Arestia Empire'S World Domination

Arestia Empire'S World Domination
Chapter 6 : Kontrol



...—Ibukota Latva, Kerajaan Forbrenne—...


...—11 Juni 1238—...


Sinar mentari terik sekali lagi menghujam Ibukota Latva, yang sejak beberapa bulan terakhir diliputi oleh suasana keruh akibat perebutan mahkota.


Ekonomi memburuk, terjadi kelangkaan tinggi terhadap barang-barang pokok hingga harga meroket, para penduduk diliputi keadaan yang semakin parah semenjak Sang Raja tewas terbunuh di tangan dua negara yang telah keluar dari Konfederasi Lemane—nama resmi negara gabungan dari Kerajaan Lethiel, Kerajaan Mana, serta Kerajaan Forbrenne.


Bahkan untuk seorang penduduk kaya yang tinggal lebih dekat dengan distrik dimana mansion para bangsawan berada, mereka benar-benar ingin menjauhi istana kerajaan serta mansion para bangsawan karena ia benar-benar khawatir dengan keamanan dirinya.


Meskipun keadaan tegang, tidak ada satupun dari keempat pangeran yang menunjukkan taringnya, masing-masing menunggu pihak lain melakukan sebuah langkah yang salah, hingga pihak tersebut dapat dihabisi dengan mudah.


Keempat pangeran tentu memahami implikasi dari melakukan manuver politik terlebih dahulu. Meskipun pihak yang mengawali manuver dapat menyudutkan ketiga faksi pangeran lain, pihak tersebut hanya memiliki kekuatan militer, pendanaan, prajurit, serta budak—merupakan pilar utama kekuatan militer Forbrenne—yang terbatas.


Keraguan melanda hati mereka, masing-masing pangeran hanya dapat mengencangkan kewaspadaannya, hingga sepucuk surat dari berbagai rumah bangsawan tiba di atas tangan masing-masing dari para pangeran faksi mereka.


BUAK!


"Bajingan rendahan!" Pemuda tegap berambut oranye yang berumur sekitar 25 tahun memukul wajah ksatria pelapor dengan sekuat tenaga, sangat kesal dengan pemberitaan yang tertuang dalam lembar perkamen yang baru saja ia baca.


Ya, berita embargo Kekaisaran Arestia terhadap Kerajaan Forbrenne, ketidakamanan para pedagang—yang menjadi penyuplai pasokan bahan pokok dari Wilayah Natrehn serta Kerajaan Lethiel—menjadi alasan atas situasi kerajaan yang tidak kondusif.



Sebagai kedok untuk menekan para bangsawan Forbrenne, Ares mengutarakan kekhawatiran atas keselamatan para pedagang yang merupakan penduduknya dan negara lain, menyebabkannya tidak mengizinkan mereka untuk mengakses perbatasan Arestia dengan Forbrenne.


Pangeran kedua Kerajaan Forbrenne, Ruon Elsac von Kreat, menjadi objek ketakutan bagi para pelayan serta ksatria yang berada di dalam ruangan.


Napasnya kasar, tubuhnya bercucuran keringat, Ruon melepaskan amarahnya yang telah dipendam berbulan-bulan lamanya kepada seorang ksatria yang baru saja melapor padanya.


"Kau, beri kabar pada semua pangeran! Hentikan permusuhan untuk sementara!" Menunjuk salah satu ksatria penjaga yang berada di dekat pintu dengan penuh amarah, Ruon berteriak keras.


"Ba—baik, Yang Mulia!" Tidak hanya merasakan kepanikan, ksatria tersebut sangat takut dengan nyawanya karena dapat dibunuh kapan saja. Meskipun begitu, ia tetap menunduk dalam dan segera pergi meninggalkan ruangan.


"Cih." Ruon mendecakkan lidah, melangkah kembali menuju meja kerjanya, terduduk sembari mengambil selembar perkamen dengan kesal.


Selagi bersandar, Ruon mengambil napas dalam, berusaha untuk menangkan dirinya dan menatap lembar perkamen di tangannya.


Dasar bajingan rendahan, bagaimana mungkin kasta rendah berani melawan kita?


Mungkin, hanya ibukota dan daerah sekitarnya yang masih belum terebut.


Jika ini terus berlanjut, negara ini bisa hancur.


"Sial." Ruon meremas lembar perkamen dengan kedua tangannya, melemparnya jauh ke sudut ruangan.


Para ksatria dan pelayan hanya dapat terdiam, yang tak berbeda dengan reaksi para bangsawan bawahannya, walau mereka juga merasakan kekesalan yang sama seperti dengan Ruon.


Tok.


Tok.


Tok.


"Kakak." Suara ketukan keras diikuti teriakan terdengar dari balik pintu, membuat Ruon mengerutkan keningnya, sangat malas untuk berinteraksi dengan para pangeran untuk sementara.


Meskipun begitu, Ruon tidak dapat menolak panggilannya, terlebih ia sangat terkejut dengan reaksi adiknya—pangeran keempat—yang dengan sigap menghubungi dirinya, "Biarkan dia masuk."


Segera, langkah kuat seorang pemuda berambut merah yang mengenakan jubah merah besar mendekati tempat dimana Ruon duduk.


Pangeran keempat yang masih berusia 18 tahun sekaligus adik tiri Ruon, Filipe Dire von Kreat. Tubuhnya terlihat lemah, wajahnya pun disertai kelelahan, walau tatapannya terasa kuat hingga menusuk.


Filipe menunduk ringan, bentuk rasa hormat dirinya kepada Sang Kakak, walau hubungan keduanya sedang bersitegang.


"Apa yang membawamu kemari, Filipe?" Tatapan Ruon terasa jijik, kata-kata yang ia sampaikan mengandung keengganan besar, berharap agar Filipe segera pergi meninggalkan ruangan.


"Musuh besar sedang mengincar kerajaan." Tegas, Filipe segera memasuki inti pembicaraan.


"Maksudmu, Kaisar terkutuk itu merupakan biang masalah yang menyebabkan para kasta rendah memberontak?" tanya Ruon, sedikit ketidaksetujuan terkandung dalam nadanya.


"Ya," jawab Filipe singkat.


"Bagaimana bisa kau mengetahuinya?" Ruon kembali merebahkan tubuhnya di atas sandaran kursi, sejenak menutup kedua matanya dengan perlahan.


"Tolong pikirkan kembali. Tidak mungkin para rakyat jelata dapat melakukan pemberontakan sekaligus di banyak kota-kota besar terkecuali gerakan mereka telah terstruktur," timpal Filipe.


"Jadi, maksudmu, kekaisaran berperan sebagai titik temu bagi para rakyat jelata?" balas Ruon ketus.


"Kemungkinan besar," timpal Filipe.


"Mustahil. Cobalah gunakan otakmu." Ruon menjawab ketus, melipat kedua tangannya di atas meja, "Meskipun militer mereka kuat, bagaimana mungkin negara yang baru saja berdiri dapat mengorganisir pemberontakan di negara lain?"


Filipe sejenak terdiam, pikirannya terbuka akibat balasan sinis Ruon. Meskipun begitu, ia tidak dapat mencerna bagaimana rakyat jelata—yang notabene bahkan senjata besi seperti pedang dan tombak merupakan warisan dari pendahulu mereka—dapat memiliki senjata dan melakukan pemberontakan secara masif di banyak kota besar Forbrenne.


Keduanya segera mengambil sebuah kesimpulan yang sangat mungkin terjadi.


"Rubah licik Gardom." Ruon menjawab penuh dendam, persetujuan pun terukir dalam benak Filipe, "Aku pasti akan membalas Florentia."


"Apa yang akan Kakak lakukan?" Filipe bertanya dengan mengerutkan keningnya, "Kupikir, saran yang Kakak katakan benar. Ini bukan saatnya untuk saling bertarung, banyak kota-kota Forbrenne telah jatuh."


"Apa kau menghendaki aliansi sementara?" Ruon bertanya dengan nada menilai.


"Ya." Filipe menjawab cepat.


Ruon diam, memejamkan kedua matanya, sejenak berpikir apa yang harus ia lakukan ke depan dan perlahan membuka kembali matanya yang tertutup, "Aku akan mengikuti permainanmu untuk sementara. Sebagai itikad baikku kepadamu, seorang bocah ingusan, jangan melepaskan pandanganmu dari Putra Tertua atau kita akan hancur."


Ruon tidak mengatakan kakaknya, Sang Pangeran Pertama Kerajaan Forbrenne, sebagai saudaranya, yang sangat berbeda dengan hubungannya dengan Filipe meski keduanya saling bermusuhan. Sama halnya dengan Filipe, Ruon juga sangat membenci kakaknya, bahkan hingga membuatnya tidak ingin mengakuinya sebagai seorang saudara.


"Mengapa? Meski aku tak ingin mengakuinya, aku lebih mewaspadai dirimu daripada Pangeran Pertama dalam perebutan tahta. Bagiku, dia tidak lebih dari seekor babi rakus," balas Filipe.


"Idiot. Karena itu, dia akan menggunakan segala cara yang bahkan tabu bagi kita untuk menyingkirkan tiga pangeran lain. Apakah kau mengingat dia telah mengalungkan kalung budak di leher Menteri Kehakiman dan memperkosa istri dan anak-anaknya? Juga, jangan lupakan tiga ordo ksatria yang saat ini berada di atas telapak tangannya," timpal Ruon.


"Aku tahu." Filipe mengepalkan erat tangan kanannya, sangat kesal dengan kekuatan militer Pangeran Pertama yang terlampau besar dibandingkan dengan ketiga pangeran lainnya setelah diingatkan oleh Ruon, "Aku menganggap kamu sepakat. Seorang ksatriaku akan datang menemuimu nanti."


"Ya, pergilah." Ruon acuh tak acuh membalas.


"Selamat siang, Kakak." Filipe sedikit menundukkan kepalanya sebagai rasa hormat, berbalik menuju pintu dan bergegas menyelesaikan urusannya yang lain.


Memandang pintu dimana adiknya baru saja keluar, Ruon menghela napas berat, merasa penat dengan situasi yang kini tidak lagi dapat terkendali.


"Jika kau akan mati, pilihlah seseorang diantara kita untuk menjadi pewaris tahta, Ayah Idiot."


...----------------...