
...—Kota Hauzen, Kekaisaran Arestia—...
...—15 September 1238—...
"Pak Tua, aku ingin membuat sebuah kesepakatan denganmu."
Kata-kata seorang pemuda berambut biru pendek tidak rapi yang terduduk berhadap-hadapan dengannya membuat Edward sedikit terperangah. Tidak menyangka jika Ares akan begitu berani untuk meminta bantuannya setelah bersikap abai terhadap proposal pertunangan yang diberikan Lucia kepadanya.
"Apa... yang kamu inginkan? Lagipula, umurku baru menginjak usia 41 tahun, tahu." Mendengar dirinya dipanggil sebagai orang tua, Edward mengajukan keberatannya.
Jika seseorang memandangnya, mereka pasti akan menilai jika Edward merupakan sosok yang baru saja beranjak dewasa dari masa keremajaannya. Wajah ovalnya yang terkesan halus tidak sedikitpun menunjukkan adanya tanda penuaan, menyebabkannya merasa sedikit sakit hati saat Ares memanggilnya sebagai orang tua.
Sejak pertemuan keduanya saat mencanangkan pendirian Guild Pedagang di ibukota dua tahun lalu, hanya Ares yang akan berbicara secara frontal kepadanya. Tidak ada seorangpun diantara para bangsawan Kerajaan Holenstadt yang abai dengan kesopanannya jika berbicara kepada Edward mengingat posisi Menteri Keuangan yang dimiliki oleh Kepala House of Honzermus tersebut.
"Sebelum itu... bagaimana keadaan politik Holenstadt saat ini?" tanya Ares.
"Kacau." Edward memberikan jawaban cepat, memberikan tatapan tajam sembari mengaitkan kedua tangannya yang masing-masing sikunya menyanggah kedua pahanya tepat di depan hidungnya.
Edward merasa jika keadaan negaranya semakin tidak kondusif. Para bangsawan dari dua kelompok besar saling mencari dukungan dari para bangsawan netral yang memiliki uang seperti dirinya.
Tidak lagi aman, Edward merasakan bila anggota keluarganya mungkin saja dapat menjadi sandera jika keadaan semakin memanas, kekhawatirannya yang sangat tinggi apabila salah satu faksi tersebut berniat untuk memaksa Edward agar memberikan dukungannya, seperti dalam hal finansial serta kekuatan militer rumahnya.
"Bisakah kamu menahan mereka tiga atau empat tahun ke depan?" Ares sejenak memejamkan matanya secara perlahan, "Setidaknya sampai Guild Pedagang memiliki cabang di negara yang berada di pusat dunia."
"Eh? Bukankah kamu mengatakan sesuatu yang sangat mustahil, Yang Mulia?" Sangat terkejut dengan isi permintaan Ares, Edward mengerti jika pemuda di hadapannya berniat untuk membuatnya menjadi seorang agen.
Meskipun begitu, Edward menyangkal, tidak mungkin menahan dua faksi besar yang sedang dalam keadaan bersitegang, yang mana pembunuhan dapat terjadi kepada para pangeran yang menjadi pemimpin faksi tersebut.
"Lagipula, aku telah merencanakan untuk kabur ke negara ini bersama Lucia dan istriku saat keadaan tidak lagi dapat dikendalikan." Edward merebahkan punggungnya, merasa sangat lelah untuk membahas sebuah topik berat.
Kedatangan Edward bersama putrinya ke benua barat bukan semata-mata hanya karena peresmian Guild Pedagang, namun juga keduanya yang berkeinginan untuk sejenak rehat dari situasi panas Ibukota Kerajaan Holenstadt dan berlibur dengan menikmati wisata kanal air yang telah dibuka di Kota Hauzen.
"Jika kamu menerimanya, aku berjanji untuk melindungi putrimu—"
"Tunggu! Apakah Anda telah memutuskan untuk menikahi Lucia?!" Edward tanpa sadar bangkit, menahan tubuhnya di atas meja dengan kedua tangannya sembari menyela kata-kata Ares.
Ares mengubah ekspresinya menjadi jelek, "Hah?! Apakah kau ingin membawa benih kekacauan ke dalam negaraku?!"
Ares mengerti. Sumber kekacauan utama dunia game ini bermula dari Lucia, putri semata wayang Edward yang disukai oleh dua pangeran Holenstadt dari dua faksi yang saling beroposisi.
Pembunuhan salah satu pangeran Kerajaan Holenstadt oleh pangeran oposisinya karena tidak sabar dengan Lucia yang tidak kunjung menerima salah satu proposal tersebut membangkitkan kemarahan faksi yang menjadi korban, menyulut perang dunia dimana dua faksi tersebut mendapat sokongan dari dua kekuatan besar dunia, Kekaisaran Suci Alven serta Kekaisaran Renacles, atau dapat dikatakan Agama Arafant dan Mihiral.
Bahkan saat melihat jalan cerita yang game miliki, Ares yang saat itu masih menjadi seorang pemain mengerutkan keningnya, tidak menyangka jika perang dunia yang sangat dahsyat dapat terjadi hanya karena keberadaan seorang gadis yang tidak kunjung memilih pengantinnya.
"La—lalu, bagaimana caramu melindungi putriku jika kamu tidak menikahinya?!" Edward tanpa sadar meninggikan suaranya, merasa jika keselamatan putrinya sedang berada dalam suatu taruhan.
Salah satu kelopak Ares berkedut, merasa sia-sia melakukan interaksi melelahkan dengan pria di hadapannya dan menghela napas berat sembari merebahkan kembali punggungnya di atas sandaran sofa, "Aku hanya harus mengirimkan seorang pengawal kepadanya."
"Mengapa kamu merasa sangat yakin?" Edward bertanya heran, duduk kembali di atas sofanya dengan tenang, "Apakah kamu tidak mengetahui kehebatan intelejen dua negara yang menyokong faksi merek—"
"Bloodytears, kelompok intelejen Kekaisaran Renacles, total 475 anggota, 30 anggota kelas S. The Dark Knight, kelompok intelejen Kekaisaran Suci Alven, total 286 anggota, 15 anggota kelas S. Inquisitor Gereja Arafant, 315 anggota, 28 anggota kelas S."
Selaan Ares sekali lagi membuat Edward sejenak terperangah, kedua matanya pun terbuka lebar.
"Kamu... bohong... kan?" Edward berkata takjub.
"Apa keuntunganku jika aku berbohong kepadamu, Pak Tua? Dan juga, aku sangat yakin dengan kemampuan pengawalku. Setidaknya, dia dapat membawa putrimu melarikan diri pada saat terkepung oleh 20 anggota intelejen dengan kemampuan setara kelas S." Ares memberikan pernyataannya dengan keyakinan tinggi.
"Benarkah?" Edward bertanya, ketidakpercayaan besar terkandung dalam nadanya.
"Marie."
KLAK!
Pintu kembar lemari kayu di sudut ruangan tiba-tiba terbuka, terdengar cukup keras hingga menyebabkan Edward terkejut.
"Siapa?!" Edward dengan panik menoleh, meningkatkan kewaspadaannya meski tidak membawa satupun alat perlindungan diri.
Seorang gadis bertubuh pendek melangkah keluar dengan anggun. Rambut pendek bob berwarna ungu, ekspresi wajahnya yang bulat terkesan sangat menyenangkan. Tidak ada yang berpikir jika Marie merupakan salah satu anggota kelompok "hitam" bawahan Ares.
Marie tersenyum, mata keunguannya menyipit, membungkuk dalam sebagai perkenalan serta penghormatan kepada Edward, "Selamat malam, Tuan."
"Apakah dia adalah seseorang yang akan mengawal putriku?" Edward berwajah keruh, meragukan kemampuan Marie dari penampilan yang dia tunjukkan.
"Ya..." Ares menatap kepada Marie, terlihat keruh karena mengingat beberapa kenangan buruk disaat dia bersama dengan gadis tersebut, "Pembunuh terbaik ketiga Cornwall, Codename : Marie."
"Cornwall?! Bukankah mereka sudah dihabis—"
"Jaga mulutmu, Pak Tua." Bilah pedang pendek secara tepat hendak mengiris kulit putih leher Edward, Marie memiliki keengganan besar untuk mendengar organisasi yang telah menyelamatkannya dari kematian di masa lampau akibat kelaparan dikatakan telah hancur.
Keterkejutan Edward merupakan hal yang wajar. Sebuah kehancuran kelompok besar yang bernaung di bawah kegelapan dunia pasti akan terdengar dan menjadi bahan pembicaraan besar.
Bagi Edward, mendengar salah satu kelompok "hitam" tersebut kini telah berada di bawah Ares sangat membuatnya terkejut, semakin meningkatkan keinginannya untuk menjalin hubungan kekeluargaan bersama dengan pemuda di hadapannya.
"Kami tidak hancur, kami hanya berpindah 'rumah.'" Nada Marie berkesan penuh dendam, seolah tidak membiarkan beberapa kelompok pembunuh yang menjadikan Cornwall sebagai kambing hitam di negara kepulauan selatan dapat lolos tanpa sedikitpun merasakan pembalasan dendam.
Edward berkeringat dingin, sekujur tubuhnya samar terlihat gemetar kecil karena merasakan pancaran hawa membunuh yang luar biasa. Memandang reaksi pria di hadapannya, Ares hanya dapat tersenyum kecut, merasa tidak perlu menunjukkan kemampuan penuh Marie kepada Edward.
Ares tahu, meski Marie adalah seorang gadis yang memiliki kepala miring, namun profesionalitasnya dalam menjalankan sebuah misi sangatlah tinggi, tidak pernah sekalipun terdengar sebuah kegagalan sejak Ares memerintahkan Marie untuk menjalankan misi pertamanya.
"Lepaskan dia, Marie. Dia tidak bermaksud untuk mengejek kalian," ungkap Ares.
"I—itu benar! Maafkan aku!" Darah segar telah menetes, Edward perlahan menjadi panik dan tanpa sadar merendahkan martabatnya kepada Marie.
"Oke!" Marie seketika berekspresi riang, melompat mundur serta menyarungkan kembali pedang pendeknya seolah tidak terjadi apapun sebelumnya.
Ares menyerahkan sebuah sapu tangan, menunjuk lehernya sendiri sebagai tanda agar Edward membersihkan darah yang telah menetes di leher Edward.
"Lalu... apa yang sebenarnya kau inginkan dalam 3 tahun penundaan itu?" tanya Edward, masih sedikit merasa takut kepada Marie yang berdiri tepat di belakangnya.
"Memastikan sayap Guild Pedagang telah menyebar di seluruh dunia dan juga... inisiasi serangan laut atas kepulauan selatan."
...----------------...