
...—Ibukota Latva, Kerajaan Forbrenne—...
...—22 Juli 1238—...
Sembilan hari telah berlalu semenjak Rutz meninggalkan Kota Rodez, salah satu kota perbatasan Kerajaan Forbrenne dengan Kekaisaran Arestia.
Berada di bawah sinar mentari terik, sekitar 8.000 rakyat jelata yang tergabung dalam pasukan pembebas Kota Rodez yang berada di bawah komando Rutz bergerak mendekati tembok Ibukota Latva, yang kini telah berada dalam bidang pandang mereka.
Setelah menghanguskan barak ksatria, Rutz mengambil sebagian besar persediaan makanan cadangan untuk bekal pasukannya yang akan bergerak menuju ibukota dan menyisakan sebagian kecil pasokan makanan untuk dibagikan kepada para penduduk Kota Rodez yang lain.
Bertentangan dengan harapannya, lumbung gandum Kota Rodez terbakar oleh amukan massa yang marah hanya karena alasan bangunan tersebut yang juga termasuk gedung pemerintah.
Sebagai seseorang yang memiliki pengaruh dan terpelajar, Rutz benar-benar menyesalkan tindakan tersebut, ia tidak mengira bahkan ajudannya akan begitu bodoh, menyebabkan sebagian besar cadangan makanan yang ia tinggalkan hangus terbakar.
Tentu, Rutz tidaklah mengetahui kekacauan yang kini melanda kota tempatnya berasal. Hanya beberapa hari yang lalu, para penduduk merasakan para pedagang yang tidak lagi tiba di kota mereka, menyebabkan banyak dari para penduduk panik dan menjarah pasokan makanan yang disimpan oleh para budak dan bahkan oleh tetangga mereka.
Berada tepat di depan pandangan, puluhan ribu rakyat jelata yang tergabung dengan pasukan pembebas kota-kota besar Kerajaan Forbrenne telah mendirikan perkemahan di luar tembok ibukota.
Tidak hanya hal tersebut, ketapel-ketapel batu juga telah dipersiapkan hingga berdiri kokoh, siap untuk menembak.
Meskipun begitu, pasukan pembebas tidak serta merta segera menembakkan ketapel tersebut. Mereka menyadari posisi mereka sebagai "pembebas," walau sebagian kecil diantara para pimpinan pasukan bersikeras untuk tetap menembakkan ketapel tersebut karena menganggap penduduk ibukota loyal kepada Keluarga Kerajaan.
"Bos, apa kau ingin segera bertemu dengan perwakilan lainnya?" Pembantu terdekat Rutz, seorang pria kekar botak dengan bekas sayatan besar di atas wajahnya mengalihkan perhatiannya kepada Rutz yang berkuda di belakangnya.
"Ya, perintahkan pasukan beristirahat di tempat kosong," jawab Rutz.
"Oke." Menyaksikan pembantu terdekatnya telah pergi, Rutz bersama beberapa rekannya bertolak menuju tenda di tengah-tengah perkemahan dimana para pemimpin pasukan pembebas berada.
Menyusuri perkemahan pasukan pembebas, Rutz melihat beberapa pemabuk yang tertidur di jalanan rumput walau matahari kini telah berada di puncaknya. Beberapa orang yang makan dengan rakus juga terlihat di pinggiran jalan, membuat kening Rutz berkerut.
Tak lama, sebuah tenda besar berwarna merah berhiaskan emas perlahan tampak. Terkesan sangat mewah, Rutz mengerti bila tenda tersebut adalah tenda yang biasanya digunakan oleh para bangsawan saat berperang, membuat kedua sudut bibirnya terangkat.
Dua penjaga dengan pakaian lusuh menahan Rutz saat dia jelas akan menuju tenda yang mereka jaga dengan menyilangkan masing-masing tombak mereka, "Siapa kau?!"
"Rutz, pemimpin Kota Rodez di timur." Kata-kata Rutz disambut oleh tirai tenda yang terurai, dampak dari seseorang bertubuh besar berambut coklat keriting yang keluar dari tenda tersebut.
"Rutz, berikan semua pasokan makanan tentaramu!" Ekspresi pria yang menyambut Rutz mengintimidasi, nada yang ia pancarkan seolah dapat mencabik mental seseorang yang berbicara dengannya, selaras dengan postur tubuhnya yang memiliki tinggi hampir 2 meter.
"Apa yang kau inginkan, Treor?" Rutz tidak sedikitpun terintimidasi, hanya mengerutkan keningnya.
Terlebih, perkumpulan pemberontak yang Rutz hadiri pada malam itu tidak sedikitpun membahas pemimpin gerakan, membuatnya tidak serta merta tunduk patuh kepada pihak lainnya.
"Hah?! Kau masih bertanya?! Apa kau tidak tahu pasokan makanan setiap daerah menipis?!" Treor menarik kerah Rutz dengan mengangkatnya ke atas, wajahnya pun merah karena kesal, "Seharusnya orang-orang yang tinggal di perbatasan sepertimu paham dengan keadaan kita!"
Berbeda dengan Kota Rodez yang berada di perbatasan, daerah-daerah di pedalaman Wilayah Forbrenne sangat merasakan dampak dari perseteruan keempat pangeran selama setahun terakhir, membuat kemiskinan semakin meningkat karena lonjakan harga barang yang diakibatkan oleh ketidakstabilan politik hingga menyebabkan banyak keluarga menjual anak-anak mereka sebagai seorang budak serta banyak dari mereka yang mati kelaparan.
Para penduduk Forbrenne menyambut baik rencana pemberontakan. Meski hanya mengandalkan pihak asing yang tidak mereka kenal, meski persiapan mereka selama setengah tahun dapat dikatakan setengah matang, para penduduk serta pemberontak berharap agar mereka dapat menghentikan keadaan yang menjepit mereka.
Namun, tidak ada yang pernah mengira, Kekaisaran Arestia akan memberlakukan embargo bagi Kerajaan Forbrenne, menyebabkan pasokan barang pokok semakin langka hingga mencekik leher para rakyat jelata, walau mereka tidak merespon hal tersebut karena kekuatan mereka yang sangatlah kecil, di samping mereka yang merupakan rakyat jelata yang tidak berpengetahuan.
"Tidak." Rutz menatap kuat pada Treor, "Aku tidak akan pernah memberikan makananku padamu."
"Hah?! Jangan buat aku kesal, Sialan!" Kepalan tangan Treor hendak menghantam wajah Rutz, yang segera terhenti hanya dengan sebuah saran yang diucapkan Rutz.
"Lebih baik, segera hancurkan dinding ibukota." Rutz menatap kuat pada Treor.
"Hah?!" ungkap Treor.
"Jika kau hanya menginginkan makanan, perbekalan pasukanku tidak akan cukup untuk memberi makan kalian semua. Satu-satunya pilihan yang tersisa hanyalah menjarah ibukota," timpal Rutz.
"Kau... Apakah kau mengerti apa yang kau katakan, Idiot?" Mendengar jawaban Rutz, Treor sejenak tercengang, tidak menyangka bila pria di hadapannya akan memberi usulan yang serupa dengan para pemimpin pemberontak lainnya dan perlahan menurunkan kerah Rutz yang terangkat.
"Bahkan di kotaku, lumbung gandum Rodez hanya memiliki sedikit persediaan yang cukup untuk satu pekan. Aku bahkan tidak mengerti mengapa kelompokku sangat jarang bertemu dengan pedagang Natrehn atau Mana," timpal Rutz.
"Sialan!" Treor berbalik, kembali memasuki tenda dengan kesal, tidak menyangka bila orang-orang perbatasan memiliki keadaan yang serupa dengannya.
Treor—yang memiliki keputusan serupa dengan kelompok pemimpin pemberontak yang menentang untuk menyerang ibukota sebelumnya—kini telah mengerti. Mereka telah berada di ujung tanduk.
Tidak memiliki pasokan makanan sebagai dukungan pasukan sangatlah menakutkan, membuat Treor dengan terpaksa menyetujui usulan yang benar-benar tidak diinginkannya untuk terjadi, mengorbankan penduduk ibukota dan menjarah persediaan makanan yang tersisa di dalam lumbung-lumbung gandum Ibukota Latva.
Rutz, yang mengikuti langkah Treor memasuki tenda, hanya dapat menghela napas berat, mengusir perasaan beratnya yang ia telah putuskan beberapa saat lalu.
Kuharap, para budak dan penduduk ibukota dapat melarikan diri.
...----------------...