa sedikit ragu


mendengar pertanyaan itu, kini berhasil membuat senyuman merekah indah dari bibir di balik niqab itu "hmm,, Tante, aku sedikit bisa kalau masak, soal nya dulu sebelum aku berangkat ke pondok, Bunda suka ajar kan aku cara memasak, mungkin yang lain seperti cuci pakaian, sampai gosok pun insya Allah, aku bisa sedikit Tante" jawab nya dengan senyuman tipis khas nya


"masya Allah, Tante kagum sekaligus bangga sama kamu Khaliza, di usia semuda ini kamu hampir bisa kerjakan semua nya sendiri, anak yang mandiri, Lia sudah ada yang pilih sama lingkarkan cincin tunangan nih, kamu kapan mau susul dia?" goda Tante Hanna yang berhasil membuat kedua pipi nya bertemu merah untung saja niqab nya menjadi penghalang, sehingga rona merah itu tidak terlihat


"Tante, jangan buat aku merasa malu deh Tan, nanti deh, kalau boleh jujur, aku mau nya menikmati hidup aku di dunia karir dulu, aku belum bisa buat keluarga aku bahagia dulu Tan, aku masih mau lanjut kan pendidikan aku" tutur nya sedikit menjelas kan


"hmm,,, ya sudah, kalau itu memang mau nya kamu, Tante juga nggak bisa paksakan, tapi kalau seandai nya jodoh sudah di depan mata, kita juga nggak bisa berkutik lagi Khaliza" ucap Tante Hanna dengan penuh misterius


"Maaf Tan, tapi,,, maksud dari pembicaraan Tante apa?" tanya nya dengan kening yang berhasil mengerut


sesampai nya kedua nya di dalam kamar


"emm,,, Kha, ini pilihan nya ada tiga warna, ini ada,,, maroon, hijau army, sama,,, biru navy Kha, kamu pilih yang mana?" tanya Khanaya menunjukkan ketiga kebaya di atas kasur ini


"emm,, boleh nggak, jika aku pilih yang maroon?" jawab nya yang sejak tadi terlihat jatuh cinta pada gaun kebaya modern berwarna maroon itu


"nah, boleh tuh, kalau itu, Tante setuju, mungkin itu akan cocok sama kamu, kalau kalian warna apa Li, Nay?" tanya Tante Hanna yang beralih memandangi Lia dan Khanaya


"aku pilih yang biru navy Ma, kira kira, kebaya ini bagus nggak, kalau aku pakai di acara besok?" tanya Lia meminta persetujuan dari Tante Hanna


"bagus kok ini, orang kamu juga suka sama biru navy kan, agak simpel juga kan kalian pakai baju toga besok, kalau kamu Nay, yang ini?" tanya Tante Hanna sambil melihat kebaya berwarna hijau army


"akh, iya nih Tan, aku yang ini, kira kira, ini akan cocok nggak ya Tan, di tubuh aku?" tanya Khanaya sambil mengukurkan baju nya pada tubuh nya sendiri


"hmm, ini cocok kok, sama kalian, ya Allah,,, kalian itu fashionable banget ya, kok bisa satu ukuran gini sih?" ucap Tante Hanna yang merasa takjub


"ya sudah, sudah malam, sebaik nya kalian segera lah istirahat ya, agar besok lebih fresh lagi buat acara nya, Tante sama kakak tinggal dulu, kakak ikut senang mendengar nya, kalau kalian memang suka rangkaian busana di butik kakak?" tutur kak Rara sebelum meninggal kan kamar tamu ini


"iya, sekali lagi makasih ya kak, buat semua nya?" ucap Khanaya sumringah


"hmmm,,, iya sama sama Nay, ah iya, besok juga bakalan datang orang dari butik kakak buat make up wajah kalian, jangan lupa bangun pagi ya?" ucap kak Rara sebelum akhirnya benar benar menghilang dari balik pintu setelah di angguki ketiga nya


...°°°...


malam ini, kini ketiga sahabat itu sudah ada di kamar Lia, dengan kesibukan masing masing, namun,,,


"Kha,, kamu cari apa, kok kelihatan bingung gitu?" tanya Khanaya mulai merasa heran dengan aktivitas sahabat satu nya ini


"emmm,,, Nay, kamu lihat buku catatan aku nggak, yang berwarna maroon, kok aku cari ke mana mana nggak ada ya?" tanya nya dengan wajah bingung nya


"lho, bukan nya biasa nya kamu simpan baik baik ya, ke mana dong, aku juga nggak lihat tuh, kamu lihat nggak Li?" tanya Khanaya mulai memandang Lia


"emmm,,, enggak tuh, aku juga nggak lihat, buku harian yang selalu kamu tulisi itu ya, yang waktu itu kamu kasih lihat ke aku sama Khanaya?" tanya Lia balik


"iya Li, duuh, kenapa aku bisa saja se ceroboh itu si', di mana ya buku nya, apakah mungkin masih di pondok, nanti aku ambil deh" monolog nya yang kembali duduk di samping kedua sahabat nya


_**Assalamualaikum Zahra_


Jum'at, 21 Juli 2023**