
...—Ibukota Excelia, Kekaisaran Arestia—...
...—18 Desember 1238—...
JGLAR!
Sekali lagi, suara keras dari sambaran petir di tengah derasnya hujan yang mengguyur ibukota sekali lagi terdengar. Lentera-lentera besar yang menerangi jalanan telah padam, hampir tidak satupun orang yang terlihat pada jalanan ibukota.
Bukan karena adanya bulan dimana mereka tengah terlelap, namun pertarungan di luar batas nalar manusia yang tengah terjadi di tengah ibukota.
TRANG!
Dua bilah senjata tingkat Phantasmal sekali lagi saling menyentuh, menyebabkan dampak luar biasa. Tidak ada seorangpun, baik Excel, Esther, atau bahkan Code : 9 yang mempedulikan lingkungan sekitar. Bangunan-bangunan bertingkat, kantor-kantor pemerintahan, bahkan hingga penginapan yang dimiliki oleh rakyat jelata tidak luput menjadi korban keganasan pertempuran diantara ketiganya.
Esther sekali lagi melompat, bergerak untuk mendekati target. Naluri liarnya telah memberi tahu, pria berambut hitam yang tengah berjongkok menahan tubuhnya dengan salah satu tangannya di atas atap bangunan sipil adalah mangsanya.
PRAK!
Dengan sebuah senyuman menakutkan, memanfaatkan statistiknya yang luar biasa meningkat, kedua kaki Esther menapak atap, segera berlari untuk menyerang dengan sebuah pedang perak berperingkat Ancient.
TRANG!
Sayatan hampir mengenai pelipis kiri Code : 9, gerak cepat tangan kanan yang menggenggam Carnwennan menyelamatkan hidupnya.
TRANG!
TRANG!
Beberapa kali dengan serangan yang serupa, Esther mencoba mengenai sisi kanan dan kiri musuhnya. Meskipun begitu, intuisi menghindar serta tangkisan Carnwennan Code : 9 tidak pernah luput untuk membalas serangan yang Esther lakukan.
Sial!
Tepat saat dia mengadah, bilah pedang yang memancar aura kemerahan menerjang dari balik tubuhnya. Namun, tidak mungkin untuk menghindar, Code : 9 memanfaatkan Carnwennan untuk menangkis, meski tubuhnya harus sekali lagi menembus atap bangunan.
TRANG!
BRAAAKK!
Code : 9 telah memahami, Excel akan menyerangnya tepat saat Esther melangkah mundur. Meskipun begitu, rentetan serangan tak berjeda membuat Code : 9 mampu membalas.
"Ack!" Menghantam ubin keras, batuk berupa darah tanpa sengaja keluar dari mulut Code : 9. Kedua matanya terpejam, menahan rasa sakit yang luar biasa.
Kekuatan Code : 9 perlahan kembali pulih tepat setelah dia menggenggam kembali Carnwennan, membuat tubuhnya memiliki tenaga tambahan secara instan. Namun, tidak dapat dipungkiri, kelelahan mental serta dampak hantaman bertubi-tubi telah membuat pikirannya seolah ingin berhenti.
Code : 9 menendang ubin dengan kedua kakinya, melompat dari posisinya yang merebah dan segera mencari jendela yang dapat ia lompati.
Tap!
Tap!
Tap!
Sampai kapan kau akan terus mengejarku, Orang Gila?!
Mendengar tapak sepatu Esther dari belakang, Code : 9 secara naluriah menolehkan wajah. Kegelisahan yang kini dialami Code : 9 bukan terletak pada ketakutannya, bukan pula karena ketidakmampuannya melawan dua orang musuhnya, namun karena kemampuan Esther—yang kini memiliki senjata tingkat Phantasmal, Ruberion Sword, di tangan kanannya.
Code : 9 dengan cepat menjatuhkan tubuhnya. Sangat tipis, tebasan bilah beraura merah hampir mengenai ujung hidungnya.
CRASH!
Garis tebasan telah terukir pada dinding bangunan gelap. Code : 9 dengan cepat menuju sebuah jendela dan melompat keluar. Hanya berselang kurang dari satu detik, gedung dimana dirinya baru saja keluar darinya, telah terpotong rapi.
BLAAARRR!
BLAAARRR!
Bagian atap serta langit-langit bangunan seketika runtuh, Code : 9 tidak lagi merasa terkejut karena telah beberapa kali melihat Esther melakukan hal yang serupa. Namun, keanehan yang membuat dirinya bingung adalah alasan mengapa Excel selalu mengganti senjata Esther tepat setelah dia melakukan serangan dengan dampak luar biasa.
Terjatuh dengan merebah, Code : 9 menemukan Esther dan Sang Permaisuri sekali lagi bergantian senjata saat mereka berada di langit. Lompatan keduanya setelah bertemu segera tertuju ke sisi yang berbeda.
Tunggu.
Tepat sesaat sebelum Esther mengembalikan Ruberion Sword, dia sedikit terhuyung, Code : 9 segera memahami bila tubuhnya tidak kuat lagi menahan kekuatan yang luar biasa.
Meskipun begitu, Code : 9 hanya memiliki satu kesempatan. Tubuhnya yang berkali-kali telah menghantam dinding serta atap bangunan tidak lagi kuat menahan beban. Meski mendapat kekuatan tambahan dari belatinya, Carnwennan, rasa sakit hebat akan menghujam tubuhnya tepat setelah efek berakhir, yang mana dikarenakan statistik dasar miliknya telah berkurang drastis.
Monster itu... sudah tidak stabil.
Tatapan Code : 9 segera tertuju kepada Excel, yang berlari dari sisi kanannya, tidak berbeda dengan Esther yang berlari dari sisi kirinya saat dia berpaling ke sisi lain.
PATS!
Pendaratan berlangsung mulus. Memanfaatkan kedua kakinya sebagai titik tumpu, Code : 9 melompat, menerjang ke depan untuk menyerang dari depan. Tidak mungkin melakukan tarik ulur, bahkan tidak lagi dapat melarikan diri demi melaporkan temuannya kepada yang memiliki hidupnya, Kaisar Renacles. Code : 9 memutuskan untuk memberikan segalanya pada serangan terakhir yang dirinya lakukan.
Ketiganya segera bertemu. Esther dan Excel saling membelakangi bangunan yang sedang runtuh. Sesaat sebelum Code : 9 sekali lagi hendak menyerang Excel, ujung bilah Carnwennan seketika berbelok, secara tepat dapat menggores armor besi ringan yang Esther kini kenakan.
CRASH!
"Ack!"
"Argh!" Darah sekali lagi terbatuk, Code : 9 merasakan dadanya memanas.
Perlahan menurunkan pandangan, Code : 9 menemukan dadanya telah tertusuk oleh dua pedang yang saling bersilangan. Jantung berdetak semakin cepat, keringat dingin mulai mengucur dari sekujur tubuhnya, Code : 9 memahami jika dirinya telah "dikalahkan" untuk pertama kalinya.
Tidak berbeda dengannya, Esther kini terhuyung jatuh. Ditambah dengan luka yang disebabkan oleh senjata tingkat Phantasmal, tubuh Esther tidak lagi kuasa untuk mempertahankan kesadarannya setelah menahan beban dari kondisi "Alter."
"Mengapa kau tersenyum?" Kerutan tampak di atas kening Excel. Memandang aneh kepada Code : 9 yang tersenyum masam, kebingungan serta sedikit rasa kekesalan memenuhi dirinya.
"Permaisuri Excel... mengapa kau terlihat sangat percaya diri... hanya karena telah berhasil mengalahkanku?" Code : 9 berkata sinis, meski tenaganya untuk berbicara semakin melemah, "Aku... tidak menyerang ibukota... sendirian... jika kau tahu."
Meski Excel telah memberikan perlindungan serta keamanan ekstra bagi kedua anaknya, ditambah dengan perintah untuk melarikan dari dari ibukota kepada para ksatria pengawalnya—yang dipimpin Dia—kedua mata Excel tetaplah melebar.
Rasa takut dan khawatir yang berlebih seketika memenuhi hatinya. Segera berbalik dengan menggendong Esther di punggungnya, Excel dengan kecepatan penuh meninggalkan Code : 9 yang kini berada pada ambang batas kehidupannya.
Pandangan Code : 9 semakin kabur, tubuhnya dengan berat terhuyung dan tersungkur jatuh. Meskipun begitu, senyuman yang terasa penuh kemenangan tidak hilang dari atas wajahnya.
Rasakanlah penderitaan, orang-orang yang selalu ada dalam kebahagiaan.
Saat itu, aroma kesegaran dari tanah basah karena air hujan menjadi kepuasan tersendiri bagi Code : 9, yang perlahan menutup kedua matanya dalam kepuasan karena telah membuat para orang-orang tingkat atas mengerti kepahitan hidup yang selama ini dia rasakan.
Tak jauh dari letak dimana Code : 9 tewas terbunuh, Excel berlari cepat menuju istana kekaisaran. Kepanikan semakin melanda hatinya disaat dia menemukan banyak ksatria dan pelayan yang tewas terbunuh di sepanjang lorong istana.
Mengungsikan anak-anak telah dibagi menjadi beberapa tahap yang berbeda serta dengan tujuan yang berbeda agar setidaknya pembawa darah Sang Kaisar tidaklah hilang. Berbeda dengan anak-anak Ares beserta para gundik lain, keamanan Raze dan Orcian—serta Wilma dan Milly—seharusnya ketat.
Tujuan Raze, Orcian, serta Wilma dan ibunya diungsikan paling akhir adalah jaminan keamanan apabila anak-anak Ares yang lain dikabarkan telah terbunuh. Namun, hal tersebut menjadi bumerang baginya. Excel tidak mengira apabila Code : 9 memiliki banyak bawahan dengan kekuatan yang setara dengan dirinya.
Tapak langkah semakin cepat, Excel menuju kamar di istana bagian belakang yang dekat dengan jalan rahasia yang digunakan untuk melarikan diri, mengabaikan tubuhnya yang sangat letih.
Memandang Dia—bibi Ares sekaligus ibu kandung Milly—yang terbaring bersimbah darah di lorong serta para ksatria lain dengan keadaan yang tidak berbeda dengannya, Excel segera membaringkan Esther, berlari cepat dan mendobrak pintu ruangan yang menjadi titik terakhir sebelum pelarian akan dilakukan.
BRAK!
Ketakutan, kelegaan, perasaan yang bercampur aduk adalah apa yang kini Excel rasakan. Tepat setelah pintu terbuka, putrinya, Orcian, sedang memainkan potongan-potongan tubuh para pembunuh bawahan Code : 9 dengan pisau kecil di tangan kanannya.
Darah segar memenuhi lantai ruangan. Usus para pembunuh telah tersebar, terpotong-potong mirip seperti pipa-pipa kecil. Jantung, paru-paru, hingga hati juga telah terpotong kecil, berceceran bersama genangan darah.
"Or... cian?" Kelegaan, ketakutan Excel rasakan saat memanggil nama putrinya.
Orcian berpaling, menunjukkan mata kekuningannya yang bersinar redup disertai senyuman riang, "Ibu datang!"
Orcian berlari mendekat, membuang pisau di tangannya serta melebarkan tangannya seolah sangat menyambut ibunya.
Excel merentangkan tangannya, bingung tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Menerima Orcian yang kulit serta pakaiannya kini bersimbah darah, Excel memberanikan diri untuk bertanya, "Dimana... kakak?"
Dengan wajah bingung, Orcian segera menunjuk ke sudut ruangan. Excel menemukan wanita berambut pirang panjang terlungkup, seolah sedang memeluk sesuatu dengan keadaannya yang bersimbah darah.
"Milly!" Excel berteriak sembari mendekati selir suaminya.
Setelah menurunkan Orcian, Excel membalikkan tubuh selir suaminya, Wilma serta Raze muncul dari balik pelukannya, yang masing-masing tubuhnya masih memiliki detak.
Berbeda dengan dua orang di pelukannya yang tenang, Ekspresi Milly lemah, beberapa bekas luka tusukan terlihat di sekujur tubuhnya.
"Milly! Milly!" Air mata tanpa sadar menetes dari salah satu sudut mata Excel. Dia tahu bahwa situasi telah terlambat baginya. Meskipun begitu, Excel tetap menggoyang-goyangkan ringan tubuh Milly.
Tetap saja, tidak terbangun. Denyut nadi serta detak jantung tidak lagi terasa. Bahkan, Excel tahu jika tubuhnya telah mendingin, tanda bila Milly telah tewas jauh sebelum dirinya datang.
Excel menutup kedua matanya. Wajahnya semakin berurai air mata. Sangat menyesali apa yang dia telah lakukan hingga saat ini.
"Ibu... kenapa?" Orcian bertanya bingung, tidak mengerti apa yang tengah terjadi pada ibunya. Dengan polosnya, Orcian tetap bertanya, membuang rasa penasarannya yang tengah menghantuinya sejak beberapa waktu lalu, "Ibu, kenapa Mama Milly terus tidur?"
"Tidak... tidak apa-apa." Hanya satu-satunya jawaban yang dapat terpikirkan. Excel tidak mengerti bagaimana harus menjawab putrinya.
Maaf...
Maafkan aku...
Maaf...
Mengambil Wilma serta Raze dari dalam pelukan Milly, tatapan Excel tetap tertuju kepada wajahnya. Penyesalan, kesedihan yang begitu dalam, tampak bahkan dari gelagat yang Excel tunjukkan.
Malam itu, meski bukan pertama kali malam ibukota terasa sangat mencekam, adalah malam yang menjadi penyebab dimana bola sejarah sekali lagi akan berputar.
...----------------...
Note :
Maaf up lama, chapter ini sudah mengalami rewrite beberapa kali. aku ga kuat nulis scene dimana pembunuh membantai keluarga kekaisaran... yang bahkan lebih parah dari scene Katherine dan Ares di buku pertama.
...----------------...