Arestia Empire'S World Domination

Arestia Empire'S World Domination
Chapter 32 : Air untuk Anakku, part 2



...—Jalan Utama Kekaisaran Arestia—...


...—3 September 1238—...


Memandang seorang pria paruh baya bertubuh sangat kekar yang berjalan mendekatinya, Ares dengan lirih merapal, "Appraisal," serta kepada Excel dan dirinya sendiri untuk mengetahui perbedaan statistik.


......................


...[Status]...


Nama : Joan


Umur : 32 Tahun


Jenis Kelamin : Laki-laki


Afiliasi : Black Fang Bandit


Gelar : Tangan Kanan Pemimpin Bandit


Statistik


Keahlian Senjata : 41 (+0)


Kelincahan : 32 (+0)


Kepandaian : 19 (+0)


Tubuh : 44 (+0)


Kepemimpinan : 27 (+0)


Loyalitas : 43


Moral : 86


Pelatihan : 27


......................


......................


...[Status]...


Nama : Ares Aubert


Umur : 19 Tahun


Jenis Kelamin : Laki-laki


Gelar : Kaisar Arestia, Ares I


Afiliasi : Royalti Kekaisaran Arestia


Statistik


Keahlian Senjata : 90 (+50)


Kelincahan : 86 (+60)


Kepandaian : 78 (+70)


Tubuh : 90 (+50)


Kepemimpinan : 83 (+80)


Kewilayahan dan Militer


Jumlah Prajurit : 800.000 (250.000 Personel Aktif)


Moral : 83


Pelatihan : 71


Pasokan Makanan : 45.912.841.175


Jumlah Dana :


+ Pribadi \= 5.312.634.734 G


+ Utang \= 7.127.876.670 G


+ Kas Negara \= 237.654.812 G


......................


......................


...[Status]...


Nama : Excel Aubert


Umur : 19 Tahun


Jenis Kelamin : Perempuan


Gelar : Permaisuri Utama


Afiliasi : Royalti Kekaisaran Arestia


Statistik


Keahlian Senjata : 92 (+45)


Kelincahan : 94 (+37)


Kepandaian : 32 (+0)


Tubuh : 92 (+26)


Kepemimpinan : 22 (+50)


Loyalitas : 100


Moral : 76


Pelatihan : 67


......................


Heh?


Ares menampakkan senyuman mengejek. Perasaan tinggi menyelimuti benaknya saat mengetahui jika statistik diri dan istrinya melebihi orang tertinggi di dalam kelompok bandit.


Terlebih, setelah menilai para bawahan Joan, Ares mengerti jika kemampuannya tidak dapat dipadankan dengan mereka, meski dia tahu jika kelompok tersebut memiliki kemampuan yang lebih tinggi dibandingkan dengan seorang ksatria biasa.


Hanya sembilan termasuk pemanah... kah?


"Rea, tidak perlu bergerak. Aku ingin sedikit berolahraga." Perintah Ares menyebabkan Rea—yang telah menghunuskan kedua pedang pendeknya—mundur, kembali bersikap pasif.


Pun demikian dengan Excel, tidak sedikitpun mempedulikan lingkungan, hanya berfokus kepada urusan perut putranya.


"Kau meremehkan kami, Sialan?" Joan melangkah maju, mempersiapkan kapaknya diikuti oleh para bawahannya.


Sebuah senyum tipis terbentuk di atas raut wajah Ares, menyebabkan Orcian memandang ayahnya dengan aneh, "Apa ayah?"


"Orcian, apakah kamu ingin bisa bermain pedang..." Merasakan tekanan kecil yang istrinya lontarkan, Ares sejenak melirik Excel dan menemukan istrinya menatap tajam kepadanya, membuat tubuh Ares samar gemetar, "pada saat kamu dewasa?"


"Ya!" Jawaban penuh semangat yang putrinya lontarkan membuat kedua sudut bibir Ares terangkat.


"Ayah akan mengajarimu."


Tepat setelah kata-kata Ares berakhir, dengan memanfaatkan statistik kelincahannya, ujung bilah runcing Rapier telah berada tepat di depan salah satu bola mata Joan.


"Eh?" Joan sejenak mematung, pikirannya berjalan sangat lambat memahami keadaan, namun dia tahu jika kata tersebut merupakan kata-kata terakhir yang dapat Joan lontarkan.


JRASH!


Darah pertama.


Bilah runcing Rapier menusuk mata Joan hingga menembus tengkoraknya.


Orcian sejenak terdiam, kedua matanya tanpa sadar terbuka lebar, pemandangan darah yang menyembur di hadapannya adalah sesuatu hal yang baru baginya.


Tidak merasakan sedikitpun ketakutan, bukan pula merupakan perasaan tertekan, Orcian menampakkan psikologis yang sangat berbeda dengan balita pada umumnya.


Rasa senang.


Ares tanpa sadar membangkitkan jiwa psikopat yang tertidur di dalam hati putrinya, meski hanya sekedar bibit semata.


"Ayah keren!" Orcian memiliki wajah bersemangat, sangat terkesan dengan tindakan ayahnya.


Dengan cepat, tempurung kaki kanan Ares tertuju kepada alat vital bawah bandit pemegang pedang yang menerjang ke arahnya.


DUAK!


"Argh!"


Ares berputar, menjaga keseimbangan dirinya yang juga menggendong Orcian dengan salah satu kakinya yang menapak tanah.


Rapier telah ditarik kembali, tidak sedikitpun menggubris darah merah kehitaman yang menyembur dari bekas tusukannya.


Sebuah gerakan baru, pertarungan satu lawan banyak tidak membutuhkan gerakan mematikan, cukup membuat para lawan-lawannya mengalihkan perhatiannya kepada rasa sakit kecil yang Ares sebabkan, meski hanya berlangsung sejenak.


JRASH!


JRASH!


JRASH!


Dengan ujung tipis Rapier, wajah-wajah para bandit yang menyerang serentak tergores, tepat di atas saluran hidung mereka.


Secara naluriah, para bandit menghentikan gerakannya. Serupa dengan organ vital bagian bawah, wajah adalah sesuatu yang dapat melenakan seorang prajurit dari musuhnya, terlebih dengan organ yang mengindera penglihatan.


"Urgh!"


Dengan statistik tubuh—daya tahan dan kekuatan—Ares yang tinggi, saluran-saluran hidung mereka seketika hancur.


Memanfaatkan punggung salah satu bandit sebagai pijakan, Ares melompat, mendorong kuat punggung bandit tersebut hingga tersungkur jatuh, menuju asal anak panah yang baru saja ditembakkan kepada putrinya.


JRASH!


"Argh!" Pemanah yang bersembunyi di balik dahan pepohonan tersungkur jatuh, salah satu kelopak matanya terkena sayatan Rapier yang cukup dalam, kerusakan bola mata yang cukup parah dipastikan terjadi.


"Ayah! Lari!" Orcian menunjuk, terdengar sangat kesal karena mangsa ayahnya telah melarikan diri.


Memandang dua orang yang tersisa tersebut, Ares kembali menapak tanah. Tangan kirinya memeluk erat Orcian, menggunakan tapak kakinya untuk mendorong tubuhnya menuju para bandit yang melarikan diri dengan kuat.


JRASH!


Pangkal leher salah satu bandit tertembus, Ares menggerakkan bilah Rapiernya menyamping hingga mengenai secara tipis kulit wajah bandit yang lain.


Orcian menjadi sangat bersemangat. Leher yang baru saja tertebas memiliki darah yang menyembur deras. Demikian dengan serabut-serabut tipis pembuluh darah dan urat syaraf juga dapat terlihat menempel pada otot leher tersebut.


"Delapan detik, delapan orang lemah." Ares berkata lirih, memperbarui catatan rekornya.


"Sayang, tolong ambilkan air." Perintah istrinya membuat Ares kembali tersadar.


"O—oke, Sayang! Gale, ikut aku!" Menggendong Orcian di punggungnya, Ares berlari, mengikuti suara gemerisik tapak langkah serta bercak darah yang sesekali terlihat dari bandit yang kabur.


Gale menghela napas berat, tubuhnya terlihat menggigil. Meskipun begitu, Ares seolah tidak mempedulikan kondisinya, membuat Gale dengan malas turun dari kursi kusir mengikuti kepergian Ares.


"Hah... Hah... Hah..." Suara tersengal-sengal samar terdengar di tengah gelapnya hutan.


Monster apa itu?!


Mengapa aku tidak pernah mengetahuinya?!


Melalui jalanan setapak, bandit tersebut telah mengingat jelas setiap kontur jalan yang menghambat. Akar pohon besar yang naik, batu-batuan besar yang berada di tengah jalan, ia menapaki semua hambatan dengan baik meski sedang panik menyelamatkan diri.


Sebuah tanda samar di beberapa batang pohon terlihat jelas. Bandit tersebut berwajah sumringah, perasaan keselamatan telah terpatri dalam benaknya.


Mulut gua yang di dalamnya terlihat cahaya kekuningan yang menjadi tempat persembunyian semakin dekat, bandit tersebut semakin mempercepat langkahnya.


Karena suara yang semakin berisik, pria tua berjenggot tebal kumuh dengan kumis tebal yang memiliki tubuh besar keluar dari kedalaman gua, hendak memaki anggotanya yang bersuara sangat keras, "Pelankan suaramu, Bajingan!"


"Bos! Bos! Aku baru saja bertemu Ibli—"


BLAR!


Anak panah yang baru saja ditembakkan dari Zarrex Bow—senjata berperingkat Arcana yang menyebabkan kehancuran pada setiap target yang berhasil ditembaknya—melesat senyap, tepat mengenai belakang kepala bandit yang hendak memasuki kedalaman gua hingga hancur berkeping-keping.


Pemimpin bandit tanpa sengaja terperangah, sangat terkejut hingga tanpa sadar terdiam tidak dapat melakukan apapun.


Ketakutan besar segera merasuk ke dalam benak. Tiga sosok yang berlari cepat segera tampak dari balik tubuh bandit tanpa kepala yang baru saja jatuh terkapar.


Bukan kepada sosok berambut oranye yang di tangannya terdapat busur, bukan pula terhadap pemuda yang terlihat sangat mengintimidasi dengan Rapier di tangan kanannya, namun kepada sosok bayi perempuan di balik punggung pemuda tersebut yang tersenyum menakutkan dengan pancaran redup sinar merah dari kedua matanya.


Kamu ketahuan, Tuan Badan Besar!


...----------------...


Note :


Utang \= investasi para pedagang.


...----------------...