
..._Assalamualaikum Zahra_ ...
..._Melukis Di Dinding Waktu_ ...
..."keputusan yang kau ambil di hari ini, akan menentukan takdir mu di masa yang akan datang kelak" ...
..._Khaliza Sulistya Az Zahra_ ...
tiga hari berlalu,,, hari ke empat,,
dengan 3 malam berturut turut, diri nya selalu bermimpi hal yang sama dengan mimpi yang di alami nya sendiri sebelum nya, hanya berbeda sosok saja, jika di malam pertama adalah kakek nya sendiri yang menghampiri nya, namun di malam kedua dan ketiga tadi adalah seseorang yang bahkan tidak di kenali nya, dan wajah nya yang tertutupi oleh secercah cahaya
sinar rembulan malam mungkin tengah di ganti kan dengan terik nya sinar mentari pagi buta ini,, pagi ini, semua anggota keluarga terlihat sibuk dengan sarapan nya masing masing
"ehm,, Ayah, apakah Ayah tidak berangkat ke kantor hari ini, bahkan kak Ahkam juga?" tanya nya memecah keheningan yang melanda
"iya, kakak lupa ya, hari ini kan, hari Ahad, Ayah sama kakak nggak ke kantor" jawab Ayah sambil tersenyum
"sama kakak juga?" tanya nya dengan heran
"iya,, Ayah sengaja suruh kakak untuk resign dari kerja yang dulu, Ayah mau kakak pimpin salah satu perusahaan Ayah saja, tapi di bidang keahlian kakak dulu di Batam" jawab Ayah yang membuat nya mengangguk paham
"tumben kakak membahas kerja hari ini, jangan terpikirkan untuk membuat lamaran pekerjaan ya kak, Bunda nggak akan setuju" ujar Bunda yang merasa tidak suka
"lho, kenapa memang nya jika kakak memang kerja, kenapa Bunda larang kakak?" tanya nya saat tengah menyelesaikan sarapan pagi nya
"nggak, Bunda nggak akan pernah setuju, kakak nggak boleh bekerja, kakak harus membuka usaha sendiri, nggak boleh bekerja sama orang pokok nya" jawab Bunda
"hmm, iya, nggak masalah Bund" jawab nya yang merasa pasrah saja kala mendengar hal tersebut
"akh iya, Ayah dulu nya anak berandalan ya, kalau kakak nggak salah,,, anak geng motor gitu?" tanya nya di kala baru mengingat sesuatu yang berhasil membuat semua anggota keluarga merasa terkejut
"huum, benar kah itu Yah, Ayah dulu nya anak yang motor?" tanya Arsen seraya melihat sang Ayah
"kakak mengetahui ini dari mana jika dulu Ayah memang anak geng motor kak?" tanya Ayah dengan kening mengerut
"hmm, Bunda juga cukup pemalu, tapi pendidikan Bunda tinggi, jadi aku sama kak Nisa nurun dari bunda, jika Arsen tampan, itu nurun dari Ayah" ucap nya yang semakin membuat semua nya merasa sangat penasaran, dari mana dia tahu, pikir Ayah dan Bunda
"kakak tahu dari mana jika kakak nurun dari Bunda, kan kakak lebih identik mirip sama Ayah kak?" tanya Bunda penuh penasaran
"akh,, iya ya, aku kan nurun dari Ayah, tapi,, Ayah nggak kalah pintar nya dari Bunda sih dulu, selain pintar, meski pun tanpa belajar xixi, benar kan apa yang kakak bilang?" ucap nya di akhiri dengan kekehan kecil
"iya, tapi kakak tahu dari mana Ayah sama Bunda dulu?" tanya Ayah yang sudah merasa tak habis pikir
"hmm, ada lah, sosok yang sangat aku, eh, maksud nya, kita semua rindu kan" jawab nya ada yang penuh dengan kesan misterius
jawaban nya kali ini berhasil membuat semua yang ada di meja makan di landa rasa penasaran yang benar benar besar
"lho, Bunda cerita tentang masa lalu sama Izza, kok nggak pernah cerita sama kakak sih, kan kakak juga penasaran Bund?" ujar kak Nisa
"bukan gitu kak, masalah nya, ini Bunda juga nggak ada cerita sama Izza, tapi dia tahu masa lalu Bunda sama Ayah gimana, dari siapa coba?" jawab Bunda yang masih kebingungan
"xixi, ada lah pokok nya Bunda sama Ayah nggak perlu tahu orang nya siapa, emm,, dulu Ayah Bunda juga di jodohkan kan?" tutur nya yang berusaha mencari kebenaran
"lho, kakak mengetahui semua nya dari siapa, perasaan, Ayah sama Bunda nggak pernah cerita tuh sama kakak atau sama kak Nisa atau bahkan Arsen?" tanya Bunda dengan 1000 rasa penasaran nya
"eh, sudah sudah kenapa jadi bahas masa lalu Ayah sama Bunda sih, sekarang bagaimana kak, perihal perjodohan itu, apa kah kakak mau menerima nya?" tanya Ayah yang mulai menyadari sesuatu dan berhasil membuat nya bungkam
"ehm,, Ayah,, Bunda,, usia kakak masih belum cukup untuk menikah, bahkan kalau boleh jujur, kakak masih merasa ragu untuk ini" tutur nya yang membuat semua tatapan keluarga nya hanya tertuju kepada nya
"Khaliza,, bukan masalah jika sekarang usia kakak masih belum cukup atau bahkan sudah mencukupi, menikah muda itu baik sayang, baik untuk menjaga diri kakak, baik untuk menghalangi syahwat, dan menjaga diri dari nafsu yang sering susah di kendalikan" tutur Ayah dengan penuh kelembutan
diri nya pun terdiam sejenak, menatap Ayah sesaat, mungkin Ayah memang benar, tapi,,, apa diri nya bisa? Khaliza sendiri sadar selama ini telah berdosa karena memikirkan seseorang yang tidak halal untuk nya, memikirkan Andra yang terus menerus mendekati diri nya, memikirkan dia yang telah berhasil membuat nya cukup kagum karena sikap dan kebaikan nya
lantas, apakah angan angan itu harus dia relakan? "Apa menurut Ayah dan Bunda, menikah muda terbaik untuk Khaliza?" tanya nya dengan tatapan intens pada kedua orang tua nya
sontak saja Ayah dan Bunda mengangguk sambil tersenyum "menikah muda adalah opsi terbaik dan memang begitu sangat baik, bahkan kamu sendiri sudah tahu kan, Bunda juga dulu menikah muda sama Ayah?"
"Yah, bagaimana sih dulu, kenapa Ayah bisa se yakin dan se percaya itu menerima perjodohan dengan Bunda?" tutur nya bertanya dengan lembut
"sebenar nya kakak mau tanya kan apa sih sayang, jangan membuat Ayah jadi merasa semakin bingung, langsung tanya kan saja" jawab Ayah
"hhhhh,, baiklah, bagaimana Ayah bisa memantapkan hati Ayah sendiri, padahal di kala itu Ayah adalah anggota dari geng motor, yang mungkin tipikal Ayah bukan Bunda?" tanya nya pada inti nya
"meski kini waktu itu Ayah adalah anggota geng motor, tapi ada sedikit ilmu agama di hati dalam Ayah nak, Ayah menambah kan kisah cinta Khulafaur Rasyidin Ali dan Fatimah az-zahra sehingga hati Ayah bisa mantap dan menetap hanya untuk Bunda kalian" jelas sang Ayah sambil menoleh perlahan ke arah Bunda dan tersenyum, membuat hati nya mulai tersentuh dengan perlahan
melihat dan mengerti arah pembicaraan dari sang anak, kini Ayah pun mulai menjelas kan "dia seorang ustadz muda kak, tentu dia akan bersikap baik sama kakak, dia cukup paham agama, dia mengenal agama cukup dekat sayang, jika dia berani menyakiti anak gadis kedua Ayah ini, lihat saja, akan Ayah Bunda memberi dia pelajaran" tutur Ayah dengan bercanda yang membuat nya terkekeh
diri nya pun mengangguk paham, tentu tahu bagaimana mulai tertulis nya kisah Bunda dan Ayah yang berawal dari perjodohan juga, meski kini diri nya hanya tahu sedikit dari sang kakek di malam malam sebelum nya
tapi,, apa harapan untuk tidak bisa bersama dengan nya memang pilihan terbaik untuk nya?
oh Allah,, apa yang harus saya lakukan?
"hhh,,, bismillah,, baiklah Ayah, Bunda, jika memang ini adalah pilihan yang tepat untuk kakak saat ini, insya Allah, kakak akan berusaha menerima nya dengan ikhlas" jawab nya yang perlahan membuat seluruh keluarga nya tersenyum bahagia
"apa kah kakak yakin dengan apa yang kakak ucap kan itu nak?" tanya Ayah dengan tatapan penuh haru
Bismillah,,, dengan penuh perasaan ragu, diri nya pun kembali mengangguk, meski pun sambil berusaha mempertahan kan senyuman nya
"aku akan menerima perjodohan ini, jika Ayah Bunda juga bisa menerima keinginan ku" tutur pnya kemudian
"apa itu sayang?" tanya Ayah
"hhh,,, pertama, aku nggak mau, Ayah menyuruh ku untuk membuka niqab aku di hadapan sosok yang Ayah pilih kan, sebelum aku merasa benar benar siap nanti nya, kedua,, izin kan aku untuk kembali ke pondok, di saat nanti nya urusan ku disini sudah benar benar selesai, dan ketiga,,, izin kan aku untuk memberitahu teman teman ku di pondok perihal ini, karena bagi ku, mereka juga orang yang benar benar penting buat aku" tutur nya sambil menunduk
"baiklah nak, jika memang itu yang menjadi keinginan mu, Ayah tidak akan memaksamu,,," ucap Ayah terhenti di kala mendengar ponsel yang berdering
"Ayah angkat telepon dulu?" ucap Ayah seraya berlanggang pergi
"assalamualaikum?"
"..."
"akh,, ada kabar yang begitu baik, kini putri ku menerima perjodohan ini"
"..."
"yah, dia di rumah sekarang, kemarin aku menjemput nya karena wisuda, alhamdulillaah, lulus dengan nilai terbaik dan tertinggi"
"..."
"makasih?"
"..."
"oh,, iya bisa, insya Allah, semoga kita benar benar menjadi besan kedepan nya ya, tapi kamu luang kan hari ini?"
"..."
"akh,, iya juga sih, ya sudah, aku tutup dulu, mau siap siap?"
"..."
"allahumma aamiin,, hee, iya, waalaikum salam warahmatullah"
"Bunda" panggil Ayah seraya kembali duduk di kursi meja makan
"iya Ayah, ada apa?" jawab Bunda sambil menghampiri Ayah
"kakak, kakak siap siap ya, hari ini kita akan bertemu dengan keluarga Om Aydhan, Bunda juga?" tutur Ayah yang membuat nya benar benar terkejut
"harus kah secepat ini Yah?" tanya nya dengan tatapan yang penuh dengan tanda tanya
"hmm, sayang, niat baik tidak akan menjadi baik jika banyak di tunda, kakak nggak ada jadwal hari ini kan?" tanya Ayah yang membuat nya mengangguk dan berlalu pergi ke arah tangga
"kak, mau Bunda bantu nggak, siap siap nya?" tanya Bunda yang mendapat gelengan kepala kecil dari nya
...°°° ...
setelah semua nya sudah selesai dengan siap siap nya masing masing
terlihat diri nya yang menuruni anak tangga dengan perlahan, mengenakan gamis mocca dengan kombinasi merah maroon nya juga dengan hijab syar'i berwarna merah maroon dan niqab yang senada, dengan menyorentas selempang nya, membuat siapa saja akan merasa terkagum di kala melihat keanggunan nya
"masya Allah,, Putri kedua Bunda cantik banget sih?" puji Bunda di kala diri nya yang sudah berdiri di samping Bunda pun menjadi tersipu malu
"hmm,, Bunda bisa saja" jawab nya sambil menunduk dalam
"ayo Bund, kak, mobil nya sudah siap?" ucap Ayah yang telah selesai memanaskan mesin mobil nya
kedua nya masuk dengan perlahan, dengan diri nya yang duduk di kursi penumpang, dan Bunda duduk di kursi sampai Ayah yang mengemudi kan mobil
"kamu nggak tahu kak, calon suami kamu juga suka dengan warna merah maroon lhoo, ternyata,, jodoh itu satu hati ya?" ujar Ayah yang melihat ke arah nya melalui spion depan
"sudah lah Yah, jangan terus menerus menggoda anak gadis kita, dia pasti malu, dia kan orang nya memang pemalu" sahut Bunda yang mendapat kekehan kecil dari Ayah
_**Assalamualaikum Zahra_
Rabu, 2 Agustus 2023**