
...—Ibukota Latva, Kerajaan Forbrenne—...
...—24 Juli 1238—...
Berada di dalam kamar yang remang, hanya terdapat beberapa cahaya lilin yang menerangi, Gale—yang kini telah menyamar sebagai seorang gadis pelayan berambut hitam panjang—berjalan mendekati Felipe yang terduduk di atas kursi dengan meja besar. Kedua tangannya mendorong kereta makanan yang diatasnya terdapat banyak piring-piring berisi makanan yang sengaja ditutupi.
Berbeda dengan keahlian dua anggota aneh Klan Cornwall yang menjadi bawahan langsung Ares—Lean dan Marie—Gale memiliki julukan "Clown," yang dapat menyamar sebagai siapapun dengan syarat korban penyamarannya memiliki sisi feminimitas serta keimutan yang terlihat pada penampilannya.
Tentu, Gale tidaklah memiliki psikologis layaknya seorang wanita karena dirinya yang merupakan seorang pria tulen, menyebabkannya dapat lebih mengontrol gerakan serta emosinya disaat melakukan suatu operasi penyusupan ataupun penyamaran.
"Tunggu." Seorang ksatria menghalangi jalan kereta makanan, salah satu tangannya menunjuk pada suatu meja yang berada di sisi lain dirinya, "Meskipun aku tahu kau telah bekerja di istana lebih dari 5 tahun, makanan itu tetap harus melewati inspeksi."
"Baik." Gale menunjukkan senyuman, terlihat sangat menyesal. Berbalik, Gale mendorong kereta makanan menuju dua ksatria yang telah berada di meja tersebut.
Perasaan Gale tetaplah tenang. Dia telah memprediksikan bila para ksatria pengawal akan melakukan antisipasi ekstra.
Terlebih, dia tidak menganggap hal tersebut merupakan hal aneh karena Gale mengetahui jika makanan setiap anggota royalti Kekaisaran Arestia—termasuk anak-anak Ares dengan para gundiknya—juga akan melewati inspeksi terlebih dahulu.
"Silakan." Gale menyajikan semua piring di atas meja.
Kedua ksatria sejenak saling melirik. Masing-masing dari mereka menyiapkan beberapa piring dan mengambil makanan tersebut ala kadarnya.
Indera pengecap mereka bekerja, semua makanan yang keduanya telah inspeksi tidak memiliki sedikitpun keanehan. Baik dari segi rasa, bau, hingga warna.
"Lulus." Salah seorang ksatria tersebut memberikan persetujuannya.
"Baik, terima kasih." Gale sedikit menundukkan kepalanya.
Keremangan ruangan membantu aksinya. Mengambil piring-piring makanan yang akan disajikan kepada Pangeran Keempat Kerajaan Forbrenne tersebut, Gale samar memasukkan cairan racun transparan yang sebelumnya tersembunyi di balik telapak tangannya ke dalam sup kalkun, yang menjadi hidangan favorit Felipe.
Tentu, Gale—bersama Rea, anggota Klan Cornwall yang lain, serta para anggota Biro Intelejen—telah mempersiapkan rencana pembunuhan dengan penuh perhitungan.
Merencanakan pembunuhan tidaklah semudah kelihatannya. Gale diharuskan mengetahui kebiasaan yang dimiliki oleh Felipe, lokasi-lokasi yang membantu dan dapat membuat fatal aksinya, hingga sifat-sifat serta karakteristik yang dimiliki oleh pembantu dekat, para ksatria pengawalnya, serta orang-orang yang sering berhubungan dengan target.
Gale telah mempersiapkan pembunuhan Felipe serta Pangeran Ketiga Kerajaan Forbrenne dalam tiga bulan terakhir, menyebabkan dirinya sangat iri dengan tugas yang diberikan kepada Lean.
Gale berjalan dengan menunduk. Sebuah penghormatan para rakyat jelata kepada seorang bangsawan, dimana memiliki perbedaan kasta sosial yang sangat besar, menyebabkan seorang rakyat jelata merasa sangat rendah diri dan takut.
Sekali lagi, langkah Gale terhenti. Uluran tangan seorang wanita pelayan pribadi Felipe menghentikan Gale mendekati Felipe, "Aku akan menyajikannya."
Terhadap suara lirih yang terasa mengintimidasi dari wanita tersebut, Gale hanya dapat tertunduk, membalas dengan suara yang sangat lirih, "Baik," dan segera melangkah mundur.
Felipe tentu mengetahui sosok yang menyajikan makanan kepadanya. Sosok Gale sangat menyerupai target penyamarannya, membuat Felipe tidak sedikitpun memiliki perasaan khawatir memakan makanan yang kini telah terhidangkan tepat di hadapannya.
Walau penyelidikan dan pencarian mata-mata telah berlangsung sejak meninggalnya Pangeran Ketiga kemarin, Gale tetap optimis bahwa penyamarannya tidak terbongkar.
Terlebih, dengan poin statistik serta kemampuannya yang tinggi, melarikan diri dari ruangan remang yang di dalamnya hanya terdapat penjagaan dari 28 ksatria serta 10 pelayan tidaklah sulit, walau Gale sedikit tidak yakin jika dia dapat melakukannya dengan membunuh Felipe jika hal itu terjadi.
Felipe mengalihkan pandangannya kepada Gale, sebuah senyuman pun terukir di atas wajahnya, "Terima kasih."
Sangat jarang mendengar seorang anggota royalti bersyukur kepada seorang rakyat jelata.
Perlahan, Gale kembali mengadah. Menemukan tanda dari pelayan wanita yang menghentikannya untuk segera keluar dari ruangan, Gale sekali lagi menunduk, berbalik dan mendorong kereta makanan menuju pintu keluar.
Tepat sebelum pintu tertutup, Gale melirik Felipe, yang kini tangan kanannya telah menyendok sup dan hendak masuk ke dalam mulutnya.
Bagus, saatnya memberikan laporan kepada Tuan.
Gale melangkah, dalam kesendirian di tengah lorong yang gelap. Hanya terdengar suara roda kayu kereta makanan yang ia dorong.
Tanpa sadar, salah satu sudut bibirnya terangkat. Tidak kepada siapapun, Gale melukiskan wajah senang, sangat yakin bila Ares akan mengabulkan keinginannya selain imbalan uang.
Lean, Marie, awas saja kalian!
Di dalam rumah yang berada di salah satu sudut distrik kumuh Ibukota Latva, Eina meratapi jendela yang terlihat akan hancur.
Beberapa bawahan yang ia sangat percaya berada di dekatnya, bersama-sama menunggu sinyal yang akan diberikan oleh seorang anggota Klan Cornwall yang menyusup ke dalam persembunyian Felipe.
"Kepala." Salah satu bawahan pria—yang merupakan mantan ksatrianya dahulu—memanggil, mendekati Eina hingga beberapa langkah di belakangnya, "Apakah Yang Mulia Kaisar tidak lagi membutuhkan kita?"
Sejenak, terbesit kembali kenangannya disaat dia memutuskan untuk mengabdi kepada Ares, yang dahulu hanyalah seorang bangsawan Kerajaan Rowling berpangkat Margrave.
Eina benar-benar terkesan bahwa anak muda sepertinya dapat mengadu domba begitu banyak bangsawan dari lima negara.
Begitupun dengan dirinya—mantan bangsawan Kerajaan Natrehn berpangkat Marquis dan menyandang gelar jenderal besar—juga tanpa sadar diadu domba dengan Zelhard, jenderal besar sekaligus mantan rekannya yang merupakan bangsawan berperingkat Margrave.
Nada bawahannya terdengar menusuk, menganggap bila Biro Intelejen tidaklah dapat bergerak secara mandiri. Meskipun begitu, Eina menunjukkan sebuah senyuman lembut, "Spesialisasi dan tugas Biro Intelejen berbeda dengan 'Cornwall' yang dibawahi langsung oleh Yang Mulia Kaisar."
"Berbeda dengan kita yang memiliki keunggulan dalam merancang plot dan skema balik layar serta tugas kotor di luar dan dalam negeri, 'Cornwall' berspesialisasi dalam penyusupan dan pembunuhan. Yang Mulia sangat mengharapkan sinergi antara kedua organisasi ini," sambung Eina.
Eina melirik kepada bawahannya, menemukannya berwajah sulit, "Ada apa?"
"Itu... sedari dulu saya telah penasaran... Apakah 'Cornwall' yang Anda baru saja sebutkan adalah kelompok pembunuh yang itu? Bukankah mereka seharusnya berbasis di negara kepulauan dan melayani salah satu klan besar di negara itu?" Bawahan Eina sedikit bingung.
"Tentu saja." Eina tersenyum masam, kata-katanya menyebabkan para bawahannya sangat terkejut, "Bahkan aku juga sangat penasaran tentang cara Yang Mulia membawa mereka di bawahnya."
Sekali lagi, Eina memfokuskan pandangannya ke luar jendela. Sebuah titik kemerahan—yang merupakan anak panah berapi—melesat di langit ibukota, tanda apabila Klan Cornwall telah menyelesaikan tugasnya.
"Kurasa... sudah saatnya untuk memperkuat biro ini." Eina bergumam, tetap memperhatikan jalur yang baru saja dilewati oleh anak panah tersebut.
"Bolehkah kami mengetahui alasan keputusan tersebut?" Terlepas dari keterkejutannya, bawahan Eina mempertanyakan keputusannya.
Eina berbalik, melukiskan sebuah senyuman masam, "Karena Renacles dan Alven akan segera menjadi musuh kita."
...----------------...