Arestia Empire'S World Domination

Arestia Empire'S World Domination
Chapter 35 : Investigasi Awal



...—Kota Hauzen, Kekaisaran Arestia—...


...—14 September 1238—...


"Saya merasa sangat menyesal dengan ketidakikutsertaan beberapa pemimpin perusahaan yang juga termasuk terbesar di dunia. Karenanya, saya sebagai perwakilan dari para pedagang, berniat untuk memohon maaf kepada pihak Kekaisaran Arestia dan terkhusus kepada Anda, Yang Mulia."


Bersamaan dengan kata-kata terakhirnya, Ullysia menunduk, diikuti dengan beberapa pedagang yang berada di belakangnya.


"Tidak apa-apa, aku tidak sama sekali mempermasalahkan hal itu, Perwakilan Rottern. Bagiku, mereka hanya memilih untuk bersama dengan Renacles."


Ares tersenyum. Pembawaannya terasa menenangkan, seolah tidak mempermasalahkan manuver para pedagang timur yang telah mengkhianatinya.


Namun, semua pedagang mengerti. Entah dari golongan bangsawan ataupun rakyat jelata, mereka merasa jika Ares memproklamirkan dirinya untuk menjadi lawan mereka.


"Yang Mulia. Bolehkah saya mengutarakan sesuatu yang mengganjal di dalam benak saya?" Kening Ullysia sedikit memiliki kerutan, namun tersamarkan oleh keriputnya, yang mana hanya Ares yang dapat mengetahuinya.


"Ya, aku mengizinkanmu." Ares menjawab cepat.


"Dari kalimat yang telah Anda katakan, apakah Anda bermaksud untuk memutus hubungan perekonomian dengan dunia timur?" tanya Ullysia.


"Tidak, sama sekali tidak." Ares menggeleng ringan, menampakkan sebuah senyuman kecut, "Aku bahkan sangat menginginkan untuk menjalin sebuah kerjasama bilateral atau bahkan multinasional dengan Kekaisaran Renacles sebagai mitra kita."


"Apakah Anda benar-benar yakin?" Ullysia sedikit terkejut, wajah yang dia miliki perlahan mengeruh.


Tidak ada seorangpun dari tamu undangan serta para pedagang yang tidak mengetahui jika Renacles merupakan kekuatan ekonomi terkuat di dunia pada saat ini.


Akan sangat bodoh apabila Ares membangun jaringan perdagangannya sendiri mulai dari nol, terlebih dengan para pedagang yang berada di pihak musuh yang telah menyelam hingga melakukan banyak perdagangan ilegal.


Meskipun mereka tahu keputusan tersebut merupakan sesuatu yang tidak terbantahkan, rasa kagum yang dimiliki oleh para pedagang dikarenakan kerendahan hati Ares serta dapat membuat keputusan yang lebih rasional, sangat berbeda dengan bangsawan pada umunya yang lebih mengedepankan ego dan tujuan mereka sendiri.


"Ya, aku sangat yakin, bahkan aku telah mempersiapkan beberapa produk ekspor yang dapat mereka terima dengan baik," ungkap Ares.


Rasa penasaran pun tumbuh. Meski Ullysia memiliki perasaan remeh kepada Ares karena menganggapnya hanya memiliki kemampuan retorika yang baik serta pemuda seumuran jagung, tetap saja Ullysia tidak dapat mengabaikan Ares, yang diketahui secara mustahil dapat membawa lima negara di bawah kakinya.


"Bolehkah kami mengetahuinya, Yang Mulia?" tanya Ullysia.


"Setelah ramah tamah berakhir, aku akan mengajak kalian melihat isi bangunan ini dan gudangnya." Ares memberikan senyuman lembut, meski dia tahu apabila Ullysia sedang menyelidikinya.


Dengan sengaja, Ares memberikan umpan. Semua gerakan pribadinya dipastikan dapat terlihat melalui aktivitasnya di dalam Guild Pedagang.


Saat Ares mengetahui apabila Gene Lounders—pemimpin Firma Lounders yang juga merupakan pedagang mata-mata Renacles—serta beberapa pedagang Renacles lain beralih pihak, dia merasa sedikit sedih, tidak menyangka jika Kaisar Renacles begitu mewaspadainya dan lebih memilih cara lama dengan menyusupkan intelejen mereka, membuat usaha yang dia lakukan sedikit terasa sia-sia.


Ada beberapa keuntungan dan kerugian dalam menggunakan strategi tersebut. Setelah merumuskannya dengan seksama, Ares menilai jika keuntungan yang akan dia dapatkan lebih banyak. Tentu, Ares sebelumnya juga telah memikirkan keselamatan seluruh anggota keluarganya sebagai prioritas utama.


Manipulasi informasi yang dapat berujung pengecohan strategi adalah sesuatu yang Ares tuju. Sebelum memasuki era peperangan, Ares akan menyimpan segala kartu yang dimilikinya dengan baik serta membuka beberapa kartu yang dirasa perlu untuk ditunjukkan.


"Begitu..." Ullysia perlahan menunduk dalam, sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Kaisar, "Saya sangat merasakan apabila hanya ungkapan 'terima kasih' saja sangatlah tidak cukup atas kebaikan serta perlindungan yang Anda berikan kepada kami, Yang Mulia."


"Tidak perlu khawatir," timpal Ares.


Dengan sebuah senyuman, Ullysia kembali mengangkat kepalanya, "Saya berharap jika Anda dapat segera membuka pintu perdagangan menuju Kekaisaran Suci, Yang Mulia."


"Aku juga sangat berharap demikian, Perwakilan Rottern," timpal Ares.


Hanya menginvestigasi, eh?


Tatapan Ares tertuju kepada kepergian Ullysia, yang dikawal oleh beberapa bawahannya. Sejenak termenung, memikirkan berbagai hal yang akan Eye of Truth lakukan, Ares hanya dapat mencapai sebuah kesimpulan dimana mereka tidak akan bergerak untuk sementara.


"Sayang." Panggilan Excel yang berdiri tepat di samping Ares terdengar sangat khawatir, mengalihkan pemikirannya yang semakin tidak terarah.


"Maaf," sesal Ares, merasa sedikit abai dengan keberadaan istrinya.


"Tidak... Hanya saja..." Mengikuti tatapan Excel yang menoleh kepada Ullysia, Ares segera memahami asal kekhawatiran istrinya tersebut.


"Ya, aku tahu. Dia beberapa kali telah mencuri-curi pandang untuk memperhatikan Loic dan Esther dengan seksama." Jawaban sangat lirih, hanya dapat terdengar oleh pasangan tersebut serta Raze yang menatap penuh kebingungan kepada ayahnya, tidak memahami pembicaraan kedua orang tuanya.


"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Excel lirih.


"Ayo biarkan ketenangan ini untuk semetara. Aku juga tidak berpikir mereka akan bertindak gegabah dan melakukan manuver dalam waktu dekat ini," jawab Ares.


"Begitu." Excel menghela napas lega.


Begitupun dengan Ares yang menampakkan sebuah senyuman lembut. Namun, Ares menyadari apabila senyuman tersebut hanya berlangsung untuk sesaat.


"Jadi... Sayang... apa kamu mengenal pria paruh baya dan gadis yang bergerak mendekatimu itu?" Dengan menggunakan dagunya, Excel menunjuk ke depan, terasa penuh kesebalan dari nadanya. Pun demikian dengan keningnya yang terlihat mengernyit.


Tatapan Ares sekali lagi mengikuti. Kedua matanya segera terbuka lebar setelah melihat pendekatan sosok pria paruh baya berambut biru laut yang sedikit panjang dengan gadis cantik yang memiliki rambut tergerai panjang dengan warna yang serupa dengannya.


Pedagang yang sekaligus menjabat sebagai Menteri Keuangan Kerajaan Holenstadt, Edward el Honzermus beserta putri pertamanya yang baru saja menginjak usia 17 tahun, Lucia el Honzermus.


Edward berpakaian biru glamor, setelan kemejanya sarat memberikan kewibawaan tinggi seorang bangsawan tulen. Pun demikian dengan gaun yang dikenakan Lucia sangat memberikan kesan mewah, hiasan serta pernak-pernik yang menempel pada gaunnya hampir memenuhi sekujur tubuhnya.


Meskipun begitu, tidak ada yang tidak menyetujui apabila semua perhatian yang tertuju kepada Lucia, sebagian besar dikarenakan buah dadanya yang sangat melimpah.


Ares merasakan keringat dingin. Terbesit kembali ingatan kala itu dimana Edward yang hampir saja berhasil menjebak dirinya untuk bertunangan dengan Lucia. Terlebih, Ares tentu tahu bahwa Lucia sangat disukai oleh dua orang yang menjadi sosok pewaris tahta Kerajaan Holendstat.


"Ayah, apa yang akan kamu lakukan?" Lucia berbisik, mempertahankan kedua bibirnya agar tidak terlihat mengatakan sesuatu.


"Dia adalah Kaisar Ares I, seseorang yang akan menjadi suamimu di masa depan." Acuh tak acuh, Edward memberikan jawaban.


"Eh?! Ayah! Bukankah sangat tidak sopan menawarkan proposal seperti itu disaat Yang Mulia Permaisuri berdiri tepat di sampingnya?!" Lucia berkata lirih, meski nadanya terdengar sangat takjub.


"Tidak apa-apa, Lucia! Ayah akan membebaskanmu dari dua serigala sialan itu!" Edward semakin melangkah cepat, sedikit meninggalkan Lucia di belakangnya.


Bulu kuduk Edward seketika berdiri, hawa membunuh yang sangat kental tertuju kepadanya hingga membuat tubuhnya samar gemetar, yang juga tidak berbeda dengan apa yang Lucia rasakan.


Hanya dengan sebuah tatapan mata yang berwarna merah, Edward merasa takut. Meskipun begitu, ia tidak sedikitpun mengurungkan niatnya.


"Se—selamat siang... Yang Mulia Kaisar." Terdengar sangat gugup, keringat mulai bercucuran di atas kening Edward. Tatapan tajam Excel semakin terasa sengit kepadanya.


Setelah melakukan pertemuan itu, Edward hanya dapat tertunduk lesu di dalam kamarnya serta mendapat tatapan menyedihkan dari putrinya, tidak menyangka jika mulutnya tidak begitu berani untuk melontarkan perkataan yang menjurus pada pertunangan putrinya.


...----------------...