Arestia Empire'S World Domination

Arestia Empire'S World Domination
Chapter 53 : Unglorious Emperor



...—Ibukota Argen, Kekaisaran Renacles—...


...—1 Februari 1239—...


Ruangan gelap, hanya ditemani oleh kesunyian yang mendamaikan. Duduk pada kursi dengan meja berukir emas yang berhadapan secara langsung dengan jendela dimana sinar kebiruan menerobos masuk, sosok pria berjanggut sedikit tebal menahan kepalanya yang terasa sakit.


Beberapa kali batuk berupa darah telah keluar dari kerongkongannya. Sebuah wadah putih yang berada di sisi lain lembaran perkamen di hadapannya sudah cukup menjadi bukti penyakitnya telah bertambah parah.


Mengenakan piyama putih, tubuh besarnya terlihat tidak mampu menanggung kantuk yang berasal dari kedua matanya. Rambut kuning kusut akibat terlalu sering teremas oleh telapak tangan menjadi saksi dimana pria tersebut seolah tidak membiarkan kedua matanya jatuh terlelap.


Carl IX, pemegang tahta Kekaisaran Renacles sejak 37 tahun terakhir.


Semua kalangan, baik berasal dari rakyat jelata biasa hingga pemegang gelar Kaisar Suci pun menyeganinya. Bukan hanya karena pembawaan pada masa keemasannya yang terkesan tegas dan penuh kewibawaan bak seorang aristokrat tingkat tinggi, prestasi militer serta pertumbuhan negara saat berada di dalam genggamannya tidak sedikitpun dapat diremehkan.


Wilayah kekaisaran sejak berada di bawah pemerintahannya perlahan telah meluas. Dari ratusan pertempuran dimana dia menjadi jenderal tertinggi dari sebuah operasi militer, kekalahan pasukannya dapat dihitung hanya dengan jemari tangan.


"Uhuk! Uhuk!"


Namun, akibat dari banyaknya pertempuran yang telah ia lalui, terlebih dengan konsumsi alkohol serta berbagai makanan yang tidak sehat, kini Carl tampak seperti orang sakit.


Pada berbagai sudut tubuhnya telah beberapa kali menjalani operasi bedah khas abad pertengahan. Luka-luka akibat anak panah yang melesat, sayatan pedang, hingga tusukan tombak dapat terlihat jelas apabila dia melepas piyamanya.


Pandangan dekatnya telah merabun, wajahnya juga terlihat menua. Telah menginjak usia lebih dari setengah abad, Carl merasa bila ajal akan menjemputnya tidak lama lagi.


Carl memuntahkan darah pada wadah putih. Sejenak, kedua matanya tertuju pada warna kemerahan yang semakin mengental sebelum dia meletakkannya kembali.


Menyandarkan punggung sembari memandangi sinar yang membias masuk, Carl merasa jika saat ini adalah kesempatan terakhirnya, kesempatan untuk dikenang sebagai salah satu kaisar terkuat yang pernah memimpin Kekaisaran Renacles.


Tap.


Di balik punggung, sosok berjubah dengan tudung hitam yang mengungkapkan rambut putih secara tiba-tiba muncul dan segera jatuh berlutut, menunggu perintah yang akan Carl berikan selanjutnya.


"Apakah kau... benar-benar yakin dengan keputusanmu?" Nada Carl terdengar tenang, namun siapapun yang mendengar dapat merasakan tekanan darinya.


"Ya, Yang Mulia." Code : 0 tanpa penundaan menjawab, nada yang terlontar sama sekali tidak memiliki emosi, "Semua penyesalan saya telah tertuntaskan."


"Uhuk." Carl sekali lagi terbatuk ringan, melanjutkan dengan nada yang terdengar lemah, "Apa... sebenarnya arti belati kembar itu untukmu? Aku benar-benar... tidak bisa memahaminya."


Code : 0 tidak membalas, hanya menundukkan dalam kepalanya sebagai rasa terima kasih atas bantuan Carl yang telah merelakan nyawa salah satu bawahan elitnya—Code : 9—demi tercapainya tujuan yang dia miliki.


Tanggung jawab serta penyesalan Code : 0 telah berakhir. Kini, hanya sosok Carl yang memiliki kepentingan dengan Ares. Berniat untuk memanfaatkan posisi dan sifat yang Ares miliki, Carl tidak berniat untuk membiarkan anak-anaknya tumbuh berkembang serta mewarisi posisinya tanpa terdapat sedikitpun perjuangan.


Bukan berarti Carl adalah seorang ayah yang penyayang, tidak sedikitpun rasa cinta terukir untuk anak-anaknya. Carl adalah seorang bangsawan tulen, hanya memikirkan bagaimana memanfaatkan semua di sekelilingnya secara maksimal.


Dia tahu, meski Code : 0 selalu menyelesaikan perintah dengan akurat, Code : 0 terlihat tertahan oleh sesuatu. Karenanya, dia mengorbankan Code : 9 dengan tangan dingin agar Code : 0 dapat berguna sebagaimana mestinya.


Carl merasakan hal aneh, salah satu dari belati kembar Carnwennan yang menjadi senjata pribadi Code : 0 menghilang, meski dia hanya diam tidak mempermasalahkannya karena Code : 0 tidak mengucap sepatah kata apapun terhadapnya.


"Pergilah," perintah Carl.


"Ya, Yang Mulia." Code : 0 seketika menghilang tanpa jejak, menunggu hingga Carl memberikan perintah lebih lanjut kepadanya.


Kedua tatapan mata Carl kembali tertuju ke arah sudut hamparan meja. Sebuah kertas yang sebelumnya tidak pernah ia lihat membangunkan rasa penasarannya.


Carl tidak mengetahui apa tujuan sesungguhnya Code : 0 mengirimkan Code : 9 menuju Excelia dengan memanfaatkan Putri Sophia. Bagi Carl, Carnwennan hanyalah belati kembar biasa yang menjadi senjata pribadi bawahan terkuatnya tersebut.


Meski penyusupan Code : 9 ke Excelia menghasilkan pembunuhan beberapa selir Sang Kaisar, namun tujuan Code : 0 telah terpenuhi, meninggalkan salah satu belatinya di ibukota yang sangat tidak dimengerti bahkan untuk Carl sendiri.


Sejak beberapa tahun belakangan, terdapat perintah yang melarang para pewaris untuk menyentuh barat tanpa persetujuannya. Karena ini, setelah mendengar kabar bila kedua anaknya melancarkan operasi sabotase di benua barat—yang sebenarnya telah ia ketahui karena merupakan rencana Code : 0—Carl menghukum Pangeran Ketiga serta Putri Pertama Sophia sebagai tahanan rumah karena telah mengabaikan perintahnya.


Perlahan, dengan tangan yang gemetaran, Carl mengambil gulungan kertas yang terikat dengan sebuah pita berwarna merah dan membuka gulungannya.


"Ini..." Laporan perjalanan Code : 0 selama dua bulan terakhir secara menyeluruh, isi laporan membuat Carl perlahan membuat kedua matanya melotot.


Carl meradang, tidak pernah terbayang di dalam benak bahwa Ares memiliki perkembangan ekonomi secepat apa yang Code : 0 laporkan. Harga dirinya tercabik-cabik, setelah mengetahui bahwa hanya kurang dari lima tahun bocah seumur jagung—anggapan Carl kepada Ares—itu dapat menguasai hampir keseluruhan dari benua barat yang juga sangat menyakiti kebanggaannya, Carl menilai bahwa Ares tidak dapat ia biarkan lebih jauh.


Berbagai produk ekspor dari Kota Hauzen telah memasuki Kekaisaran Suci Alven dan Kerajaan Holenstadt. Lebih jauh, bahkan harganya dapat bersaing dengan produk olahan lokal yang juga dapat mempengaruhi produk-produk yang berasal dari Renacles. Menilai bahwa kertas di tangannya memiliki nilai yang lebih baik dibandingkan dengan perkamen, bukan tidak mungkin bila dalam beberapa tahun ke depan, masyarakat akan menggantungkan kebutuhan mereka kepada produk-produk dari Kota Hauzen.


"Uhuk! Uhuk!" Darah sekali lagi keluar, kali ini tanpa sengaja sedikit mengenai piyama putih Carl.


"Tidak... dapat dibiarkan..." Dengan menahan dadanya yang sakit, Carl mengucap lemah dengan dendam yang terasa sangat kental.


Carl XIV, sosok yang sangat mendambakan kejayaan, kala itu telah memutuskan. Terhadap lembaran perkamen yang terdapat peta dunia di dalamnya, pandangan Carl tertuju kepada Kepulauan Selatan, sebuah wilayah yang menjadi sebab utama menyebarnya pengaruh yang Ares miliki.


...----------------...