
...—Ibukota Latva, Kerajaan Forbrenne—...
...—1 Agustus 1238—...
Krriieeettt.
Gerbang Utama Ibukota Kerajaan Forbrenne terbuka lebar. Pasukan yang telah berada di luar segera masuk, berbaris rapi dengan Ares yang berada pada posisi terdepan, agar dirinya dapat dilihat oleh seluruh penduduk Ibukota Latva.
Kekecewaan, kemarahan, serta keputusasaan menghampiri benak masing-masing penduduk yang berada di sepanjang kedua sisi jalan untuk mengetahui siapa penguasa baru mereka.
Pakta penyerahan total telah ditandatangani oleh kedua belah pihak. Tidak ada yang menyangka bahwa mereka akan dikhianati oleh Ruon tepat setelah berperang bersamanya, walau hal itu merupakan anggapan salah para penduduk yang berasal dari kegelisahan mereka sendiri.
"Pangeran Kedua telah menunggu di pintu istana, Yang Mulia." Salah seorang ksatria mengabarkan dari sisi belakang Ares.
"Ya." Ares menjawab singkat.
Hingga melewati distrik yang menjadi kediaman para bangsawan dan kantor pemerintahan, Ares tiba di depan istana biru yang menjulang megah, walau istana tersebut tidaklah dapat sedikitpun dibandingkan dengan kemegahan Istana Kekaisaran Arestia.
"Selamat datang di Ibukota Kerajaan Forbrenne, Yang Mulia Kaisar." Ruon melangkah maju, sedikit berada di depan para bangsawan yang berdiri di barisan terdepan, menundukkan dalam kepalanya kepada Ares dan segera diikuti oleh para bangsawan di belakangnya.
Dengan tali kekang kudanya dijaga oleh seorang ksatria, Ares turun dari kuda perangnya, menatap penuh keingintahuan kepada Ruon, yang memiliki sifat sangat berbeda dengan sifat Ruon di dalam game.
"Apakah kamu tidak sedikitpun memiliki martabat dan kehormatan?" Pertanyaan sangat mengejek dan menginjak-injak harga diri Ruon adalah sesuatu yang pertama kali Ares ungkapkan.
Ruon mengangkat kembali kepalanya, menunjukkan sebuah senyuman cerah, "Apakah sesuatu yang Anda katakan merupakan hal yang harus diutamakan?"
Menarik.
Kurasa, manusia akan berubah jika mereka telah merasakan sulitnya kehidupan.
Tetap saja, aku sangat kagum dengan keputusannya yang tidak melarikan diri dan meninggalkan tanggung jawabnya begitu saja.
Ares sangat terkagum dengan jawaban yang Ruon utarakan. Mengingat kembali karakter Ruon di dalam game, Ares mengerti jika dia adalah seseorang yang lebih mementingkan ego serta kehormatannya.
Ares sejenak tersenyum masam. Tidak mungkin Ruon tidak akan merasakan depresi yang begitu berat disaat semua saudaranya tewas terbunuh, seluruh wilayah yang sebelumnya ia kuasai akan jatuh ke tangan pemberontak dengan begitu cepat, kabar embargo ekonomi, pasukan besar yang sedang bergerak mendekati kota dimana ia tinggal, hingga masa depan suram yang menantinya apabila Ruon secara mustahil dapat menghadapi seluruh permasalahan tersebut.
Karena tekanan mental yang begitu berat, Ruon perlahan berubah menjadi pribadi yang lebih rasional.
Begitu juga dengan Kristin, yang kini telah berdiri tepat di samping Ares dan menatap heran kepada Ruon, "Ada yang salah dengan isi kepalamu."
"Tentu, Anda tidak perlu mengatakannya secara gamblang, Margrave." Sekali lagi mendapat ejekan, Ruon hanya dapat tersenyum masam, merasa kata-kata Kristin sangatlah tepat dengan keadaan dirinya saat ini.
Tangan kanan Ruon pun terulur, mempersilakan Ares dan para bawahannya untuk memasuki pintu istana, "Jika begitu, saya akan membimbing Anda sekalian menuju ruang tahta."
"Kami akan berada dalam perawatanmu." Kristin membalas, melangkah bersama Ares mengikuti bimbingan Ruon dan diikuti oleh para bangsawan serta para ksatria pengawal.
Menapaki ubin lorong istana, Ruon melirik Ares yang berjalan di belakangnya. Ada perasaan di dalam benak bahwa Ares bukanlah seorang pria biasa, meski pakaian serta postur tubuh yang ia tunjukkan sangat tidak mencerminkan pribadi seorang pemimpin negara, lebih condong kepada seorang jenderal perang.
Meskipun begitu, terhadap kepribadian Ares yang baru saja dirinya nilai, kelegaan muncul di dalam hati Ruon.
Ruon tidaklah menilai jika Ares adalah seseorang yang sangat tamak dan rakus, tidak pula menyukai memberikan hukuman yang sangat keras.
Naluri seseorang yang pernah tinggal di era modern tetap kuat berada dalam pribadi Ares, menyebabkan Ruon dapat menilainya demikian.
Kurasa... tidak apa-apa jika aku menyerahkan kekuasaan kepada orang ini.
Lagipula, aku telah menyerah tanpa syarat sebelumnya.
Pintu kembar berwarna keemasan telah berada dalam pandangan. Memerintahkan pada dua ksatria yang berjaga di samping kedua sisi pintu tersebut, Ruon segera mempersilakan Ares untuk memasuki ruangan.
Sebuah mahkota keemasan dengan penutup kepala merah segera tampak. Bahkan untuk Ares, dia cukup terkejut menemukan sebuah mahkota yang berada di atas singgasana, seolah Ruon telah menyerahkan gelar sebagai penerus kepadanya.
"Silakan, Yang Mulia," ungkap Ruon, mempersilakan Ares untuk duduk di atas tahta.
"Yang Mulia, izinkan saya bertanya mengenai sesuatu, karena hal ini juga cukup penting bagi saya." Tepat sebelum Ares duduk, Ruon memberikan interupsi, yang sangat dinilai tidak sopan kepada Sang Kaisar.
Hendak menahannya, gerakan para ksatria terhenti akibat uluran tangan Ares dan memerintahkan mereka untuk kembali.
"Katakan," jawab Ares, dengan tetap berdiri di depan singgasana.
"Apakah Anda... adalah individu yang bertanggungjawab atas kematian ketiga saudara saya?" tanya Ruon, tidak sedikitpun menunjukkan emosi, walau hatinya bergetar karena sedih.
"Ya." Ares menjawab singkat, terasa acuh tak acuh. Meskipun begitu, Ares sangat peduli dengan apa yang Ruon rasakan. Berkata lebih banyak hal hanya akan membawa suasana suram di dalam ruangan, yang mana Ares telah hindari.
"Begitu..." Ruon merasa tidak sedikitpun berhak bersedih atas kematian seluruh keluarganya karena ia telah merencanakan hal yang serupa beberapa tahun terakhir, walau rencana tersebut tidaklah dapat terlaksana.
"Lalu, aku juga akan memberikan sebuah pertanyaan untukmu," timpal Ares, dengan nada yang terdengar memerintah.
"Baik, Yang Mulia," balas Ruon, sekali lagi menundukkan dalam kepalanya.
"Apa alasanmu memilih menyerah?" tanya Ares, bernada menginvestigasi.
Ruon memberikan senyuman kecil, "Yang Mulia, Anda tidak akan menelantarkan wilayah ini dan menyia-nyiakannya karena Forbrenne adalah titik vital bagi hubungan luar negeri negara Anda."
Kedua sudut bibir Ares perlahan terangkat, sedikit terkejut karena jawaban Ruon lebih dari yang ia harapkan.
"Terlebih, meski saya saat ini mengecewakan, namun tetap saja saya memiliki pengaruh yang besar pada rakyat setelah berperang tanpa memandang golongan beberapa hari yang lalu." Ruon menunjukkan sebuah senyuman cerah, "Karena alasan tersebut, Anda tidak akan membuang saya begitu saja. Singkatnya, keamanan saya akan terjamin jika saya menyerah tanpa syarat."
"Karenanya, Anda akan memberi saya dan penduduk saya makan, menstabilkan kembali situasi politik Kerajaan Forbrenne, serta memperkokoh pondasi negara ini demi keamanan negara Anda secara keseluruhan di masa yang akan datang, meski saya tidak lagi akan menyandang gelar Raja," sambung Ruon, menunjukkan sebuah senyuman kecut.
Tidak berbeda dengan reaksi para bangsawan lain, meski telah mengetahuinya, Kristin tetap tercengang. Tidak menyangka bila Ruon dapat menebak niat mereka.
Bukan tanpa alasan. Ruon mengerti jika Ares tidak akan membiarkan Wilayah Forbrenne menjadi sebuah wilayah yang sepenuhnya tanpa tuan. Terlebih, dengan feodalisme yang masih berakar kuat di tengah masyarakat, menggantikan sosok pemimpin yang sangat berperan besar setelah memenangkan perang seperti Ruon sangatlah sulit, terkecuali jika bangsawan tersebut merupakan tuan tanah yang kejam.
"Ahahahaha!" Ares tertawa terbahak-bahak, tidak menyangka bila niatnya akan begitu mudah terbaca.
Dengan membawa mahkota yang sebelumnya berada di atas singgasana, Ares melompat turun dari panggung singgasana, mendekati Ruon dengan sebuah senyuman cerah.
"Jadi, lakukanlah itu. Mulai saat ini, kamu adalah raja negara ini serta negara bawahanku." Ares melukiskan senyuman penuh arti.
Memegang mahkota dengan kedua tangannya, Ares meletakkan mahkota tersebut di atas ubun-ubun Ruon, membuatnya sangat terkejut hingga shock.
Begitu pula dengan reaksi Kristin dan para bawahan Ares yang lain saat menatap pemandangan tersebut, mereka hanya dapat terdiam, beberapa diantaranya memiliki mulut yang terbuka, sangat tercengang atas kata-kata yang ia lontarkan karena tidak sesuai dengan rencana yang telah mereka sepakati sebelumnya.
"Hah?!" Ruon pulih dari keterkejutannya, berteriak dengan panik, "Ap—apa yang Anda maksud, Yang Mulia?!"
"Seperti yang aku katakan, kamu adalah raja negara ini. Jadi, berbanggalah." Ares tersenyum masam, "Bukankah kau sebelumnya berniat mengeksploitasiku serta anggaran negaraku demi wilayah dan kantong pribadimu?"
Niat telah diketahui. Ruon hanya dapat tercengang, segera menjadi khawatir atas keselamatan hidupnya dan mencoba berkelit, "Ti—tidak!"
"Tidak apa-apa, aku sangat memahami niatmu. Sekarang, bukankah impianmu menjadi seorang raja telah tercapai? Jadi, bekerjalah sebagai raja sampai kau mati. Tidak perlu memikirkan pendanaan karena aku telah menyiapkannya," timpal Ares dengan tersenyum cerah.
Saat itu, Ruon tidak menyadari bahwa hari ini adalah titik awal dimana perubahan besar terjadi dalam hidupnya, hari dimana ia menjadi seorang pekerja rodi, tereksploitasi demi tercapainya dominasi dunia.
Nah, titik vital telah didapatkan.
Setelah membereskan kekacauan di negara ini... aku ingin melihat bagaimana kondisi dompetku.
Aku benar-benar tidak sabar melihat berapa banyak emas Lethiel yang telah dikeruk nanti.
...----------------...
Note : Mulai besok kuusahakan up setiap jam 00.00 & 12.00 WIB, tolong support terus dengan kasih minimal like ya!