
...—Kota Hauzen, Kekaisaran Arestia—...
...—14 September 1238—...
Kegelapan malam menyelimuti suasana Kota Perdagangan Bebas Hauzen yang terlihat semerbak akan keramaian.
Lentera-lentera besar yang dihias ciamik menerangi beberapa rumah dan jalanan ibukota, toko-toko dan para pedagang kecil yang tetap menggelar kios mereka di jalanan umum, menandakan apabila suasana festival yang digelar oleh Sang Kaisar akibat peresmian Guild Pedagang sama sekali belum berakhir.
Salah satu penginapan kelas atas Kota Hauzen bertingkat tiga lantai, Ullysia memandang gemerlap kota dengan sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya.
Tatapannya keruh. Demikian dengan tangan kanannya yang menggenggam erat sebuah lembaran putih dengan tekstur lembut dan sangat tipis hingga berkerut yang dipastikan akan menggantikan media menulis masa kini yang para bangsawan sedang gunakan.
Dominasi dengan budaya.
Gerakan pertama, Ares telah memulai kampanyenya. Menggunakan kertas, Ares bertujuan untuk meningkatkan intelektualitas orang-orang yang tinggal di dunia ini.
Meski membutuhkan waktu hingga 1.000 tahun lamanya, kertas adalah awal, sesuatu hal yang menjadi titik awal dimana dapat diakses oleh lebih banyak kalangan karena harganya yang lebih murah serta dapat lebih mudah digunakan dibandingkan dengan perkamen.
Lebih banyak golongan akan membuka mata terhadap huruf dan bilangan. Pun demikian dengan produksinya yang tidak bergantung kepada kulit hewan, menyebabkan kertas dapat diakses oleh kalangan para pedagang dan penduduk dengan ekonomi yang berada pada tingkat menengah.
Berbeda dengan sejarah dunia Ares sebelumnya, teknologi kertas menyebar masuk melalui Perang Salib yang berkisar pada awal abad ke-12 yang berasal dari kawasan Asia.
Di dunia ini, karena kedamaian dunia secara menyeluruh telah berlangsung lama, teknologi semakin sulit untuk berkembang. Bukan merupakan suatu kebohongan jika inovasi justru muncul dan tercipta disaat era sulit seperti terjadinya perang dunia.
"Dia berbahaya." Meski hanya bergumam, kata-kata Ullysia terdengar jelas menusuk gendang telinga para bawahannya yang berada di belakangnya.
"Apakah Anda benar-benar perlu mewaspadai Ares hingga Anda bersikap seperti itu, Nyonya?" Salah satu bawahan pria Ullysia bertanya, di atas dahinya terdapat sebuah tato berlambang Bintang David berwarna hitam.
Ullysia berbalik, menatap para bawahannya dengan penuh keraguan, "Bukankah beberapa dari kalian telah melihat barang-barang komoditas yang sangat langka di dalam Gudang Guild Pedagang tadi siang?"
Para bawahan Ullysia sejenak saling melirik, terbentuk kesepakatan dalam diam jika tidak ada diantara mereka yang merasa apabila Ares adalah seseorang yang harus mereka waspadai dan takuti, terlepas dengan apapun prestasi militer yang telah ia ukir sebelumnya.
"Bukankah itu hanya sekedar gula, Nyonya? Saya juga tidak berpikir hanya dengan gula sebanyak itu Ares dapat mempengaruhi distribusi dan perdagangan dunia," timpal bawahan pria tersebut.
"Dan juga, kami tidak sekalipun merasakan pengamanan ketat yang melindungi Ares dan para anggota Keluarga Kekaisaran saat mereka menghadiri upacara peresmian guild," timpal bawahan wanita lain.
Ullysia menghela napas ringan sebagai tanggapan dirinya atas jawaban yang dilontarkan para bawahannya, "Setiap tahun, produksi gula yang dia targetkan mencapai lebih dari 1 juta ton, tidak memungkiri kemungkinan jika akan meningkat tajam di masa depan."
Hening.
Tidak ada yang dapat berkata-kata terhadap kata-kata yang Ullysia lontarkan. Meski mereka termasuk awam, namun para bawahan Ullysia tentu mengerti mengenai keadaan pasar dunia.
Beberapa diantara bawahan Ullysia hadir dengan menyembunyikan indentitas aslinya.
Pada awalnya, tidak satupun diantara mereka yang mempercayai kata-kata Ares yang mengatakan bahwa guild akan melakukan ekspansi dagang dalam beberapa bulan ke depan ke negara lain, namun jika produksi gula meningkat tajam, kata-kata Ares bukanlah hanya sebuah angan semata.
Terbesit kembali ingatan saat Ullysia berbicara dengan Ares setelah upacara peresmian telah berlangsung. Mendapati seorang gadis yang salah satu matanya tertutup oleh penutup mata hitam yang melingkar di kepalanya, Ullysia entah mengapa merasakan keanehan samar.
Terlebih, dengan kehadiran Loic, kesan aneh Ullysia yang ditujukan kepada Ares sangat meningkat. Ullysia tentu mengerti dengan tindakan Kaisar Renacles yang menasionalisasi banyak perusahaan-perusahaan raksasa hingga membuat mereka semua berada di bawah payungnya.
Dengan kehadiran Loic—mantan pewaris Firma Coulent—perasaan ketidaknyamanan yang dimiliki oleh Ullysia semakin meningkat. Tidak seperti bangsawan pada umumnya, meski Loic kini tidak lagi memiliki sesuatu yang berharga, Ares tetap membawanya ke bawah telapak tangannya, seolah melakukan kebaikan tanpa mengharap sedikitpun pamrih.
"Kirimkan pesan kepada 'Round Table,' Ares adalah seseorang yang harus berada di dalam 'Blacklist.'" Ullysia memberi perintah tegas.
"Ya, Nyonya." Para bawahan serentak menjawab, menjatuhkan tubuhnya untuk berlutut kepada Tuannya.
Ullysia perlahan berbalik, menatap suasana kota yang masih terasa ramai dari balik kaca jendela. Telapak tangannya sekali lagi mengepal erat, Ullysia membuat tatapan tajam ke arah kastil besar yang berada di tengah kota.
Jangan berpikir bahwa semuanya telah berada di bawah kendalimu, anak muda.
Di dalam suatu kamar mewah yang berada di dalam salah satu sudut bangunan Kastil Kota Hauzen yang jauh dari penginapan dimana Ullysia dan para bawahannya bernaung, Edward menatap tajam kepada kedua mata putrinya, melukiskan ekspresi sangat keruh yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapapun sebelumnya.
Tidak terdapat seorangpun selain mereka berdua di dalam ruangan, Lucia hanya dapat memandang ayahnya dengan aneh, tidak pernah sebelumnya dipanggil oleh Edward terkecuali kakak-kakaknya yang membahas sebuah permasalahan penting.
"Lucia." Panggilan ayahnya yang menatap tajam ke arahnya memutus suasana hening yang sebelumnya telah menyelimuti ruangan dengan pencahayaan lentera yang cukup terang tersebut.
Lucia secara naluriah menegakkan punggungnya, duduk dengan tegang karena merasakan tekanan berat yang dipancarkan oleh ayahnya.
"Ya, Ayah." Lucia menjawab tenang, menyembunyikan kegelisahannya dengan baik.
"Apakah kamu sudah mengerti mengapa aku ingin menikahkanmu dengan Yang Mulia Kaisar?" Edward bertanya tajam, menyebabkan Lucia semakin tertekan.
Mengesampingkan hawa membunuh yang Excel pancarkan saat keduanya bercakap-cakap dengan Pasangan Royalti Kekaisaran Arestia, Edward menganggap jika pilihannya untuk menikahkan putrinya dengan Sang Kaisar sangat dirasa tepat.
Selain sebab dari dua pangeran Holenstadt yang sangat tidak disukai Edward yang mana telah mengirimkan proposal pertunangan kepada putrinya, alasan untuk mendapatkan pengaruh di dalam Guild Pedagang menjadi salah satu tujuan yang ingin Edward capai, di samping dia yang sangat menyayangi putrinya dan benar-benar tidak ingin Lucia terbawa arus kekacauan politik Kerajaan Holenstadt.
Bukan tanpa alasan, udara Kerajaan Holenstadt telah dirasa semakin tegang. Edward telah memberikan uang perlindungan kepada Ares sebagai biaya untuk menyelamatkan serta melindungi diri dan keluarganya jika keadaan politik Kerajaan Holenstadt tidak lagi dapat terkendali.
Dengan komoditas barang-barang yang baginya sangat menjanjikan dan telah berada di bawah telapak tangan Ares, keinginan Edward untuk membuat hubungan kekeluargaan bersama Sang Kaisar tidak lagi dapat terbendung.
Gula, garam, kayu, bahkan hingga bubuk mesiu, semua komoditas penting tersebut dipamerkan di dalam aula dan gudang, seolah Ares tidak sedikitpun bermain-main dengan apa yang telah dia ucapkan.
"Ya, Ayah. Tapi..." Lucia menghentikan kata-katanya, tidak kuasa untuk mengatakan sesuatu yang dapat menyinggung perasaan ayahnya.
"Ada apa?" Merasakan bahwa tanpa sengaja memberikan tekanan kepada putrinya terlalu tinggi, Edward melunakkan ekspresinya, membentuk sebuah senyuman lembut.
Melihat ayahnya perlahan melembut, Lucia sedikit menggigit bibir bawahnya, memutuskan untuk mengungkapkan apa yang dia rasakan sebagai seorang wanita, "Ayah, sejujurnya, tindakanmu terasa sangat menyebalkan bagi seorang wanita, terutama bagi Yang Mulia Permaisuri Excel."
"Eh?" Mendapat jawaban tersebut, Edward sejenak terdiam, tercengang atas kata-kata menyakitkan yang hampir tidak pernah terlontar dari mulut putrinya.
...----------------...