Arestia Empire'S World Domination

Arestia Empire'S World Domination
Chapter 52 : Misteri Istana Kekaisaran



...—Ibukota Excelia, Kekaisaran Arestia—...


...—19 Januari 1239—...


Langit malam membentang, suasana hening meliputi istana kekaisaran setelah selama dua hari berselang, konferensi tingkat tinggi yang melibatkan banyak pejabat Arestia telah dilakukan.


Pembicaraan tersebut sangat berarti bagi kebijakan serta langkah strategis yang akan dilakukan Arestia dalam tiga tahun ke depan. Walaupun kekhawatiran akan masalah kelangkaan barang serta kesulitan panen akibat para pria menjadi wajib militer menghantui, namun Ares telah menghendaki sebuah solusi dimana masalah tersebut tidak lagi menjadi beban berskala nasional.


Pembatasan wajib militer serta swasembada pangan dalam waktu setengah tahun mungkin dapat dicapai. Dalam dua tahun terakhir, meski Ares melancarkan invasi kepada Kerajaan Forbrenne, ia tidaklah melupakan masalah dalam negeri.


Dengan bantuan Warren, Claire, serta beberapa menteri lain, giat usaha untuk kemandirian pangan serta pengawasan pajak yang ketat telah digalakkan, baik dalam bentuk emas perak hingga berupa gandum maupun hasil bumi lain yang menjadi komoditas wajib pajak yang diwariskan sejak masa Kerajaan Rowling dahulu.


Alasan tersebut membuat Ares sebenarnya siap untuk melakukan invasi saat musim gugur tiba, mengandalkan produksi senjata berlebih baik dari para pedagang maupun senjata-senjata yang dibuat secara mandiri oleh ketentaraan.


Meskipun begitu, Ares melangkah dengan hati-hati. Ia tidak mengetahui bagaimana Sang Saint—yang akan mengunjungi negaranya saat musim semi tiba—akan bergerak, membuatnya mengurungkan niat untuk membuat keputusan yang tegas.


Tentu, Ares tidaklah menghadiri audiensi dengan utusan ksatria suci yang mewakili gereja dan digantikan oleh Warren yang bertindak sebagai perdana menteri negara. Meski terlihat tidak etis, namun alasan kesedihan yang sedang Ares rasakan—akibat penyerangan Ibukota Excelia—menyebabkan ksatria suci tersebut, beserta Paus secara khusus, harus memakluminya.


"Sayang." Dari dalam pelukan, Excel memanggil lembut. Ia mengerti suaminya—termasuk dirinya sendiri—sangat kelelahan dengan agenda dalam beberapa hari terakhir.


"Hmm." Dengan pipi yang menyentuh ubun-ubun Excel serta dada yang saling bertautan dengan punggung istrinya, Ares setengah sadar menjawab, kelelahan serta rasa kantuk berat telah beberapa saat menggerayangi kesadarannnya.


Pasangan tersebut tentulah masih mengenakan piyama. Meski malam ini keduanya telah merencanakan untuk membuat anak ketiga, namun mereka urung melakukannya karena merasa sangat lelah.


"Kapan putri mendiang Ratu Florentia akan tiba?" tanya Excel, perasaannya sedikit gundah karena dia mengingat apabila dia pernah menolak pertunangan putri tersebut dengan putranya, Raze.


"Hmm... seharusnya... empat... atau lima hari..." jawab Ares dengan kantuk yang hebat.


"Begitu..." Mendengar berita bila Florentia menjadi korban kudeta, Excel mengerti, putrinya juga bernasib sama dengannya, menjadi seseorang yang ibunya terbunuh karena ambisi politik.


Sebelumnya, Ares dan Excel secara bersama-sama telah menghendaki untuk memberi suaka kepada Leticia, putri kandung Florentia, serta beberapa pejabat Gardom yang memberi kesetiaan kepada Sang Putri Gardom. Namun, mengingat bila Sang Putri—yang memiliki umur sebaya dengan putranya—akan tinggal di istana kekaisaran, Excel mengerti apabila mungkin saja Leticia akan berusaha untuk mendekatkan keduanya menjadi teman dekat atau bahkan seorang sahabat.


Excel tidaklah buta terhadap pengaruh politik. Ia sangat memahami apabila dengan menikahkan Raze bersama Sang Putri dapat menyebabkan persatuan antar dua negara, namun Excel tidak ingin memaksakan putranya untuk hidup dalam tekanan. Ia benar-benar menginginkan apabila Raze dan Orcian dapat hidup seperti apa yang mereka inginkan, bahkan dalam cinta dan cara berpakaian sekalipun, yang sebelumnya tidak pernah Excel rasakan.


"Kamu tahu..." Ares memecah keheningan, nadanya berat seperti seseorang yang akan segera tertidur.


"Apa?" tanya Excel.


"Kemarin malam... aku melihat... Ody... dan Leon... sedang... berjalan di lorong..." Ares tidak melanjutkan perkataannya, yang segera berganti menjadi dengkuran ringan akibat kelelahannya.


"Eh?" Excel terkejut. Tidak pernah mendengar atau bahkan mengalami kejadian mistis seumur hidup, Excel bingung, tidak mengerti bagaimana harus bersikap.


Kengerian yang tidak pernah ia alami. Meski telah melakukan berbagai pembunuhan serta pembantaian di tengah medan peperangan, Excel tidak pernah merasakan adanya keanehan dari itu, bahkan selama masa kecilnya di istana ibukota—yang tentu saja telah menjadi saksi bisu atas ribuan pembunuhan yang terjadi di dalamnya.


"A—a—apakah mereka mengatakan sesuatu kepadamu, Sayang?" Excel gugup, ia berbalik untuk secara langsung melihat wajah suaminya.


Hanya suara dengkuran lirih yang menjadi jawaban. Excel tentu merasa sedikit takut. Akibat hidupnya yang jauh dari ajaran agama—baik itu Afarant, Mihiral, maupun kepercayaan lokal—Excel sangat asing dengan hal-hal yang mistis. Hampir kebanyakan para bangsawan yang berasal dari benua barat menolak agama, meski mereka tidak menolak keberadaan tuhan.


"Sayang! Sayang! Bangunlah!" Excel mencoba menggoyang-goyangkan tubuh suaminya.


"Hmm." Ares menimbulkan suara lirih, dengan segera berbalik membelakangi Excel setelah melepas pelukannya.


"Sayang!" Excel dengan paksa tetap membangunkan Ares, meski pada akhirnya usaha tersebut berakhir dengan kesia-siaan belaka.


Beberapa waktu telah berlalu, langit malam semakin memperlihatkan kegelapannya. Dengan awan gelap yang sekali lagi menutupi cahaya bulan, hujan ringan membasahi atap serta dinding-dinding bangunan yang berada dalam tembok ibukota, tidak terkecuali dengan istana yang berada tepat di tengahnya.


Menatap langit-langit, kantuk telah meninggalkan kedua mata Excel. Entah mengapa, meski telah berusaha keras memejam, kedua matanya tidak menginginkan untuk beristirahat. Kata-kata suaminya yang penuh misteri memenuhi pikirannya.


JGLAR!


Petir menyambar, hujan deras disertai angin terasa di balik kaca jendela. Excel hanya dapat mengedip-ngedipkan kedua matanya dengan perasaan takut.


Excel tentu mengetahui seharusnya di luar pintu kamar terdapat beberapa pelayan yang bertugas untuk menyiapkan segala kebutuhan Sang Kaisar dan permaisurinya, bahkan pada saat malam hari. Namun tidak demikian dengan apa yang berada dalam benaknya.


Ada perasaan bahwa Milly—selir Ares sekaligus ibu kandung dari Wilma yang kini telah menjadi putri angkatnya—menunggu di balik pintu.


Kenapa harus sekarang?!


Detik-detik itu datang, kandung kemih yang tertahan oleh perih kembali Excel rasakan. Tidak pernah ia sangka, dalam detik-detik ketakutannya, rasa ingin buang air menyerang dirinya.


Si—siapa di sana?!


Tanpa sengaja, Excel melirikkan salah satu matanya kepada tirai yang menyesipkan jendela yang terbuka. Banyak bintik air akibat hujan lebat, Excel merasa terdapat sosok yang baru saja bersembunyi darinya.


"Sayang! Sayang!" Dengan guncangan keras, Excel berusaha membangunkan suaminya.


"Apa?" Ares terbangun kesal, ia berbalik untuk menatap wajah istrinya dengan sedikit menahan emosi. Salah satu matanya terpejam, sedangkan yang lainnya sedikit terbuka dengan alis yang memperlihatkan kekesalannya.


"Ak—aku..." Excel dengan menahan malu melanjutkan kata-katanya, "Antarkan aku... ke kamar kecil."


"Hah?! Bukankah kamu biasanya pergi sendiri?! Di luar juga terdapat banyak pelayan! Ada apa denganmu?!" Ares membalas kesal, meski tetap menggunakan nada lirih agar tidak terdengar para pelayan dan ksatria yang berjaga di luar kamar.


Menatap wajah istrinya yang telah berkaca-kaca sembari menggelembungkan kedua pipinya, Ares menghela napas berat sembari bangkit dari tidurnya, "Hah... Ayo, aku akan mengantarmu."


"Te—terima kasih banyak, Sayang!" Dengan cepat, Excel melompat dari ranjang, beranjak ke sudut ruangan dimana pedangnya tersarungkan.


"Apa... yang ingin kamu lakukan?" tanya Ares, salah satu kelopak matanya berkedut karena heran dengan tingkah laku istrinya.


"Me—membawa pedang?" jawab Excel.


"Untuk apa?" tanya Ares kembali.


"Untuk... um..." Sejenak, Excel berhenti. Kedua matanya berlarian memikirkan bagaimana harus menjawab pertanyaan suaminya, "Berjaga-jaga agar tidak ada yang menyerangku! Benar!"


"Hah? Apa sih yang ada di dalam kepalamu? Letakkan." Ares membalas sebal. Namun, hingga beberapa saat, ia hanya melihat Excel yang tetap diam tidak beranjak, "Letakkan atau aku akan tidu—"


"Baiklah! Jangan marah!" Excel melemparkan pedangnya dan mendekati Ares untuk menarik lengannya.


Dengan sedikit paksaan, Ares membiarkan salah satu lengannya ditarik kencang mendekati pintu. Terlihat pemandangan yang seperti biasa, dengan beberapa ksatria dan pelayan yang berjaga di luar kamar.


Walaupun begitu, tidak hanya para ksatria, para pelayan pun berkeringat dingin. Mereka bertanya-tanya mengapa kaisar dan permaisuri keluar dari kamarnya tanpa memberikan tanda apapun?


"A—apa yang telah terjadi, Yang Mulia?! Me—mengapa Anda tidak membunyikan lonceng seperti biasanya?!" Seorang pelayan wanita dengan peringkat tertinggi mendekat panik.


Excel tetap menarik paksa lengan Ares, berlari meninggalkan para pelayan serta ksatria dengan acuh tak acuh karena bebannya yang telah berada di ujung batas.


"Lihat, kamu bisa meminta bantuan mereka, bukan?" Ares berkata sebal, "Tidak seperti biasanya kamu memintaku untuk menemani ke kamar mandi."


Pikiran Ares tanpa sadar berlari menuju hal yang tak senonoh, walau ia tetap tidak berminat melakukannya karena kondisi tubuhnya yang sangat lelah.


"Tidak apa-apa, 'kan?!" timpal Excel.


Hingga beberapa saat melewati lorong yang remang, mereka tiba pada lorong yang memiliki pencahayaan lentera yang saling berjauhan. Selain dikarenakan sumber minyak dan api yang sulit untuk didapat, kegelapan malam di dalam istana sengaja dibuat untuk mengelabui pencuri atau penyusup hingga membuat mereka setidaknya kebingungan dengan denah istana.


Suasana kini sepi, bahkan beberapa ksatria yang bertugas patroli tidak lagi terlihat. Hanya dua persimpangan lorong serta beberapa anak tangga, keduanya akan tiba di lokasi pemandian istana kekaisaran. Namun, sosok hitam yang berada tak jauh dari lentera redup yang menyala menghentikan langkah keduanya.


"A—apa itu, Sayang?" Dengan telunjuk kanannya, Excel menunjuk. Gemetar ringan juga dapat terlihat pada tangannya.


Ares tanpa sadar juga terkejut. Berniat ingin memastikan, ia menggosok kedua kelopak matanya dan segera menyipitkan mata untuk melihat dengan lebih jelas.


"Eh?" Sosok misterius telah menghilang dari bidang pandang. Ares sadar dan yakin bila dia melihat sosok misterius sebelumnya. Tangan kanannya juga kini menggenggam erat telapak tangan kiri istrinya.


Bagi keduanya, yang tidak ingin mendapat ejekan, akan beralasan bahwa keberanian di medan perang serta menghadapi makhluk mistis adalah dua hal yang berbeda.


Ares menarik lengan istrinya, melewati lentera yang sebelumnya terdapat bayangan misterius dengan perlahan. Tidak seperti dugaannya, setelah mendekat, hanya sebuah baju besi antik yang tersamarkan oleh remangnya lorong. Ares telah kembali tenang, sangat berbeda dengan Excel yang masih terlihat takut.


Hingga tiba di lorong pemandian yang remang, dimana tiada orang di dalamnya, Excel menatap suaminya dengan wajah yang terlihat tidak nyaman, "To—tolong temani aku, Sayang."


"Hah? Kenapa kamu sangat takut?" Ares membuka tempat pemandian, di dalamnya terlihat bak mandi besar dengan kendi-kendi yang dapat memancurkan air serta dua lentera besar yang cukup untuk menerangi seluruh tempat pemandian, "Lihat, tidak ada apapun, bukan?"


"Ugh..." Dengan terpaksa, Excel memasuki kamar mandi sendirian dengan penuh perasaan takut.


Hingga beberapa saat berselang, senyuman tipis tampak di atas wajah, entah mengapa Ares memiliki niat untuk menjahili istrinya.


Tok.


Tok.


Tok.


"Hiiii! Sayang! Kamu masih di sana, 'kan?!" Excel tanpa sadar melompat, mendekati pintu dimana Ares berada di baliknya.


Hanya dengan ketukan telunjuk ringan kepada pintu kayu pemandian, Ares tidak menyangka bila Excel akan begitu ketakutan, menyebabkan senyuman tipis sekali lagi tampak, "Ya, aku masih di sini!"


"Jangan mengetuk sembarangan!" Excel mengungkap kekesalannya.


"Eh? Aku tidak pernah mendengar suara ketukan." Tepat setelah kata-kata tersebut terlontar, pintu pemandian segera terbuka dengan sangat keras.


Excel melompat, menarik kerah suaminya dengan ekspresi sebal, "Jangan coba-coba berbohong padaku!"


"Benar! Aku tidak berbohong!" timpal Ares sedikit panik.


"Jika begitu, ayo masuk!" Menarik lengan Ares ke dalam, Excel segera menutup pintu pemandian dengan gemetar.


"Sudah kencing?" tanya Ares, berbalik menghadap pintu agar tidak melihat istrinya.


"Jangan melihat!" balas Excel malu.


Tok.


Tok.


Tok.


Eh?


Hingga beberapa saat, suara ketukan sekali lagi terdengar. Kali ini, ketukan tidak disebabkan oleh Ares, membuatnya sangat terkejut.


"Ja—jangan coba menggodaku!" Excel berteriak kesal, merasa Ares mengetuk dengan menyembunyikan jemarinya.


"Bukan! Kali ini bukan aku! Aku tidak berbohong!" timpal Ares sedikit panik.


Excel menyadari jika suaminya berbohong pada saat pertama. Namun, dengan gelagat sedikit panik yang kini terlihat pada diri suaminya, Excel merasa bila suaminya tidak berbohong.


Tok.


Tok.


Tok.


"C—coba bukalah, Sayang!" timpal Excel keras.


"Hah?! Kenapa harus aku?!" Ares berbalik, menatap istrinya dan memberanikan diri untuk membuka pintu karena Excel yang hendak menangis, "Baiklah! Jadi jangan menangis!"


Cklik.


Dengan perlahan, pintu pemandian kembali terbuka. Ares terlebih dahulu mengintip dari celah pintu untuk memastikan adanya kehadiran seseorang.


Namun, bertentangan dengan harapannya, sosok kecil berpakaian serba hitam dengan topeng berdarah berdiri tepat di balik pintu. Tidak hanya Ares, bahkan Excel yang juga ikut mengintip di belakangnya melihat dengan jelas sosok menakutkan tersebut.


"Boo."


BRAK!


"Gyaaaa!" Keduanya berteriak, Ares dan Excel seketika berpelukan setelah pintu kamar mandi tertutup kembali dengan keras.


Saat itu, mereka memutuskan untuk berada di dalam pemandian hingga para pelayan yang bertugas untuk membersihkan pemandian datang pada saat fajar menyingsing.


...----------------...