
...—Rodez, Kerajaan Forbrenne—...
...—11 Juli 1238—...
Hening, tanpa terasa adanya hawa kehadiran, kegelapan malam menyelimuti sebuah kota terbesar yang berada di ujung barat perbatasan Wilayah Kerajaan Forbrenne.
Tapak langkah kecil seseorang samar terdengar dari sebuah gang kecil diantara dua bangunan kayu yang telah ditinggalkan. Mengendap-endap, pria berjubah hitam tersebut membuka pintu kecil lusuh salah satu bangunan dengan kewaspadaan tinggi.
"Ketua, apa yang terjadi dengan permintaan kita? Apakah mereka benar-benar menerimanya?" Kata-kata cemas seorang wanita segera terdengar tepat setelah ia memasuki pintu.
"Jangan khawatir, aku telah memastikan terdapat persenjataan berat di luar tembok kota." Pria berjubah hitam tersebut membuka tudungnya dan segera menurunkan tas kulitnya yang berisi banyak pedang, belati, serta anak panah yang akan digunakan sebagai pasokan senjata kelompoknya.
Rambut keriting kemerahan yang sangat kusut, bekas luka sayatan membuat wajah dewasanya sangat memberikan kesan seorang pemimpin tentara bayaran.
Rutz, salah satu pemimpin gerakan pembebasan rakyat.
Tepat setelah dinobatkan sebagai kaisar, Ares menyadari apabila ia tidak dapat bertindak bebas hingga urusan dalam negeri serta melakukan penyesuaian birokrasi negara.
Untuk itu, dalam kurun waktu satu tahun terakhir, Ares memerintahkan Eina untuk menciptakan bibit-bibit pemberontakan di tengah masyarakat, di samping upayanya untuk semakin memperkeruh perseteruan diantara para pewaris tahta Forbrenne.
Tentunya, jika itu adalah Kerajaan Forbrenne, Ares tidak perlu mempersiapkan banyak sumber daya mengingat Eina telah memiliki banyak mata-mata di dalamnya, yang kini telah tergabung sebagai Biro Intelejen Kekaisaran Arestia.
Mengetahui Eina masih hidup, kebahagiaan besar segera melanda para ksatria serta pengikutnya—yang notabene merupakan pengikut buta House of Fonca—yang sejak awal telah berniat untuk melakukan sabotase besar-besaran terhadap pemerintahan Ares.
Antisipasi telah dilakukan, Ares dapat menyelesaikan beberapa masalah hanya dengan satu gerakan. Melepaskan Eina sangat membantu kestabilan politik serta wilayah Arestia yang diketahui masih dinamis.
Entah apa yang Eina lakukan, kelompoknya kini tidak lagi terdengar, seakan telah hilang di tengah peradaban, membuat Ares sangat lega karenanya.
Eina memiliki pendanaan besar yang dapat ia akses kapanpun ia butuhkan dari Ares. Dengan dana segar tersebut, mata-matanya melakukan banyak propaganda—secara sembunyi-sembunyi—kepada rakyat, menciptakan sebuah anggapan bila perang saudara serta pajak berat menghantui kehidupan rakyat.
Dengan bukti nyata dimana perseteruan semakin masif, di bawah perintah Ares, Eina menghubungi banyak rakyat jelata yang memiliki pengaruh nyata melalui kelompoknya.
Banyak janji manis telah Eina berikan. Pendanaan, persenjataan berat, makanan, segala hal yang mereka butuhkan akan terpenuhi, hingga banyak dari para rakyat jelata tersebut terpengaruh mengingat kondisi penduduk Forbrenne yang telah terlihat tanpa harapan.
Rutz, bersama banyak tokoh berpengaruh dari berbagai kalangan yang berkumpul malam itu, berjanji akan mengumpulkan massa yang besar. Walau banyak rintangan serta cobaan telah mereka lalui karena mayoritas rakyat jelata yang terlalu takut untuk melawan, perjuangan mereka dalam satu tahun terakhir tidaklah berakhir sia-sia.
Mereka telah memiliki jumlah massa yang besar, terlebih dengan banyak propaganda yang semakin gencar Biro Intelejen kekaisaran lakukan, membuat Rutz dan pemimpin berpengaruh lain semakin mantap untuk melaksanakan sebuah pemberontakan, yang dapat dikenal sebagai sebuah revolusi.
Revolusi hingga tidak terdapat satupun rakyat terinjak-injak, mereka telah melukir ketetapan kuat di dalam benak, terlebih setelah mendapat dukungan nyata dan secara sembunyi-sembunyi dari para rakyat jelata.
Rutz telah mendapat pesan, "Pintu mansion Viscount telah terbuka untuk kalian," sangat membuat dirinya bertanya-tanya bagaimana kolaborator—julukan yang tersemat untuk mata-mata Eina—dapat melakukan hal tersebut.
Meskipun begitu, Rutz tidak mempermasalahkannya. Selama rakyat dapat terbebaskan dari penderitaan yang akan menimpa mereka, itu sudah cukup baginya.
Banyak dari anggota kelompok terpana dengan senjata besi yang kini telah berada dalam genggaman mereka. Berkualitas sangat baik, mencirikan bahwa senjata yang sedang mereka genggam sangatlah mahal, sangat berbeda dengan senjata yang telah diwariskan oleh orang tua mereka secara turun-temurun.
Operasi ini memiliki nilai yang sangat berbeda dengan peperangan yang sering mereka lakukan. Tidak lagi menggunakan senjata mereka sendiri, tidak lagi bergerak sebagai boneka para bangsawan, tidak ada yang tidak meyakini bila hidup mereka kini telah berubah setelah "kolaborator" bergerak demi kepentingan rakyat.
"Ayo." Setelah membagikan persenjataannya, Rutz bersama kelompok kecilnya—tersebar di seluruh penjuru kota yang masing-masingnya berjumlah sekitar 25 orang—berpencar melalui jalur yang berbeda walau tujuan mereka tetaplah sama, Mansion Viscount Ilgid.
Beberapa kelompok samar terlihat mengendap-endap di beberapa titik kota, mengepung mansion Viscount Ilgid dari segala penjuru.
Berbeda dengan kota-kota besar yang dimiliki oleh keluarga bangsawan berperingkat Count atau Earl dan lebih tinggi, meskipun dikatakan kota besar, Kota Rodez merupakan kota yang sangat kecil jika dibandingkan Kota Ereth, Ibukota Wilayah Rueter.
Tidak dibatasi adanya tembok penyekat yang membagi kasta sosial masyarakat, hanya terdapat tak lebih dari 1.000 prajurit sebagai penjaga kota, gerakan kelompok pemberontak tidak memiliki sedikitpun hambatan di bawah gelapnya malam.
Seorang ksatria berarmor ringan—merupakan mata-mata Eina—mendekati pos penjagaan yang terletak di daerah perbatasan antara kasta ksatria serta rakyat jelata. Mengendap-endap dengan langkah cepat, tanpa memberi perhatian kepada para ksatria penjaga yang lalai dari penjagaannya, mata-mata Eina menghunuskan belati beracun yang sebelumnya tersarung di balik punggungnya.
"Argh!"
Terhadap punggung leher salah seorang ksatria yang berjudi, mata-mata Eina menebasnya dengan cepat, membuat beberapa ksatria penjaga yang lain tersadar akan serangan.
Dalam operasi sabotase, sebuah luka ringan adalah apa yang menjadi tujuan mata-mata. Bukan suatu luka berat atau dalam, kondisi mata-mata Eina dapat terpenuhi apabila para korbannya tidak dapat bergerak dengan baik.
Para ksatria lain yang berjudi bersamanya dengan panik bangkit, mempersiapkan senjata yang dapat mereka gapai, walau usaha mereka hanya berakhir dengan kesia-siaan belaka.
"Urgh!"
Mata-mata Eina sekali lagi menghunuskan belati beracun dengan tangannya yang lain, menggores cepat ke tengkuk serta kaki para ksatria penjaga, tidak lagi dapat berdiri karena persebaran racun yang sangat cepat melumpuhkan mereka.
Mata-mata Eina mengambil sebuah anak panah dari tas kulitnya, membakar mata anak panah dengan api lentera yang baru saja dirusaknya dan segera menembaknya ke atas.
"Seraaaaang!"
Rutz berteriak, mengangkat tinggi pedang besi hibahnya, berlari bersama para pembebas rakyat menyerang Mansion Sang Penguasa Kota.
"Oooooohhhhh!"
Tidak hanya pasukan pembebas, bahkan rakyat sipil juga ikut bergabung, membebaskan diri dari kurungan viscount yang membebankan pajak berat serta membuat mereka kelaparan karena telah mengalami gejolak politik selama setahun terakhir.
Dari dalam mansionnya, Viscount Ilgid beserta keluarganya telah terbangun karena keadaan kota yang semakin riuh, berlari dengan panik menuju jalan rahasia yang mereka ketahui.
Para ksatria pengawal Viscount melindungi mereka, bergerak menghalau massa yang telah menerobos pintu masuk.
"Cepat! Cepat!" Viscount berteriak panik. Rambut coklat panjangnya terlihat basah oleh keringat, mata bulatnya juga tercermin kepanikan besar.
Ruangan pintu bawah tanah telah berada di ujung pandang, derap langkah serta teriakan para pemberontak semakin keras terdengar, tanda apabila mereka hanya dapat melarikan diri melalui jalan rahasia.
Ckkrrkk.
Ckkrrkk.
Viscount mengambil pegangan pintu, mendorong tuasnya ke bawah sembari mendorong pintu dengan salah satu bahunya dengan panik.
Beberapa kali mencoba, pintu tidak kunjung terbuka. Terlebih lagi, sebuah beban berat terasa menahan dorongan bahu Viscount dari balik pintu, seolah telah tertahan oleh sesuatu yang berat.
"Bajingan sial! Buka!" Viscount berteriak keras. Para istri, dua putra, serta tiga putrinya seketika berekspresi histeris.
BAK!
BAK!
Para ksatria pengawal beberapa kali menendang pintu dengan keras, memaksa untuk masuk.
Harapan mereka berakhir sirna. Lebih dari 40 orang telah mengepung dari ujung lorong dengan Rutz sebagai pemimpinnya.
Melihat tubuh istri viscount serta putri-putrinya, pikiran-pikiran keji pun muncul dalam benak Rutz, menyebabkan ia tersenyum menakutkan, yang tidak berbeda dengan para pemberontak lainnya.
Merasakan para pembebas semakin mendekat, beberapa kali mendorong pintu secara paksa dan tetap tidak dapat terbuka, hanya ekspresi putus asa yang dapat terlukis di atas masing-masing wajah para ksatria serta anggota Keluarga Ilgid.
Seperti yang Anda katakan, manusia adalah sosok individu yang keji.
Memandang kekacauan dari atas tembok pelindung kota, Eina sekali lagi teringat perkataan Ares kala memerintahkannya.
Rambut panjang penuh uban tergerai hingga berkibar akibat angin malam, wajah tua dengan sedikit keriput Eina tidak sekalipun memliki keringat walau ia telah bekerja sangat berat beberapa waktu lalu.
Kejahatan, balas dendam, hingga peperangan akan selalu menghantui sejarah umat manusia, yang tentu sangat disetujui oleh Eina.
Bahkan untuk rakyat jelata kasta rendah yang baru saja diberikan sedikit kekuatan... mereka juga akan merampas semua hal dari para bangsawan dan ksatria yang kini lebih lemah dibandingkan dengan mereka.
Sebuah senyuman kecut pun terukir. Merasa seluruh kondisi telah tercapai, Eina kembali berbalik, berkumpul kembali dengan seluruh anggota biro intelejen kekaisaran yang terlibat dalam operasi—yang juga dilakukan di kota-kota Kerajaan Forbrenne yang lain secara serentak.
Kini, aku telah percaya.
Akan ada suatu masa dimana para bangsawan dan gereja tidak lagi memiliki kuasa.
...----------------...