
...—Dataran Gius, Perbatasan Arestia - Forbrenne—...
...—21 Juli 1238—...
Jauh berada dalam pandangan mata, sebuah benteng yang tersusun atas bata abu-abu bertumpuk berdiri kokoh di atas hamparan rerumputan luas.
Benteng Gius, dinamakan serupa dengan nama daerah tempat ia berpijak, merupakan benteng yang menjaga Forbrenne dari serbuan Tentara Natrehn pada masa lalu, yang kini menjadi salah satu hambatan bagi Ares jika ia ingin menginvasi Kerajaan Forbrenne.
Pasukan Ares serta Benteng Gius dipisahkan oleh hamparan pepohonan rindang, merupakan senjata alam bagi garnisun tentara perbatasan, yang mana mereka akan segera menembakkan anak panah serta batu yang terlontar dari ketapel besar setelah pasukan musuh memasuki hutan.
Namun berbeda dengan keseharian benteng yang diliputi oleh ribuan tentara yang beraktivitas, kini Benteng Gius tidak memiliki satupun penjagaan bahkan dari seorang tentara, yang tentu disebabkan oleh penarikan mundur pasukan menuju Ibukota Forbrenne secara keseluruhan.
Seorang pemuda berambut biru pendek yang terkesan tidak rapi mengangkat salah satu sudut bibirnya. Tatapannya meremehkan, pun jubah hitam yang membalut seragam militer hitamnya memberikan kesan bahwa ia menganggap remeh musuhnya yang kini ia lawan.
Ares tidak pernah menyangka. Bahkan untuknya, ia telah mempersiapkan persenjataan militer kelas berat, berpikir bila militer Kerajaan Forbrenne serta keempat pangeran tetap mempertahankan perbatasan.
Sekarang...
Ares melirik kecil wanita berambut pirang panjang yang berkuda tepat di sampingnya. Tatapannya tertuju pada dadanya, yang kini mengenakan sebuah pakaian dalam era modern menurut apa yang Ares ketahui.
"Apakah itu terasa nyaman, Milly?" Ares berkata lirih, menyembunyikan interaksi pribadinya karena terdapat banyak bangsawan militer yang berdiri di sekitarnya.
Milly von Vienna, selir Ares sekaligus sepupunya dari keluarga cabang Rueter—nama keluarga Ares sebelum berganti menjadi "Aubert"—yang kini telah menjadi keluarga bangsawan berperingkat baron.
Milly berekspresi sulit. Meskipun begitu, tangan kanannya membelai armor besi silver yang membalut dadanya, terkesan bahwa ia sangat mensyukuri pemberian Sang Kaisar, "Um... terima kasih... Ini benar-benar terasa nyaman."
"Begitu... Senang mendengarnya." Terhadap ucapan lirih Milly, Ares tersenyum cerah.
Terlebih dengan Milly yang kini tidak lagi meninggikan posisi Ares dengan menyebutnya "Tuan"—atas permintaan Ares—membuat hubungan Ares dengan selirnya tersebut semakin erat, selain dari keduanya yang secara bersama-sama mengurus Wilma, putri mereka, walau keduanya tetap mempertahankan formalitas jika menghadiri suatu acara resmi.
"Tapi..." Milly berekspresi sulit.
"Ya?" Ares menatap bingung pada Milly.
"Mengapa kamu tidak memberikan ini kepada Yang Mulia Excel?" tanya Milly, melukiskan ekspresi sulit.
"I—itu..." Ares menjawab dengan gelisah, tatapan matanya menuju ke segala arah, memastikan tidak ada seorangpun yang mendengar percakapan diantara keduanya, "Berjanjilah untuk tidak mengatakannya kepada siapapun, oke?"
"Um... Baik?" Milly membuat wajah bingung.
"Bahkan jika Excel mengenakannya, itu hanya akan berakhir sia-sia. Aku tidak dapat membuat ukuran yang lebih kecil dari AA." Suara Ares terdengar sangat lirih, hanya Milly seorang yang dapat mendengarnya.
Meskipun tidak ada seorangpun diantara mereka yang memahami arti ukuran tersebut, Ares memasang kewaspadaan tinggi, tidak membiarkan sedikitpun kebocoran informasi yang dapat Sang Permaisuri ketahui.
"AA?" tanya Milly, tidak memahami arti perkataan Ares.
"Apakah kamu ingat saat aku mengukurmu?" Kata-kata Ares seketika membuat Milly malu, wajahnya sedikit memerah, yang ia tahan karena berada dalam dinas militer.
"I—iya..." jawab Milly.
"Ukuranmu adalah C... semakin awal hurufnya maka semakin kecil ukurannya. Singkatnya, Excel tidak perlu mengenakan itu," jawab Ares lirih.
"Oh..." jawab Milly, tercengang atas jawaban yang Ares lontarkan.
Tetap saja, aku sedikit terkejut dengan ukuran 44F Sena yang melebihi Mia.
Kukira, Mia memiliki buah dada terbesar diantara mereka semua.
Terngiang kembali di dalam benak kenangan malam itu saat Ares mengukur semua buah dada para wanitanya, membuatnya samar tersenyum mesum, yang tentu tidak terlihat oleh Milly.
Tapak kuda terdengar semakin keras, tanda seorang perwira kavaleri mendekati mereka, membuat Ares dan Milly menghentikan interaksinya.
Arthur von Certa, pengawal pribadi Ares di masa lampau yang kini telah diangkat menjadi bangsawan berperingkat baron.
Berambut pirang pendek, bermata tajam, Arthur kini menjadi salah satu kepala divisi Tentara Reguler Kekaisaran Arestia.
"Mungkin," timpal Ares, tanpa berbalik menatap Kristin.
Hingga berada tak jauh dari tempat Ares berada, ia menarik tali kekang kudanya dan bergerak mendekat. Berlutut dengan kepala yang tertunduk dalam setelah berada tepat di hadapan Ares.
"Yang Mulia, benteng dipastikan kosong! Tidak ada sedikitpun persediaan dan persenjataan yang tersisa!" Arthur melapor setelah mengangkat kepalanya, nadanya terasa penuh hormat.
Berbeda dengan penghormatan disaat ia bertindak sebagai kepala negara, Ares lebih menyukai ketegasan dan pelaporan yang tidak menyanjungnya terlebih dahulu, tidak seperti apa yang dilakukan para bangsawan pada umumnya.
Telah menjadi standar bagi para prajurit dan perwira dari semua kalangan, menyebabkan para bangsawan yang tidak terafiliasi dengan militer menyingkir dan militer Arestia mengalami restrukturasi secara masif.
Kini, militer Arestia menjadi lebih baik. Bukan tanpa alasan, para bangsawan yang menyukai pengagungan merupakan sosok di balik lambatnya kemajuan operasi serta para tentara.
Terlebih, mereka juga merupakan koruptor anggaran militer kelas kakap karena tidak mengerti pentingnya penyaluran dana militer dari negara, walau para bangsawan militer lain seperti Kristin dan Warren juga tidak dapat terlepas dari korupsi meski berskala kecil.
"Kondisi?" tanya Ares.
"Benteng dalam kondisi rusak sebagian! Kami memprediksikan bila penduduk merampas pasokan makanan serta persenjataan setelah para budak dan tentara ditarik mundur!" lapor Arthur.
"Apa yang akan Anda lakukan, Yang Mulia?" Kristin tersenyum masam, mengejek niat Ares yang bertujuan menjatuhkan Forbrenne hanya dalam 3 pekan.
Terhadap pertanyaan Kristin, Ares melukiskan senyuman masam, "Sebarkan pasukan di tiga jalur utama perbatasan Forbrenne. Kita akan menjaga perbatasan selama 14 hari."
"Eh?" Tatapan Kristin kosong, ia sangat terkejut karena tidak menyangka Ares akan mengatakan demikian. Pun para bangsawan dan ksatria hanya dapat menatap aneh kepada Ares.
"Bolehkah saya mengetahui apa yang akan Anda lakukan... Yang Mulia?" Arthur menatap aneh kepada Ares.
"10.000 Tentara Kerajaan Mana telah berada di perbatasan mereka dengan Forbrenne, 20.000 Tentara Margrave Francois juga telah menjaga perbatasan mereka dengan Forbrenne. Terlebih, mereka akan semakin terkurung dengan 120.000 prajurit yang tersebar untuk menjaga perbatasan dengan Wilayah Natrehn." Ares sejenak menghentikan perkataannya, tersenyum masam kepada seluruh orang yang memandangnya.
"Aku telah menghentikan seluruh akses para pedagang yang akan memasuki Wilayah Forbrenne sejak 10 hari terakhir... Aku rasa, musim panas pada Bulan Juli tahun ini sangatlah ganas bagi para penduduk dan bangsawan Forbrenne, bukankah begitu?" sambung Ares dengan mempertahankan senyumnya.
Perasaan aneh yang dimiliki oleh para perwira setelah memeriksa benteng pun terungkap.
Kelaparan akibat kekeringan dan kelangkaan barang pokok.
Meskipun para penduduk Forbrenne dan para budak melakukan kegiatan pertanian, mereka tetaplah membutuhkan impor gandum dan barang pokok lainnya, sangat bergantung kepada Wilayah Natrehn serta Kerajaan Mana—yang merupakan titik akses bagi para pedagang yang berasal dari Kerajaan Lethiel—untuk mencukupi kebutuhan pangan penduduk mereka yang terlampau besar.
Tidak hanya hal tersebut, komoditas rempah yang berguna sebagai bumbu, susu, pakaian, serta berbagai hal pokok lain berhenti beredar, menyebabkan kekacauan Kerajaan Forbrenne tidak lagi diliputi hanya oleh pemberontakan rakyat, namun juga karena kelaparan yang sangat ekstrim.
Ada satu alasan mengapa Ares memulai rencananya dengan menghasut rakyat agar mereka memberontak. Tentu, agar mereka menghancurkan dan membakar cadangan pasokan makanan yang berada di lumbung kota-kota besar.
Rakyat jelata tidaklah memprediksikan hingga sejauh itu, terlebih mereka bukanlah seseorang yang berkutat di dalam birokrasi dan militer, menyebabkan mereka mengeluarkan kepuasannya dengan membakar mansion para bangsawan, barak ksatria, hingga lumbung-lumbung gandum yang berada di dekatnya hampir di setiap kota-kota besar Kerajaan Forbrenne.
Milly, yang menilai Ares sebagai seorang pria yang sangat lembut kepada keluarganya, menyadari sisi lain dari Ares yang kini memiliki sebuah mahkota di atas kepalanya, sangat terkejut hingga kedua matanya terbuka lebar.
Pun demikian dengan Kristin, yang juga membuka lebar kedua matanya. Dia sekali lagi tersadar, julukan "Raja Iblis" yang ia sematkan kepada Ares satu tahun yang lalu bukanlah sebuah omong kosong belaka.
Meskipun begitu, sebuah kelegaan terukir di dalam benaknya. Kristin benar-benar tidak menyesali keputusannya untuk mengikuti Ares setelah Kerajaan Natrehn hancur.
Haruskah kini aku memanggilmu sebagai Dewa Jahat?
Dengan kegelisahan yang melanda para perwira militer di sekitar, Kristin tersenyum masam, memandang Sang Kaisar dengan penuh kebanggaan.
...----------------...