Arestia Empire'S World Domination

Arestia Empire'S World Domination
Chapter 55 : Tidak Sesuai Dengan Apa yang Diharapkan



...—Ibukota Excelia, Kekaisaran Arestia—...


...—28 April 1239—...


"Selalu ingatlah hal ini, Saint. Setelah kamu tiba di ibukota, tidak ada satupun yang dapat menjamin keamananmu, bahkan untukku, Constantine XIV."


Kata-kata tersebut selalu terngiang dalam benak wanita berambut pirang panjang yang memakai pakaian putih kebesaran gereja tepat setelah pelepasannya untuk menjalankan misi keagamaan menuju tanah barat yang jauh dari kehidupan beragama.


Jeanne tentu mengerti, pikirannya tidaklah senaif seorang anak yang berpikir bahwa hidupnya akan selalu menyenangkan. Dalam perjalanannya menuju tanah barat, perwakilan dipilih secara langsung oleh otoritas gereja. Bawahan dan penjaga Jeanne tidaklah hanya berasal dari orang-orang yang terafiliasi dengan Kardinal Copet—yang merupakan mantan pengasuh serta ayah angkatnya—namun juga berasal dari ketiga kardinal lain serta para ksatria suci.


"Ayah... berkat doamu, aku sangat bersyukur karena telah berada hingga sejauh ini." Jeanne menutup kedua mata, menggenggam erat kedua tangan dan menempelkannya di atas dadanya yang terlihat sedikit besar.


Megahnya gerbang kota yang menjadi tujuan telah jelas terpampang di balik kaca gerbong kereta kuda. Tidak hanya pengawalan para ksatria suci, karavan Jeanne juga dikawal oleh para tentara reguler Kekaisaran Arestia serta tentara pribadi Margrave Francois. Tidak hanya itu, bahkan Ares telah mengirimkan regu intelejen khusus untuk mengamati setiap tindakan yang dilakukan para pendeta dan pengawal Sang Saint.


Tidak berbeda dengan Ares, Warren menilai bahwa sangat berbahaya untuk meninggalkan Jeanne tanpa satupun pengawalan dari pihak Arestia setibanya mereka di salah satu wilayah kekuasaan Arestia, Kerajaan Forbrenne. Karena paksaan dari pihak militer dan bangsawan Arestia, baik para ksatria suci maupun para pendeta tidaklah menyukai tindakan ini.


Diremehkan, diragukan, prasangka-prasangka negatif tersebut menjadi sebab para ksatria suci merasa kesal, meski beberapa diantara mereka telah menyusun rencana pembunuhan terhadap Sang Saint dengan beberapa pendeta lain.


Hingga beberapa saat, karavan Sang Saint terhenti. Jeanne secara naluriah membuka tirai jendelanya untuk mengamati keadaan. Tak jauh dari tempatnya berada, para ksatria Arestia serta beberapa bangsawan telah berbaris untuk menyambut meski masih berada di luar tembok kota.


Tanpa sadar, salah satu sudut bibir Jeanne terangkat. Terbesit perasaan bahagia karena Sang Kaisar menerima misinya dengan tangan terbuka.


Gerbong perlahan kembali bergerak, hingga melewati gerbang besar yang menjadi batas terluar ibukota. Suara-suara riuh terdengar, Jeanne secara naluriah sekali lagi mencoba untuk mengintip, namun sesuatu yang sangat tidak ia harapkan berada tepat di dalam pandangannya.


Ketakutan.


Ekspresi-ekspresi para penduduk ibukota terkesan buruk, beberapa cerminan rasa takut dapat terlihat dari kebanyakan sorot mata mereka.


"Tidak... jangan lagi..." Jeanne membocorkan suara kecil, jubah putih yang menutupi kedua kakinya teremas, teringat dengan pengalamannya dalam perjalanan beberapa hari terakhirnya.


Sebagai seseorang yang selalu hidup di tengah masyarakat Alven, kedatangannya begitu disambut. Sangat berbeda dengan para penduduk ibukota serta kota-kota Kekaisaran Arestia yang telah ia singgahi selama perjalanannya.


Meski dia, para pendeta, serta para ksatria suci disambut oleh para bangsawan Arestia dan mendapat pengawalan semenjak mereka turun dari pelabuhan, beberapa pelayan serta ksatria bangsawan tidak mampu untuk menyembunyikan ketakutan mereka. Pun demikian dengan para penduduk dari kota-kota yang ia singgahi, hanya memancarkan keputusasaan saat mereka melihat gerbong kereta Sang Saint.


Jauh dari kehidupan agama, meski moral dan kesopanan lokal masih dijunjung tinggi, masyarakat tidak mampu terlepas dari kisah-kisah nenek moyang mereka. Cerita-cerita menakutkan mengenai perang besar yang sangat dahsyat antar agama ribuan tahun lalu serta beberapa perang kecil ratusan tahun terakhir membuat hati mereka gundah. Tak berbeda dengan anggapan jika kebebasan serta keyakinan lokal yang mereka percayai pasti akan terenggut jika Sang Saint menyebarkan agamanya di benua barat.


Tak jauh dari karavan kereta yang membelah lautan manusia di jalan utama ibukota, Ares memandang keruh dari atas menara tertinggi istana, tidak menyangka jika masyarakat membuat reaksi yang berada di luar harapannya.


"Apakah kamu... baik-baik saja?" Excel menunjukkan tatapan khawatir, tidak berbeda dengan Warren yang berdiri sedikit di belakang mereka.


"Aku... baik-baik saja." Kata-kata yang tidak sesuai. Ares sedikit tertunduk, kedua sikunya yang menempel pada balkon putih terasa sedikit sakit, tertekan akibat beban tubuhnya.


Sejenak, ketiganya berada dalam keheningan, hingga Ares berbalik untuk menatap Warren dengan wajah serius, "Apa yang akan terjadi bila Arestia tidak berdiri?"


Warren mengerti, Ares mempertanyakan apa yang akan dilakukan Gereja Arafant bila Ares tetap menjadi bangsawan biasa di perbatasan, "Mereka tetap akan masuk ke benua barat, tapi tidak secara terang-terangan seperti ini. Mungkin, dari sudut pandangku sebagai mantan penerus seorang bangsawan militer veteran, itu akan lebih berbahaya bagi para penduduk."


"Proxy... kah?" timpal Ares.


Warren tersenyum menenangkan, ingin sedikit meringankan beban yang menimpa teman dekatnya, "Tidak perlu dipikirkan, karena perbuatanmu yang telah membunuh ratusan bangsawan, gereja tidak akan menyebarkan ajaran Arafant secara sembunyi-sembunyi lagi."


"Bukankah kamu membuatku terlihat seperti orang jahat?" Ares tersenyum kesal, kerutan dapat terlihat di atas kulit dahinya.


"Siapa tahu?" Tidak peduli, Warren mengangkat kedua bahunya, "Orang baik tidak akan pernah membunuh seseorang, kamu tahu?"


"Tidak, tidak mungkin." Ares menggeleng ringan.


"Apa maksudmu?" tanya Warren.


"Aku sudah memindahkan semua gundikku dan anak-anakku selain Raze, Orcian, dan Wilma ke tempat yang aman," balas Ares, menampilkan senyuman kecut.


"Hah?! Dimana?! Me—mengapa kamu tidak memberitahuku?!" tanya Warren yang sangat terkejut.


Tindakan Ares bukannya tanpa alasan. Mengingat Esther yang dikenal oleh orang-orang sebagai "anak terkutuk," sangat beresiko membiarkannya untuk tetap tinggal di ibukota, terlebih Ares tidaklah mengetahui apa yang akan dilakukan oleh para pendeta serta ksatria suci yang berada dalam faksi yang bersebrangan dengan Sang Saint. Lebih aman untuk meninggalkan Esther, anak-anaknya, dan para gundiknya di bawah perlindungan Klan Cornwall untuk sementara.


Excel terkikik kecil, menutupi mulutnya dengan tangan kanannya, sangat menampakkan keanggunan.


"Jangan tertawa! Kalian membuatku terlihat seperti orang bodoh!" balas Warren kesal.


"Nah, Warren. Kesampingkan terlebih dahulu hal itu, mengingat resiko akan sangat berkuasanya Arafant jika aku membiarkan mereka masuk ke negara ini sendirian... aku berpikir... bukankah itu lebih baik untuk mengundang para rabi dari Agama Mihiral serta beberapa kepercayaan lain juga pada saat yang sama?" Ares menepukkan telapak tangan kirinya dengan tangan kanannya yang mengepal, menunjukkan ekspresi seolah baru saja menyadarinya.


"Hah?!" Tidak dapat berkata-kata serta sejenak hanya dapat menganga, Warren seolah tidak dapat mempercayai apa yang baru saja menusuk kedua gendang telinganya, "Bukankah mereka adalah pembunuh anak-anakmu, Ares?!"


Warren tidak melihat ada perubahan ekspresi pada teman dekatnya, Ares tetap tersenyum, seolah tidak peduli dengan masa lalunya.


"Tidak, tidak seperti itu, Perdana Menteri." Excel tersenyum, meski kegelapan terpancar dari sorot matanya, "Meskipun terkadang aku... merasakan kecemburuan kepada Milly... tapi tetap saja, saat mengingat kematiannya membuatku merasa sangat marah. Tapi, jika kita membalas pada ajarannya, itu bukanlah akhir dari suatu masalah."


"Kami tahu jika situasi tidak lagi aman saat para pendeta dari dua agama tersebut memasuki ibukota. Berbeda dengan rohaniwan dari agama-agama lain, para rabi dan pendeta memiliki tujuan terselubung saat mengajarkan ajaran mereka. Setelah berdiskusi panjang..." Ares menoleh kepada Excel, menerima anggukan ringan untuk meneruskan kata-katanya, "Kami memutuskan untuk membenturkan dua agama tersebut di ibukota."


"Terlebih, dengan adanya keberadaan orang-orang utara di ibukota seperti Thorgils dan Astrid, setidaknya mereka tidak akan bisa menyentuh masyarakat sipil," sambung Ares sembari menampakkan senyuman kecut.


Hening, Warren terdiam tanpa dapat mengungkapkan kata-kata. Rencana Ares dan Excel sangat jauh melampaui apa yang dapat dirinya pikirkan, terlebih dengan keduanya yang tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan para bangsawan yang tergabung dalam House of Lord.


"Apakah kamu mengingat sesuatu yang belum kita tuntaskan dalam rapat militer rencana penaklukan kepulauan selatan?" tanya Ares.


Kedua mata Warren terbuka lebar. Beban pikiran akibat pasangan bodoh di hadapannya semakin bertambah, "Ja—jangan katakan..."


"Benar." Sejenak, pandangan Ares dan Excel bertemu, saling tersenyum bahagia karena dapat memberi hadiah kepada perdana menteri negara, "Jika dimanapun keselamatan kami akan terancam, bukankah ini adalah saat yang tepat untuk pergi ke habitat musuh?"


"Ka—kalian akan pergi ke kepulauan selatan sendirian?! Apakah kalian tidak mengingat jika kalian sudah memiliki anak?!" ungkap Warren keras, merasa sangat keberatan.


"Tidak apa-apa, tidak perlu mengkhawatirkan itu, Perdana Menteri." Excel memberikan tanggapan bernada cerah, "Jika begitu, tolong beri himbauan kepada para bangsawan tepat setelah perundingan dengan para pemuka agama berakhir untuk mengirim keluarga mereka ke tempat yang aman dan keluarga kekaisaran tidak akan tersedia untuk sementara waktu."


Warren tahu, jika Ares dan Excel telah memutuskan sesuatu, keputusan mereka tidak akan dapat digoyahkan oleh apapun. Bahkan bagi House of Lord, kecaman mereka hanya akan berakhir seperti selembar kertas kosong biasa.


Warren menghela napas berat, mencoba untuk menenangkan pikirannya dengan membuat wajah serius, "Sampai kapan kalian akan melakukannya? Setidaknya, aku dapat mempersiapkan armada sebelum kalian tiba."


Keduanya saling melirik, Excel tersenyum kecut karena sekali lagi dapat mengejutkan Warren, "Tidak, tidak perlu melakukannya, Perdana Menteri."


"Mengapa?" tanya Warren kembali, mengangkat alisnya karena bingung.


"Karena kamu pasti akan mengirim pasukan saat mendengar berita bahwa Keluarga Kekaisaran Arestia telah tertawan."


Umurnya merontok. Bagi Warren, mungkin hari ini adalah hari dimana dimana dia pertama kalinya mengalami serangan jantung ringan hingga jatuh pingsan.


...----------------...