
...—Distrik Pertambangan Field, Kerajaan Lethiel—...
...—18 November 1238—...
Di bawah sinar matahari pagi, dengan beberapa pengawalan ketat dari ratusan ksatria elit yang berjaga di sepanjang jalan serta puluhan ksatria yang berjalan di belakang mereka, Ares, Milly, hingga Kristin bersama Sieg, Charlotte, hingga beberapa bangsawan lain menapaki jalanan kecil yang sedikit lebar menuju lokasi pertambangan yang telah mereka gali.
"Ada sesuatu hal yang sebenarnya ingin kutanyakan." Kata-kata Ares tidak hanya membuat Sieg dan Charlotte, bahkan beberapa bangsawan lain yang mendengarnya seketika menjadi gugup.
Dapat dikatakan, daerah pertambangan merupakan yurisdiksi mereka. Tidak ada seorangpun diantara para bangsawan yang menginginkan posisinya dicabut.
Sebagai sumber penghasilan bagi para bangsawan yang tidak memiliki wilayah seperti mereka, hanya menjabat sekedar menjadi kepala salah satu distrik di daerah pertambangan sangatlah dapat menyebabkan kekayaan diri serta keluarga mereka meningkat tajam.
Maka dari itu, banyak bangsawan terus memoles kata-kata mereka dan menyanjung tinggi Ares agar keamanan jabatan mereka terjamin hingga anak dan keturunan mereka, meski Ares tetap menilai berdasar fakta yang tersedia di lapangan mengenai performa pekerjaan mereka.
Terlebih, dengan Charlotte yang keadaan mentalnya telah tergores karena beberapa kali mendapat candaan sekaligus ancaman dari Ares, Charlotte hanya dapat berkeringat dingin jika Ares mengatakan sesuatu bernada menginvestigasi seperti yang baru saja ia katakan.
Berbeda dengan tunangannya, kegugupan Sieg berasal dari rasa ketidaknyamanan yang ia miliki.
Sangat tidak mengenakkan apabila seseorang yang kita memiliki hutang budi kepadanya merasakan sebuah kekecewaan dengan tindakan kita, hal tersebut sangatlah dirasakan oleh Sieg, yang telah mendapatkan ribuan tentara reguler kekaisaran untuk menjaga keamanan Kerajaan Lethiel, di samping pendanaan besar yang Ares telah kucurkan demi pengembangan negaranya.
"Uhm... Bolehkah kami mengetahui hal tersebut, Yang Mulia?" Charlotte bertanya gugup, ia tidak ingin lagi memberikan tanggapan pribadinya kepada Ares.
Terlebih, Charlotte telah menerima apabila Kristin menjadi calon istri kedua Sieg, meski ia akan membutuhkan sebuah pembicaraan pribadi di masa depan dengannya mengenai pewaris tahta Lethiel selanjutnya.
"Berapa dana yang kamu terima, Sieg?" Ares dengan tetap berjalan santai bertanya.
"Tiga ratus juta G, Yang Mulia." Jawaban Sieg tanpa sadar membuat Ares menghentikan langkahnya, menyebabkan beberapa orang di belakangnya juga ikut berhenti.
"Yang Mulia?" Milly bertanya khawatir, merasa aneh dengan aura Ares yang tiba-tiba berubah.
Menenangkan hatinya, Ares mencoba menghela napas, terdengar berat, hingga berusaha menumbuhkan senyuman yang terlihat cerah dan berbalik untuk menatap orang-orang di belakangnya.
"Nah... Apakah kalian tahu?" ujar Ares.
"Ada apa, Yang Mulia?" Sieg merasa sikap Ares tidak berada pada tempatnya.
"Dana yang kuberikan melalui Menteri Keuangan, Marquis Villiers, untuk pembukaan tambang adalah 500 juta G," timpal Ares, mempertahankan senyuman cerah yang terpancar dari raut wajahnya.
Hening.
Bahkan untuk Milly, yang jauh dari urusan keuangan negara, sangat mengetahui jika hal tersebut merupakan sesuatu yang sangat fatal.
Tidak ada diantara mereka yang menyangka apabila beberapa bangsawan turunan penyalur dana akan melakukan korupsi senilai seperenam anggaran belanja negara, yang senilai 200 juta G.
"Dan juga, dana itu berasal dari kantung pribadiku jika kalian ingin mengetahuinya." Ares kembali berbalik, melanjutkan langkahnya dengan santai, meninggalkan para bangsawan—termasuk selirnya—yang hanya dapat terdiam.
Hanya terdengar kicauan burung pagi dan serangga hutan, suasana perjalanan mereka sangat tenang. Tidak seorangpun diantara mereka yang berani mengajak bicara Ares.
Tidak ada dari mereka yang tahu bagaimana tindakan yang akan Ares ambil di masa depan. Mayoritas para bangsawan memutuskan untuk menghentikan hubungan rumah mereka dengan para bangsawan yang dicurigai tersebut.
Sieg dan Charlotte saling melirik, sepakat dalam diam untuk melakukan investigasi secara independen setelah mereka kembali ke ibukota dengan saling menganggukkan dagu mereka.
Milly hanya menatap sepupunya dengan rumit. Ia tidak mengerti bagaimana harus menenangkannya. Dalam benaknya, Milly bertanya-tanya sesuatu yang ia dapat lakukan agar dapat membuat Ares kembali positif.
Ares memandang sebuah tembok besar dengan gerbang—yang berfungsi sebagai pintu masuk—yang telah berada tak jauh dari tempat mereka berpijak, tanda apabila mereka telah dekat dengan tujuan.
Tentu, daerah pertambangan tidaklah dikelilingi oleh tembok, hanya di beberapa titik seperti pintu masuk yang berfungsi menahan kaburnya para budak kriminal.
Memanfaatkan tembok alam, dimana terdapat perbedaan ketinggian curam seperti jurang dan tembok tanah, para pengawas yang merupakan prajurit elit dapat dengan mudah menemukan sosok-sosok yang diketahui telah kabur.
Tidak hanya itu, jika seorang budak kriminal kabur dari pekerjaannya, Ares memerintahkan agar memberikan hukuman mati padanya setelah ia tertangkap, menggunakan cara-cara yang bahkan tidak sekalipun orang dunia ini pernah ketahui sebelumnya.
Krieett.
Gerbamg perlahan terbuka, seorang pria paruh baya berambut coklat pendek dengan zirah ringan yang membungkus tubuhnya datang mendekat dengan pengawalan beberapa ksatria di belakangnya.
Gnery von Arcs, mantan pengawal pribadi Ares saat ia masih menjadi seorang Margrave serta bangsawan berpangkat Baron.
Bertindak sebagai Kepala Tambang, Gnery sangat menyambut kedatangan Tuannya, kedua sudut bibirnya menampilkan senyuman cerah.
"Selamat datang, Yang Mulia!" Gnery menyambut dengan menunduk dalam, diikuti oleh para pengawalnya.
Ares tidak mengacuhkan Gnery. Keinginan kuat untuk segera masuk terpancar jelas dari sorot kedua matanya.
"Antarkan aku ke kantormu." Ares memberi perintah tegas, sedikit menyebabkan Gnery serta beberapa ksatria di belakangnya keheranan karena sikap Ares yang tidak berada pada tempatnya.
"Baik, Yang Mulia." Mengikuti arahan Gnery, Ares bersama Milly, Sieg, Charlotte serta beberapa bangsawan berpangkat tinggi menuju sebuah benteng kecil yang berada di balik dinding.
"Yang Mulia..." Milly memanggil khawatir.
Sedikit telah melunak, Ares berjalan tepat berdampingan dengan selirnya, mengalihkan wajahnya dan menunjukkan ekspresi lembut daripadanya.
"Ya?" timpal Ares, senyuman yang ia tunjukkan terasa sangat menenangkan.
"Apakah kamu... baik-baik saja?" balas Milly.
"Ah, ya." Ares menjawab lembut, "Tidak perlu memikirkan kerugianku. Jika itu hanya tentang uang, aku dapat mencarinya di tempat lain. Hanya saja..."
Milly hanya diam, menunggu sebuah kalimat sekali lagi terlontar dari kedua bibir Ares.
"Aku sangat bingung bagaimana harus bertindak," timpal Ares.
"Mengapa?" tanya Milly.
"Aku tidak mungkin memberikan hukuman eksekusi kepada para bangsawan tersebut. Aku juga tidak ingin dikenal sebagai seorang kaisar kejam." Ares sedikit menundukkan pandangannya.
"Um... maaf." Merasa tidak dapat sedikitpun membantu, Milly sekali lagi tertunduk, merasa sangat menyesal.
"Tidak perlu dipikirkan." Ares tersenyum lembut, menepuk ringan ubun-ubun Milly agar ia berhenti mengkhawatirkan keadaannya.
"Gnery." Di tengah perjalanan mereka, Ares memanggil.
"Ya, Yang Mulia?" timpal Gnery.
"Selama bertugas di sini, kau tidak melakukan sesuatu yang aneh, bukan?" Terkecuali Gnery, perkataan Ares membuat para bangsawan sekali lagi gugup.
Gnery menunjukkan senyuman cerah, "Tidak mungkin, Yang Mulia. Saya selalu mengatur daerah ini dengan baik sesuai dengan instruksi dan tidak pernah melakukan sesuatu yang dilarang oleh Anda."
Sedikit lega, Ares tanpa sadar menunjukkan senyuman kecil, "Bagus."
Mencapai sebuah pintu kecoklatan yang terkesan biasa saja, Gnery membuka pintu, mempersilakan Ares masuk, "Silakan, Yang Mulia."
"Ah, ya," timpal Ares.
Ares dan beberapa bangsawan tingkat tinggi memasuki ruangan meninggalkan para ksatria serta bangsawan rendah di luar ruangan.
Sempitnya ruangan kepala menyebabkan seluruh sesuatu yang berada di dalam ruangan tampak jelas bagi orang-orang yang berada di dalamnya. Hanya terdapat sebuah meja dengan kursi serta beberapa lemari, yang di beberapa titik memiliki jendela sedikit besar dari ukuran normal, suasana Kantor Kepala Tambang sangat menunjukkan sebuah kantor pribadi.
Meskipun begitu, tatapan Ares, Milly, Kristin, Sieg, Charlotte, semua orang yang memasuki ruangan termasuk Gnery, tertuju kepada dua kantung coklat bulat berukuran sangat besar berdiameter sekitar 1 meter.
"Apa... itu?" Ares bertanya, sedikit rasa penasaran menghampiri benaknya.
"Saya juga tidak mengetahuinya, Yang Mulia." Gnery mengerutkan keningnya. Belum sekalipun memasuki kantor selama seharian ini, Gnery bertanya-tanya asal muasal kedua kantung tersebut.
Keamanan kantor Gnery termasuk ketat. Beberapa ksatria hampir selalu berpatroli di sekitar ruangannya. Terlebih, Kantor Gnery memiliki penjagaan 4 ksatria elit selama satu hari penuh secara bergantian.
Ares mendekati kantung tersebut, membuka tali yang mengikatnya dan merogoh isinya.
Kedua mata Ares seketika terbuka lebar. Telapak tangan kirinya merasakan sebuah kontur logam yang benar-benar dikenalnya.
"Hei, apa maksudnya ini?" Ares berbalik, menunjukkan sebuah bongkahan emas berdiameter sekitar 15 cm di atas tangannya kepada orang-orang di belakangnya.
"Hah?!" Tidak hanya para bangsawan, bahkan Gnery sendiri juga terkejut.
"Apakah kau berbohong kepadaku, Gnery?!" Ares mengungkap kekesalannya, tangan kanannya ia gerakkan untuk mengangkat kerah Gnery.
"Ti—tidak, Yang Mulia! Saya tidak pernah melakukan itu! Ini salah paham!' Gnery membela diri.
"Hah?! Kau mengatakan ini salah paham?! Lalu, apa yang ada di tanganku ini?!" timpal Ares sangat kesal.
"Ti—tidak! Itu tidak benar!" Gnery mengalihkan wajahnya kepada para bangsawan sekitar, melukiskan wajah berharap sebuah pertolongan. Meskipun begitu, Gnery hanya mendapatkan beberapa wajah mencemooh.
Merasakan kebodohan orang-orang yang hidup di era abad pertengahan, Ares sekali lagi menghela napas sembari membuang Gnery kembali, tidak menyangka jika orang-orang dunia ini juga tidak berbeda dengan orang-orang dari era abad modern.
Ayo pulang.
Hanya anak-anakku yang dapat menyembuhkan luka hatiku.
Juga... perasaanku selama beberapa hari terakhir sangat tidak nyaman...
Kuharap, Excel dan yang lainnya dalam keadaan baik-baik saja.
...----------------...