
...—Kota Ereth, Wilayah Administrasi Keluarga Aubert—...
...—7 September 1238—...
"Apakah mereka berdua sudah tidur?"
Di tengah gelapnya lorong, kepada sosok wanita berambut putih yang memiliki tinggi tidak lebih darinya, Ares bertanya penuh kekhawatiran, sangat tidak menginginkan bila kualitas tidur kedua anaknya menurun.
"Aku mempercayakan mereka pada Esther." Dengan jawaban yang disertai senyuman, kata-kata Excel secara implisit menjawab pertanyaan suaminya, "Tidak perlu mengkhawatirkan mereka saat terbangun, bukankah kamu tahu jika Raze dan Orcian memiliki kedekatan tersendiri dengan Esther?"
"Baiklah." Gapaian tangan yang terasa hangat menarik telapak tangan Excel, meninggalkan pintu kamar yang baru saja tertutup dan menuju kedalaman istana dimana akses menuju ruang bawah tanah berada.
Melewati lorong remang, hanya memiliki beberapa penerangan lentera yang menempel pada dinding yang terasa semakin jarang, Ares dan Excel melangkah dengan bergandengan tangan, walau tanpa ada sepatah kata apapun yang mengisi suasana sepi diantara keduanya.
Satu hari telah berlalu semenjak kelompok Ares singgah di kota asalnya, Kota Ereth, untuk berkumpul kembali dengan karavan utama yang seharusnya menjadi karavan dimana Ares berada.
Sangat berbeda dengan para gundiknya yang lain, Esther—yang notabene telah dianggap menjadi gundik—memiliki kedekatan tersendiri dengan kedua anaknya bersama dengan Excel.
Meski telah bertemu dan bermain bersama dalam kurun waktu yang hanya dapat dikatakan sebentar, entah tahun lalu ataupun tahun ini, Ares dapat menilai jika Raze dan Orcian memiliki perasaan nyaman bila bersama dengan Esther, walau Ares menilai terdapat sebuah ketidakwajaran dari tindakan kedua anaknya.
Tentu, Loic juga telah bertolak dari ibukota dengan karavan utama, yang kini masih saja bercakap-cakap dengan Elsa di dalam sebuah ruangan privat. Terlebih, Ares telah memutuskan tanggal pernikahan bagi keduanya yang akan dilakukan tidak lama lagi di Kota Ereth, meski ia menyesal karena tidak dapat menghadirinya dan hanya dapat mengirimkan seorang perwakilan.
Pintu besi kehitaman berlumut yang terkesan kumuh telah berada dalam pandangan. Menatapnya dengan penuh keheranan, Excel menggenggam erat tangan suaminya, mengharap suaminya sejenak menghentikan langkah kakinya.
"Ada apa?" tanya Ares, sedikit bingung dengan sesuatu yang istrinya lakukan.
"Sayang... sebenarnya... apa yang hendak kamu lakukan?" tanya Excel kembali.
Jika dipikirkan kembali...
Aku tidak pernah sekalipun memberi tahu kebenaran tentang diriku yang berasal dari dunia lain...
Bahkan, aku sangat yakin jika Excel merasakan perubahan karakter dan kepribadian Ares di Akademi sebelum aku merasuki tubuh ini dan setelahnya saat Ares telah lulus...
Meskipun begitu, Excel tidak pernah sekalipun mempertanyakan hal itu dan tetap mencintaiku dengan tulus...
Haruskah aku... memberi tahu identitas asliku kepadanya?
Ares sejenak terdiam. Ketakutan samar membayangi benak, Ares sangat khawatir karena Excel memiliki kemungkinan yang tinggi untuk pergi meninggalkannya.
Namun, Ares mengerti jika dia tidak dapat menyembunyikan hal tersebut kepada seseorang yang telah menjadi istrinya, melahirkan anak-anaknya, dan merawat mereka dengan penuh kasih sayang.
Kepada istrinya, Ares menemukan sesuatu yang dapat dia sebut sebagai "rumah" di dunia ini.
Telapak tangan yang bebas perlahan terlungkup, mengepal erat karena perasaan bersalah yang begitu berat. Ares memutuskan untuk memberi tahu kebenarannya hanya kepada istrinya.
Meski mungkin Excel akan pergi meninggalkannya, meski mungkin Excel juga akan merasa takut kepadanya, Ares telah membulatkan keputusan, menerima dengan lapang dada apapun yang akan istrinya lakukan kepadanya.
"Aku akan memberi tahumu nanti." Ares sekali lagi melangkah, mengarahkan kunci besar dan memasukkan ke dalam lubang yang berada di tengah pintu besi kehitaman tersebut.
CKLAK!
Keras, seolah tidak pernah dibuka oleh siapapun. Lingkungan di sekitar juga terlihat sangat mendukung, bahkan Owen, Kepala Pelayan Kastil Kota Ereth, tidak pernah sekalipun mengunjungi lorong yang akan mengarah ke ruang bawah tanah tersembunyi karena mendapat larangan dari Ares beberapa tahun yang lalu.
GRAK!
GRAK!
GRAK!
Dorongan pintu terasa berat, kerjasama keduanya seolah membutuhkan perjuangan berat, meski dalam hal poin statistik Ares dan Excel juga termasuk pemilik status tertinggi di dunia.
"Hati-hati," ungkap Ares, terasa sangat perhatian hingga menyebabkan perasaan Excel menjadi cerah.
Dengan dukungan pencahayaan ringan lentera, Ares dan Excel saling menggenggam erat, perlahan turun dengan saling menjaga satu sama lain dengan kehati-hatian serta kewaspadaan tinggi terhadap hewan yang bisa saja menyebabkan mereka terluka.
Tap.
Cplak.
Tap.
Cplak.
Mengapa tangga ini sangat basah?
Bukankah ini aneh?
Dan juga, aku tidak pernah melihat pintu ruang bawah tanah yang baru saja aku masuki saat mengeksplorasi kastil disaat dunia ini masih berupa sebuah game.
Meski telah mendapat ingatan dari jiwa sebelumnya, Ares menatap tangga dengan seksama, sedikit bingung karena tidak terdapat saluran air maupun jenis drainase yang lain di sekitar ruang bawah tanah yang ia masuki, meski dia hanya membuat wajahnya menjadi datar agar Excel tidak mengkhawatirkannya.
Hingga beberapa saat, lorong panjang menyambut keduanya yang baru saja menuruni tangga dengan ujung berupa sebuah pintu kayu, terlihat sangat sederhana seperti rumah pedesaan pada umumnya.
Namun, sepanjang kedua dinding lorong, beberapa pencahayaan lentera kebiruan menerangi, seolah membimbing mereka kepada pintu yang berada di ujung lorong tersebut.
"Apakah kamu mengingat saat kita menuju Reruntuhan Ibukota Kekaisaran Suci Regulus dahulu?" Excel sedikit mengadah, tatapan penuh kerinduan tertuju kepada beberapa lentera biru, bernostalgia masa lalunya bersama pria yang sangat dia cintai.
"Ah, benar. Lentera yang tidak akan padam." Tersenyum nostalgia, Ares kembali melangkah, menarik ringan tangan kiri istrinya menuju pintu di ujung lorong.
Cklak.
"Eh?" Bukan hanya Ares, bahkan Excel tanpa sadar melontarkan keterkejutannya.
Pintu ringan terbuka, bahkan tanpa sedikitpun usaha. Membawa keduanya kepada sebuah meja dengan sebuah kursi kayu yang terlihat sangat sederhana di dalam ruangan.
Di atas meja, sebuah lilin menerangi, seolah berperan untum membantu seseorang yang akan membaca buku sedikit tebal yang berada di atas meja.
Tangan keduanya sangat sigap, benar-benar akan menyerang apapun menggunakan senjata andalan mereka jika saja terlihat sesuatu yang mencurigakan.
Kurasa, aku dapat mengira jika Kastil Kota Ereth juga merupakan peninggalan Kekaisaran Suci Regulus...
Sebuah kebetulan yang sangat mencengangkan.
Setelah memastikan kondisi benar-benar aman, Ares dan Excel kembali melepaskan genggaman mereka, bersama-sama melangkah maju mendekati meja di dalam ruangan remang tersebut.
Dengan cepat, Ares menarik sandaran kayu kursi tersebut, segera duduk di atasnya hingga membuat Excel sedikit menggelembungkan kedua pipinya.
"Silakan, Tuan Putri." Ares memanggil, menepuk-nepukkan kedua tangannya di atas kedua pahanya.
"Sayang, kamu sangat lihai dalam mencari kesempatan, bukan?" Excel tersenyum masam, tidak menyangka jika suaminya akan bermain "nakal" pada saat-saat seperti ini.
Duduk dalam pangkuan, Ares mengarahkan kepalanya untuk melihat buku dari samping tubuh istrinya.
Keduanya mengambil napas dalam, bersiap untuk membuka sesuatu yang bagi mereka sangatlah asing.
Baik, mari lakukan.
...----------------...