Arestia Empire'S World Domination

Arestia Empire'S World Domination
Chapter 32 : Air untuk Anakku, part 1



...—Jalan Utama Kekaisaran Arestia—...


...—3 September 1238—...


Mengapa...


Mengapa ini bisa terjadi?


Wajah Ares terlihat sangat keruh. Berada di dalam bidang pandangnya, dua balita berambut putih sedang tertidur pulas di atas kasur portabelnya masing-masing disertai seorang wanita cantik berambut putih yang juga telah terlelap di atas sofa gerbong di samping kedua bayi tersebut.


Di tengah gelapnya malam, gerbong besar yang Ares naiki melintasi jalanan besar yang menghubungkan Ibukota Excelia dengan Kota Perdagangan Bebas Hauzen.


Tidak terdapat satupun gerbong lain yang mengawal maupun mengikuti, hanya sosok kuda perang hitam yang lebih besar dibandingkan dengan kuda perang pada umumnya menarik gerbong kereta yang memiliki ukuran serupa dengan gerbong yang digunakan sebagai dapur para bangsawan saat bepergian.


Lykan, kuda perang pribadi Excel yang terkenal ganas. Sosok hitam serta mata merahnya dapat menyebabkan hampir semua musuhnya terintimidasi jika Lykan dipacu di tengah medan perang.


Tentu, gerbong kereta kuda yang Ares tumpangi tidaklah sedikitpun memiliki kesan mewah, terlihat sangat biasa dan tidak sedikitpun memiliki pernak-pernik, walau spesifikasi kekuatan serta kenyamanannya setara dengan gerbong kereta kuda Keluarga Kekaisaran yang telah dilengkapi oleh sistem suspensi pegas daun.


Terbesit kembali ingatan Ares beberapa hari yang lalu, saat dirinya hendak meninggalkan istana kekaisaran, Excel membawa serta Raze dan Orcian memasuki gerbong yang akan Ares gunakan.


Dengan alasan ingin mencari hiburan, Excel mendapat pertentangan keras dari para bangsawan istana—lebih terkhusus pada Warren dan Ann—yang menolak jika Excel meninggalkan ibukota pada saat yang sama dengan Sang Kaisar.


Tidak adanya ahli waris adalah masalah besar. Raze dan Orcian diharapkan untuk berada di ibukota jika Ares pergi untuk melaksanakan tugasnya.


Namun, tidak ada satupun yang kuasa menahan hawa membunuh Excel, yang terpancar kuat hingga menyebabkan banyak bangsawan, ksatria, hingga para pelayan pingsan terkapar dengan mulut yang berbuih.


Saat itu, Ares tersadar, Raze dan Orcian hanya menatap ibu mereka dengan bingung, membuatnya takjub karena tidak menyangka jika kedua anaknya tidak sedikitpun merasakan ketakutan atas hawa membunuh kental yang terpancar dari ibu mereka.


Para bangsawan—terkhusus pada Warren yang masih tersadar—memberikan pendapat, jalan tengah agar keinginan Excel serta keamanan keluarga kekaisaran dapat terjamin.


Ares, Excel, serta kedua anaknya tidak melakukan perjalanan bersama dengan rombongan utama Sang Kaisar. Menipu semua mata memandang agar keberadaan Ares tidak menjadi sorotan para pembunuh.


Tentu, meski hanya terdiri dari satu gerbong, pengawalan sangat ketat. Keempat bawahan langsung Ares dari Klan Cornwall—Lean, Marie, serta Rea—berada di dalam gerbong besar yang sama dengan Sang Kaisar, memainkan sebuah permainan yang mereka tidak pernah mainkan sebelumnya, meninggalkan Gale yang menggigil akibat diterpa dinginnya angin malam karena berperan sebagai kusir mereka di luar gerbong.


"Royal Straight Flush!" Sembari menunjukkan lima kartu kayu tipis yang memiliki nilai tertinggi, Rea dengan kuat mengatakannya, walau nada yang ia lontarkan terdengar sangat lirih.


"Idiot!"


"Kau curang!"


Tidak berbeda dengan Marie, Lean melempar kartu sembari mengumpat lirih, terdengar sangat kesal, merasa keberuntungannya telah habis sejak beberapa hari yang lalu.


Merasakan Raze yang bergerak tidak nyaman, Excel perlahan membuka matanya, membuat Ares yang memandang keduanya sangat takjub.


Bagaimana istriku dapat merasakannya?


Ikatan emosional yang benar-benar kuat...


Kuh... aku sangat iri...


Sedikit timbul perasaan buruk terhadap istrinya, Ares segera menghapusnya, bangkit dan mendekati Raze yang samar telah membuka kedua matanya.


"Bu... Sakit..." Raze menahan kedua telapak tangannya di atas perutnya.


Excel mengalihkan tatapannya kepada Ares, "Sayang, tolong katakan untuk berhenti sebentar."


"Oke." Ares berpaling, membuka jendela kecil yang menghubungkan tempat duduk kusir dengan gerbong penumpang dan memukul keras punggung Gale.


BUK!


"Aduh!"


"Berhenti, oi. Anakku ingin buang air sebentar." Tepat setelah menyelesaikan kata-katanya, Ares menutup kembali jendela tersebut, mendekati Excel untuk membantu mengurus putranya.


Bukan karena keterpaksaan, Gale menjadi kusir karena dirinya yang kalah melakukan suit.


Dengan menggendong Raze yang tidak mengenakan celana, Excel turun dengan hati-hati, berusaha agar diri dan putranya tidak celaka.


Tentu, Ares telah hafal dengan tangisan Orcian disaat ibunya meninggalkannya pada saat tidurnya, ia mengambil Orcian dan menyelimutinya dengan selimut sembari menggendongnya untuk turun membersamai istrinya.


Tentu, pada salah satu pinggul Ares dan Excel, telah tersarung senjata peringkat Phantasmal—Rapier dan Ruberion Sword—sebagai penjagaan apabila mereka bertemu dengan hewan liar maupun bandit.


Rea mengikuti Ares dan turun bersamanya, meninggalkan Lean dan Marie yang tetap berada di atas meja permainan. Ares telah mengabaikan sikap mereka, meski dia tahu jika Lean dan Marie akan bergerak jika Ares, Excel, serta kedua anak mereka berada dalam bahaya yang nyata.


"Tuan." Rea lirih memanggil, merasa keadaan tidak dapat dikatakan aman.


"Biarkan saja," timpal Ares.


"Baik," balas Rea.


"Dimana... kakak?" Orcian perlahan terbangun dalam pelukan, membalikkan tubuhnya agar menatap ke arah yang sama dengan ayahnya.


"Kamu bangun, Sayang?" Ares menggeser tangannya agar Orcian dapat duduk dengan nyaman.


Mendekati Excel yang berjongkok tepat di belakang Raze yang juga berjongkok, Ares memperlihatkan senyuman masam, "Jangan buang air sambil tidur, Raze."


"Kakak malu!" Orcian mengejek kakaknya, meski matanya terlihat masih mengantuk.


"Rea, tolong ambilkan air dan kain tipis di bawah kasur," perintah Excel.


"Baik, Bu." Rea melangkah pergi, memeriksa tempat yang Excel perintahkan.


Hingga beberapa saat berselang, Rea kembali dengan bejana air yang terasa ringan sembari menampilkan ekspresi kusut, merasa kecewa karena tidak dapat melakukan yang terbaik untuk Tuannya.


"Tuan." Tak jauh dari balik punggung, Gale memanggil, "Jika tidak salah... ada sungai di dekat tempat ini."


"Tidak." Ares berbalik, menggeleng ringan, "Airnya dingin, kau ta—"


TRANG!


Gerakan cepat, Ares menghunuskan Rapiernya dan menangkis panah yang datang untuk menembak Orcian yang berada dalam gendongannya.


Begitupun Excel, Ares menghela napas berat. Keduanya telah sepakat dalam diam untuk membiarkan para pengintai jika saja mereka tidak menyerang.


"Oi, oi, jackpot, eh?" Salah seorang bandit datang, melompat turun dari dahan pepohonan diikuti oleh beberapa orang lain, hingga mencapai lebih dari hitungan jari.


"Kita menemukan keluarga kaya, Bos!" Salah seorang bawahan berteriak, nadanya terdengar sangat bersemangat.


Tunggu sebentar.


Bukankah kelompok bandit memiliki suatu tempat persembunyian?


Bukankah itu berarti terdapat banyak air bersih di dalamnya?!


Dan juga, bukankah ini kesempatanku untuk terlihat keren di depan putriku?!


Ares melukiskan ekspresi kebahagiaan. Tidak menyangka apabila solusi tidak adanya air bersih untuk membersihkan kotoran putranya telah datang ke hadapannya.


Menampakkan senyuman menakutkan, Ares menghunuskan Rapiernya, tangan kirinya memeluk Orcian yang kini menampakkan ekspresi kebingungan kepada para bandit dengan erat.


Aku akan merampok kalian, Bandit Sialan!


...----------------...