Arestia Empire'S World Domination

Arestia Empire'S World Domination
Alternation 2 : Hari Istirahat



...—Ibukota Excelia, Kekaisaran Arestia—...


...—25 Agustus 1238—...


Ting.


Tung.


Ting.


Senandung nada piano yang terkesan menenangkan mengisi ruang-ruang istana kekaisaran yang masih diliputi oleh sejuknya udara pagi.


Burung-burung berkicauan, sinar cerah mentari pagi menerpa ruang-ruang istana kekaisaran yang memiliki jendela terbuka.


Dikelilingi oleh suasana sepi di dalam aula dansa, kedua tangan Ares semakin lihai memainkan nada. Burung-burung berdatangan melalui jendela serta lorong terbuka, hinggap di atas pianonya dan memandangi Ares sembari memutar-mutar ringan kepalanya.


Memanfaatkan hari istirahatnya, Ares mencoba melakukan sesuatu yang menjadi hobinya di dunia sebelumnya. Sedikit terkecewakan, Ares hanya mendapati piano, beberapa terompet, serta drum kulit di dalam istana.


Ting.


Ting.


Mendengar alunan yang asing, seorang bayi laki-laki berambut pirang tipis berumur 2 tahun awal mengintip dari balik dinding yang menyekat aula dengan lorong.


Zack Orient, putra Ares bersama Mia, yang sedang menggenggam tangan kakak perempuan tirinya, Nina.


Seorang pelayan wanita yang berada di belakang keduanya memiliki raut wajah rumit. Dia tidak yakin bagaimana harus memberikan sikap kepada keduanya. Terlebih, hari ini merupakan hari libur Ares yang mana terdapat perintah untuk membiarkan anak-anaknya mendekatinya khusus pada hari liburnya.


"Zack, apa itu?" Nina bertanya polos. Kepalanya menjulur dan menemukan ayahnya sedang bermain.


Meninggalkan Zack serta pelayan penjaganya yang kini panik, Nina mendekati ayahnya, melukiskan ekspresi penuh keingintahuan, "Ayah! Aku mau!" sembari memukul-mukul ringan paha ayahnya.


Kedua tangan Ares terhenti, ia menatap lembut kepada Nina serta Zack yang berjalan mendekatinya disertai oleh pelayan wanita pengasuh keduanya yang terlihat sangat gugup.


"Zack, duduklah di samping ayah." Ares berkata lembut, kedua tangannya mengangkat Nina untuk duduk di pangkuannya.


Tangan kiri Ares memegang punggung tangan Nina, tangannya yang lain memegang punggung tangan Zack—yang telah terduduk di samping kanannya dengan bantuan pelayan pengasuh.


Ares menggerakkan jari jemari kedua anaknya. Nada-nada yang terputus-putus tetap memberikan kesan indah.


Kegembiraan terpancar, Nina dan Zack menggerakkan tangan mereka yang lain untuk memainkan tuas piano yang lain, menyebabkan nada-nada yang terdengar semakin kacau.


Pelayan pengasuh merasa semakin gugup, sangat takut mendapat kekesalan Tuannya. Namun, lama berselang, dengan nada yang hancur, Ares tetap menampakkan senyum kebahagiaan.


Hingga beberapa saat berlalu, matahari kian meninggi. Beberapa pelayan serta bangsawan pejabat istana telah menengok karena rasa penasaran mereka.


Ares berniat menyudahi aktivitasnya, "Zack, Nina. Ayah punya mainan baru untuk kalian."


"Apa ayah?!" Nina menengok riang.


"Ayo ikut." Ares bangkit, menggendong Zack dengan menggandeng tangan Nina dengan ditemani oleh pelayan pengasuh tersebut.


Menuju kamar pribadi Ares, ia mendapati beberapa bangsawan birokrat menyapa dengan membungkuk ringan, sebagai tanda penghormatan mereka.


Sesampainya di kamar pribadinya, Ares menarik salah satu laci lemari besar di sudut ruangan. Sebuah pakaian boneka singa berwarna coklat kekuningan berukuran sangat besar yang muat untuk satu orang dewasa serta sepasang pakaian boneka yang serupa namun berukuran sangat kecil, yang terlihat sangat cocok jika dikenakan oleh kedua anaknya.


"Um... apa yang hendak Anda lakukan... Yang Mulia?" Pelayan pengasuh tersebut dengan takut bertanya, tidak ingin bersikap tidak sopan, namun keingintahuannya menghantui.


"Memakainya. Ah, tolong." Ares menjulurkan kedua pakaian tersebut.


"Um... baik..." Dengan sedikit ragu, pelayan pengasuh tersebut menerimanya dan mengenakannya kepada Zack dan Nina.


"Ayah! Apa itu?!" Dari balik pintu, Orcian datang mendekat. Kedua matanya berbinar karena sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Tangannya membelai lembut pakaian boneka yang Ares kenakan, "Wahh!"


Berbeda dengan anak-anak Ares yang lain, hanya Orcian dan Wilma yang dapat dikatakan sangat aktif. Bahkan, keduanya sering menghilang dari pandangan pelayan yang bertugas mengasuh mereka, meski Orcian tidak melakukannya jika bersama Excel karena merasa takut kepada ibunya.


Ares tidaklah khawatir dengan perilaku mereka berdua, merasa sangat yakin jika keamanan istana tidak dapat tertembus karena telah mendapat penjagaan penuh dari Biro Intelejen serta sebagian Klan Cornwall yang akan menghalau dan memberi kabar darurat kepadanya jika saja terdapat sekecil apapun hal yang dapat mengancam keselamatan mereka.


"Ya!" timpal Orcian, nadanya terdengar sangat senang.


"Tolong, ambil satu pakaian lagi di dalam." Ares melirik pelayan pengasuh tersebut.


"Um... baik, Yang Mulia." Mengabaikan keragu-raguannya, pelayan pengasuh tetap mengenakan pakaian boneka singa yang serupa juga kepada Orcian.


Ares mengenakan pakaian boneka tersebut dengan pakaiannya secara langsung. Tidak perlu mencari tempat privat untuk berganti.


Sebuah telinga kecil di atas kepala, sekujur pakaiannya diselimuti oleh bulu-bulu halus, wajah Ares dan ketiga anaknya dapat tampak jelas dipandang oleh orang yang mereka temui.


Ares mengalihkan perhatiannya kepada tiga anaknya, "Jika kalian bertemu orang lain, katakan, 'Rawr!' oke?!"


"Ya!"


"Oke, mari kita ke tempat bermain!" ajak Ares, sangat bersemangat.


Zack, Nina, dan Orcian segera berlari, diikuti oleh Ares serta pelayan pengasuh Zack dan Nina di belakang mereka.


Menapaki lorong, hingga mencapai suatu persimpangan, ketiga anaknya segera melompat, "Rawrr!"


Sedikit terkejut, seorang pelayan yang mendorong sebuah kereta makanan sejenak terdiam. Menatap ketiga balita yang memperagakan orang yang hendak menangkap tersebut dengan lembut.


Hanya berlangsung sesaat. Kerutan besar segera terukir di atas kening pelayan tersebut saat melihat Tuannya mengenakan pakaian serupa dengan ketiga anaknya, walau ia tetap menyapa Ares dengan membungkuk dalam.


Haruskah aku bergabung?


Sepertinya terlihat cukup seru...


Mengikuti ketiga anaknya yang telah berlari menjauh, Ares terlihat mengendap-endap, membuat pelayan pengasuh di belakangnya keheranan, bertanya-tanya mengenai apa yang Tuannya hendak lakukan.


Suasana masih terbilang pagi. Hanya beberapa ksatria dan pelayan yang dapat ditemui oleh mereka. Para bangsawan yang sangat sibuk akan berangkat lebih awal dimana hari masih gelap, sedangkan mereka yang telah menyelesaikan tugasnya akan datang bekerja disaat matahari telah naik cukup tinggi.


Meskipun begitu, tidak serta merta hal tersebut akan terjadi setiap hari. Rombongan para bangsawan yang dipimpin Warren menapaki lorong istana yang terlihat sepi.


Di belakangnya terdapat Claire, Victor, Joergen, hingga Kristin yang baru saja kembali ke ibukota saat petang untuk menyelesaikan tugasnya yang masih menumpuk.


Ada beberapa orang yang bersembunyi di balik persimpangan...


Pembunuh?


Warren memberi tanda kepada Kristin, yang sangat peka dengan aktivitas militeristik. Menanggapi Warren, Kristin menggeleng ringan, tanda apabila dia tidak sekalipun merasakan sebuah permusuhan dari pihak tersebut.


Terlebih, pembunuh ataupun penyusup tidak akan menunjukkan hawa kehadiran mereka dengan sangat jelas.


Dengan tetap mempertahankan langkah tenangnya, rombongan tersebut bergerak menuju persimpangan lorong dimana orang-orang tersebut bersembunyi.


"Rawr!"


"Rawrr!"


Bersamaan dengan lompatan Orcian yang terakhir melompat diantara ketiganya, Ares mengikuti. Menyebabkan para bangsawan tingkat tinggi yang memandangnya merasakan kejanggalan besar.


"Apa... yang sebenarnya Anda lakukan... Yang Mulia?" Claire bertanya, nada yang terpancar menunjukkan ketakjuban yang begitu tinggi.


Malu.


Hanya hal tersebut yang dapat Ares rasakan. Tidak menyangka jika orang yang dia kejutkan merupakan orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi serupa dengannya. Terlebih dengan adanya Warren, Kristin, serta Claire yang berusia sebaya dengan Ares.


Ketiga anaknya meninggalkan Ares, segera berlari untuk mengejutkan orang lain. Kesulitan bagaimana harus pergi, Ares perlahan melangkah, dengan menunjukkan senyuman yang sangat dipaksakan dengan mengatakan "Rawr!" hingga dia tidak lagi terlihat oleh mereka.


Ares segera berlari kencang, mengejar anak-anaknya yang telah berada sangat jauh. Meskipun begitu, dia tidak menyesali perbuatannya karena dapat melakukan sebuah family time bersama anak-anaknya.


"Rawr!"


...----------------...