Arestia Empire'S World Domination

Arestia Empire'S World Domination
Chapter 26 : Rumah



...—Ibukota Excelia, Kekaisaran Arestia—...


...— 27 Agustus 1238—...


"Aku pulang."


Hanya dua kata tersebut yang terlontar dari kedua bibir Ares setelah ia memasuki kamar pribadi istrinya.


Namun, tidak terdapat satupun jawaban. Hanya ruang kosong yang Ares temui setelah membuka pintu yang dalam kesehariannya sangat membuat hatinya hangat.


"Dimana Excel?" Kepada seorang pelayan di belakangnya, Ares bertanya bingung, sebuah pertanyaan yang sekaligus merujuk kepada dua anaknya, Raze dan Orcian.


"Um... beliau sedang berada di taman bunga, Yang Mulia." Pelayan tersebut mengungkap dengan sedikit takut.


Membuat suasana melunak, Ares melukiskan senyuman cerah, "Tidak apa-apa. Tapi... apakah ada sesuatu yang terjadi sejak kepergianku?"


"Saya merasa... sejak beliau menghadiri audiensi dengan Utusan Ratu Gardom, beliau entah mengapa lebih sering menyendiri." Wajah pelayan tersebut terlihat sulit.


"Begitu." Ares segera memahami jika Florentia pasti mengirimkan sesuatu yang bertujuan melibatkan keluarganya.


Menilik kepribadian Excel, bahkan Ares tidak sekalipun berani untuk membicarakan pertunangan anaknya, saat ini dan di masa yang akan datang. Terlebih, sebagai mantan individu yang pernah hidup di era modern, ia lebih memilih untuk membebaskan anak-anaknya untuk mencari pasangan mereka sendiri, walau pasti Ares akan melakukan penyaringan sebelumnya.


"Dia, apakah boneka tangan yang aku minta sudah jadi?" Pada seorang ksatria pengawal wanita berperawakan normal berambut pirang panjang yang diikat ekor kuda sekaligus merupakan bibi serta ibu Milly, Ares memberikan senyuman penuh harap.


"Saya akan mengambilnya terlebih dahulu." Dia menunduk dalam, memohon izin untuk meninggalkan penjagaan Ares.


"Ya," timpal Ares.


Melihat kepergian Dia, Ares sejenak terdiam. Perasaan-perasaan khawatir yang menyangkut masa depan anak-anaknya menyelimuti benak Ares.


Ada perasaan jika Milly serta para gundik Ares yang menginginkan agar anak-anak mereka juga diberikan kekuasaan pada masa yang akan datang. Bukan berarti mereka akan memaksakan hal tersebut dan bersikap tidak patuh, namun tentu sebagai wanita yang telah diambil oleh seorang bangsawan—terlebih Ares merupakan seorang kaisar—Ares berpikir jika keinginan-keinginan tersebut telah datang.


Ares berpikir jika ia harus sejak dini memberikan kepastian kepada para wanitanya mengenai masa depan anak mereka, hingga mereka tidak memiliki harapan yang terlalu tinggi dan melakukan pemberontakan jika hal itu terjadi, meski kemungkinan tersebut sangatlah kecil.


Kupikir... aku akan mengumpulkan mereka semua malam ini.


Dan juga... apakah Esther telah kembali dari utara?


Kenangan masa lalu kembali muncul. Ares sedikit merindukan pertemuannya dengan seorang gadis yang dia selamatkan beberapa tahun lalu, yang mana telah menjadi sasaran kebencian warga desa karena keanehan yang tampak dari kedua warna matanya yang sangat kontras—karena dianggap sebagai anak terkutuk.


Ares melanjutkan langkahnya, menuju sebuah taman dimana ia mengungkapkan perasaan cintanya kepada Excel untuk pertama kalinya, yang mana Ares berpikir untuk menggunakannya hanya sebagai alat politik dan militernya saat mengungkapkan hal tersebut.


Dalam perjalanannya, Ares bertemu kembali dengan Dia, yang membawa dua buah boneka tangan yang menyerupai kepala singa serta elang—yang menjadi lambang Keluarga Aubert.


Tentu, kedua boneka tangan tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga terlihat lucu dan menggemaskan, sangat menarik apabila digunakan untuk menghabiskan waktu bersama anak kecil.


Hingga beberapa saat, Ares tiba di pintu yang menghubungkan bangunan istana dengan taman besar di salah satu sudut istana.


Suasana cerah, udara terasa sangat sejuk, hamparan bunga-bunga berwarna-warni seolah melengkapi keindahan. Entah mengapa, ada perasaan dimana Ares ingin melakukan sebuah piknik.


Memandang sebuah gazebo putih kebiruan berbentuk segi enam, Ares menemukan kedua anaknya sedang bermain ditemani oleh Excel yang terduduk dan memandang ke sisi lain menuju hamparan bunga.


Bukankah aneh Excel selalu merawat mereka berdua sendirian?


Apakah ini juga karena fobia Excel yang tidak ingin membuat Raze dan Orcian seperti apa yang terjadi kepadanya saat masih kecil?


Mengusir pikirannya yang semakin berlarian menuju ke hal yang sangat jauh, Ares memasukkan kedua tangannya ke masing-masing lubang bagian bawah boneka tangan tersebut.


Dengan membungkuk dalam, Ares mengendap-endap mendekati gazebo tersebut tanpa menimbulkan sedikitpun suara tapak langkah.


Para pelayan dan ksatria pengawal terdiam, memandang Tuan mereka dengan tatapan aneh.


Bagi mereka, perilaku Ares sangatlah jauh dengan para bangsawan lain. Pun demikian dengan istrinya, Sang Permaisuri, yang juga menghendaki merawat anak-anaknya tanpa mengandalkan bantuan pelayan, meski juga disaat-saat tertentu Excel tetaplah membutuhkannya.


Bersembunyi di balik tembok gazebo dengan tinggi sekitar setengah tubuh manusia, Ares mengangkat kedua tangannya, seolah-olah memunculkan panggung dan bertindak sebagai dalang sebuah pentas.


"Tuan Singa, apa yang sedang kamu lakukan?" Ares mengubah nada suaranya, tangan kanannya menggerak-gerakkan boneka elang agar terlihat seolah sedang berbicara.


Ares membalikkan tangan kirinya, membuat agar boneka singa menatap boneka elang di tangan kanannya, "Oh, Aku sedang makan, Tuan Elang. Apakah kamu juga ingin?"


Raze dan Orcian mengalihkan pandangannya, mendekati tempat Ares dengan bersemangat. Begitu juga dengan Excel, ia tersenyum lembut, memandang hangat kepada suaminya yang datang mengejutkannya.


Bukan berarti Excel tidak dapat merasakan kehadiran seseorang yang bergerak mendekati dirinya. Sedari tadi, pikirannya sangat runyam.


Terlebih, dengan keamanan istana yang sangat ketat di samping adanya penjagaan dari Klan Cornwall, Excel dapat memiliki ketenangan pikiran untuk membiarkan kedua anaknya bermain di sekitarnya secara bebas.


"Ayah pulang!" Orcian berteriak bahagia, nada yang ia lontarkan sarat akan kerinduan.


"Yah! Aya! Pa ini?!" Kata-kata Raze tidak terungkap jelas, namun kedua matanya berbinar saat ia melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya, yang tidak berbeda dengan sesuatu yang Orcian rasakan.


Ares mengubah dialog kedua boneka tersebut. Membalikkan kedua tangannya agar kedua boneka tersebut dapat saling berhadap-hadapan dengan kedua anaknya.


"Halo, namaku Tuan Singa!" Dengan sedikit menunduk, Ares menggerakkan kedua tangan boneka singa di tangannya untuk mencubit ringan hidung Orcian.


Orcian merasakan kelembutan, kedua tangannya terulur kepada boneka tangan singa dan mengambil alihnya, "Ayah, pinjam!"


Begitu pula dengan tangan kanannya yang tidak lagi merasakan apapun. Boneka elang telah Raze ambil alih, ia mendekatkan tangan boneka tersebut untuk membelai lembut pipi adik perempuannya.


Excel bergerak mendekat, duduk tepat di samping Orcian yang sedang asyik memainkan boneka kecil di kedua tangannya.


Keduanya saling memandang, bersama-sama menampilkan sebuah senyuman lembut. Meskipun begitu, Excel sangat menantikan sebuah kalimat, sesuatu yang Ares selalu ucapkan kepadanya setelah lama berpisah dengan dirinya.


"Aku pulang."


Merasakan kebahagiaan karena ketiga orang yang ia sayangi telah kembali utuh. Dengan menampilkan sebuah senyuman, Excel tanpa sadar menitikkan setetes air mata dari salah satu matanya yang kini terpejam, terpancar dari ekspresinya kerinduan yang sangat berat.


"Selamat datang kembali, Ayah."


...----------------...