
...—Kota Hauzen, Kekaisaran Arestia—...
...—14 September 1238—...
Tap.
Tap.
Tap.
Melewati keremangan lorong, Ares baru saja meninggalkan kamar tidur yang ditempati oleh kedua anaknya beserta Excel di dalam kastil.
Tidak terlalu luas, namun terasa sangat menenangkan. Terlebih dengan dinding kamar yang bercat kebiruan, kasur besar yang terasa sangat empuk, serta memiliki banyak boneka sangat memberikan perasaan nyaman dan menyenangkan.
Ruangan tersebut menjadi permintaan istrinya yang mana sangat mewaspadai segala kemungkinan atas keamanan.
Jika sesuatu yang sangat buruk terjadi, semisal dengan adanya penyusup yang berhasil menerobos masuk atau bahkan guncangan akibat gempa bumi, Excel sangat yakin jika dia dapat mengatasi keadaan tersebut serta memastikan kedua anaknya tetap dapat tertidur nyenyak.
Bersama Dia—bibi Ares yang juga merupakan mertuanya—yang berjalan mengikutinya, Ares menapaki lorong dengan perawakan yang terlihat sangat lelah. Meskipun begitu, dia tidak dapat beristirahat, beberapa pekerjaan yang telah menggunung telah menantinya.
"Bagaimana kabar Paman Albert?" tanya Ares, tidak sedikitpun memperlambat langkahnya.
Ares sedikit khawatir mengenai keadaan pamannya. Meski Albert adalah ksatria bawahannya yang seharusnya Ares sebagai kepala keluarga tidak perlu untuk mengkhawatirkannya, namun Albert juga merupakan saudara tiri ayahnya yang terlahir dari selir kakek Ares.
"Saya baru saja mendapat surat darinya beberapa waktu lalu. Albert dan Ibunda Canaria berada dalam keadaan sehat. Mereka juga melaporkan perkiraan apabila pembangunan di Tanah Utara akan selesai tepat pada waktunya jika tidak terjadi sebuah bencana alam," timpal Dia, nadanya terasa cerah, sangat senang karena anggota keluarganya mendapatkan perhatian dari Ares.
Dia salah memahami kepribadian Ares yang merupakan mantan penghuni dunia modern yang sangat damai. Sangat berbeda dengan Ares, sangat langka mendengar seorang anak bangsawan yang memberi perhatian kepada keluarga selir ayahnya, terlebih dengan para gundik pendahulunya.
Anggapan sebagai pesaing telah melekat di dalam benak anak-anak bangsawan, meski telah jelas bahwa anak seorang selir dan gundik tidak dapat menjadi pewaris sah rumahnya.
Saat mendengar bila putrinya, Milly, melahirkan seorang anak dengan Ares, hati Dia timbul sebuah perasaan rumit. Entah harus senang karena garis keturunan suaminya telah berkumpul kembali dengan keluarga utama atau harus sedih karena mendengar jika Ares telah memperkosa putrinya.
Meskipun begitu, Albert dan Dia memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah, yang mana disebabkan Ares yang bertanggung jawab penuh atas putri yang dilahirkan Milly, di samping keluarganya yang akan mendapat kenaikan tingkat kebangsawanan menjadi Viscount setelah Wilma beranjak dewasa.
"Begitu, aku turut bersyukur mendengarnya," balas Ares penuh syukur.
Langkah keduanya semakin dekat menuju pintu kembar berwarna coklat yang menjadi pintu masuk kantor pribadinya. Namun, Ares menemukan sesuatu yang tidak biasa di depan pintu tersebut.
"Tuan..." Melihat pendekatan Ares dan Dia, Esther—yang masih mengenakan seragam militer—sejenak membungkuk dalam, sebagai penghormatan kepada Tuannya.
"Ada apa, Esther? Kenapa kamu belum tidur?" tanya Ares.
"Itu..." Esther mengeluarkan sebuah gulungan perkamen dari tas kecilnya dan mengulurkan tangannya agar Ares dapat mengambilnya, "Saya... baru saja mendapat pesan burung dari istana... yang tertanda Yang Mulia Perdana Menteri Warren von Francois."
"Begitu, terima kasih banyak." Sejenak membelai lembut kepala Esther, Ares mengambil gulungan perkamen tersebut, membuka perlahan tepat di depan Esther seolah tidak keberatan bila isi dari gulungan tersebut diketahui olehnya.
Membacanya dengan seksama, Ares sejenak terdiam. Meski tertulis dengan sangat santun, isi surat tersebut sangat membuat Ares takjub.
Warren baru saja mengabarkan apabila pihak Gardom meminta keikutsertaan pihak ketiga dalam perundingan dengan menyertakan alasan-alasan yang sangat masuk akal.
Dengan alasan-alasan yang sangat menguntungkan Kekaisaran Arestia seperti membuka jalur perdagangan laut Arestia dengan Ecasia, Ares seolah telah tersudut, tidak mungkin baginya untuk menolak permintaan yang Gardom inginkan.
Meskipun begitu, Ares terpaku terhadap sebuah poin alasan. Dia menilai walau Warren telah membaca serta memberikan pertimbangan pribadinya di samping menuliskan alasan-alasan yang dikemukakan Gardom, namun Warren seolah tidak menyadari arti dari poin tersebut.
"Tuan?" Esther memandang Ares dengan penuh kekhawatiran.
"Ayo masuk." Ares tidak mengatakan apapun mengenai isi surat, hanya mengajak masuk sembari mendorong tuas pintu kembar kantornya.
Gelagat Ares terasa aneh. Mengikuti Tuannya, langkah Ares sejenak terhenti menyebabkan Esther dan Dia juga menghentikan langkahnya.
Ares berbalik, mengulurkan tangannya menuju kepada Esther dan mengambil kaitan kain yang menutup salah satu mata Esther yang berwarna merah sembari melukiskan senyuman lembut.
"Tu—Tuan..." Gelisah, Esther merasa sangat malu. Kedua pipinya pun terlihat sedikit rona merah.
"Duduklah di situ." Setelah memberikan senyuman masam, Ares menunjuk dengan dagunya sembari kembali melangkah, mendekati dua buah sofa merah berhadap-hadapan yang dipisahkan oleh sebuah meja kayu.
"Baik, Yang Mulia." Dengan menunjukkan senyuman masam, Dia mendorong kedua bahu Esther karena kegugupannya, mendekati sofa yang ditunjuk oleh Tuannya.
Tubuhnya merebah, Ares meregangkan punggungnya hingga ekspresi rileks terlukis di atas wajahnya.
"Dia, dari mana keluarga asal ibuku?" Ares bertanya tenang, melukiskan ekspresi datar.
"House of Levene, salah satu dari lima keluarga besar penguasa Republik Ecasia." Dia menunjukkan kebingungan, tidak mengerti mengapa Ares bertanya mengenai ibunya yang diketahui meninggal setelah berhasil melahirkan Ares dengan selamat.
Sudah kuduga.
"Apakah asal ibuku disembunyikan dari para bangsawan lain?" tanya Ares.
"Um... tidak, Yang Mulia." Dia sedikit memiringkan kepalanya, kebingungan dengan pertanyaan Ares, "Mengapa identitas asal ibu Anda harus disembunyikan?"
Begitukah?
Tapi... dari mana Florentia dapat mengetahui asal usul rumah ibuku?
Ares sejenak terdiam, segera tersadar dengan sesuatu yang telah ia lupakan sebelumnya.
Benar. Levene dan Lourentz adalah dua keluarga yang memiliki hubungan darah yang dekat.
Jika Gardom memiliki koneksi dengan Lourentz, apakah para rubah itu ingin memanfaatkanku menggunakan alasan koneksi kuat dengan rumah ibuku?
Namun... apa alasan ayah tidak memilih untuk menikah dengan putri bangsawan lokal dan lebih memilih seorang putri yang berasal dari luar negeri?
Sangat merepotkan jika aku harus mengurus ular dan rubah secara bersamaan.
Ares menghela napas berat. Bukannya Ares merasa kalah jika dia melawan Gardom dan Lourentz secara bersamaan, namun karena pembangunan masif yang sedang dilakukan negaranya di beberapa titik vital, Ares merasa bila hanya menggunakan dua tangannya tidak akan dirasa cukup.
"Um... Apakah ada sesuatu yang mengganggu Anda, Yang Mulia?" Esther bertanya khawatir, sedikit kerutan pun terlihat di atas kening kecilnya.
"Tidak apa-apa, tidak perlu khawatir." Ares tersenyum lembut, "Daripada itu, apa saja yang kamu lakukan hari ini?"
Senang, kedua matanya seketika berbinar, kebahagiaan sekali lagi timbul di dalam benak Esther. Bagi Esther yang sangat mengidolakan Ares, sangat menyenangkan apabila Tuannya memberikan perhatian kepadanya. Terlebih, Ares tidak sedikitpun merasa takut dengan mata heterochromianya yang membuat Esther menjadi lebih bahagia.
Berbeda dengan Esther yang segera mengungkapkan kegiatannya selama seharian penuh, Dia mengerti, keponakannya sekali lagi akan dihadapkan dengan sebuah permasalahan besar.
Dia tahu jika Ares mengalihkan topik pembicaraan menuju hal lain yang terkesan menyenangkan, merupakan pesan secara tersirat dimana Ares meminta untuk rehat sejenak, memikirkan berbagai hal lain selain aktivitas perpolitikan karena kepalanya yang telah jenuh.
Samar, Dia meremas kedua lututnya, berharap agar Milly, Ares, hingga seluruh keluarganya dapat terselamatkan dari gejolak politik dunia yang akan menimpa mereka pada masa yang akan datang.
...----------------...