
..._Assalamualaikum Zahra_...
..._Kidung Sang Perindu_...
..."awan bisa bergeser oleh angin, namun langit tidak tergerak oleh angin, fenomena dapat datang dan pergi oleh kondisi dan waktu, namun hati harus teguh bagai kan langit"...
..._Khaliza Sulistya Az Zahra_...
hari hari berlalu, hari ini adalah hari Kamis, di mana surat undangan pernikahan antara Yussuf dengan Khaliza telah selesai di cetak, dan tengah sampai di depan pintu rumah
ting nong
"ehm, biar Liza saja yang membukakan pintu" ucap nya pada semua orang yang tengah duduk dan bercengkrama di ruang keluarga ini
yaah, benar, hari ini, dua keluarga itu sedang berkumpul mendiskusikan acara akad nikah yang akan di laksanakan dua Ahad lagi dari sekarang
"permisi kak, kami dari pihak wedding organizer ingin menyampai kan dan mengantar kan 1000 surat undangan yang sudah usai di cetak, mohon di terima kak, dan ini, untuk souvenir nya dan juga amplop surat nya?" ucap kurir wanita ini dengan ramah
"akh,, baiklah Mbak, terima kasih sebelum nya, apa administrasi nya sudah di selesai kan?" tanya nya tak kalah ramah
"oh, alhamdulillaah sudah kak, untuk administrasi nya saat pemesanan juga sudah di selesai kan, kalau begitu, saya permisi kak?" ucap kurir wanita ini
"akh,, tidak kah Mbak nya mau masuk terlebih dahulu, kita minum dan ngeteh dulu di dalam, kebetulan, keluarga saya sedang berkumpul?" tawar nya dengan ramah
"tidak apa apa kak, terima kasih kembali atas penawaran nya, tapi masih banyak yang harus saya antar, kalau begitu, saya permisi, mari kak?" ucap kurir wanita cantik berkerudung ini dengan ramah dan hangat
"iya Mbak, terima kasih sekali lagi?" ucap nya di kala melihat kurir itu melenggang pergi dengan sepeda motor nya
diri nya pun beralih menatap sendu dua tumpukan surat undangan pernikahan di kedua tangan nya sambil berjalan kembali menghampiri keluarga nya yang sedang berkumpul, tidak menyangka rasa nya, di Ahad Ahad ke depan, akan ada seseorang yang akan mempersunting nya, pikir nya
"ada apa kak, siapa yang datang?" tanya Bunda dengan sebutan kakak kepada nya
jangan salah paham semua, di dalam keluarga, diri nya memang terbiasa di panggil kak itu artinya adalah sebutan kakak, berbeda dengan Khanaya yang memanggil dia dengan sebutan Kha, itu karena nama nya adalah Khaliza
"akh,, ini Bund, surat undangan nya sudah selesai di cetak, baru kakak terima" jawab nya seraya duduk di sebelah Arsen dan meletak kan dua tumpuk undangan itu di atas meja
"waah, ayo segera kita buka, Umi menjadi penasaran nih, sama hasil cetak nya, dari luar juga kelihatan sederhana namun anggun?" ucap Umi yang tak lain adalah Tante Ammie sambil membuka bungkus surat undangan nya
"iya, Bunda juga, ayo kita buka yang ini, terlihat minimalis gitu ya surat nya, pilihan kalian, seperti nya memang benar benar tepat deh, satu hati, Bunda Ayah juga suka" ucap Bunda di kala sudah melihat tampilan dari luar
"akh,, dan ini Bund, kartu ucapan untuk di souvenir, dan amplop surat undangan nya juga" ucap nya kembali meletak kan kedua benda itu
"waah, bagus nih, kalian sama sama punya gelar di belakang nama ya, tepat sekali, semoga ini pernikahan pertama dan terakhir bagi kalian ya, Umi do'a kan selalu bahagia?" ucap Umi yang salut dengan kedua nya
tempo hari lalu, tepat nya saat kedua nya fighting gaun pengantin, Umi kini menyuruh nya untuk kembali menyebut nya dengan sebutan Umi, padahal dulu waktu sama Ratih juga menyebut nya Umi, namun karena kemarin sedikit canggung, jadi lah diri nya memanggil Tante
"allahumma aamiin, terima kasih do'a nya Umi?" ucap Yussuf yang juga melihat satu surat undangan di tangan kanan nya
"kakak, kamu mau membawa berapa surat undangan ke pondok besok?" tanya Ayah yang membuat semua orang terkejut, apa lagi dengan Yussuf sendiri
"emm,, seperti nya 5 biji juga cukup Yah, untuk bapak kyai dan teman teman yang lain nya saja" jawab nya yang berhasil membuat Yussuf cukup tersentak kaget
"neng Zahra akan ke Tangerang lagi Yah, untuk apa?" tanya Yussuf dengan tiba tiba
"hmm,, iya Yussuf, dia mau undang sahabat nya di pondok kata nya, siang ini akan ke rumah dua sahabat nya juga untuk mengantar surat undangan ini, namun kenapa demikian?" tanya Ayah dengan nada menggoda
"akh,, nggak ada apa apa Ayah, Yussuf mengira, neng Zahra nggak akan kembali lagi ke pondok" jawab Yussuf yang terlihat lemas
"xixi,, kamu itu lucu ya, tapi kalau calon pengantin itu memang harus nya seperti itu Yussuf, di pisah dulu, sampai waktu akad nya selesai" tutur Ayah yang merasa puas menggoda calon menantu nya ini
"iya nih, mas ini gimana sih, pasti nggak mau pisah sama teteh Izza lama lama ya, hayo akui saja, sudah lah, tahan rindu buat mu di sana?" ucap Ratih yang ikut menggoda dengan di akhiri lirik lagu
"ya sudah Ayah, nggak masalah, tapi apa boleh, biar besok, Yussuf saja yang mengantar neng Zahra, Yussuf dengar sih, Ayah sama kakak Ahkam ada rapat besok?" tutur Yussuf yang meminta izin
"xixi,, melepas rindu ya Yussuf?" tanya Bunda yang di angguki Umi sambil terkekeh kecil
"iya,, eh, maaf Bund, maksud nya bukan gitu Umi, kan Ayah lagi sibuk, Yussuf juga masih belum ada kegiatan di bulan ini, jadi biar gampang saja" jawab Yusuf yang malah menjadi latah di kala mencari alasan yang tepat, membuat semua anggota keluarga yang mendengar tertawa terpingkal pingkal, kecuali diri nya yang hanya bisa menunduk dalam bahkan semakin dalam saja
"baiklah baik,, semua nya harus sibuk besok ya, meski nggak sibuk sibuk banget, tapi harus selalu sibuk pokok nya?" tutur Abi dengan nada yang mengejek
"emm, maaf Ayah, yang ini tinggal di kasih nama Syakira sama Hanna saja, setelah itu akan kakak antar kan, Arsen, kamu antar kakak ya, antar kan surat undangan ini?" ucap nya yang menoleh pada Arsen, berniat mengalih kan pembicaraan
"siap kakak aku yang paling cantik, ayo, biar abang ojol antar kan ke mana saja, ke ujung dunia sekali pun kalau itu memang yang menjadi keinginan kakak, akan aku antar" ujar Arsen sambil hormat
"Yah, kakak pamit dulu ya, Bunda, semua nya?" ucap nya yang di angguki oleh semua nya
setiba nya diri nya di rumah Syakira
terlihat sosok paruh baya yang sedang duduk dengan secangkir teh hangat di meja samping
"assalamualaikum Tante?" ucap nya seraya mencium punggung tangan kanan Tante Fitri, Mama nya Syakira
kalian masih ingat Tante Fitri kan, Mama nya Syakira
"w,, waalaikum salam warahmatullah, maaf, mau cari siapa ya adik nya?" tanya Tante Fitri yang terlihat kebingungan, namun menerima salaman dari nya
"saya Khaliza Tante, sahabat nya Syakira, apa Syakira nya ada?" tanya nya kembali memperkenalkan diri, karena seperti nya, Tante Fitri ini memang tidak mengenali nya
"masya Allah,, ini Khaliza, apa kabar kamu nak, ya Allah,, lama nggak bertemu sama kamu, Tante kangen, Syakira juga suka merengek meminta tolong mencari informasi tentang kamu, sebentar ya, Tante panggil kan Syakira nya dulu, kebetulan,, Hanna juga sedang singgah di sini, ayo masuk dulu?" Ajak Tante Fitri dengan ramah
"hmm, iya Tante, terima kasih, tapi saya di sini saja" jawab nya yang melihat Tante Fitri mulai memanggil anak nya
diri nya pun terus menunggu, hingga beberapa menit kemudian
"Mama apaan sih Ma, apa nya yang kejutan, nggak ada siapa siapa juga di sin,," ucapan Syakira yang sayang nya malah terpotong, kala diri nya yang berhambur ke dalam pelukan nya dan Hanna sekaligus
"Na, Ra, aku benar benar minta maaf ya, aku nggak sengaja sembunyi kan jati diri aku dari kalian?" ucap nya yang berhasil membuat kening Syakira dan Hanna mengerut bersamaan
"kamu,,, kamu kah Khaliza Sulistya Az Zahra, sahabat kita Tsanawiyah dulu?" tanya Hanna sambil mengurai pelukan ketiga nya, di kala mengingat nada bicara khas nya
mendengar pertanyaan itu kini diri nya pun hanya bisa mengangguk tanpa bisa berkata kata apapun lagi
"maaf kan aku Na, Ra, aku tahu aku salah, karena sembunyi dari kalian, tapi aku terpaksa, aku tidak ingin membuat kalian khawatir berlebihan terhadap ku, kalian boleh marah kok sama aku" ucap nya seraya menunduk, di kala menyadari kesalahan terbesar yang pernah di perbuat nya
"hmm, Za,, Za, jika kita memang boleh marah, dari dulu kita sudah melakukan nya, jika kita marah, kita nggak akan berusaha untuk mencari tahu kabar dari kamu, tapi kita tetap sahabat kamu, kita nggak akan pernah bisa marah sama kamu, kamu nggak pernah lupakan kita saja kita sudah merasa bersyukur banget, yang pada akhir nya kita menjadi rumah buat kamu, tempat di mana kamu, pulang pada akhir nya, lantas bagaimana bisa kita marah sama sahabat yang sudah lama tidak kita jumpai?" tutur Shakira yang mendapat anggukan dari Hana juga
"apa kah kalian sudah lulus kuliah?" tanya nya dengan memandangi kedua sahabat nya itu
"yaah, kita sudah sama sama lulus, kini kita mendapat kan gelar sarjana" jawab Hanna dengan ceria dan berhasil mencairkan suasana
"lantas bagaimana dengan kamu sendiri?" tanya Syakira saat semua nya sudah duduk
"alhamdulillaah,, atas izin Allah, aku juga sudah lulus" jawab nya seraya tersenyum tipis
"eh by the way gimana cerita nya nih, personil kita satu ini sudah bisa memakai niqab saja?" tanya Hanna yang baru menyadari sesuatu
"sebelum nya aku ingin meminta maaf kepada kalian, sebenar nya selama ini aku di Tangerang, di sana aku tinggal di sebuah asrama, semua nya nggak pakai niqab sih, tapi aku nya saja yang mau, mungkin sudah menerima hidayah kali, selain itu, aku merasa malu yang berlebihan, juga sahabat baru aku di sana juga ada yang memakai niqab" jawab nya menceritakan Lia
"di sana kamu pasti merasa senang ya berkumpul sama sahabat baru kamu?" tanya Syakira seraya tersenyum getir di kala merasa tersinggung
"jujur ya, senang nya ada, sedih nya juga ada, sahabat baru aku waktu aku kumpul sama mereka suka jadi penenang buat aku, tapi aku juga sedih, karena setiap aku berkumpul, pikiran aku selalu tertuju pada kalian di sini, aku suka memikirkan kalian di sana, hari hari aku benar benar cukup rumit di sana, tanpa kalian tentu nya, hanya buku kenangan yang kalian berikan waktu itu yang bisa mengobati rindu aku sama kalian" jelas nya dengan lesu
"akh iya,, aku ke sini karena aku mau mengantar kan ini untuk kalian, aku harap kalian bisa datang ya, aku tunggu kehadiran kalian, aku ke sini juga aku mau pamit, besok aku mau ke sana lagi, untuk mengundang sahabat aku di sana, agar kalian juga bisa saling mengenal dengan mereka?" ucap nya menyerah kan dua buah surat undangan pernikahan nya
"ka,, kamu mau menikah Za, waah, barakallah ya Za, insya Allah aku datang nanti sama Hanna, terima kasih juga kamu sudah menyempatkan mengundang kita langsung ke sini, tapi sebelum nya aku mau minta alamat email nya kamu dong, kak Nisa bilang, kamu sudah di kasih pegangan ponsel ya, kenapa kamu tidak menghubungi kita, padahal kan nomor kita masih yang itu?" tanya Syakira lagi
"maaf ya Ra, aku baru di kasih pegangan ponsel kemarin sama Ayah, dan sekarang aku baru sempat memberi kamu alamat email nya aku" jawab nya menyerah kan ponsel nya
"terima kasih banyak ya, insya Allah kita datang nanti, aduh, personil kita berkurang satu nih, biarin deh, semoga kamu selalu bahagia ya Za, terutama sama calon suami kamu nanti nya?" ujar Hanna dengan bersemangat
"allahumma aamiin, terima kasih, do'a nya saja, kalau begitu, aku pamit pulang dulu ya, besok aku akan mengabari kalian jika aku sudah sampai di sana?" pamit nya
"lho,, mau ke mana Khaliza, buru buru banget, memang nya nggak minum terlebih dahulu?" tanya Tante Fitri yang sedari tadi hanya menjadi penyimak setia
"iya Tante, insya Allah lain kali saya main main lagi ke sini, sekarang saya mau packing untuk keberangkatan besok, saya pamit ya Tante, besok saya harus ke pondok lagi?" ucap nya seraya menyalami tangan Tante Fitri
"ya sudah sayang, kamu hati hati ya di jalan, nanti Tante sama Om juga insya Allah datang ke acara kamu 2 Ahad lagi" tutur Tante Fitri
"harus pokok nya ya Tante, saya tunggu, assalamualaikum?" ucap nya yang memang mendapat jawaban salam dari semua nya
sedangkan dengan keadaan di rumah Khaliza
"Ayah,, sebenar nya,, ada satu hal yang ingin Yussuf bicara kan sebelum akad nanti" ucap Yussuf dengan tiba tiba
"apa itu Yussuf?" tanya Ayah seraya memandangi Yussuf dengan seksama
"Yussuf mau memberikan mahar surah Ar-Rahman untuk neng Zahra, dan,, boleh kah jika Yussuf mengucapkan ijab qobul dalam bahasa Arab?" tanya Yussuf dengan penuh keyakinan
"apa kah kamu yakin, maksud Ayah, apa kah itu tidak berlebihan, atau kah,, anak gadis Ayah ini yang memaksa kamu untuk ini?" tanya Ayah yang merasa ragu hendak murka pada sang anak
"insya Allah tidak Ayah, neng Zahra tidak pernah memaksa, perihal apapun itu, namun di sini, Yussuf sendiri saja yang ingin memberikan yang lebih, untuk gadis sebaik neng Zahra" jawab Yussuf
"Zahra?" tanya Ayah yang merasa sedikit bingung di kala mendengar kata Zahra itu terucap dari bibir sang calon menantu bahkan tidak hanya satu kali
"bukan kah nama nya Khaliza Sulistya Az Zahra Ayah?" tutur Yussuf lembut sambil membalas pandangan dari Ayah dan mulai mengingatkan Ayah dengan lembut
"apa yang kamu katakan memang benar ada nya nak, tapi nama panggilan nya Liza, Izza, atau Khaliza?" tanya Ayah dengan kening mengerut
"mungkin bagi kalian nama panggilan nya memang itu, yang seperti Ayah sebut kan tadi, namun bagi Yussuf, dia adalah Zahra Ayah, yang berarti bunga, begitu cantik, penuh warna, dan memancarkan keindahan siapapun yang melihat nya, dia akan menjadi lambang keindahan di rumah kita kelak" tutur Yussuf mengulas senyuman manis nya
mendengar hal itu pun, kini Ayah pun menjadi tersenyum dengan perlahan, di kala mendengar jawaban yang cukup puitis dari sang calon menantu, kini hati nya pun ikut tersentuh, tak terkecuali semua orang yang juga ikut mendengar hal itu, maka keyakinan dan tekad itu semakin kuat dan semakin meyakin jika Yussuf adalah yang terbaik untuk anak gadis di keluarga mereka ini
"baiklah, jika memang itu yang kamu ingin kan, akan Ayah izin kan, setelah nanti nya Ayah yang berbicara dengan nya" jawab Ayah yang membuat Yussuf tersenyum senang
"terima kasih Ayah?" ucap Yussuf yang mendapat anggukan dari Ayah dan Bunda
"ehm ehm,, kok aku baru mengetahui ya kalau mas Yussuf juga bisa sepuitis itu, aduh, sayang banget, teteh Izza nya nggak bisa dengar ya, kalau teteh Izza mendengar nya, apa reaksi nya ya?" ujar Ratih dengan niat menggoda sang kakak
mendengar hal itu kini berhasil membuat Yussuf tersentak, jangan sampai hal ini sampai di telinga sang calon istri
"jangan macam macam kamu Ratih, apaan sih, awas saja jika kamu berani macam macam?" ancam Yussuf memberikan peringatan kepada sang adik di kala merasa terancam
"ih, mas ini, apaan sih, aku nggak ngapa ngapain ya?" ujar Ratih berusaha membela diri
"xixi,, kalian itu sama kayak Izza dan Arsen ya, suka nya berantem, tapi nggak beneran?" ujar Bunda yang menjadi teringat akan kedua anak nya yang tidak ikut hadir
"memang nya kenapa Bunda, apa Arsen suka gini juga sama neng Zahra?" tanya Yussuf tanpa menanggapi Ratih lagi
"huum,, lebih tepat nya, Arsen sih yang suka menggoda kakak nya itu, usilin gitu, bahkan sering buat Putri Bunda itu jengkel" jawab Bunda
"tapi begitu lah dia, mungkin membuat jengkel kakak nya adalah satu satu nya cara untuk menunjuk kan rasa sayang nya sama kakak nya itu" tambah Ayah dengan tidak habis pikir
_**Assalamualaikum Zahra_
Jum'at, 4 Agustus 2023**