
...—Ibukota Kekaisaran Arestia, Excelia—...
...—14 Agustus 1238—...
Mentari pagi menyinari langit cerah yang sekali lagi membentang di atas Ibukota Excelia.
Jalanan tampak sibuk, beberapa pedagang serta toko tampak bertransaksi, pasar-pasar yang dibangun Ares menambah ramainya aktivitas perekonomian Excelia.
Meskipun begitu, suasana hangat tersebut tidak sekalipun merasuk ke dalam istana yang berdiri megah di pusat kota, yang telah diliputi kebingungan semenjak fajar terbit.
DOK!
DOK!
DOK!
"Warren! Keluarlah! Ini bukan saatnya untuk kau sakit perut!" Excel menggebrak pintu kamar mandi umum istana kekaisaran. Meski kata-kata yang ia lontarkan sangat tidak masuk akal, tidak ada seorangpun di dekatnya yang terlihat hendak menegurnya.
Ann—istri Warren sekaligus teman satu kelas akademi Ares dan Excel di masa lampau yang kini juga tinggal di mansion Margrave Francois di ibukota—hanya dapat menatap perilaku Excel yang terlihat sangat gelisah.
Tentu, bukan karena Ann tidak setuju dengan perilaku Excel yang sangat tidak sopan tersebut, namun karena dirinya yang juga bingung bagaimana harus menghadapi utusan yang dikirimkan oleh Ratu Kerajaan Gardom, Ratu Florentia.
Tidak seperti Ares, tidak ada diantara para bangsawan muda yang mengemban amanah tinggi di istana kekaisaran yang memiliki pengalaman dalam urusan hubungan luar negeri.
Terlebih, dengan Warren yang diangkat menjadi perdana menteri secara tiba-tiba dan tanpa diketahui sebelumnya, Warren menjadi sangat gugup hingga membuatnya sakit perut.
"Y—Yang Mulia! Saya sedang tidak enak badan dan merasa tidak dapat menemui mereka!" Warren berteriak keras, duduk di atas toilet dengan memegangi perutnya.
"Sialan! Dimana tanggung jawabmu?!" Excel mengalihkan pandangannya kepada beberapa ksatria wanita yang berdiri di belakangnya, "Dobrak pintunya!"
Sejenak, seluruh ksatria berpaling kepada Ann, meminta persetujuan istri Warren tersebut. Memahami perilaku Ann yang sekali mengangguk ringan dengan menutup kedua matanya, para ksatria saling mengangguk, bergegas mendekati pintu kamar mandi setelah Excel melangkah mundur.
"Tu—tunggu, apa yang hendak Anda lakukan, Yang Muli—"
BRAK!
"Gyaaaaa!"
Melihat pintu kayu kamar mandi umum yang digunakannya terbuka secara paksa, Warren menutupi alat kelaminnya dengan kedua tangannya disertai dengan teriakan keras.
"Yang Mulia Perdana Menteri, silakan persiapkan diri Anda!" Seorang ksatria wanita berteriak tegas, menahan wajahnya agar dia tidak terlihat malu.
"Ke—keluar kalian, Dasar Mesum!" ungkap Warren, terbata karena sangat malu.
"Sangat memalukan." Kata-kata seorang wanita berwajah dewasa berambut coklat panjang yang tergerai lurus membuat Warren perlahan berpaling, menemukan istrinya berwajah datar seolah tidak mempedulikannya, "Apakah kau benar-benar merupakan orang yang paling berpengaruh ketiga di negara ini?"
"Me—mengapa kau mengizinkan mereka, Ann?! Bukankah kau adalah istriku?!" Tidak sedikitpun mengacuhkan pertanyaan Ann, Warren mempertanyakan sikap istrinya.
"Mama! Mama! Apa itu?" Seorang bayi perempuan berwajah bulat dengan rambut kuning berusia 2 tahun awal yang berada dalam pelukan pelayan yang berdiri di belakang Ann menunjuk, membuat Warren seketika merasa sangat malu.
"Oh, benda itu adalah harga diri seorang pria, Clarice." Ann menyipitkan kedua matanya, memfokuskan pandangannya untuk menatap ******** suaminya yang secara tidak sengaja dilihat putrinya dan telah ditutupi tangan Warren.
"Ap—" ungkap Warren, merasa sangat terkejut dengan kata-kata yang diungkap Ann.
"Benar, semakin besar harga dirinya maka semakin besar juga ukurannya." Excel menambahkan, walau dia tetap berada di balik tembok agar tidak melihat organ vital Warren.
"I—itu salah, Yang Mulia!" Warren merasa sangat keberatan, walau putrinya tetap menampakkan wajah bingung.
Mengikuti kepergian Excel, Ann melangkah pergi bersama para ksatria yang mengawal keduanya, meninggalkan Warren yang terdiam, terduduk di atas toilet dengan pintu yang terbuka.
Salah satu kelopak mata Warren berkedut, entah mengapa ia merasa tidak sedikitpun memiliki harga diri. Meskipun begitu, Warren berusaha menenangkan hatinya dengan menghela napas berat.
"Ayo cebok dan segera temui utusan itu," ungkap Warren, bernada seolah lelah dan entah mengapa perutnya tidak lagi merasakan sakit.
Kepada Ann yang berjalan beberapa langkah di belakangnya, Excel mengungkapkan kejanggalan hatinya, "Ann, mengapa menurutmu Ares tidak segera kembali?"
"Saya kira, jika menilik kembali pada kesibukannya dalam beberapa bulan terakhir, mungkin Yang Mulia membutuhkan sedikit waktu untuk berlibur. Terlebih, jika melihat tempat yang beliau kunjungi setelah menaklukkan Forbrenne, Yang Mulia juga dapat dikatakan tidak sepenuhnya berlibur." Ann mengungkapkan pendapat pribadinya.
Ares memiliki pekerjaan yang terlampau padat setiap harinya. Bagi Ann—yang telah beberapa kali melihat beban pekerjaan Ares hingga selesai setelah matahari terbenam—tentu akan berpendapat demikian.
Meskipun ia sedikit bingung pada awalnya, Ann segera mengerti, perbedaan beban kerja dibandingkan dengan para bangsawan istana sebelum Ares melakukan kudeta disebabkan atas pelaporan, perizinan, hingga daftar anggaran yang terlalu terperinci.
Ann mengerti, hal-hal tersebut dapat menyebabkan anggaran lebih transparan dan rapi.
Terlebih, metode yang Ares perkenalkan sebelumnya menyebabkan banyak wilayah para bangsawan dapat mengevaluasi kembali kebijakannya, berimbas pada kenaikan pendapatan wilayah pertahun secara signifikan hingga cadangan makanan yang dapat menyebar lebih merata di tengah penduduk.
"Begitu..." Excel sedikit memiliki perasaan bersalah terhadap suaminya.
Rasa bersalah Excel bukan dikarenakan dirinya yang tidak memiliki satupun pekerjaan. Dia diharuskan untuk mengatur suasana para istri bangsawan di ibukota hingga pelatihan para ksatria, lebih condong kepada aktivitas yang tidak membutuhkan pemikiran yang berlebih.
Terlebih, kemampuannya dalam birokrasi terpaut sangat rendah dibandingkan dengan Claire—Putri Kerajaan Lethiel yang kini menjadi sekertaris negara—dan Lucy—tunangan mantan Pangeran Kedua yang kini menjadi asisten pribadi Ares—menyebabkan Excel sangat iri dengan mereka.
Meskipun begitu, Excel tetap menatap ke depan. Ia melakukan sesuatu yang ia memiliki keahlian di dalamnya, yang menyebabkan Excel sangat bingung jika ia diharuskan untuk berbicara dengan utusan dari negara lain.
Ann tersenyum lembut, sangat menunjukkan aura keibuan yang tidak sedikitpun Excel miliki, "Anda tidak perlu khawatir, Yang Mulia. Harap serahkan utusan tersebut kepada suami saya."
"Tapi... aku tidak ingin menjadi seorang boneka yang hanya duduk manis di atas kursi tahta." Excel keberatan, menginginkan apabila momen ini juga dapat membuat pengalamannya bertambah.
"Baik." Ann mengerti, mengekspresikannya dengan lembut, "Jika begitu, saya akan mengatakan hal tersebut kepada Warren."
"Mengingat dia merupakan pewaris rumah bangsawan perbatasan, apakah Warren pernah bertemu dengan utusan negara lain?" tanya Excel.
Konteks yang Excel ungkapkan adalah bentuk negosiasi, seperti melakukan perundingan, perjanjian, bahkan hingga perang dengan negara lain.
Tentu, kegugupan yang mereka rasakan diakibatkan pada hasil pembicaraan dapat mengubah arah negara.
"Saya kira... belum sekalipun, Yang Mulia. Saya juga demikian tidak berbeda." Ann tersenyum kecut, mengejek dirinya sendiri.
Excel hanya terdiam, perasaannya menjadi gelisah setelah mendengar jawaban Ann. Namun, ketenangan hati segera menyelimuti dirinya setelah memasuki pintu ruangan kantor yang ia tuju.
"Yang Mulia, saya telah menghadirkan Marquis Kolvich untuk membantu Anda." Lucy menyambut dengan senyuman cerah.
Kelegaan.
Hanya hal tersebut yang dapat mereka rasakan setelah mengetahui kehadiran serta bantuan Kepala Akademi sekaligus Menteri Pendidikan.
Mendekati pria tua tersebut, Ann dan Excel tampak merasa senang, terukir di atas raut wajah penuh kebahagiaan mereka.
Memandang mantan muridnya mendekat, Joergen hanya dapat menghela napas berat, merasa hasil didikannya tidak seperti yang ia harapkan.
Sepertinya, aku harus mengubah kurikulum Akademi.
...----------------...