
...—Ibukota Excelia, Kekaisaran Arestia—...
...—28 September 1238—...
"Claire, besok pagi, datanglah ke ruang tahta."
Kepada sosok terakhir yang akan meninggalkan ruangan, Ares memberi perintah, meski kedua matanya tetap tertuju kepada sebuah lembaran kertas yang sedang dia tulis.
Hendak membuka pintu, Claire sejenak menghentikan langkahnya, berbalik untuk menatap Ares kembali, "Mohon maaf, Yang Mulia?"
Beberapa saat, Ares menghentikan gerakan pena bulunya, memberi perhatian kepada gadis imut berambut hitam panjang yang menatap bingung kepadanya, "Aku akan mengangkatmu sebagai penyelidik atas tindakan korupsi yang dilakukan oleh para bangsawan."
"Bukankah tugas tersebut telah menjadi wewenang penuh bagi Margrave Ginnes, Yang Mulia?" tanya Claire, bernada keberatan.
Bukan berarti Claire menolak tugas yang akan dilimpahkan kepadanya. Namun, dia ingin menjaga hubungan baiknya dengan Kristin, yang diketahui telah ditugaskan untuk menyelidiki penyelewengan tersebut.
"Tidak, bukan hal itu yang aku maksud." Ares menggeleng ringan, "Bukan tugas berat untuk memeriksa dan mendapatkan bukti seperti yang Kristin lakukan, tapi sebagai kepala audit untuk memeriksa laporan keuangan mereka. Kemudian, cocokkanlah dengan belanja serta perpajakan yang telah mereka lakukan selama ini."
Claire segera memahami tugasnya, menunduk ringan sebagai tanda persetujuan, "Baik, Yang Mulia."
"Dan juga... bagaimana tanggapan kakakmu dan Kristin atas proposal pertunangan yang telah aku canangkan untuk mereka?" tanya Ares.
"Um... Kakak serta Margrave belum sekalipun memberikan tanggapan mereka, Yang Mulia... Saat saya bertanya mengenai hal tersebut, keduanya seolah mengalihkan topik menuju kasus korupsi yang sedang mereka selidiki... meski Putri Charlotte telah memberikan persetujuannya atas pernikahan kakak dengan Margrave," jawab Claire, sedikit malu dengan topik tersebut.
"Hah..." Mendengar hal tersebut, Ares menghela napas berat, lebih dari satu bulan telah berlalu semenjak Ares menjodohkan Sieg dengan Kristin, membuat kekhawatiran Ares meningkat mengingat usia Kristin yang akan menyentuh angka 20.
Merepotkan sekali...
Jika aku adalah orang yang memiliki sifat bejat, mungkin aku akan menghamilinya agar urusan ini dapat segera selesai.
Tidak. Jika aku melakukan itu, dualisme kekuasaan bisa saja terjadi pada generasi setelahku.
Benar, aku tidak mungkin menikah dengan Kristin.
"Tolong upayakan," pinta Ares.
"Baik, Yang Mulia," balas Claire.
"Maaf telah menahan waktumu," sesal Ares, merebahkan kembali tubuhnya di atas kursinya yang empuk.
"Saya tidak keberatan. Mohon permisi." Sekali lagi membungkuk, Claire pergi meninggalkan ruangan dengan sopan, kembali menuju mansionnya untuk beristirahat.
Aku sudah memberikan persetujuanku kepada Gardom apabila aku tidak keberatan untuk mengundang delegasi Ecasia pada saat konferensi...
"Apakah... waktu untuk melaksanakan janjiku telah datang?" Kepada ruang kosong, Ares bergumam, tatapannya tertuju kepada lentera yang berada di atas meja kerjanya.
Sejenak menghela napas ringan, Ares merapikan lembaran kertas dan perkamen yang berserakan di atas meja kerjanya, menempatkan mereka di dalam laci, menjaga agar tumpukan dokumen tersebut tidak rusak.
Ares mematikan lentera kecil yang berada di atas meja kerjanya, demikian dengan beberapa lentera yang menempel di dinding kantor pribadinya tanpa mengandalkan bantuan seorang pelayan.
Sebenarnya, beberapa ksatria dan pelayan diharuskan untuk menemani Ares di dalam ruangan demi keamanan serta untuk memberikan bantuan kepadanya, walaupun mereka bahkan tidak dibutuhkan dan hanya berdiri di sudut ruangan saja.
Seperti kontrak dengan para bangsawan dengan para pelayan tingkat rendah pada umumnya, bahkan jika Ares meminta sebuah layanan seksual kepada para pelayan tersebut dan melakukannya di dalam ruangan, mereka tidak boleh menolak karena hal tersebut telah tertuang dalam perjanjian.
Jika hal tersebut terjadi, mayoritas pelayan rakyat jelata pasti akan menerima perlakuan tersebut secara sukarela apabila bangsawan tersebut adalah orang yang memiliki etika dan tanggung jawab. Tidak dipungkiri jika para bangsawan akan memberikan uang dalam jumlah besar sebagai harga untuk keperawanan mereka, terlebih jika dari hubungan tersebut terlahir seorang anak.
Mendekati pintu dengan kaca persegi panjang besar yang menampilkan pemandangan di luar, Ares dengan perlahan mendorong, membuka pintu kembar tersebut dan menghirup dinginnya angin malam.
Pada pembatas balkon, Ares menyentuh dengan salah satu tangannya, memandangi langit yang kini tidak lagi menampilkan sinar merah dari mentari yang hendak tenggelam.
"Rea." Tanpa menoleh, Ares memanggil, merasakan kehadiran samar yang berada tepat di atasnya.
"Ya, Tuan." Rea menjawab datar, duduk di atas atap istana, tatapannya juga tertuju kepada hal yang sama dengan Ares.
"Kenapa kamu memberi tahu Excel?" tanya Ares, nadanya tenang, bertanya hanya untuk memuaskan rasa penasarannya.
Sejenak, Rea terdiam, malu untuk mengungkap kebenarannya kepada Tuannya, "Saya..."
"Katakan saja, aku tidak akan mengatakannya kepada siapapun." Ares memaksa.
"Saya... kalah taruhan dengan beliau," ujar Rea, sedikit menahan malu.
"Taruhan?" tanya Ares, secara naluriah mengadah meski Rea tetap tidak tampak olehnya karena terbatasi atap.
Rea hanya terdiam, tidak menjawab. Memahami keinginan Rea yang tidak ingin Tuannya mengerti setelah sejenak berada dalam keheningan, Ares melukiskan senyuman kecut.
"Nah... Mungkin, dalam satu sampai satu setengah tahun ke depan... tidak, aku berjanji akan melakukannya kurang dari dua tahun, aku akan menepati janji yang telah aku buat dengan kalian." Ares berekspresi penuh keseriusan.
Rea sejenak terpana, harapan atas pembalasan dendam organisasi yang ia naungi akan terkabul. Tanpa sadar, kedua sudut matanya mengeluarkan beberapa tetes air mata, kebahagiaan besar menyelimuti hatinya.
"Terima kasih... Yang Mulia." Rea mengucap syukur, meski nada yang ia lontarkan terdengar sangat datar.
"Jadi, aku ingin beberapa dari kalian mengetahui kondisi lokal dan situasi politik kepulauan selatan." Ares sejenak terdiam, menghirup napas dalam sembari mengepalkan erat telapak tangan kanannya, "Karena bahkan untukku... Aku benar-benar tidak dapat memprediksi apa yang akan negara itu lakukan di masa depan untuk mengacaukan kita."
Lawan terberat sebagai musuh Ares di dalam game adalah Ksatria Suci serta militer Renacles. Namun, dia akan menyangkal jika kedua pihak tersebut akan menyebabkan pertempuran yang sulit baginya.
Di dunia sebelumnya, bahkan untuk semua pemain Online RPG tersebut akan bersepakat, jika Kepulauan Selatan adalah negara yang tidak hanya paling sulit untuk ditaklukkan, namun juga taktik peperangan mereka yang paling sulit untuk diprediksi.
Di dunia sebelumnya, Ares telah mencoba hingga ratusan kali berperang melawan mereka. Namun, berbeda dengan dua negara terkuat lain yang taktik perangnya akan terbaca setelah puluhan kali melakukan penyerangan, Negara Kepulauan selalu memiliki cara aneh untuk mengalahkan negara para player, membuat Ares sangat mewaspadai mereka.
Meski telah kehilangan "regu pembunuh terkuat" yang mereka miliki, kondisi geopolitik yang sangat tidak menentu menjadikan Ares gundah, meski keyakinan atas kemenangan tetap ada di dalam hatinya.
Ares tidak mengerti berapa banyak ia akan merugi jika melakukan perang berkepanjangan dengan mereka, di samping dua blok lainnya yang diprediksi akan terus berada dalam keadaan menunggu dan melihat.
Akibat dari perkataan istrinya, hatinya menjadi kuat, merasa yakin jika dia dapat melalui segala hal buruk yang akan terjadi pada masa yang akan datang bersama istrinya yang sangat ia cintai.
"Akan." Keyakinan Rea sangat kuat, meski ucapan yang ia lontarkan tetap terdengar datar.
Dengan cepat, keberadaan Rea telah menghilang, meninggalkan secarik kertas yang terbang jatuh bergambar anak kecil yang sedang berjongkok menangis sembari menutupi kedua matanya dengan lengannya serta seorang pria tua yang mengulurkan tangan seolah ingin menolongnya.
Ares menggapai, melihat isi kertas tersebut hingga membuatnya sejenak termenung.
Apakah ini... adalah masa lalumu, Rea?
Jika begitu... tolong serahkan padaku, aku pasti akan membalaskan dendam kematian penyelamatmu.
...----------------...