
..._Assalamualaikum Zahra_...
..._Surat Kecil Untuk Tuhan_...
..."duhai pemilik nafas dari orang yang aku cintai, jika memang jodohku bukan sosok yang selama ini aku doakan, maka dekatan lah aku kepada sosok yang juga diam-diam mendoakan ku"...
..._Khaliza Sulistya Az Zahra_...
detik demi detik, waktu demi waktu kini sudah berlalu, hingga malam pun tiba, dengan keadaan Khaliza, akh,, gadis ini masih saja belum juga membuka kedua mata teduh nya, padahal ada seseorang yang sudah halal menunggu nya dengan setia, namun diri nya sendiri pun masih pingsan dan dengan keadaan yang cukup lemah, dengan di temani oleh sosok laki laki yang kini sudah membuat nya halal untuk nya
Yussuf, laki laki ini terlihat duduk di sofa kamar hotel, dengan tatapan terkunci pada wanita nya yang tengah terbaring lemah, dengan tatapan penuh dengan rasa khawatir,,,
'kapan neng akan siuman, terima kasih neng, terima kasih, kini neng sudah menerima perjodohan ini, kini aa' tidak perlu lagi memandangi wajah teduh neng dari kejauhan, meski kini aa' mengetahui, ini berat untuk neng sendiri, tapi terima kasih banyak, neng telah berusaha menerima nya dengan baik,,
terima kasih,, neng sudah menerima semua nya, aa' tidak bisa berjanji, namun aa' akan berkomitmen untuk tidak menyakiti hati neng, terima kasih karena sudah memilih jalan ini dan berusaha membuat dua keluarga kita bahagia?' batin Yussuf yang menatap nya sendu
saat tengah memandangi wajah sang istri, kini perhatian Yussuf pun teralih kan di kala mendapati ponsel di samping nya berdering, Yussuf pun memilih mengangkat nya di kala melihat ID pemanggil dari layar ponsel nya, Yussuf berjalan dengan perlahan menuju balkon kamar hotel dan menempel kan ponsel itu di telinga kanan nya
"assalamualaikum Ayah, ada apa?" tutur Yussuf dengan penuh sopan santun
"waalaikum salam warahmatullah, tidak ada apa apa Yussuf, bagaimana keadaan putri Ayah, apa kah dia sudah siuman?" tanya Ayah yang merasa khawatir
"nggak apa apa Ayah, neng Zahra memang belum siuman sekarang, seperti nya benar benar merasa kecapekan, belum makan juga, namun Ayah tidak usah khawatir, Yussuf akan menemani neng Zahra di sini, apa ada masalah di tempat resepsi Ayah, apa Yussuf harus ke sana?"
"akh,, nggak apa apa nak, kamu tetap lah di sana, jaga anak Ayah, Ayah percaya sama kamu, malam ini sebaik nya kalian menginap di hotel terlebih dahulu, semua Ayah dan Abi yang urus, sehabis ini juga kami semua akan pulang, kamu juga istirahat yang cukup ya?"
"baik Ayah, tapi maaf, aku nggak bisa bantu di tempat resepsi?"
"nggak masalah nak, Ayah mengerti, Ayah menghubungi kamu hanya ingin menyampaikan, jika sebentar lagi Arsen akan ke sana, mengambil jas yang kamu kenakan tadi siang, dan bawa juga baju ganti kamu ya, kamu tinggal tunggu saja di sana?"
"baik Ayah, terima kasih banyak sebelum nya?"
"iya sama sama, ya sudah, Ayah tutup dulu ya, jaga anak Ayah, assalamualaikum?"
"waalaikum salam warahmatullah" jawab Yussuf dan mulai menjauh kan ponsel nya dan hendak kembali menuju kamar
namun melihat sosok di hadapan nya yang kini dengan memegangi kepala nya masih terlihat lemah, berhasil membuat Yussuf sendiri segera menghampiri dan duduk di tepi tempat tidur
"neng sudah siuman?" tanya Yussuf seraya mengambil kan nya segelas air putih di atas meja nakas
melihat hal itu, Khaliza, diri nya pun mengambil nya dan meminum nya dengan perlahan
"terima kasih ustadz?" ucap nya seraya menunduk setelah meminum air nya lewat sedotan dan hanya di tanggapi anggukan kepala oleh Yussuf
"ehm,, bagaimana keadaan neng sekarang, apa kepala neng masih pusing?" tanya Yussuf di kala melihat nya yang merubah posisi tidur nya menjadi bersandar di sandaran tempat tidur
"alhamdulillaah,, sekarang sedikit berkurang rasa pusing nya ustadz" jawab nya
"akh,, begitu kah,, syukur alhamdulillaah,, aa' lega mendengar nya" ucap Yussuf yang ikut merasa senang
melihat kamar yang di dominasi dengan warna putih, tampak begitu elegan dan terkesan mewah, namun aneh nya, kamar ini terlihat begitu asing di mata nya, bahkan ini bukan kamar tempat diri nya di rias pagi tadi
"s,, saya di mana ustadz, dan, a,, apa yang terjadi?" tanya nya yang terdengar masih sangat gugup dan segan terhadap sosok di hadapan nya
"kita di kamar hotel neng, tadi neng pingsan saat acara berlangsung, maaf, Ayah yang menyuruh aa' untuk membawa neng ke sini?" jawab Yussuf panjang lebar tanpa rasa ragu dan gugup sedikit pun
kemudian diri nya terlihat menunduk dan seketika pandangan nya berubah gelisah di kala mendapati sesuatu
menyadari kegelisahan sang istri, kini Yussuf pun tahu apa yang di gelisah kan
"tenang lah neng, pakaian neng kak Nisa yang ganti, maaf, aa' meminta bantuan sama kak Nisa tadi, soal nya a' takut neng merasa tidak nyaman,, itu,, kalau aa' yang bantu neng ganti pakaian?" tutur Yussuf dengan tatapan sendu dan tidak di pungkiri itu membuat hati nya lega
tok tok tok
suara ketukan pintu itu berhasil membuat kedua nya menoleh
"sebentar ya neng, aa' buka pintu nya dulu?" pamit Yussuf seraya berjalan dan membukakan pintu kamar hotel
"assalamualaikum kak?" ucap Arsen dengan tersenyum tipis di kala melihat kini pintu sudah di buka dengan lebar
"waalaikum salam warahmatullah,, ayo masuk, kebetulan,, kakak juga sudah siuman?" jawab Yussuf yang semakin membuka lebar pintu kamar hotel tersebut
kedua nya pun masuk, dan melihat nya yang kini masih terdiam dengan kepala yang terus menunduk dalam
"bagaimana dengan keadaan kakak, apa yang kakak rasakan sekarang, mana yang sakit, bilang sama aku kak?" sontak pertanyaan beruntun itu keluar dari mulut Arsen di kala mendapati sang kakak tengah terduduk dengan bersandar, membuat yang di tanya mengulum senyum nya
"hmm,, kakak nggak apa apa Arsen, alhamdulillaah,, kakak baik baik saja, hanya saja,, masih sedikit rasa pusing di kepala kakak, tapi jangan khawatirkan kakak" tutur nya berusaha menenangkan sang adik
"baiklah kak, jika seperti itu, malam ini kakak tidur di sini dulu ya, semua nya sudah pada pulang, karena acara sudah selesai?" tutur Arsen
"t,, tapi Sen,,," ucapan nya terpotong
"kak Yussuf nggak apa apa kan kalau malam ini tidur di sini terlebih dahulu, ada meeting nggak, besok baru boleh pulang ke rumah, kak Izza seperti nya masih sedikit pusing kak?" tutur Arsen dengan menoleh ke arah Yussuf
"hmm, iya nggak apa apa Sen, alhamdulillaah,, kakak sedang tidak ada jadwal apapun kok saat ini, kakak cuti nikah sampai hari nanti" jawab Yussuf sambil tersenyum menyadari kekhawatiran sang adik ipar
"ya sudah, kak, aku dengar kakak pingsan gara gara belum makan dari tadi kan, karena itu sebelum aku ke sini bawa kan kakak makanan, kita makan sama sama ya, ayo kak Yussuf?" ujar Arsen sambil membuka plastik yang sudah berisi 3 porsi nasi goreng
"nih, ini buat kakak, aku pesan spesial telor ceplok tanpa kecap plus super pedas, nih, habis kan ya kakak cantik nya Arsen?" ujar Arsen dengan bersemangat
"kamu beli ini dari mana Sen?" tanya nya yang masih sedikit lemah
"di warung makan pinggir jalan kaki lima dekat taman kota" jawab Arsen
"kamu masih mengingat tempat itu rupa nya?" tutur nya yang merasa salut dengan ingatan sang adik
"ya ingat dong kak, perihal kakak, mana ada sih aku lupa, aku bahkan selalu mengingat nya kak, bahkan aku masih tahu menu favorit nya kakak di sana" ujar Arsen "kak Yussuf, ayo, kita makan, ini aku beli kan kakak menu yang sama, kalian kan satu selera?" lanjut Arsen dengan nada mengejek
"makasih ya Sen, tapi seharus nya kamu nggak usah repot repot beli kan ini, kita bisa memesan nya sendiri ke pelayan hotel" imbuh Yussuf
"nggak masalah kak, eh iya, eem, ngomong ngomong,, kedatangan aku ke sini aku mengganggu kakak nya nggak?" tanya Arsen yang membuat kedua insan yang sedang menyantap makan malam nya jadi tersedak
uhuk,, uhuk,, bahkan kedua nya batuk dengan bersamaan
"duuh, hati hati dong kak, itu kan dua dua nya pedas, kok nggak hati hati sih, nih, minum?" ujar Arsen saya menyerah kan segelas air putih pada kedua nya
"makasih?" ucap Yussuf yang di angguki oleh Arsen
"kakak belum menjawab pertanyaan aku lho kak" imbuh Arsen memberi tahu
"kamu tidak mengganggu kok Sen, bahkan makasih banyak lho, kamu sudah repot mengantarkan makan malam buat kakak" kali ini, diri nya yang berujar dengan nada yang jengkel karena tahu arah pembicaraan dari sang adik
"hhe, iya kak, nggak masalah, kakak nggak pernah buat aku repot kok, ini juga aku yang mau" jawab Arsen menyadari sang kakak mengetahui arah pembicaraan dan membuat Arsen cengengesan sendiri
"ya sudah kak, makan aku sudah habis, aku pulang dulu ya kak, sudah larut juga, nggak baik kalau aku terus berdiam diri di sini, jadi obat nyamuk wkwk" ucap Arsen tanpa segan
"iya Sen, tapi sebentar, neng, aa' tinggal sebentar nggak apa apa kan, a' mau ganti pakaian, jas nya mungkin akan Arsen antar kan?" pamit Yussuf dengan penuh kelembutan
"i,, iya ustadz,, silahkan" jawab nya masih dengan tertunduk dalam
"xixi, kakak lucu, hanya mau ke kamar mandi saja pamit segala, kayak mau keluar negeri saja" ujar Arsen yang membuat kedua nya merona malu
setelah itu Yussuf pun pergi ke kamar kecil dan mengganti pakaian yang tengah di kenakan nya, menyisakan Khaliza dan Arsen di kamar itu
"ehem,, kakak kok kelihatan nya masih canggung segan gitu sama kakak ipar, padahal kakak ipar baik lho kak, orang nya, perhatian lagi, apa yang kakak segani dari nya?" tanya Arsen mulai serius
"nggak apa apa Sen, mungkin kakak hanya merasa belum terbiasa saja menyikapi semua nya" jawab nya lugas yang membuat sang adik mengerti
"akh iya, kakak kan sangat pemalu, maklum kalau kakak belum merasa terbiasa, tapi ketahui lah kak, kakak ipar itu baik, dia mempunyai kepribadian yang tak biasa yang tidak pernah di tunjukkan pada orang lain" ucap Arsen yang membuat nya bingung
ceklek
pintu kamar kecil terbuka, menampilkan sosok Yussuf dengan kaus putih polos lengan pendek nya, celana training panjang yang menutupi kaki sampai mata kaki, dan dengan wajah yang lebih segar dan basah, menambahkan kesan cool pada diri nya
"nih Sen, jas nya, makasih ya, sudah repot repot antar pakaian kakak ke sini?" ucap Yussuf seraya menyerahkan setelan jas pengantin
"iya kak nggak apa apa, ya sudah kak, aku pamit dulu ya, kakak cepat sembuh, aku tunggu kakak di rumah, assalamualaikum kak?" pamit Arsen seraya menutup pintu kamar hotel yang memang mendapat kan jawaban salam dari kedua nya
kini tinggal lah Khaliza dan Yussuf yang tengah duduk di tepi tempat tidur, menyisakan suasana hening yang melanda kedua nya karena masih sama sama merasa canggung
"ehm,, neng sudah selesai, ini minum nya, biar aa' saja yang beres kan ini" tutur Yussuf saat melihat nya hendak beranjak
"baiklah ustadz, terima kasih?" ucap nya yang masih merasa sungkan yang di angguki oleh Yussuf sendiri
"ehm,, maaf ustadz, jika saya lancang, namun,," tutur nya merasa ragu untuk melanjutkan kata kata nya
"namun kenapa neng, apa ada yang neng butuh kan?" tanya Yussuf setelah selesai membersihkan sisa makanan dan menoleh ke arah sang istri
"ehm,, apa ustadz sudah melakukan kewajiban ustadz, untuk shalat isya maksud nya?" tutur nya hati hati, takut takut menyinggung
mendengar pertanyaan dari sang istri, kini berhasil membuat Yussuf sendiri tersenyum menanggapi nya, istri nya ini sangat ingat akan kewajiban nya mengingat kan waktu beribadah
"hmm,, iya, aa' habis ambil air wudhu tadi, waktu ganti pakaian neng, apa neng Zahra mau ke kamar kecil, mau aa' bantu?" jawab Yussuf panjang dengan menawar kan
"emm,, tidak ustadz, terima kasih, tapi saya,,, saya,,," tutur nya dengan ragu
menyadari sesuatu dari sang istri kini membuat Yussuf merasa sedikit kecewa, namun Yussuf mencoba untuk mengerti
"ya sudah,, nggak apa apa kalau neng nggak shalat, aa' tinggal shalat dulu nggak apa apa kan, neng tunggu saja di sini, nanti aa' ke sini lagi?" tutur Yussuf yang membuat nya mengangguk paham
setelah kepergian Yussuf, yang kini menyisakan diri nya seorang diri terbaring lemah di tempat tidur ini
'akh,, oh Allah,, benar kah saya sudah berganti status menjadi seorang istri sekarang, rasa nya masih seperti mimpi, mengapa ini terjadi begitu cepat di kehidupan saya,, bisa kah saya belajar untuk senantiasa menjadi istri yang berbakti pada sosok yang kini sudah menjadi suami saya,, takdir hidup saya,, imam bagi saya,, dan separuh agama saya,, permudah kan lah semua nya ya Rabb, sungguh saya memohon,,' batin nya dalam hati
Khaliza tak tahu, bagaimana diri nya sendiri harus bersikap di tengah keluarga kedua nya sekarang, mungkin memang benar, yang kalian tahu bahwa Khaliza cukup akrab dengan keluarga dari Ammie, yang sekarang sudah menjadi Umi nya juga, namun tidak bisa di pungkiri, bahwa diri nya begitu malu
sekali pun diri nya tengah akrab dan berteman baik dengan Ratih yang kini telah menjadi adik ipar nya, namun rasa rasa nya canggung, jika harus berhadapan dengan gadis ini sebagai kakak ipar nya sendiri
bagi nya, semua rasa yang berbeda dengan keadaan, itu adalah sebuah pelajaran yang cukup sulit untuk di pecahkan, Om Aydhan, Tante Ammie, Ratih, entah bagaimana dia harus bersikap di depan ketiga orang tersebut nanti nya
yang menjadi permasalahan nya ialah, diri nya yang mempunyai kepribadian pemalu yang bahkan lebih dari sekedar 50°, namun harus bagaimana lagi, diri nya sendiri tidak bisa merubah kepribadian nya itu yang kini sudah tertanam sejak lahir, bahkan jauh sebelum itu
dengan seketika, diri nya pun tersadar dari lamunan nya yang memang sudah banyak berpikir, membuat kantuk nya datang, diri nya pun menguap, dengan ragu, diri nya pun mengambil segelas air putih yang masih setia menemani nya di atas nakas, meminum nya dengan perlahan, kemudian mengubah posisi tidur nya dan menarik selimut hingga menutupi bahu nya, ada rasa ber salah di hati nya, karena tidak menunggu suami nya selesai melakukan kewajiban nya terlebih dahulu, diri nya sadar, perbuatan nya memang cukup lancang, namun diri nya pun tak bisa menghindari rasa kantuk nya yang menghampiri nya akan rasa lelah yang tidak kecil lagi
berbeda hal nya dengan seorang laki laki yang tengah terduduk dengan menyilang kan kedua kaki di mushalla kecil sana, dengan terduduk di atas sajadah, dan dengan kedua tangan yang menengadah memohon dan berdoa
'ya Allah ya Rabb,, malam ini adalah malam pertama kami berumah tangga, ya Allah ya Rabb,, berkah kan rezeki kami sebagaimana engkau berkah kan rezeki Rasulullah SAW bersama Siti Khadijah, ya Allah,, malam ini malam pertama ku, jadikan lah sebagaimana yang awal nya engkau haram kan, kau halal kan di malam ini, ya Allah,, sebagaimana kau haram kan di hari ini kau halal kan,, jadi kan lah ben*h b*b*t yang aku titip kan kepada istri ku jadi kan keturunan yang shaleh dan shalihah,,'
ceklek
suara pintu terbuka, menampil kan sosok laki laki yang tinggi tengah mengenakan peci, baju koko, dan juga sarung, laki laki ini tengah menatap wajah nya sudah terlelap, menjemput alam mimpi nya
"mungkin neng lelah,," tutur laki laki ini yang tak lain adalah Yussuf
dengan langkah pelan, Yussuf pun meletak kan peci nya di dalam laci nakas, menggantung koko nya di balik pintu kamar, dan kembali melipat sarung nya yang di letak kan di gantungan, kemudian ikut merebah kan tubuh nya di samping nya
ada sedikit rasa kecewa di kala mendapati nya yang tertidur dengan membelakangi nya, dengan masih mengenakan niqab dan juga Khimar nya lengkap, seketika netra nya teralih kan di kala mendengar ponsel nya yang berbunyi
Yussuf pun memilih melihat nya, dan itu adalah pesan dari grup yang beranggotakan Yussuf sendiri juga Radit dan Mukhlis, kedua sahabat nya
...WhatsApp...
...Saudara seiman ♂️...
Raditya
assalamualaikum?
Mukhlis
waalaikum salam warahmatullah
^^^Me^^^
^^^waalaikum salam warahmatullah^^^
Raditya
Ari, bagaimana keadaan Khaliza, apa keadaan nya baik baik saja?
^^^Me^^^
^^^alhamdulillaah Dit, tidak ada yang perlu di khawatir kan^^^
entah mengapa, ada rasa yang mengganjal di kala melihat Radit, sahabat nya sendiri yang menanyakan keadaan sang istri di samping nya, namun perasaan itu Yussuf tepis dan memilih berbaik sangka saja
Raditya
maaf aku bertanya perihal istri mu, istri ku yang menyuruh ku Ri, dia begitu mengkhawatirkan nya?
^^^Me^^^
^^^nggak masalah Dit, makasih juga sudah khawatir, tapi alhamdulillaah,, istri aku nggak apa apa, insya Allah baik baik saja^^^
Raditya
syukur lah, aku lega mendengar kabar nya
Mukhlis
di mana kalian sekarang?
^^^Me^^^
^^^masih di kamar hotel, Ayah suruh aku untuk tidak pulang dulu, takut nya neng Zahra kecapekan^^^
Mukhlis
cieee, yang sudah punya Eneng wkwk, btw, sudah ehem dong, kalau Eneng nya sudah baikan? 😎
melihat apa yang di kirim kan Mukhlis pada nya membuat Yussuf mengulum sedikit senyuman, namun dengan cepat, laki laki ini menggeleng, berusaha mengusir pikiran kotor yang bisa saja hinggap
^^^Me^^^
^^^astaghfirullah Mukhlis,, di suasana lagi genting seperti ini, kamu masih saja bisa pikir kan hal itu, emot nya juga di jaga^^^
Raditya
dengar tuh, pak ustadz sedang ceramah 😅😅
dalam hati laki laki ini tahu, bahwa kedua sahabat nya ini kini tengah berusaha mengejek dan menggoda nya
^^^Me^^^
^^^jangan membuat ku menyesal telah membuka ponsel ya, lebih baik aku keluar saja dari grou chat ini__^^^
Raditya
lho, kenapa Ri, ya jangan gitu dong, tapi kalau nggak buka ponsel juga nggak apa apa sih, bisa memandangi istri puas puas nih malam ini, nggak kesepian lagi dong, tidur nya jadi berdua wkwk
Mukhlis
tahu nih, ciee, yang sudah punya pacar halal bisa di pandangi terus, auto punya temen bobo wkwk
entah kenapa setiap pergerakan dan perkataan nya kini menjadi sumber kedua sahabat nya untuk terus menggoda nya
^^^Me^^^
^^^temen bobo apa aku nggak ngerti, aku benar benar akan keluar dari group chat ya sekarang juga!!^^^
Raditya
dih, ya jangan dong, kita kan saudara se syurga, masa mau pisah lagi, kita itu sudah punya ikatan sejak kecil, teman dari Aliah, teman dari kuliah, ya meski pun bukan teman hidup juga jangan ngambek gitu lah Ri, kan kita masih normal? 😂
Radit ini benar benar ya, halal untuk di rukyah nih seperti nya, masih normal lah, di kira nggak normal apa!!
Mukhlis
sudah sudah,, teman hidup saja di ributin, kamu belum jawab pertanyaan saya lho pak ustadz!!
^^^Me^^^
^^^pertanyaan yang mana?__^^^
membaca pesan ini, rasa nya kemalasan dalam diri Yussuf tengah melanda
Mukhlis
yee, jangan dingin dingin gitu kali Ri, memang nggak masuk kalau di ajak canda elah
^^^Me^^^
^^^iya pertanyaan yang mana Mukhlis?^^^
Mukhlis
kalau kalian saat ini ada di kamar hotel, berarti sudah ehem dong?? jawab dengan jujur pak ustadz
^^^Me^^^
^^^ehem apaan, aku nggak ngerti?^^^
Mukhlis
jangan pura pura nggak ngerti deh ustadz, masa gitu saja nggak ngerti sih, kamu itu ustadz sekaligus dosen lho, masa h*neym**n saja nggak ngerti, kemarin baru membahas nya juga!!
Raditya
tahu nih ustadz satu, giliran di depan banyak orang saja seperti yang sudah paham, giliran sama istri sok sok'an nggak paham, ayo cerita!!
^^^Me^^^
^^^oke oke, ini aib rumah tangga ya, nggak usah di bahas lagi, hanya boleh Allah, aku, istri aku sama pembaca saja yang tahu, kalau kalian juga tahu, akan ribet urusan nya, sudah, aku mau istirahat, assalamualaikum?^^^
laki laki di samping Khaliza ini pun lebih memilih untuk mengakhiri percakapan singkat lewat room chat itu yang meninggal kan rasa penasaran pada kedua sahabat nya itu, ketiga nya sama sama dingin di hadapan orang lain, akh ralat,, maksud nya hanya Yussuf dan Radit yang mempunyai kepribadian dingin itu, karena ustadz Mukhlis, orang nya ramah
entah mengapa, kini senyum tidak pernah pudar dari kedua sudut bibir nya, apa lagi di kala chatting an bersama dengan kedua sahabat nya yang mempunyai kepribadian dingin, tapi saat kumpul bobrok nya minta ampun
sejenak, Yussuf memandangi wajah sang istri yang kini tengah tertidur pulas dengan membelakangi nya, hingga ingatan nya pun kembali pada kejadian siang tadi, saat laki laki ini berhasil ke toilet dan berpapasan dengan sosok yang mungkin pernah ada di dalam kehidupan sang istri
"kamu di sini juga ternyata?" mendengar pertanyaan itu, kini sontak saja membuat ustadz Yussuf menoleh dan mendapati Andra yang tengah bersedekap dada di bingkai pintu sana
"kamu,," ucapan ustadz Yussuf yang menggantung dengan seketika di kala berusaha mengingat siapa sosok yang ada di sini
"yaah,, aku Andra,, kakak kelas nya Khaliza,, yang tadi mengucap kan selamat pada kalian,, sekali lagi selamat ya atas pernikahan kalian, selamat menempuh kehidupan yang baru,,?" ucap kak Andra dengan mengulur kan tangan kanan ke arah ustadz Yussuf sendiri
"yaah,, terima kasih atas kedatangan nya,," jawab ustadz Yussuf seraya menatap Andra di hadapan nya
"aku ingin berbicara sesuatu,, dan menjelas kan nya mengapa aku berkata seperti itu,, maaf jika perkataan ku benar benar lancang sama kamu tadi?" ucap kak Andra yang merasa bersalah
"perkataan yang mana?" tanya ustadz Yussuf dengan heran dan bingung
"aku yang tidak sengaja mengata kan bahagiakan lah dia, aku ikhlas, dan ikut berbahagia untuk kebahagiaan kalian, maaf Yussuf,, aku tidak bermaksud seperti itu atau bahkan menyinggung mu aku hanya,,," ucapan kak Andra yang kini berhasil mengundang senyuman dari ustadz Yussuf sendiri
"tidak apa apa Andra,, aku mengerti,, tapi,, mungkin kah kalian pernah ada hubungan sebelum nya?" tanya ustadz Yussuf dengan sekedar berbasa basi
"ya,, maksud ku,, tidak,, mungkin memang pernah ada rasa, antara aku dengan nya, namun di sini aku yang begitu pengecut,, hingga aku tidak bisa menggenggam erat diri nya,, aku sudah berkali kali menyatakan perasaan ku pada nya, namun takdir berkata lain,, diri nya tidak pernah bisa menerima ku Yussuf,, dia tidak ingin menjalin hubungan terlarang dengan ku,, aku yang tidak ingin kehilangan nya pun tidak bisa berbuat lebih, atau bahkan,, memaksa nya untuk menjalin hubungan dengan ku,, hingga aku dan dia menjalani hubungan dan berusaha menjaga hati satu sama lain,, hingga kabar ini datang,, dia datang dengan membawa sebuah surat undangan pernikahan kepada ku,, aku tidak bisa melarang nya, atau bahkan marah terhadap nya,, aku mengerti,, dia bukan wanita biasa,, hingga keluarga nya berniat menjodoh kan nya dengan seseorang,, karena itu,, aku banyak banyak mengucap kan kata maaf sama kamu yang kini sudah menghalal kan nya,, atas perlakuan ku dahulu dengan nya?" jelas kak Andra dengan menunduk
"tidak apa apa Andra,, aku bisa mengerti,, namun aku merasa,, di sini harus nya aku yang meminta maaf, andai saja jika aku tidak menerima perjodohan ini, dan menikah dengan nya,, mungkin kalian bisa bersatu sejak lama,," jawab ustadz Yussuf meski hati nya kian merasa sakit di kala mengucap kan nya
"tidak Yussuf,, ini semua adalah takdir,, sesuai dengan apa yang aku katakan tadi,, insya Allah,, aku ikhlas dia bahagia dengan mu,, bahagia kan lah dia,, karena ku tahu kebahagiaan nya hanya dengan mu,, bukan dengan ku,, atau bahkan orang lain,, kini ku dapat merasa ikhlas karena dia bersama dengan mu,, entah aku akan merasa se ikhlas ini atau kah tidak,, jika seandainya dia bersama dengan laki laki lain" jawab kak Andra
'terima kasih,, neng sudah menjaga diri neng dengan sempurna,, aa' tahu kedekatan neng dengan Andra yang cukup erat,, namun di antara kalian masih sama sama menjaga jarak,, aa' tidak masalah untuk itu?'
'aa' tahu neng belum atau bahkan tidak pernah siap untuk ini neng, aa' tidak akan memaksa neng, jika neng benar benar belum siap sepenuh nya, aa' akan menunggu neng, sampai neng benar benar siap nanti nya' batin Yussuf yang kini memandangi punggung nya dengan tatapan sayu
"hmm,, selamat malam istri nya aa',, mimpi indah?" ucap Yussuf sebelum akhir nya ikut menyusul ke alam mimpi
_Assalamualaikum Zahra_
Sabtu, 12 Agustus 2023