
...—Ibukota Excelia, Kekaisaran Arestia—...
...—27 September 1238—...
Krrk.
Krrk.
Suara gemerisik kayu gerbong kereta samar terdengar di dalam kabin. Tapak-tapak langkah kuda penarik gerbong juga beberapa kali samar terdengar. Meskipun begitu, suara-suara tersebut tidak sekalipun mengganggu aktivitas Raze dan Orcian yang sedang bermain suatu permainan yang tidak pernah sekalipun mereka lihat sebelumnya.
"Kakak! Aku juga ingin!" Ketidaksabaran Orcian saat melihat Raze bermain sebuah pop-up book dengan membuka beberapa halaman membuatnya berteriak, kedua tangan Orcian terulur, merebut dengan paksa buku tersebut dari genggaman tangan kakaknya.
"Dak mau!" Dengan kecapan yang tidak terdengar jelas, Raze mempertahankan buku tersebut dengan memeluknya, masih menginginkan untuk bermain lebih lama.
"Kakak! Berikaaan!" Orcian tetap menarik, merebut paksa dari saudaranya.
Melihat kedua anaknya saling berebut, Ares berkeringat dingin. Senyuman Excel dengan kedua matanya yang tertutup sangat membuatnya ketakutan.
"Sayang, jika kamu tidak bisa membuat dua, lebih baik tidak usah membuatnya. Apakah kamu sudah melupakan kata-kataku ini?" Excel mencubit lengan suaminya yang duduk tepat di sampingnya, dengan sangat kuat.
"Aduh! Aduh! Oke! Oke! Aku berjanji!" Ares menahan punggung tangan Excel, mencoba menjauhkan tangan tersebut dari lengannya, "Jadi tolong lepaskan!"
"Jangan ulangi lagi." Excel melepaskan cubitannya.
"Uhh..." Melirik kecil kulit tangannya, Ares menemukan ruam kebiruan muncul di atas kulit putihnya, hanya dapat berwajah kuyu karena menahan rasa sakit luar biasa sembari membelai lembut lengannya yang kesakitan.
Excel mendekati kedua anaknya yang masih berebut, "Orcian, apa kamu ingin coklat?"
Mendengar sesuatu yang sangat disukainya, perhatian Orcian teralihkan kepada ibunya, "Ya!"
Excel tersenyum lembut, mengetuk beberapa kali pada dinding gerbong di belakangnya sebagai tanda agar kusir mengubah haluan gerbong keretanya.
Beberapa saat lalu, Ares bersama keluarganya memasuki ibukota setelah perjalanan jauh mereka untuk peresmian Guild Pedagang di Kota Perdagangan Bebas Hauzen. Tentu, parade meriah tetap dilangsungkan meski Ares dan Excel tidaklah menampakkan wajah mereka kepada para penduduk ibukota dengan alasan keamanan.
Meskipun begitu, sudah menjadi rahasia umum di kalangan bangsawan tingkat tinggi jika para anggota royalti harus bepergian tanpa menggunakan gerbong yang diperuntukkan bagi mereka.
Terkesan sederhana, namun desain interiornya tidaklah berbeda jika dibandingkan dengan gerbong kereta utama yang seharusnya mereka gunakan. Dengan alasan tersebut, Excel dan Ares dapat bergerak bebas, walau pengawal bayangan dari badan intelejen serta pembunuh Cornwall tetap mengawasi keamanan di sekitar mereka.
"Gale, pergilah menuju bar yang saat itu suamiku kunjungi di tengah malam," perintah Excel.
"Baik." Gale menjawab cepat.
Terhuyung kecil dari posisi duduknya, Ares merasakan bila gerbong yang ia tumpangi segera berpindah haluan, sekali lagi tersadar akan kekuatan mutlak istrinya yang kini tersenyum mengejek.
"Hei, bukankah kamu saat itu sedang tidur, Sayang?" Ares menoleh dengan bingung, tidak menyangka bila istrinya dapat mengetahui penyelinapannya.
"Hm? Kamu bertanya tentang itu, Sayang?" Salah satu pipi Excel mengerut heran, "Semua kegiatan yang kamu lakukan akan dilaporkan kepadaku, tahu."
"Heh?!" Ares terkejut, tanpa sadar meninggikan suaranya, "Si—siapa?!"
"Pengawal bayanganmu, Rea, sudah kutugaskan untuk itu," jawab Excel lalu terkikik.
Kedutan pun tampak di salah satu kelopak mata. Merasa sia-sia untuk mengajukan keberatan atas tindakan istrinya yang sewenang-wenang, Ares hanya dapat menghela napas berat.
Hingga beberapa saat perjalanan, pasangan tersebut menghabiskan waktu bersama anak mereka.
Roda kayu kereta kuda terhenti dari putarannya. Salah satu pintu gerbong terbuka, menampilkan sebuah bangunan dua lantai yang terkesan mewah. Beratap merah dengan kaca besar yang memperlihatkan keadaan dalam bangunan tersebut dimana banyak pelanggan yang terduduk di meja-meja bundar, memakan hidangan yang telah disajikan di depan mereka.
Bukankah ini... terlihat seperti toko modern di Inggris?
Berdiri di depan pintu masuk kembar yang terbuat dari kayu, Ares sejenak terperangah. Desain minimalis dan klasik dari toko tersebut sangat memberikan kesan mendalam bagi dirinya, hingga dia tanpa sengaja mengingat sesuatu yang sangat penting baginya.
Tunggu sebentar.
Bukankah toko ini adalah tempat dimana aku dan Olfrey bertemu?!
Me—mengapa bisa semewah ini?!
Dan juga, siapa yang membuat desain untuk toko ini?!
"Hmm?" Excel menoleh, senyuman lembut tetap terbentuk di atas wajahnya.
"Bukankah tempat ini..." Ares merasa takut untuk melanjutkan kata-katanya, tidak ingin membuat hati istrinya tercinta timbul suatu kecemburuan.
"Ah, benar. Jangan khawatir, aku tidak pernah berpikir kamu datang ke toko ini dan memperbaikinya hanya karena pemilik toko ini merupakan seorang gadis seksi, Sayang." Excel tersenyum penuh arti.
Ketakutannya benar, Rea telah mengungkapkan segala detail yang Ares lakukan. Meskipun Ares kala itu tidaklah melakukannya karena hal tersebut, namun kacamata Rea menilai sangat berbeda.
Rea sialan!
"Ti—tidak, aku tidak pernah melakukan itu! Tolong percayalah!" Ares menjadi panik, menyangkal perbuatannya.
Merasa senang karena berhasil mempermainkan suaminya, Excel terkikik bahagia, membuat perasaan Ares tergores sakit.
"Ibu! Ayo masuk!" Orcian menarik tangan Excel, tangannya yang lain terulur, berniat hendak mendorong pintu kayu kembar di hadapannya.
Berpegangan tangan dengan putranya, Ares melangkah masuk, mengikuti istri dan putrinya yang terlebih dahulu telah memasukinya.
Disambut oleh suasana ramai pengunjung, tercium bau wewangian yang dapat merilekskan pikiran dan hati.
Tidak hanya para perempuan, beberapa pelanggan pria bertubuh kekar juga menaruh pandang, beberapa pelanggan lain bersikap acuh tak acuh. Walau mayoritas dari mereka memiliki bir di atas mejanya, namun Ares merasakan sesuatu yang aneh, membuat salah satu kelopak matanya sekali lagi berkedut.
Ya, hampir semua meja memiliki sebuah manisan coklat atau dessert di atasnya.
Itu sangat tidak cocok, Idiot!
Semua mata memandang segera menatap hormat. Banyak dari para pelanggan bangkit, berdiri di dekat kursinya sembari membungkukkan dalam tubuhnya, "Selamat datang kembali, Nyonya Besar!"
"Eh? Eh?" Ares menatap bingung, sangat tidak mempercayai sesuatu yang terjadi tepat di depan matanya.
"Hati-hati, Sayang!" Excel tidak sekalipun memberi balasan, perhatiannya hanya tertuju kepada Orcian yang menarik kuat tangannya. Meskipun begitu, Excel melambai, memberi tanggapan kepada para pelanggan yang memberi hormat kepadanya.
Sebenarnya... apa yang telah istriku lakukan di tempat ini?
Menggandeng Raze, Ares melangkah dengan takjub, membuat putranya menatap bingung kepada ayahnya.
Excel mendekat, duduk di salah satu meja yang telah ditinggalkan para pelanggan dengan kondisi bersih, membuat Ares sekali lagi keheranan.
Duduk berdampingan dengan Raze, berhadap-hadapan dengan Excel serta Orcian, seorang gadis bertubuh sensual dengan pakaian tertutup mendekat, langkah kakinya terlihat sangat gugup.
Jika aku tidak salah... bukankah namanya Mehera?
"Um... Yang Mu—" Mendapat tatapan tajam yang sarat hawa membunuh, Mehera memperbaiki perkataannya, "Nyonya Besar... Apakah ada sesuatu yang ingin Anda pesan?"
"Lama tidak bertemu, Mehera." Excel tersenyum cerah, menerima sebuah lembar perkamen yang di dalamnya tertulis isi menu.
Excel memilih menu untuk Ares, kedua anaknya, dan dirinya sendiri, meninggalkan Ares yang hanya dapat menatap istrinya dengan tercengang.
"Um... Baik... Saya akan mengantarkan pesanan Anda. Mohon permisi." Mehera membungkuk sangat dalam, mundur dan memasuki dapur dengan terbirit-birit.
Excel tersenyum atas reaksi suaminya, meski dia benar-benar ingin untuk menertawakannya.
"Sebenarnya... apa yang sudah kamu lakukan di tempat ini... Sayang?" Ares bertanya takjub.
"Aku hanya mengirim seorang pelayan dan koki istana untuk melatih Mehera serta budak yang kamu bebaskan..." Excel sejenak menutup mata, segera mengubah ekspresinya menjadi penuh keseriusan.
"Tolong berjanjilah, jika kamu ingin berbuat sesuatu, jangan hanya melakukannya dengan setengah-setengah. Entah itu kebaikan atau bahkan sebuah penyiksaan."
Excel benar-benar memahami kepribadian suaminya, yang sedikit memiliki hati yang berat saat melakukan suatu kekejian, meski Ares telah terbiasa untuk melakukan suatu pembunuhan.
Karena itu, dia melakukan hal ini untuk memberi sebuah bekas di dalam hati suaminya, semata-mata hanya karena kasih sayangnya yang begitu besar kepada suaminya.
"Ya... aku berjanji."
Dengan perasaan sedikit bersalah, Ares sekali lagi tersadar bila dunia ini adalah sebuah dunia yang begitu kejam bagi diri dan keluarganya. Hanya sebuah langkah yang salah dapat menyebabkan kematian kepada seseorang yang dia cintai.
...----------------...