Arestia Empire'S World Domination

Arestia Empire'S World Domination
Chapter 21 : Interaksi Luar Negeri



...—Ibukota Kekaisaran Arestia, Excelia—...


...—14 Agustus 1238—...


"Yang Mulia Permaisuri Excel Aubert memasuki ruang tahta!"


Teriakan keras ksatria protokoler menundukkan semua wajah di dalam ruangan, termasuk juga dengan Leticia yang kini telah berlutut di hadapan singgasana.


Leticia melirik kecil, seorang gadis berambut putih yang mengenakan mahkota keemasan dengan penutup ungu disertai gaun putih besar yang menyeret lantai melangkah, menapaki panggung singgasana diikuti oleh seorang pria berjubah hitam yang memiliki rambut kekuningan disertai oleh beberapa ksatria pengawal di belakang keduanya.


Mereka... benar-benar telah berubah.


Terbesit kembali ingatan Leticia disaat ia bertemu Warren—yang kala itu masih merupakan anak semata wayang Margrave Francois—serta Excel—yang masih merupakan Putri Kerajaan Rowling—saat mendiang Raja Kerajaan Gardom—atau ayah Florentia—menerima kunjungan kenegaraan Raja Rowling, Ectave III, serta Margrave Francois di masa lalu.


Sebagai seorang anak yang masih berumur kurang dari 10 tahun, Leticia dan Florentia bermain bersama Excel dan Warren seperti seorang anak kecil pada umumnya, walau Leticia dapat menilai bahwa Warren tidak ingin mendekati Excel—yang disebabkan House of Francois beroposisi dengan Keluarga Kerajaan Rowling.


Tentu, kedua faksi tidak membawa permusuhan mereka kepada hubungan luar negeri kerajaan di atas kertas, walau tidak ada yang mengetahui bagaimana hubungan luar negeri kedua faksi tersebut di balik layar.


Saat ini, melihat Excel serta Warren yang terlihat akur sedikit membuat Leticia bersyukur, meski ia tahu keduanya dapat menjadi musuh besar bagi dirinya dan Kerajaan Gardom.


Tatapan Leticia perlahan turun, menuju dada bidang Excel, yang tidak pernah berkembang sejak dahulu, menyebabkan kedua sudut bibir Leticia samar terangkat, merasa unggul atas Permaisuri Arestia tersebut.


"Heh." Leticia samar mengejek, kembali menurunkan tatapannya.


Pun demikian dengan Warren dan Excel, cukup terkejut karena Florentia akan mengirimkan Leticia sebagai utusannya, membuat keduanya secara naluriah mengingat kembali kenangan masa kecil mereka.


Telah menduduki singgasana, dengan Warren berada sedikit menyamping darinya, Excel sedikit mengangkat wajahnya, memandang rendah kepada Utusan Gardom yang berlutut tepat di hadapannya, "Angkat kepalamu."


"Terima kasih atas kebaikan Anda, Yang Mulia." Leticia dengan elegan mengangkat kepalanya, pandangannya tertuju pada Excel yang memandang rendah pada Leticia.


Bukankah kamu sangat gugup, Excel? Percuma saja menyembunyikan ekspresimu dengan bersikap sombong, kau tahu?


Excel hanya mengangguk ringan sebagai tanggapan, sekaligus sebagai tanda agar Warren mempersiapkan dirinya untuk melakukan audiensi dengan Leticia.


"Saya, Leticia el Rodomea, Countess Rodomea sekaligus tangan kanan Yang Mulia Ratu Kerajaan Gardom, sangat berterima kasih kepada kebaikan hati Yang Mulia karena telah menerima saya dengan baik." Leticia mengungkap rasa syukurnya dengan sekali lagi menundukkan kepalanya, sebagai sebuah sanjungan formalitas.


"Sudah lama tidak bertemu, atau haruskah aku berkata seperti itu, Leticia?" Excel menyambut hangat Leticia, tampak sebuah senyuman di atas wajah putihnya.


Meski masih merasa gugup, Excel berusaha mencairkan suasana dengan sebuah pembicaraan hangat, menyebabkan situasi mengalir, walau dia dan Warren tetaplah waspada terhadap tujuan dan keinginan Gardom.


Melalui kabar-kabar yang diterima keduanya tentang peperangan negara aliansi, serupa dengan penilaian keduanya terhadap Leticia, Warren dan Excel menilai jika Florentia adalah seorang wanita licik, meski ia melakukan hal tersebut juga demi negara yang menjadi tanggung jawabnya.


"Saya merasa sangat terharu karena Anda tetap mengingat kenangan lama yang sangat saya rindukan tersebut, Yang Mulia." Leticia tersenyum cerah, mengalihkan pandangannya kepada Warren, "Begitu juga dengan Anda, Yang Mulia Perdana Menteri."


Warren menampilkan sebuah senyum lembut, "Saya juga demikian, Countess."


Leticia mengetahui, pengaruh serta suara yang dimiliki Ares sangatlah besar jika dibandingkan dengan Excel serta Warren—dan Kristin jika menghitung secara keseluruhannya.


Hanya menghadapi kepala pemerintahan serta permaisurinya, Leticia tentu memiliki perasaan unggul. Leticia akan memasang kewaspadaan tinggi jika ia diharuskan berhadapan dengan Ares secara langsung, yang mana diketahui telah membuat empat negara—dan kini telah menjadi lima—bertekuk lutut kepadanya.


"Apakah Ratu Florentia memiliki sebuah masalah dengan kedua negara aliansi lain?" Kata-kata Warren terasa sangat menjurus.


Hening, ketegangan memenuhi suasana audiensi. Tidak ada yang menyangka bila Warren, yang saat ini tersenyum menginvestigasi, akan mengatakan sesuatu yang sangat berani.


Pun demikian dengan Joergen, yang mengawasi kedua muridnya di sisi lain dari tempat Leticia berlutut. Keningnya berkerut, keringat juga terlihat sedikit bercucuran darinya. Joergen menganggap jika Warren telah membuka kemungkinan blunder yang dapat membuat Leticia kembali menyudutkan dirinya.


"Tidak." Leticia menggeleng ringan, kedua sudut bibirnya membentuk senyuman masam, "Kami semata-mata hanya berniat membangun hubungan baik yang saling bermanfaat bagi kedua negara."


Leticia menjawab elegan, demi membentuk hubungan baik yang menjadi tujuan Ratu Florentia serta mewaspadai antisipasi Ares di kemudian hari.


Hanya kemungkinan, menyerang dengan lembut. Warren tentu mengetahui implikasi dari kata-katanya, namun ia sangat yakin jika Leticia tidak akan menganggapnya dengan serius, yang sesuai dengan prediksinya.


Bagi Warren, melakukan perjanjian dengan Ares sangat membuatnya terinspirasi. Melakukan penyerangan, memberi umpan, hingga mengulurkan tangan telah Warren pelajari disaat Ares berdialog beberapa kali dengan House of Lords, menyebabkan pikirannya semakin terbuka.


"Untuk itu, Yang Mulia Ratu telah mempercayakan kepada saya sebuah surat untuk diberikan kepada Yang Mulia." Leticia melanjutkan perkataannya, sedikit menoleh ke samping sebagai tanda agar salah satu ksatria yang berlutut di belakangnya menyerahkan gulungan perkamen tersebut.


Salah satu ksatria pengawal yang berada di sudut bawah panggung berjalan mendekat, mengambil gulungan perkamen yang diulurkan oleh Ksatria Gardom dan memberikannya kepada Warren.


"Silakan, Yang Mulia." Menyerahkannya kepada Excel, Warren sedikit membungkukkan tubuhnya.


Jenis perkamen ini...


Sejenak merasakan kontur gulungan tersebut, Excel sangat terkagum atasnya. Gulungan perkamen tersebut terbuat dari bahan kelas atas, yang bahkan setiap lembarnya berharga hampir 1.000 G.


Kurasa, mereka benar-benar serius membuat hubungan baik dengan kita.


Excel membuka lembaran perkamen dengan kehati-hatian tinggi. Tetap saja, surat yang berasal dari pemimpin negara lain diharuskan dibaca oleh suaminya, walau Excel juga tetap memiliki hak untuk mengetahuinya terlebih dahulu jikalau hanya keberadaan Ares absen di ibukota.


Sejenak, Excel membaca isi gulungan tersebut dengan cermat, meninggalkan sambutan serta kata pengantar yang bertele-tele serta penuh sanjungan.


Excel dengan perlahan menurunkan kembali gulungan dalam kedua genggamannya, hingga menyentuh kedua pahanya yang tertutupi oleh gaun putih glamor yang dikenakannya.


Raut wajah takjub, kekesalannya seketika memuncak, Excel tidak pernah menyangka jika penawaran kerjasama yang diberikan Ratu Florentia sangat berani. Di samping dirinya yang tidak mungkin memutuskan hal tersebut tanpa kehadiran suaminya, Excel benar-benar muak dengan salah satu poin dari "kerjasama" tersebut.


Bukan karena khawatir membuat sebuah keputusan yang salah, bukan karena takut menyebabkan kehancuran masa depan negara, namun karena posisinya sebagai orang tua yang sangat mencintai kedua anaknya yang terlahir kembar.


Karena, salah satu bentuk kerjasama tersebut adalah, "Pertunangan Pangeran Pertama Kekaisaran Arestia dengan Putri Kerajaan Gardom."


...----------------...