Arestia Empire'S World Domination

Arestia Empire'S World Domination
Chapter 43 : As dan Joker



...—Kota Perbatasan Suretz, Kerajaan Gardom—...


...—18 Desember 1238—...


Suasana kota perbatasan Kerajaan Gardom yang berada di daerah selatan pesisir selat yang membatasi benua barat dengan daratan yang menjadi wilayah kekuasaan Republik Ecasia terasa sangat semarak.


Festival telah dirayakan, hari ini adalah hari yang sangat bersejarah bagi penduduk Kota Perbatasan Suretz. Tidak pernah terbayangkan di dalam benak mereka bahwa kota kecil yang hampir tidak pernah mendapatkan perhatian penuh dari Sang Ratu, Florentia, menjadi tempat dimana konferensi tingkat tinggi dari tiga negara akan dilangsungkan.


Rumah-rumah dan toko-toko telah dihias, jalanan batu kota khas abad pertengahan telah diperbaiki. Suasana diciptakan rimbun, banyak taman serta pepohonan yang ditempatkan sepanjang jalan utama, seolah-olah menandakan bila sambutan yang diberikan Florentia tidak dapat sedikitpun mendapat cemoohan.


Para penjaja ramai memenuhi setiap sudut kota, barang-barang pokok yang menjadi kebutuhan setiap warga kota tersubsidi karena kebijakan Sang Ratu, menunjukkan itikad baik Kerajaan Gardom yang sangat menyambut delegasi dua negara lain dengan suasana bahagia, hangat, dan meriah.


Tak jauh dari mansion yang menjadi tempat tinggal sang baron perbatasan, kapal-kapal kecil delegasi Republik Ecasia telah memenuhi dermaga, menyingkirkan perahu para pelayan dari tempat singgahnya untuk sementara.


Pun tidak berbeda dengannya, tak jauh dari pesisir pantai, puluhan kapal-kapal besar Republik Ecasia telah menurunkan jangkarnya, menunjukkan kegagahan serta ketinggian teknologi yang dimiliki Ecasia walau hanya berdiam menunggu hingga tiga bangsawan besar republik telah kembali menaikinya.


Berada pada jalanan utama kota, dengan penjagaan puluhan Ksatria Gardom yang mengawal dari kedua sisi jalan serta sorakan para penduduk, karavan yang berisi puluhan kereta kuda yang sangat mewah bergerak mendekati mansion Sang Baron, terlihat sangat meriah meski orang-orang yang berada di dalam gerbong tidaklah sedikitpun menunjukkan perangainya demi keamanan diri mereka.


Meskipun begitu, suasana kemeriahan tidaklah sedikitpun berada di dalam gerbong termewah yang memiliki lambang Keluarga Aubert serta Francois yang terukir padanya. Bertindak sebagai perdana menteri, Warren memiliki tugas yang serupa dengan atasannya yang berperan sebagai delegasi dari Kekaisaran Arestia.


Ada... sesuatu yang salah.


Kening Warren berkerut, perawakannya seolah menunjukkan keletihan yang luar biasa. Tetap saja, dia hanya dapat terdiam, terheran-heran dengan tingkah laku seseorang yang kini duduk berhadap-hadapan dengannya disertai kedua kaki yang disilangkan dengan tubuh yang merebah.


Ya... ini benar-benar salah.


Seragam kepala pelayan adalah sesuatu yang dikenakan Ares tepat setelah ia bergabung kembali dengannya. Warren tidak pernah menyangka jika temannya yang telah menaklukkan lima negara sekaligus merupakan Sang Kaisar, akan mengemis memohon tumpangan di salah satu sudut jalan utama setelah bertemu kembali dengan rombongan utama delegasi.


Pun duduk tepat di sampingnya, Gale juga mengenakan pakaian maid wanita hitam dengan rok putih pendek, menahan malu dengan wajah yang memerah, berusaha menarik roknya agar kedua lututnya dapat tertutup secara sempurna.


"Nah..." Warren memecahkan keheningan, berwajah sulit karena sedikit kebingungan bagaimana harus mengungkapkan apa yang berada dalam benaknya.


"Apa itu?" tanya Ares.


"Sudah menjadi rahasia umum jika kepala negara akan berada dalam karavan yang berbeda dengan gerbong yang terlihat biasa karena alasan keamanan..." ungkap Warren sulit.


"Lalu?" tanya Ares, kembali mengangkat kepalanya yang sebelumnya bersandar untuk menatap Warren.


"Tapi... apa alasanmu menyewa jasa transportasi itu dan berakhir mengenaskan seperti kemarin?" Warren mengubah tatapannya menjadi tajam, tidak melewatkan satupun perilaku yang Ares lakukan, "Bukankah kamu berangkat dengan karavan yang memiliki keamanan sangat ketat? Lagipula, dimana keberadaan mereka saat ini?"


Dihujani rentetan pertanyaan yang tidak mungkin dirinya jawab, Ares hanya dapat membuat tawa paksa, tatapannya teralihkan kepada jendela yang berada di balik tirai.


"Y—yah... aku memiliki alasan untuk itu..." ungkap Ares, kedua tatapan matanya berlarian menghindar agar tidak bertemu pandang dengan Sang Perdana Menteri.


Semakin menyipit, Warren tahu jika Ares tidak ingin menjawab pertanyaannya. Helaan napas berat sembari sejenak memejamkan kedua matanya membuat Warren sedikit rileks, berniat untuk mengubah pendekatannya dalam berbicara.


Meski Warren memiliki anggapan bila Ares tidaklah memiliki pengetahuan serta keterampilan penggunaan senjata yang mengungguli dirinya, namun pria di depannya telah melalui beberapa medan perang besar, operasi intelejen, hingga penyusupan yang memiliki ancaman besar terhadap keselamatannya.


Warren tidaklah berpikir jika Ares melakukan tindakan tersebut terkecuali para ksatria yang mengawal karavannya merupakan mata-mata.


"Mengapa kamu dapat membuat kesimpulan seperti itu, Warren?" Ekspresi wajah seketika menjadi serius, Ares menekankan pada nama pria di hadapannya agar menanggapinya dengan serius.


"Bahkan untukku, aku meninggalkan putriku dan Ann dengan beberapa ksatria pengawal elit yang sangat aku percayai untuk menjaga keamanan mereka... Bukankah kamu merasakan jika udara di ibukota terasa aneh selama beberapa hari terakhir?" timpal Warren.


Kekaisaran Arestia belum memiliki satupun lembaga resmi yang membawahi seluruh operasi intelejen mereka. Dalam satu tahun terakhir, Warren mengerahkan anggota intelejen yang berasal dari House of Francois karena negara tidak memiliki cukup tangan untuk dengan cepat membentuknya.


Tentu, Warren tidaklah mengetahui apabila kini Eina menjadi bawahan Ares yang berspesialisasi dalam tugas tersebut. Terlebih, meski House of Francois memiliki banyak bangsawan bawahan, dia tidaklah mempercayai mereka secara mutlak.


"Apakah kamu memberi tanda kepadaku untuk membentuk divisi intelejen?" Ares tersenyum masam, menatap ekspresi Warren dengan seksama.


Sejenak, tatapan Warren berpaling kepada Gale yang tetap sibuk dengan pakaian pelayannya. Menganggapnya tidak sedikitpun menggubris pembicaraan keduanya, muncul perasaan aman karena tidak menyinggung Klan Cornwall di dalam benak Warren.


"Tidak perlu memikirkan itu, aku sudah memilikinya di bawah telapak tanganku." Kata-kata Ares membuat Warren kembali menutup rapat kedua bibirnya.


Berbagai pikiran negatif melayang dalam benak Warren. Jika Ares tidak membuat organisasi tersebut berdiri secara resmi di bawah payung hukum negara, maka berbagai tindakan dapat dengan mudah dia lakukan.


Bisa saja pria di hadapannya memerintahkan mereka untuk membunuh istri dan putri Warren, meski Warren tidak sedikitpun berpikir jika Ares akan melakukan hal tersebut. Akan tetapi, pada masa yang akan datang, tidak menampik kemungkinan apabila Keluarga Francois serta Aubert dapat memiliki sengketa diantara keduanya, yang berkemungkinan besar menjadi sebab kehancuran negara.


"Jangan khawatir, aku telah memerintahkan mereka untuk tidak menyentuh House of Francois, apapun yang terjadi," ungkap Ares menenangkan.


Keraguan tetap ada dalam hati, kemampuan bawahan Ares mendapat sorotan dari Warren, "Mengapa kamu sangat yakin dengan kemampuan mereka?"


Pertanyaan sindiran telah terlontar, Ares memalingkan wajahnya untuk kembali menatap tirai yang kini telah sedikit terbuka, sejenak termenung dengan memandangi barisan kuda-kuda para ksatria serta sorakan para penduduk kota perbatasan.


"Sejujurnya... aku tidak sekalipun memiliki ketenangan hati saat meninggalkan Excel, Raze, dan Orcian dengan penjagaan penuh Klan Cornwall dan Biro Intelejen bawahanku." Kata-kata Ares membuat kening Gale berkerut, merasa kemampuannya sangat diremehkan.


"A—"


"Bukan berarti aku sedikitpun meremehkan kemampuan Klan Cornwall." Lontaran kata-kata Ares membuat Gale kembali terdiam, "Namun, hanya dengan itu saja tidak akan cukup jika kita menghadapi dua organisasi dari 'Tujuh.'"


Gale mengerti, terdapat beberapa organisasi gelap yang dapat disandingkan dengan organisasi tempatnya bernaung. Meskipun hendak menolak, berkeinginan untuk membantah, namun Gale sadar bila dia tidak mampu untuk melakukannya.


Begitu pula dengan Warren, mendengar hal tersebut, dia hanya dapat berkeringat dingin. Mata dunia bawah telah menjangkau keluarga kecilnya. Sebagai perdana menteri sebuah negara besar, Warren tahu jika dia tidak dapat terlepas dari ancaman tersebut.


"Meskipun aku tidak tahu kapan mereka akan bergerak menuju Excelia... tidak perlu khawatir." Ares tersenyum, mencoba meredakan ketegangan yang telah menyelimuti suasana di dalam gerbong kereta.


"Karena aku sudah menyiapkan 'Joker' jika mereka menggunakan 'Kartu As'-nya."


...----------------...