Arestia Empire'S World Domination

Arestia Empire'S World Domination
Chapter 29 : Kedatangan Loic



...—Ibukota Excelia, Kekaisaran Arestia—...


...—28 Agustus 1238—...


Suasana ramai, banyak orang berlalu lalang pulang dari tempat mereka bekerja di jalanan ibukota dengan matahari senja yang menyinari mereka.


Namun, kegiatan ekonomi tetap berjalan. Banyak pedagang-pedagang pasar yang masih menjajakan barang dagangan mereka. Daging kering, roti, hingga sayuran segar yang dapat dimasak untuk hari esok.


Mengenakan pakaian santai dengan jubah ringan yang tidak menutupi kepala mereka, dua orang terlihat menyusuri keramaian jalanan utama ibukota.


Salah satu merupakan sosok pria tua berambut putih yang memiliki wajah tegas, memiliki kulit putih kekuningan dengan mata biru, kumis putihnya juga dapat terlihat di atas bibir bagian atas pria tersebut.


Salah satu yang lain merupakan pemuda berambut hitam pendek yang memiliki jambul yang sedikit terangkat, tersisir rapi. Wajah yang ia tunjukkan merupakan wajah seusia 19 tahun, namun entah mengapa ia sangat menunjukkan "kecerdasan" dari penampilannya yang cerah.


Kepala Klan Cornwall, Connor Cornwall, sekaligus mantan pewaris perusahaan terbesar di dunia, Loic Coulent.


Lebih dari satu tahun telah berlalu semenjak Loic Coulent selamat dari siksaan militer Kekaisaran Renacles.


Dari kabar yang dia terima dari salah satu pedagang mata-matanya, Kaisar Renacles menganggap apabila Ares—yang saat itu masih merupakan bangsawan Kerajaan Rowling berpangkat Margrave—hendak menguasai perusahaan yang berasal dan berakar di Kekaisaran Renacles dengan mendirikan sebuah perserikatan antar pedagang, Guild Pedagang, di wilayah yang dia kuasai.


Kaisar bertindak cepat. Seluruh perusahaan yang berada di negaranya dinasionalisasi, Kaisar mengambil sebagian besar kepemilikan perusahaan-perusahaan besar di negaranya—termasuk perusahaan terbesar di dunia, Firma Coulent—dan menggantinya dengan mengangkat para pedagang tersebut menjadi bangsawan berperingkat baron.


Berbeda dengan orang tuanya yang bertindak patuh, kakek dan neneknya—yang merupakan kepala perusahaan kala itu—menolak tegas, hingga mereka dianggap melakukan pembangkangan terhadap dekrit yang dikeluarkan Kaisar Renacles.


Mengetahui jika kakek dan neneknya akan dieksekusi, Loic mengajukan protes keras, mempertanyakan keputusan Kaisar yang berujung pada penahanan dirinya oleh para ksatria.


Siksaan berat telah menanti. Tidak hanya menjadi obyek penelitian manusia yang mendapat siksaan mental yang begitu berat dari para peneliti, Loic juga diharuskan tinggal bersama dengan para kelinci percobaan yang memiliki tubuh yang telah rusak.


Anggota tubuh yang terpotong seolah baru saja dilakukan sebuah operasi secara asal-asalan, isi perut mereka yang telah keluar, hingga tubuh yang berlumuran darah. Tentu, mereka masih dijaga kesadarannya, Loic tidak kuasa menahan siksaan mental tersebut, menyebabkan dia depresi dan kehilangan harapan untuk hidup.


Akibat perasaan Ares yang tidak nyaman, dia mengirim Connor untuk melihat keadaan Loic di negaranya.


Pemikiran buruk menjadi kenyataan, Connor menyelamatkan Loic yang kala itu hampir menjadi orang gila karena pikirannya yang tidak lagi dapat dikatakan waras.


Setelah menyelamatkannya, Connor melakukan pemulihan untuk mengembalikan kesehatan mental Loic dengan bersembunyi di negara tetangga Renacles, membutuhkan setidaknya lebih dari 11 bulan hanya untuk pemulihan mentalnya.


Kini, Loic tidak lagi memiliki apapun. Seorang gadis bangsawan yang menjadi tunangan Loic telah pergi meninggalkannya akibat status rakyat jelata yang dimiliki Loic, berselingkuh dengan bangsawan lain.


Tentu, kasus khusus telah terjadi. Karena merupakan perusahaan besar yang kegiatan produksinya hampir dapat mempengaruhi negara, Loic—serta para pewaris Firma Coulent sebelumnya—memiliki pasangan yang berasal dari kalangan bangsawan demi menjaga hubungan antar perusahaan dengan negara.


Loic telah meninggalkan itu semua, kedua orang tuanya, harta, hingga wanita yang akan dinikahi secara politik, menuju benua barat yang baginya masih antah berantah.


"Kota ini... sudah berubah." Loic memandang penuh kagum.


Pun demikian dengan Connor. Telah lama meninggalkan ibukota tepat setelah Ares melakukan kudeta, Connor tidak menyangka jika hanya dalam waktu kurang dari dua tahun, Ares dapat melakukan perubahan signifikan seperti yang dia nilai dari apa yang dia lihat.


Tidak mungkin melayani para bangsawan, pelayan dari kalangan rakyat jelata hanya dapat melakukan tugas-tugas kasar seperti membersihkan dan merawat kebun, hingga mencuci pakaian serta perabotan di dalam istana.


Bukan berarti melakukan dengan berat. Para rakyat jelata yang bekerja di istana memiliki sebuah kebanggaan, prestise karena dapat bekerja melayani para bangsawan, yang mana mereka dipandang tinggi di tengah masyarakat. Terlebih, dengan gaji mereka yang sangat tinggi jika dibandingkan dengan para pedagang biasa.


Pintu kecil yang berada di balik tembok telah tampak. Loic dan Connor mendekatinya dengan santai—hingga pintu tersebut terbuka dengan sendirinya, membuat Loic merasa waspada.


"Selamat datang di Istana Kekaisaran... Tuan Loic." Dia—bibi Ares sekaligus ibu Milly—datang menyambut bersama beberapa ksatria elit di belakangnya.


Dia sedikit bingung bagaimana harus memanggil pemuda di hadapannya, memutuskan untuk memanggilnya hanya dengan nama pribadinya karena merasa Loic tidak lagi berada di bawah naungan Keluarga Coulent.


Terhadap sambutan Dia, Loic hanya dapat tersenyum sedih, meski ia tidak sedikitpun mengajukan keberatan, "Terima kasih... um..."


"Dia von Vienna." Dia menjawab lugas.


"Eh?" Loic sedikit terkejut, tidak berpikir jika seorang bangsawan akan menyambutnya.


Dia hanya dapat menampilkan senyuman masam, "Tidak apa-apa. Lagipula, dua tahun lalu saya juga masih merupakan seorang ksatria biasa. Tidak perlu merasa tidak nyaman, Tuan Loic."


"Um... baik..." Loic menjawab bingung.


"Saya akan membimbing Anda menuju Yang Mulia." Dia segera berbalik, memasuki kedalaman istana yang terlihat sangat megah.


"Terima kasih." Mengikuti Dia, Loic berpisah dengan Connor karena memiliki kepentingan yang berbeda dimana Connor segera menuju distrik kumuh rakyat jelata yang berada di dekat tembok ibukota.


Loic semakin bingung, kakinya tidak mengarah kepada lorong istana, namun melalui tangga bernuansa gelap meski tetap terjaga kebersihannya.


"Harap ingat, Anda telah berada di lingkungan istana bagian dalam. Segala gerak-gerik yang Anda lakukan akan diawasi dengan ketat." Peringatan Dia membuat sekujur tubuh Loic samar gemetar.


Meskipun kesehatan mental Loic telah direhabilitasi, namun itu tidaklah sembuh sepenuhnya. Loic terkadang ketakutan hingga merasakan kematian telah berada di ujung tenggorokannya hanya karena mendengar kata "istana bagian dalam."


Penyesalan terukir di dalam benak Dia, ia memandang Loic dengan ekspresi meminta maaf, "Maaf, saya tidak bermaksud mengancam Anda."


"Ah... ya..." Terdengar sedikit bergetar, Loic tetap melanjutkan langkahnya, mengikuti Dia dan beberapa ksatria elit lain menuju pintu kembar berwarna kecoklatan yang tidak memiliki satupun ksatria yang menjaganya.


Perasaan ketakutan ringan berdiam dalam benak Loic. Ingatan-ingatan kelam masa lalunya kembali terbesit. Meskipun begitu, langkah Loic tetaplah mantap, tidak pernah terpikirkan jika sosok yang akan ditemuinya nanti akan melakukan sesuatu yang buruk kepada dirinya.


Kriiett.


Memandang seorang pemuda berambut biru pendek tidak rapi berseragam militer hitam yang tersenyum hangat kepadanya, Loic yakin, ini adalah hari dimana hidupnya sepenuhnya berubah.


"Aku sangat menantikan kedatanganmu, Loic Coulent."


...----------------...